
Sebuah mobil hitam melesat membelah kemacetan jalanan Ibukota, namun ramai akan pedagang kaki lima.
Berjejer kedai-kedai penjual berbagai makanan, mulai dari yang ringan sampai makanan berat tersedia di sana. Berbagai makanan yang menggiurkan untuk dimakan, sayang jika terlewatkan.
Perut yang lapar karena seharian bekerja membuatnya ingin mencicipi makanan di luar. Maklum, bujangan kan gak ada yang masakin kecuali punya pembantu di rumah.
Matanya menyapu dan menelisik di sepanjang jalan yang terdapat tenda-tenda penjual makanan. "Sepertinya enak tuh makan pecel lele!" gumamnya memperhatikan orang-orang yang sedang makan di tenda tersebut. "Pak! Kita berhenti dulu di sana, ya. Saya ingin membeli makanan itu!" menunjuk kedai tersebut.
"Baik, Tuan!" permintaannya langsung dituruti sang supir pribadi.
Mobil hitam itu pun menepi di pinggir jalan, tepat di samping tenda si penjual masakan ikan berkumis tersebut.
Melihat keramaian di tempat tersebut, bisa di pastikan jika mereka akan lama menunggu. Jalan satu-satunya yaitu membungkus makanan untuk dibawa pulang olehnya.
"Rame banget ya, Pak. Berapa lama kita akan mengantri di sini?!" mata teduhnya terus menyapu sekitaran.
Sang supir mengangguk. "Mau membeli apa saja, Tuan? Biar saya yang pesankan," kata pak supir yang bernama Ujang.
"Mm, apa ya." sejenak ia berpikir sebelum memutuskan untuk membeli. Matanya kembali mengedar ke samping tenda yang terdapat berbagai makanan lain. "Itu saja deh, Pak. Beli sate kambing. Enak kali makan sate pake lontong," ujar Edwin seraya memberikan uang kepada supirnya. "Dua bungkus ya," lanjutnya sebelum pak Ujang turun dari mobil.
"Iya, Tuan!" ucap pak Ujang singkat.
Pria itu duduk di mobil sambil membuka laptopnya untuk mengerjakan sesuatu. "Huuh. Pekerjaan segini saja mereka gak bisa melakukannya. Apa setiap kali harus aku terus yang menyelesaikannya?!" gerutunya meluapkan kekesalan kepada karyawannya.
Beberapa menit saja dia sudah menyelesaikan pekerjaannya, lalu ia pun menutup kembali benda yang dipakainya untuk bekerja.
Tak sengaja ekor matanya menangkap suatu pergerakan dari arah toko agak jauh dari tempatnya. Walaupun di sana sedikit gelap, tapi jelas sekali ada pergerakan dari seseorang saat dia membalikan wajah menatap ke arah toko.
Tangan orang itu menggapai dan menggantung di udara seperti meminta pertolongan.
Matanya menyipit sembari terus mengamati dengan sangat teliti untuk memastikan. "Dia orang atau hantu, ya?!" gumam Edwin terus memperhatikan.
Melihat kondisi toko tempat orang itu duduk seperti bangunan terbengkalai, dia menjadi tak berani untuk menghampiri.
Bagaimana kalau itu penghuni bangunan tersebut? Atau, bagaimana kalau dia orang jahat yang berpura-pura meminta tolong untuk menarik perhatian orang lain? Pada saat ada orang yang datang untuk menolong, komplotannya akan langsung menghampiri dan merampok orang itu.
Banyak sekali ketakutan yang mungkin terjadi, membuat Edwin enggan untuk menghampiri. Ditambah, pakaian yang di kenakan orang itu berwarna putih bila terlihat di tempat gelap tersebut.
__ADS_1
"Tolongin enggak ya," Edwin menjadi bimbang. "Aduh, pak Ujang lama banget lagi!" Wajahnya menoleh kembali ke arah orang tersebut. "Ah, bodo amat lah jika itu setan atau rampok. Aku sangat penasaran kalau gak lihat dengan jelas."
Edwin langsung menurunkan kaki dan mulai berjalan setelah membuka pintu mobilnya. Ia terus berjalan perlahan dengan sangat hati-hati sampai lebih dekat dengan orang tadi.
Pria tersebut berhenti sejenak sesaat setelah sedikit lebih jelas. "Seorang wanita? Kok dia seperti kesakitan gitu!" Edwin celingukan memastikan tidak ada komplotan dibalik permintaan tolong wanita tersebut.
Maraknya perampokan atau pembegalan, membuat dirinya harus lebih waspada karena mereka itu orang-orang yang sangat nekat.
Setelah selesai memastikan, langkahnya di percepat untuk menolong wanita tersebut.
Edwin segera bertanya. "Mbak ... Mbak kenapa?" namun tak ada jawaban dari wanita tersebut. Hanya ringisan kesakitan yang terdengar dari mulutnya. "Gimana ini?" Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah, tolong saja lah!" Tangan kekarnya langsung merangkul tubuh kecil wanita tersebut dan membawanya kedalam mobil.
Pak Ujang yang sedari tadi mencari majikannya tak ada di mobil, menjadi sangat khawatir. "Tuan ... Tuan Edwin!" Dia terus memanggil nama majikannya.
Tiba-tiba, Edwin datang dari belakang sambil menggendong seorang wanita cantik yang sedang meringkuk kesakitan.
"Tuan dari mana saja? Dan siapa dia?" tanya pak Ujang cemas.
"Saya juga gak tahu, Pak. Sudahlah, gak usah banyak tanya dulu. Ayo jalan, kita harus ke rumah sakit secepatnya!" Instruksinya kepada pak Ujang.
Mobil langsung melaju ketika pak Ujang menyalakan mesinnya.
"Dia ini kenapa sih? Sepertinya kesakitan gitu!" Ia terus memperhatikan sambil memegangi kepala Kamila. "Apa dia sakit karena kelaparan?" gumam Edwin.
Sesampainya di rumah sakit, Edwin langsung turun dibantu pak Ujang yang membukakan pintu.
"Tuan, saya panggilkan perawat untuk membawa blankar!" kata pak Ujang yang di tolak langsung.
"Tidak usah, Pak. Biar saya bawa dia langsung. Sepertinya dia sangat kesakitan," ujar Edwin seraya menggendong tubuh Kamila masuk kedalam rumah sakit.
"Dokter ... Dokter ... Tolong periksa dia, Dok!" pinta Edwin.
"Ada apa dengannya, Pak?" tanya dokter setelah menghampiri.
"Saya juga gak tahu, Dok. Tapi, dia sepertinya sangat kesakitan!"
Dokter pun langsung menyuruh Edwin untuk membawa tubuh Kamila ke dalam ruang perawatan. "Cepat bawa dia masuk dan baringkan di ranjang. Biar saya periksa dulu!"
__ADS_1
Setelah menuruti perkataan dokter, Edwin keluar karena mereka akan melakukan tugasnya.
"Anda tidak boleh masuk, Pak!" Suster berucap sopan.
Edwin menunggu dengan duduk di lorong rumah sakit. Perasaannya sangat cemas, di tambah lagi perkataan dokter yang mengejutkan dirinya.
"Kondisinya sangat kritis dan dia akan melahirkan sebelum waktunya!"
Betapa terkejutnya Edwin saat ini. Dia tak tahu jika wanita yang ditolong nya itu sedang mengandung dan saat ini kondisinya kritis.
Sempat ada rasa ragu di hati Edwin ketika suster meminta tanda tangannya sebagai penanggung jawab. Tapi, Edwin memantapkan hati untuk menolong wanita tersebut walaupun dia tak mengenalnya.
"Ya Tuhan, maafkanlah hamba-mu ini yang tadi sempat ragu untuk menolongnya. Hamba berpikir jika dia itu makhluk halus atau komplotan perampok." kedua tangannya menengadah di depan dada. "Selamatkan lah dia dan bayinya, hamba mohon!" lirihnya.
Waktu terus berlalu. Namun dokter tak kunjung keluar dari ruang operasinya membuat Edwin semakin cemas. "Kenapa lama sekali sih?!" gerutunya sambil bolak-balik karena cemas.
Saat perasaan cemasnya terus mengitari, seketika dia menghentikan aksi mondar-mandirnya setelah terdengar suara tangisan anak bayi.
Oeeeeekkk .... ooooeeeeekkkk.
Matanya berbinar dengan senyum yang tersungging di bibir. Perasaan lega dan tenang dirasakan Edwin saat ini, seolah dia sudah lama menantikan kelahiran anaknya sendiri.
Dokter keluar dengan disusul suster yang mendorong troli box berisikan bayi mungil di dalamnya.
Edwin semakin tersenyum ketika melihat wajah bayi mungil yang sangat lucu dan menggemaskan itu.
"Selamat, Pak! Istri anda melahirkan seorang bayi tampan!" Dokter menjabat tangan Edwin.
Edwin yang diberikan ucapan selamat hanya tersenyum pelik. Pasalnya, bayi tampan itu bukan miliknya. Dia hanya seorang ayah dadakan yang cuma memberikan tanda tangan.
"Te-terima kasih, Dok!" ucapnya sungkan. "Oh iya, Dok. Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Edwin bermaksud menanyakan kondisi Kamila.
"Istri Bapak juga selamat, namun kondisinya masih lemah. Dia harus banyak istirahat supaya cepat pulih. Apalagi pasca operasi, pasti membutuhkan waktu yang sedikit lama!" tutur dokter menjelaskan. "Kalau anda mau menengoknya, silahkan saja! Tapi dia masih belum sadarkan diri karena efek obat tidur," lanjut dokter lagi.
"Sekali lagi, terima kasih Dok!"
Dokter tersenyum dan meninggalkan Edwin setelah berkata, "sama-sama!"
__ADS_1
Edwin mengintip dari pintu kamar perawatan Kamila. Dia sendiri kebingungan merangkai kata yang harus diucapkan pada wanita tersebut. "Ya Tuhan. Aku harus ngomong apa?"
...Bersambung ......