
"Tuan Apa yang sedang engkau pikirkan? Aku melihat jika engkau sedang mengkhayalkan sesuatu atau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Dara Sasmita penasaran.
Ia melihat jika Qinglong benar-benar termenung seakan ia sedang mendengar sesuatu dari kejauhan. Dara memahami hal itu karena ia memiliki seorang suami yang selalu dirindukannya.
"Aku seperti mendengar suara Long Mei, tapi itu adalah hal yang tidak mungkin?" bisik Qinglong, ia merasakan jika itu hanyalah di dalam angan saja.
"Tuan Qinglong, pernahkah engkau berpikir menggunakan nalurimu untuk mencari jejak keberadaan dari Nona Long Mei?" tanya Dara, ia ingin membantu Qinglong untuk menemukan tambatan hatinya.
Qinglong mengangkat kepalanya menatap ke arah Dara, ia merasakan jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Dara kepadanya namun, ia tidak mengerti apa yang ingin diucapkan oleh Dara.
"Maksud kamu apa Dara? Kalau ngomong yang jelas dong!" ucap Qinglong.
"Begini, Apakah Tuhan masih selalu mendengar suara-suara dari nona Long Mei yang masih selalu memanggil Anda?" tanya darah ia ingin menyelidiki kebenaran tersebut dan memberikan usul pada Qinglong.
"Ya, aku masih sering mendengarkannya dan barusan aku pun mendengarkan suara itu bergema di kepalaku. Membuatku semakin gila akan kerinduan ini Dara. Kamu pasti tahu bagaimana rasa yang menyiksa itu, jika kau sedang merindukan seseorang yang kau kasihi yang sudah terlalu lama tidak bertemu," balas Qinglong.
Qinglong masih menerawang membayangkan kekasih hatinya yang entah berada di mana kini, rasanya Qingdong ingin menyanyikan banyak syair indah untuk menyampaikan segenap rasa cinta di hatinya.
"Terkadang aku ingin bernyanyi lewat angin malam atau menyampaikan pesan lewat rembulan ataupun matahari Jika Aku sangat merindukannya," ucap Qinglong bersedih.
"Nah, Bagaimana jika kau terus mempertajam pendengaran Tuan dan kita akan mencari asal muasal dari suara tersebut. Aku sangat yakin jika nona Long Mei pun sedang menuju ke arahmu. Tidak mungkin Dewa Agung terlalu lama menghukum kalian," balas Dara.
Ia memiliki keyakinan akan hal itu, Qinglong menatap ke arahnya. Ia tidak begitu yakin akan usul yang diucapkan oleh Dara tetapi, ia pun tidak menampik jiga usul itu adalah suatu kebenaran yang mustahil walaupun terkadang menjadi kenyataan.
"Apakah kau sangat yakin akan hal itu, Dara?" tanya Qinglong, ia sedikit mempertajam pandangannya kepada Dara.
"Tentu saja! Saat aku tiba di kota Jinjing aku mendengar suaramu, aku menajamkan naluri indera pendengaranku hingga aku merasa kau menuntunku untuk menggunakan semua kekuatanku dan aku berhasil.
"Aku rasa hal yang sama denganmu bersama Nona Long Mei, Bukankah itu wajib untuk dicoba? Siapa tahu hal itu akan berhasil? Terkadang sebuah ikatan membutuhkan kejelasan yang tepat untuk sebuah naluri yang akan membimbing kita untuk bertemu pasangan hidup kita kelak. Walaupun mungkin, hal itu adalah sesuatu hal yang sangat mustahil.
"Akan tetapi, apa salahnya jika kita mencobanya? Siapa tahu berhasil? Lagian kita tidak membutuhkan modal yang banyak Anda cukup membawaku terbang ke mana arah suara Nona long Mei yang sedang memanggil," usul Dara.
Dara memiliki keyakinan akan hal itu membuat Qinglong merasa terharu, ia sama sekali tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya, ia sering mendengar suara-suara dari langit tapi tidak pernah mencoba untuk mendengarkannya secara menyeluruh.
"Baiklah selesaikan makanmu dengan cepat Aku akan mencoba untuk bertelepati dengannya aku berharap kita memang berhasil menemukannya," usul Qinglong.
"Jangan khawatir, aku akan segera menghabiskan makananku ini secepat kilat! Cobalah untuk terus membuat koneksi dengannya," ujar Dara memberi usul
Qinglong langsung melakukan semua itu seakan ia sedang bicara kepada Long Mei melalui telepati.
"Long Mei … apakah kau mendengarku? Jika kau mendengarku aku mohon, berbicaralah denganku, agar aku mudah menemukan dirimu di mana?" ucap Qinglong berulang kali berusaha untuk membuat koneksi dengan kekasih hatinya.
Akan tetapi, Qinglong tidak juga mendengarkan jawaban dari kekasih hatinya. Berulang kali bahkan sudah ribuan kali ia mau berusaha untuk membuka koneksi telepatinya bersama Long Mei.
Namun ia masih saja mendapatkan kegagalan, ia sama sekali tidak bisa menemukan, balasan suara dari kekasihnya yang sangat diharapkannya.
Qinglong merasa kecewa ia benar-benar bodoh telah melakukan usul Dara.
__ADS_1
"Aaargh!" Qinglong benar-benar kesal dan marah, ia ingin menghancurkan apa pun yang berada di depannya.
Namun, bayangan kesedihan dan tangisan yang pernah dilakukan oleh musuh mereka akibat emosi yang sedang memuncak hingga Dewa Agung membuat mereka terpisah.
Qinglong mengurungkan niatnya untuk melakukan semua itu, ia hanya kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Dara.
"Jangan putus asa Tuan Qinglong! Percayalah, Cinta yang suci adalah cinta yang memiliki dan meminta banyak pengorbanan tapi hasilnya akan selalu menjadi manis. Aku sangat yakin dengan kebesaran cinta kalian akan berbuah manis pada akhirnya," hibur Dara Sasmita.
Dara mengangsurkan tangannya untuk membelai kepala Qinglong, Dara merasa kasihan melihat penderitaan yang dilalui oleh arwanaga hijau tersebut ia sangat ingin membantu.
Qinglong, menikmati setiap sentuhan kasih sayang diberikan oleh Dara kepadanya.
"Qinglong … di manakah kau? Aku di gurun Jinping …," suara Long Mei terdengar jauh.
"Long Mei, teruslah berbicara padaku, agar aku bisa menuju padamu. Jangan berhenti bicara," pinta Qinglong bahagia, ia langsung menyambar tubuh Dara meletakkannya di punggung dengan lembut.
"Ada apa Tuan Qinglong? Apa yang terjadi?" tanya Dara, ia tak mengerti mengapa Qinglong tiba-tiba menyambar tubuhnya dan langsung melesat ke arah gurun Jinping.
"Dara, kamu benar! Aku mendengar suaranya," ujar Qinglong bersorak girang.
"Benarkah? Ayo, kita pergi menuju ke arah mereka?" ucap Dara bahagia.
Keduanya melesat menuju ke arah suara Lon Mei, Qinglong benar-benar bahagia ia berlari secepatnya arah Gurun Jinping.
Brak!
"Sial! Mereka menjebak kita!" ujar Dara, murka, "mengapa sih kalian tidak pernah membiarkan kami sedikit saja memiliki waktu untuk kebahagiaan kami? Dasar, bajingan, berhati jblis! Aku hanya ingin memiliki sedikit waktu untuk kebahagiaanku dan Tuan Qinglong.
"Tapi kalian tidak pernah mau mengizinkan itu? Terimalah ini!" umpat Dara, ia langsung melesat meluncur dari punggung naga dan memegang ekor naga dengan salah satu tangannya dan menembak ke arah para pengawal dari Guangzhou.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan membahana dari angkasa membuat para pengawal dari Guangzhou langsung tewas seketika. Mereka tidak berani menggunakan senjata api untuk melukai Dara Sasmita.
Qinglong meliuk-liuk berusaha untuk melepaskan jaring emas yang sudah memerangkapnya, ia tidak ingin menggunakan api miliknya itu akan membuat Dara akan terluka.
Qinglong mengingat anak yang ada di dalam perut Dara dan ia merasa sedikit berdosa jika membuat Dara sampai terluka.
"Dara berpeganglah yang kuat!" ujar Qinglong, ia melihat sesuatu yang akan bisa melepaskan jaring tersebut.
"Jangan khawatir Tuan!" balas Dara ia melesat turun ke kaki Qinglong dan memeluknya dengan kedua belah tangan dengan kencang kala Qinglong melesat dan masuk ke sebuah pohon menukik ke bawah batang sehingga membuat jaring tersebut tersangkut di atas pohon tersebut.
"Kau sangat hebat, Tuan Qinglong? Nona Long Mei akan bangga padamu!" teriak Dara bahagia.
"Qinglong, apa yang terjadi?" tanya Ling Mei dari kejauhan, ia merasa khawatir dengan semua keselamatan kekasihnya.
"Apakah Dara Sasmita bersama denganmu?" tanya Long Mei.
__ADS_1
"Ya, dia bersama denganku! Apakah kau mengenalnya juga? Aku baru tahu jika Dara Sasmita sangat populer?" ujar Qinglong, tanpa menutup koneksinya sehingga Dara bisa mendengar semua pembicaraan pasangan kekasih tersebut.
"Woy!Apa maksudmu? Sungguh tidak berperasaan, mentang-mentang dia akan bertemu kekasihnya dia melupakan diriku. Huh!" rajuk Dara, ia hanya berpura-pura jika dia sedang merajuk.
Dara sangat bahagia melihat kebahagiaan dari Qinglong dan Nona Long Mei, walaupun darah tidak mengenali siapa Nona Long Mei tersebut.
"Apakah darah baik-baik saja Sayang?" tanya Long Mei.
"Jangan khawatir Nona long Mei! Kekasih Anda sangat hebat, iya sudah berulang kali menyelamatkanku," balas Dara tersenyum bahagia.
"Kau membuat aku malu Dara, aku tidak sehebat itu!" balas Qinglong, ia sangat senang jika Dara saat ini tidak melihat wajahnya sedang berwarna merah semerah warna kepiting rebus.
"Syukurlah jika Dara tidak melihatku, jika dia melihatku, di saat aku sedang malu begini … bisa kacau nantinya!" batin Qinglong.
"Qinglongku memang sangat hebat dari dulu Dara. Jika dia tidak hebat aku tidak mungkin jatuh cinta kepadanya, hingga ribuan tahun berganti, aku pun masih tetap mencari dan menantinya hingga kini pun aku masih terus menantikan dirinya," balas Long Mei di kejauhan.
"Ah, Long Mei. Aku merindukanmu!" ujar Qinglong bersemu malu.
"Cie! Cie! Tuan Qinglong sudah berubah menjadi kepiting rebus," ejek Dara.
Ucapan Dara membuat Qinglong semakin malu, "Diam kau Dara! Kalau kau tidak bisa diam, aku akan mencampakkanmu dari sini!" ancam Qinglong malu.
"Hahaha kau tidak akan mungkin melakukan hal itu padaku, Tuan. Aku tahu kau sangat berhati mulia," rayu Dara tersenyum.
"Aku tidak mengerti kok sedikit aneh sekarang? Apakah pengaruh dari kehamilanmu itu Dara?" tanya Qinglong keceplosan.
"Apa?! Siapa yang hamil?!" tanya Dara tak mengerti, ia lupa siklus haidnya.
Deg!
Jantung Dara, bergemuruh, ia tak menyangka jika dirinya benar-benar akan hamil, bayangan Liu Min semakin menari di benaknya.
"Ah, aku rindu Liu Minku!" lirih Dara.
"Apakah pasukan musuh masih mengikuti kalian? Berhati-hatilah! Cepatlah kemari, ada kejutan untukmu Dara?" teriak Long Mei dari kejauhan.
"Benarkah nona Long Mei? Kalau begitu Aku tidak jadi menangis!" balas Dara tersenyum.
"Hah! Dasar matre!" teriak Qinglong.
"Sejak kapan seekor naga bisa mengetahui kata matra? Dunia benar-benar sudah kebalik," lirih Dara.
"Sejak aku sering bersama dirimu aku mengetahui kata-kata itu," umpat Qinglong.
"Wah, berarti aku adalah guru yang sangat baik ya? Buktinya aku bisa mengajari seekor naga untuk mengucapkan kata matre," bisik Dara merasa sangat puas.
"Heh!" dengus Qinglong.
__ADS_1
Keduanya mendengar dari kejauhan jika Nona Long Mei, sedang tertawa bahagia menanggapi lelucon mereka berdua. Qinglong merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa karena dirinya akan bertemu dengan kekasih hatinya setelah ribuan tahun lamanya tak pernah bertemu.