Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Penyusup


__ADS_3

"Benarkah? Um, aku rasa semua ini ada hubungannya. Kita akan kembali menyelidiki Wanchai, bahkan kita belum menyentuh Guangzhou. 


"Tapi kita sudah memiliki musuh yang lain, aku rasa ini semakin rumit Laopo," ucap Liu Min.


"Ya, kamu benar suamiku! Ini semakin rumit …," balas Dara.


"Jadi, Wanchai menculikmu untuk melakukan kejatahan  yaitu : mencuri Pedang Naga Hijau? Dari mana dia tahu, jika kamu adalah Permaisuri Dara Sasmita? Apakah mereka juga akan mencari Cece Aching?


"Bukankah Cece Aching sangat mirip dengan Li Phin?" tanya Liu Min curiga.


"Entahlah, tapi jika benar demikian aku rasa Wanchai sudah lama menculik Cece Aching, bukankah begitu?" balas Dara.


"Apakah karena Li Phin bermarga Li sedangkan kedua kakakku malah bermarga Liu? Sehingga mereka tahu jika Cece Aching tidak memiliki kekuatan untuk menggunakan pedang naga hijau itu walaupun wajah mereka sama," balas Liu Min.


Dara terdiam, ia semakin bingung dengan banyak hal, "Ya, mungkin juga. Tapi, semua orang kembali dari dunia masa lalu seakan bereinkarnasi untuk melakukan sesuatu dan … aku tidak tahu …," balas Dara.


"Oh, aku mengingatnya … dulu saat awal sebelum dibangun museum oleh perusahaan Wanchai, ia mempersilakan bagi semua orang untuk menyentuh dan mengangkat pedang tersebut dengan alasan akan dipindahkan ke museum di Beijing.


"Namun tak seorang pun yang berhasil mengangkatnya, termasuk Aching dan Amei. Aku baru ingat akan hal itu, pada akhirnya Wanchai membangun museum itu," ucap Liu Min.


"Benarkah?" tanya Dara tidak mempercayai semua itu.


"Ya, itu benar sekali sekitar 15 tahun yang lalu. Um, aku masih di Hongkong, aku jarang kemari jika tidak ada hal yang terlalu penting menurutku," balas Liu Min.


Liu Min menatap ke arah Dara, ia merasa kasihan melihat kelelahan di wajah istrinya. Ia merasa terlalu rumit beban yang harus mereka hadapi, Liu Min memeluk Dara untuk meringankan sedikit beban di benak istrinya.


Dara membalas pelukan suaminya dengan perasaan yang sulit untuk dikatakan dengan apa pun. Ia merasa bersyukur jika mereka berhasil melewati cobaan yang begitu berat yang telah mereka hadapi. 


Namun, bayangan mengerikan kembali mengusik ia takut jika segalanya semakin kacau-balau. Ia tak ingin lagi berlari an terus berlari, ia ingin mengakhiri semua orang di masa lalu dan masa kini agar segalanya menjadi lebih baik.


"Tidurlah, Sayang. Besok, kita akan memikirkan banyak hal," ujar Liu Min.

__ADS_1


"Iya, kamu juga!" balas Dara mencium sekilas bibir suaminya dan tersenyum.


Keduanya tertidur dengan tenang, Liu Min dan Dara tidak menyadari jika di atas gua mereka, di permukaan bumi gerombolan sindikat naga merah sedang hilir mudik mencari sesuatu.


"Apakah kamu yakin? Jika di sini selalu terjadi sesuatu seperti orang yang selalu ke luar masuk ke dalam tanah?" tanya Lu Si An (Tangan kanan Guangzhou) 


Lu Si An merupakan putra dari saudara lelakinya berperawakan tinggi dan tampan dengan bekas luka di wajah sejak lahir berwajah mirip dengan Qin Chai Tian.


"Ya, laporan mata-mata mengatakan selalu saja ada pasangan yang mencurigakan selalu saja ke luar masuk ke dalam rumah ini.


"Namun, rumah ini terlihat sangat kosong. Jadi, aku pikir tidak ada bekas mereka tinggal di sini. Selain itu, jejak salju pun tidak memperlihatkan ada tanda-tanda orang yang pernah melaluinya," balas salah satu kaki tangannya.


"Baiklah, nanti malam akan diadakan pertemuan di gedung perusahan Wanchai, kita semua harus datang karena Tuan Mitzuki dan Nona Quino akan hadir juga.


"Aku tidak ingin mereka akan semakin murka dan … ya, kamu tahu telah banyak korban kita yang hilang. Bahkan, anak buah Fu Gu pun tak kembali lagi Kampung Nelayan. Apakah kamu sudah menyelidikinya?" tanya Lu Si An.


"Sudah. Bahkan, kami pun sudah pergi ke sana, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan dan juga tidak ada bekasnya mereka ke sana.


Lu Si An terdiam, ia merasa jika terlalu banyak masalah yang tidak bisa mereka atasi di Shenzhen dan Jinjing. Guangzhou dan Wanchai sudah benar-benar murka, ia semakin takut jika keduanya akan semakin murka.


Mereka masih menelusuri sekitar tempat sehingga mereka melihat sebuah sumur dan melongok ke dalam.


"Lihatlah sumur ini? Apakah kamu yakin jika di dalam sana tidak ada gua rahasia?" tanya Lu Si An.


"Aku akan turun ke bawah!" balas kaki tangannya yang bernama Shan Fui. 


Lu Si An hanya menganggukkan kepala,  Shan Fui langsung mengambil tali tambang dan meluncur ke bawah masuk ke dalam sumur yang hampir dipenuhi salju.


Sementara Dara tersentak ia merasakan sesuatu bergerak di permukaan tanah. Ia menajamkan panca indera dan melesat secepatnya menyusuri koridor ke arah pintu masuk dari sumur yang tertutup salju.


"Sial! Ada orang datang! Siapa mereka?" umpat Dara.

__ADS_1


Ia kembali melesat masuk ke dalam dan menarik tuas obor dan mematikan cahaya obor tersebut dengan sepucuk pistol di tangan.


Dara mendengarkan dari balik tembok langkah kaki beberapa orang masuk ke dalam mencari dan terus mencari di lingkaran ruang sumur tersebut.


"Tidak ada apa-apa di sini, Tuan Lu!" teriak seseorang.


"Baiklah, ayo, naik, jika begitu!" balas seseorang dari atas.


Dara masih mendengarkan dari balik dinding semua aktivitas yang mereka lakukan dari balik tembok batu cadas.


"Tuan Lu? Siapa dia? Aku sedikit curiga jika ada yang bermarga Lu. Aku selalu menghubungkan semuanya dengan Lu Dang," batin Dara.


Dara masih terus berpikir akan banyak hal, dan berusaha untuk menghubungkan semuanya. Ia tak jua mendapatkan jawaban satu hal yang membuatnya semakin pusing tujuh keliling.


"Ada apa, Laopo?" bisik Liu Min di belakang tubuh Dara.


"Ada yang memasuki sumur ini, aku tidak tahu siapa? Tapi, seseorang memanggil dengan sebutan Tuan Lu …," balas Dara membalikkan tubuh menghadap suaminya.


"Apa? Tuan Lu?" balas Liu Min mengerutkan dahi.


"Ya, tapi … entahlah. Besok kita harus benar-benar mencari tahu jalan pintas ini. Aku sudah menutup Askes ke luar dari sini. Jika tidak, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, mereka pasti menemukan kita.


"Kala kita sedang tertidur lelap, aku minta maaf membuat kita harus terkubur di sini," balas Dara.


Liu Min menghela napasnya, ia merasa segalanya semakin berat. Ia menatap Dara ada sekelumit rasa iba di hati untuk istrinya.


"Sabarlah Sayang … sekarang ayo, kembalilah tidur. Besok kita akan mencari jalan," ucap Liu Min berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Ya, kamu benar suamiku! Lebih baik kita tidur, aku rasa mereka pun tidak akan tahu tempat ini." Dara menarik tangan suaminya untuk kembali ke tempat tidur.


 

__ADS_1


__ADS_2