
Zhang Mei menyadari jika lu Dang sedang mengintipnya dari semak bunga liar di balik bebatuan di lembah Luo Yi berbataskan derasnya air sungai dangkal berbatu indah. Di mana ia duduk menikmati musik dari derasnya air yang mengalir di sela bebatuan.
"Keluarlah! Aku tidak ingin kau menjadi pengecut hanya dengan mengintip dan menikmati lantunan syairku," ujar Zhang Mei, ia ingin marah dengan Lu Dang.
Namun, ia tak ingin jika ayahnya akan semakin sakit dan terluka jika Zhang Yung mengetahui murid keduanya begitu kurang ajar pada putrinya.
"Ayah sudah berulang kali melindungiku. Aku tak ingin kehilangan ayah seperti aku kehilangan ibu," batin Zhang Mei mengingat ibunya (istri Zhang Yung yang meninggal) hanya untuk melindungi Zhang Mei kecil.
Zhang Yung tidak menyalahkan takdir dan kematian Zhang Mei, tetapi sejak saat tragedi itu Zhang Yung selalu saja menyembunyikan putrinya dari dunia. Membekalinya dengan ilmu beladiri dan kemampuan untuk bertahan hidup di dunia keras.
Zhang Mei masih duduk di atas batu tidak jauh dari persembunyian Lu Dang, "Keluarlah Lu Dang, sebelum aku menyeretmu!" ancam Zhang mei.
Perlahan Lu Dang keluar dari persembunyiannya, "Maafkan saya, Nona Zhang! Saya sangat ingin berbicara dengan Anda, saya harap Anda tidak keberatan," balas Lu Dang, dengan sikap sopan santun yang dibuat-buat.
"Selain itu aku sangat menikmati dan suka dengan seruling Anda yang begitu luar biasa menawan bagiku," puji Lun Dang, ia berharap Zhang Mei akan tergoda akan rayuan murahan yang diucapkannya.
"Bicaralah, aku tak ingin jika kau selalu menyelinap saat aku meniup seruling dan mandi. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan Lu Dang? Mungkin ayah dan semua orang bisa kau tipu, tapi tidak denganku!
"Jika kau ingin bicara soal hatimu, aku sudah katakan aku ingin menjadi seorang biksuni (biksu perempuan tidak menikah). Jadi, aku harap kamu urungkan saja niatmu itu," ucap Zhang Mei, ia langsung bicara pada intinya.
"Apakah kamu tak merasa rugi tidak ingin merasakan kenikmatan dunia, Nona Zhang?" rayu Lu Dang.
Lu Dang tak mengerti jika ada seorang wanita yang ingin menghabiskan dan menyia-nyiakan masa muda dan kecantikannya hanya untuk sebuah kebaikan dan berbakti kepada Dewa.
Zhang Mei memiliki kemampuan yang diberikan Dewa yang berbeda dengan manusia kebanyakan, ia bisa mendengarkan suara batin dan apa yang dipikirkan oleh manusia.
Sehingga Zhang Mei memahami apa yang ada dibenak lawan bicaranya dan semua orang kala ia sedang berjalan di tengah keramaian, itu adalah salah satu alasan yang membuat Zhang Yung menyembunyikannya dari peradaban.
Zhang Yung tak ingin Zhang Mei selalu berlarian ke sana kemari untuk menolong semua orang. Namun, ia selalu saja mendapatkan julukan dan hinaan sebagai siluman dari orang yang ditolongnya.
__ADS_1
Hal itu membuat sakit di hati Zhang Yung, hingga ia memutuskan untuk menyembunyikan Zhang Mei dan menyuruhnya keluar dengan menggunakan cadar.
Ia tak ingin jika ada yang menangkap dan menggunakan Zhang Mei sebagai senjata untuk berbuat jahat.
"Tidak! Aku harap kau pun mengurungkan niatku untuk berharap lebih padaku,"lanjut Zhang Mei.
"Maaf, Nona Zhang! Anda sangat angkuh sekali! Saya tahu, Anda sangat cantik, tapi bukan berarti semua orang akan mencintaimu! Saya pun tidak pernah berniat mencintaimu. Kau harus tahu itu!" balas Lu Dang.
Lu Dang merasa sangat malu karena Zhang Mei begitu mudah menebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Jika benar apa yang kau katakan, aku bersyukur untuk hal itu. Aku hanya tak ingin kau mengingkarinya, mulai detik ini aku berharap kamu tak lagi menyelinap diam-diam di belakangku karena aku akan menghajarmu," ancam Zhang Mei.
Zhang Mei masih memandang ke arah tepian sungai dan tak ingin memandang ke arah Lu Dang sedetik pun, Zhang Mei merasa muak dan jijik pada sikap Lu Dang yang munafik.
"Sombong sekali! Kau lihat saja, suatu saat kau akan memohon padaku untuk mencintai dan memperistri dirimu! Tapi, mungkin aku hanya senang menjadikanmu wanita murahan bagi semua orang," ucap Lu Dang.
Sebuah angin putih langsung menampar wajah dan mulut Lu Dang tanpa ia bisa mengelak dan mengetahuinya.
"Jaga mulutmu! Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga, tapi aku yakin ayahku akan merasa kecewa padaku. Namun, jika dia tahu kelakuanmu itu pun sama saja! Aku harap kau pergi dari hadapanku sebelum pikiranku berubah!" usir Zhang Mei.
Zhang Mei merasa marah dan muak pada Lu Dang, "Mengapa Dewa menciptakan manusia menjijikkan sepertinya. Mungkin dia tercipta dari tanah yang berasal dari kotoran hewan," umpat batin Zhang Mei.
"Awas kau!" umpat batin Lu Dang, ia tak menyangka jika Zhang Mei begitu luar biasa hebat.
Selama ini Lu Dang menyangka jika Zhang Mei hanyalah wanita muda yang rapuh dan tak pintar beladiri seperti wanita yang selalu diculik dan diperkosanya dengan diam-diam sebelum dijadikan korban malpraktek racun yang sedang dipelajarinya dari kitab racun iblis.
Lu Dang meninggalkan tepian sungai indah di mana sering digunakan oleh Zhang Mei untuk sendirian. Ia selalu saja mengamati dan menguntit ke mana saja Zhang Mei pergi. Namun, ia selalu saja kehilangan jejak.
"Apakah Zhang Mei mencintai Luo Zhu? Aku akan membunuh Luo Zhu," batin Lu Dang.
__ADS_1
Zhang Mei hanya diam dan berusaha untuk menahan dirinya agar tak membunuh Lu Dang, ia tak ingin menjadi bumerang untuk dirinya dan ayahnya. Apalagi dia tahu jika Lu Dang adalah abang ipar dari kerajaan Changsha yang kejam sejak kematian kaisar Liu Bei.
Kerajaan Qin, Changsha, dan kerajaan tetangga berusaha untuk melakukan kudeta menjatuhkan Kaisar Liu Fei. Namun, kaisar tersebut pun sangat hebat seperti ayahnya Liu Bei.
Zhang Mei, hanya diam dan melihat dengan mata batinnya jika Lu Dang telah meninggalkannya, ia hanya menarik napas dan Zhang Mei kembali meniup seruling dan memandang rembulan, sambil meneteskan air mata.
Zhang Mei hidup bak pungguk yang merindukan rembulan. Ia merindukan kekasih hatinya yang entah di mana, terpisah hanya sebuah konspirasi yang paling menyakitkan di kehidupannya.
Sejarah terus berulang pada titik yang sama, menghantarkan kepahitan yang selalu dirasakan oleh Zhang Mei, ia ingin segalanya segera usai tetapi ia tak tahu kapan Dewa menyelesaikan kepahitan di jiwanya.
"Aku bersyukur memiliki ayah sebaik Zhang Yung, tapi … aku tahu umur ayah tak akan bertahan lama. Mungkin esok atau lusa ia pun akan meninggalkanku sendirian," batin Zhang Mei.
Ia masih merasa perih terus menyayat jiwanya yang rapuh, ia tak mengerti jika kecantikan sebagai bumerang untuk kehidupan ayah dan dirinya.
"Dewa, lebih baik aku engkau ciptakan menjadi wanita biasa bukan wanita yang luar biasa, aku tak ingin semua ini akan semakin terus membuat kekacauan di kehidupanku," batin Zhang Mei, ia menyentuh wajahnya.
Ia sudah melewati beberapa generasi di dalam kehidupannya dengan wajah dan tampang berbeda namun ia selalu saja menjadi wanita yang cantik rupawan dan bermata amber yang indah.
Ia tak menginginkan hal itu, terkait sama saja hasilnya tetap sama. Sehingga ia menerima takdirnya dengan lapang dada.
"Takdir memang kejam, tapi lebih kejam jika takdir yang berusaha diubah tak juga bisa diubah," batin Zhang Mei.
Tiupan seruling Luo Zhu bergema nyaring, Zhang Mei tersenyum satu hal yang membuatnya bahagia adalah Luo Zhu, ia bahagia jika bertemu dengan adiknya yang selalu memiliki niat yang baik pada semua orang.
"Ada apa Luo Zhu?" tanya Zhang Mei muncul di depan adiknya.
"Cie! cie! Temani aku menolong seorang wanita yang ingin melahirkan di desa sebelah! Kemudian memeriksa Kota Xihe. Kaisar Liu Fei memintaku memeriksa wabah aneh di sana dan ada laporan jika banyak wanita yang diculik!" ucap Luo Zhu.
"Baiklah!" balas Zhang Mei, ia dan Luo Zhu melesat secepatnya berkuda menuju ke desa sebelah dan kota Xihe.
__ADS_1