
Dara masih menikmati suara irama sebuah detak yang bergema di jiwa dan hatinya juga kehangatan yang merayap di sekujur tubuh Dara, "Aku seperti tidak asing dengan bau dan suara ini," batin Dara.
Perlahan Dara berusaha untuk mengumpulkan semua ruhnya yang masih melayang berkelana entah ke mana, kala ia tertidur. Ia merasakan sesuatu mulai berdenyut indah di tubuhnya.
"Kampret, mengapa aku merasakan suatu gejolak hasrat saat aku masih menjadi seorang istri?" batin Dara mulai memahami apa yang disebut gairah bercinta kala masih berada di dalam tubuh Li Phin.
"Aneh sekali! Seharusnya dengan tubuh perawanku ini. Aku tidak mungkin merasakan gejolak itu? Sejak aku menjadi istri Liu Min di dunia Li Phin, aku seperti menjadi gila," batinnya berusaha untuk mengendalikan hasrat liar yang mulai menyerang dirinya.
Ia berusaha untuk membuka kedua belah matanya, "Ya, ampun! Liu Min?!" batinnya terperanjat malu.
Dara segera menutup mulutnya agar ia tak berteriak dan menyumpah serapah kepada Liu Min. Ia mulai menyelidiki siapa yang salah di antara mereka berdua.
"Sial! Sepertinya aku yang salah. Aku masuk ke kamar Liu Min berniat menjaga dirinya karena sakit, siapa sangka jika aku berakhir di dalam pelukan dan berbaring mesra di sisinya. Dasar sial!" umpat batin Dara marah kepada dirinya sendiri yang berulang kali berakhir di dalam dekapan maupun ciuman Liu Min.
Ia melihat jika wajahnya tepat berada di dada Liu Min di dalam posisi berbaring, "Aku harus turun!" batin Dara.
Namun, ia tak bisa bergerak karena kaki dan tangan Liu Min memeluknya dengan erat laksana sebuah guling.
Glek! Dara hanya mampu menelan ludah, ia tak bisa membayangkan jika ia berada di dalam kungkungan tubuh Liu Min yang kekar dan jangkung.
"Dasar Liu Min, posisi tidurnya juga masih sama. Apakah jika aku bergerak sedikit dia semakin erat memelukku?" batin Dara berspekukasi.
Ia menggerakkan sedikit tubuhnya dan benar saja, Liu Min semakin erat memeluknya dan kini ia sudah berada di atas tubuh Liu Min, "Bajingan tengik! Nih, Buaya semakin menjadi-jadi! Liu Min bangun! Singkirkan tanganmu dari tubuhku!" teriak Dara sedikit pelan.
Dara sangat malu jika Danu sampai mendengar dan mengetahui hal tersebut, "Dara, kamu rewel sekali! Hari masih pagi, mari tidurlah!" ajak Liu Min tanpa disadarinya.
"Hei, kampret! Pagi apanya? Apakah kamu tidak tahu jika ini sudah sore? Lagian itu luka di bahumu bisa terbuka lagi dodol!" umpat Dara semakin kesal.
__ADS_1
"Apa?! Hei, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak perlu memperkosaku, Dara! Aku akan dengan sangat ikhlas menyerahkan perjakaku kepadamu!" balas Liu Min dengan rasa kaget yang luar biasa mendapati tubuh Dara tepat berada di atas tubuhnya.
"Hei, Dodol! Apakah kamu kira aku ada tampang pemerkosa begitu? Lagian repot amat sih, aku harus memperkosa kamu? Berhasrat padamu saja pun aku tidak!" ketus Dara berbohong.
Ia tidak ingin Liu Min mengetahui jika ia benar-benar telah jatuh cinta dan jatuh hati hingga ketimpa tangga berulang kali mengejar Liu Min dari zaman Li Phin hingga masa kini.
"Lalu ngapain kamu berada di atas tubuhku?" tanya Liu Min.
"Kamu lihat baik-baik, Liu Min. Tangan siapa yang berada di pinggangku? Memelukku dengan erat seakan aku sebuah bantal guling?" tanya Dara ketus.
"Apa?! Yang benar saja tuduhan itu!" sanggah Liu Min ia berusaha untuk memeriksa tangannya yang berada tepat di pinggang Dara memeluknya dengan erat.
"Mati orang kuburan!" batin Liu Min.
Ia menatap Dara dengan cengiran di bibirnya, "Maaf Dara! Aku tidak menyangka akan begini jadinya! Aku kira kamu guling, ternyata guling hidup," ujar Liu Min tanpa merasa bersalah maupun berdosa sedikit pun.
"Tunggu sebentar, lagi tanggung ini, Dara. Biarkan aku menikmati momen ini, anggap saja sebagai bonus atas kematian yang hampir saja merenggut nyawaku," ujar Liu Min.
Sebagian jiwanya ingin melepaskan Dara namun, sebagian lagi merasa ia tidak ingin Dara turun dari tubuhnya. Apalagi, tombak saktinya sedikit nyaman dengan apa yang dilakukan Dara. Walaupun hanya berbaring tanpa melakukan apa pun di sana.
"Dasar Bajingan! Lepaskan tidak? Jika kamu tidak melupakannya maka aku akan memukul lukamu," ancam Dara tidak main-main.
"Sstt, jangan keras-keras! Bagaimana jika Danu mendengarnya? Bisa kacau nanti! Bisa-bisa kita dinikahkan," balas Liu Min, tetapi ia tak juga melepaskan belitan kedua tangannya di pinggang Dara.
"Liu Min, jangan kira ancamanku hanya bohongan!" balas Dara mulai kesal antara senang dan tidak.
"Dara, aku mohon hanya 5 menit lagi," janji Liu Min menbuat Dara berang. Namun, belum lagi sumpah serapah, makian, maupun hujatan terlontar dari bibir Dara.
__ADS_1
Liu Min sudah membekapnya dengan bibirnya, Dara ingin memberontak akan tetapi ia kembali merasakan sesuatu yang selama ini kembali memanggilnya sebuah rasa yang membuatnya selalu merindukan Liu Min.
"Dara, aku …," lirih Liu Min bingung ingin mengungkapkan rasa cintanya. Ia takut jika Dara menganggapnya gila dan hanya main-main saja.
Apalagi mereka hanya terjebak di dalam waktu juga tempat yang salah yang mengharuskan mereka berdua harus selalu bersama, "Hanya beberapa hari kami bersama mana mungkin ada yang percaya jika aku jatuh cinta?
"Hanya orang gilalah yang percaya dan menerima, kata cinta yang aku ucapkan. Dara pun tidak akan percaya, jika aku katakan aku jatuh cinta padanya.
"Dan aku sangat yakin, jika Dara belum gila untuk menerima cinta orang asing sepertiku!" batin Liu Min bingung.
Ia masih menatap Dara, "Apa yang ingin kamu katakan Liu Min?" tantang Dara, "aku tahu kamu ingin mengatakan, jika kamu mencintaiku, katakanlah, Liu Min!" batin Dara berharap akan ungkapan cinta dari Liu Min.
"Ciumanmu, sungguh nikmat dan membuatku bergairah. Jika kita sudah menikah aku akan melanjutkannya … sayang sekali! Kita tidak bisa melanjutkannya, Dara!
"Atau … apakah kamu ingin melanjutkannya?" tanya Liu Min seakan mereka sedang bernegosiasi untuk melakukan hal remeh.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Liu Min, "Sopanlah berbicara kepadaku Liu min. Kau pikir semua wanita akan menjadi gila hanya karena ciuman dan pelukan saja!" umpat Dara kesal.
Ia merasa Liu Min benar-benar menghina dirinya sebagai seorang wanita, "Bajingan kau! Dasar Kampret! Kau pikir aku wanita murahan begitu?" umpat Dara murka.
Dara langsung beringsut turun berusaha untuk mendramatisir gairah yang menyerangnya sejak ia mendapati detak jantung lembut Liu Min yang bergema di telinganya.
"Aduh, sial! Mengapa aku malah mengatakan hal demikian? Wajar saja Dara memukulku. Andaikan aku wanita pun aku pasti melakukannya.
"Dasar nih, mulut dan otak nggak sinkron sama sekali!" batin Liu Min menyesalinya, "Dara, terima kasih sudah membawaku pulang!" acap Liu Min menatap Dara.
__ADS_1