
"Terima kasih, Kakak!" balas Jang Min.
Keduanya berpelukan, "aku tidak menyangka, pada akhirnya kalian saling mencintai, aku bersyukur untuk itu!" lanjut Jang Min dari hatinya yang paling dalam.
"Aku juga bersyukur kala engkau mengutus kami berdua ke Xihe, Wuling, dan Mongol. Hingga aku menemukan tambatan hatiku," balas Tan Jia Li.
Jang Min tersenyum, "Karena aku yakin dan percaya, jika kalian berdua disatukan di tempat yang tepat. Kalian berdua pasti berhasil, aku hanya mencoba keberuntungan saja.
"Tapi yang aku harapkan sesuai dengan apa yang aku inginkan, karena kalian berdua memiliki talenta dan kehebatan juga kasih sayang yang luar biasa. Aku sangat yakin, Donglang akan aman jika kalian berdua tetap berada di sini," balas Jang Min yakin.
"Kamu memang kaisar yang luar biasa Adikku! Aku bangga kepadamu," balas Tan Jia Li.
"Syukurlah, Kak. Aku turut bahagia dengan kebahagiaanmu!" balas Jang Min tersenyum.
"Jang Min, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" tanya Tan Jia Li menatap adiknya, "kamu tidak bisa berbohong kepadaku Jang Min!" ujar Tan Jia Li.
"Pangeran Gu Shanzheng, bisakah aku berbicara dengan Kakakku?" ujar Jang Min.
"Silakan Yang Mulia!" balas Gu Shanzheng undur diri.
Gu Shanzheng meninggalkan Tan Jia Li dan Jang Min, keduanya berjalan menyusuri benteng yang baru dibangun lagi, keduanya menatap ke hamparan hutan kecil yang sudah mulai gundul dan hancur lebur akibat banyaknya pertempuran dan sebagai saksi bisu banyaknya orang-orang yang gugur.
"Kakak, sebenarnya ... di tubuh Li Phin terdapat dua jiwa, yaitu Li Phin dan Dara Sasmita. Seorang wanita dari masa depan," ujar Jang Min.
__ADS_1
"Apa?! Bagaimana bisa? Apakah itu mungkin?" tanya Tan Jia Li masih kebingungan atas apa yang sudah terjadi, "bagaimana bisa? Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan? Dan wanita itu bukanlah iblis?" tanya Tan Jia Li.
"Begitulah adanya, Kak!" balas Jang Min menceritakan segala apa yang dilihatnya di hutan Mongol.
"Ya, Dewa! Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, jika Dara kembali ke dunianya, lalu apakah Li Phin masih bisa hidup? Lalu bagaimana kalian … maksudku, antara kamu dan Li Phin jika Dara tidak ada lagi, apakah kalian akan melanjutkan pernikahan kalian?" tanya Tan Jia Li.
"Aku rasa tidak! Makanya aku berpesan jika aku gugur, jika Liang Si dan Li Phin menikah, jangan ditentang dan jangan diremehkan, karena bagaimanapun hanya raganya yang menikah denganku, tapi jiwanya bukan!" balas Jang Min.
Tan Jia Li terdiam mendengar semua ucapan Jang Min. Ia masih tidak mempercayai apa yang didengarnya, "Aku akan bertanya kepada Li Phin yang sebenarnya, ada apa?" batin Tan Jia Li.
"Baiklah, Kak. Aku harap Kakak memegang janjimu," ujar Jang Min.
"Baiklah, Jang Min. Aku akan pegang janjiku, aku harap kamu berjuang dan tetaplah hidup demi Donglang," balas Tan Jia Li.
Jang Min melihat kepergian Tan Jia Li ia langsung pergi ke ruangan Liang Si, ia menarik napasnya dalam-dalam. Ia merasa sangat aneh tetapi ia harus melakukannya, "Apakah ada di dunia ini, seorang suami berpesan kepada rival cintanya? Jika kematian menjemput maka si rival akan menikahi jandanya?
"Alangkah baik dan bahagianya aku, jika kelak aku dan Dara tidak ada, Li Phin menikah dengan Liang Si. Sehingga Sun Ming putra kami tetap mendapatkan kasih sayang dari Liang Si dan Li Phin.
"Dan rakyat Donglang tidak mencemoohkan mereka berdua, aku ingin meninggal dengan ketenangan. Tapi, aku juga harus membawa kemenangan kepada rakyatku!" batin Jang Min.
Jang Min berjalan memasuki ruangan Liang Si, melihat pria yang baik tersebut sedang berbaring miring menghadap ke dinding, "Apakah kalian sudah mendapatkan kabar Yang Mulia Kaisar dan Permaisurinya? Jika tidak aku tidak ingin makan!" teriak Liang Si
Hati dan jiwa Jang Min tersentuh, "Liang Si begitu tulus menyayangi Li Phin dan rela memberikan cintanya dimiliki pria lain. Liang Si sudah banyak berkorban, sekarang gilirankulah yang akan berkorban untuk kebahagiaan mereka berdua," batin Jang Min, "ehm,! Ehm!" ujar Jang Min.
__ADS_1
Liang Si langsung berbalik dan menghadap ke arah Jang Min, "Salam Yang Mulia, Kaisar! Bagaimana keadaan Permaisuri Li Phin?" tanya Liang Si berusaha untuk duduk dari tempat tidurnya.
"Berbaringlah, Pangeran Liang, Permaisuri baik-baik, saja!" ujar Jang Min duduk di sisi ranjang Jang Min.
"Oh, syukurlah Yang Mulia! Saya senang mendengarnya," balas Liang Si menatap ke arah Jang Min.
Hatinya sedikit berdegup ia sedikit khawatir dengan banyak hal, ia mengingat sekilas wajah seorang wanita berbeda di tubuh Li Phin, "Apakah Kaisar Liu Min mengetahui hal itu?" batin Liang Si penasaran, "aku ingin bertanya, tapi … jika itu tidak benar dan Kaisar tidak tahu, aku tidak ingin jika Li Phin akan dihukum atau dikatakan seorang iblis
"Sementara aku belum tahu kebenarannya. Aku tidak boleh gegabah bagaimanapun nyawa Li Phin dipertaruhkan," batinnya khawatir.
"Pangeran Liang Si, kita akan mengadakan perang. Sekutu Qin Chai Xi sudah mengajukan tantangan perang kepada kita," ujar Jang Min menatap ke arah Liang Si.
"Lalu, dimanakah kita akan melakukan pertempuran itu, Yang Mulia?" tanya Liang Si ingin mengetahui kelanjutannya
"Mereka meminta perang dilakukan di Xihe! Aku rasa di sini lebih baik dari Xuchang, karena penduduk Xuchang lebih banyak dari Xihe. Kita akan mudah mengevakuasi mereka nantinya," balas Jang Min memberi masukan kepada Liang Si yang hanya menganggukan kepalanya.
"Aku hanya meminta satu hal kepadamu Pangeran Liang, sebagai Pangeran dari Kerajaan Limen Utara dan jenderal dari Donglang," ujar Jang Min.
"Apa yang Mulia Inginkan? Hamba akan memenuhinya," balas Liang Si dengan penuh keyakinan.
"Berjanjilah, jika engkau akan mengemban semua permintaanku walaupun mungkin itu sedikit sulit," balas Jang Min.
"Baik Yang Mulia sebagai seorang Pangeran dari Limen Utara dan jenderal Donglang, Hamba berjanji akan memenuhi semua titah Yang Mulia Kaisar Liu Min!" ujar Liang Si.
__ADS_1
"Pangeran Liang, jika di dalam perang nanti aku gugur, aku minta nikahilah Permaisuriku Phin'er dan bimbinglah putra Mahkota yaitu putraku Liu Sun Ming, untuk menjadi seorang kaisar yang lebih baik dari semua kaisar yang pernah ada. Apakah kamu bersedia Pangeran Limen Utara?" tanya Jang Min menetap Liang Si yang masih terbengong.
Ia tidak akan menyangka jika seorang kaisar meminta padanya untuk menikahi jandanya kelak, "Yang Mulia apa maksud dari semua ini?" tanya Liang Si tidak mengerti atas apa yang diinginkan oleh Jang Min.