Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Pernyataan cinta diujung ajal


__ADS_3

Semua pasukan tentara langsung menurunkan senjata dan segera masuk menangkap semua anggota sindikat mafia. Kolonel Ardi langsung naik ke geladak kapal membuat Liu Min dan Dara saling menghormat kepada atasan mereka.


"Ayo, naiklah ke perahu karet!" ujar Kolonel Ardi, "agar luka letnan Jovich bisa segera diobati," lanjut Kolonel Ardi.


Dara, Jenny, Liu Min, dan Jovich langsung naik ke kapal karet beserta kolonel Ardi dan beberapa tentara. Mereka mulai membelah lautan mencapai dermaga. 


"Tante, akhirnya aku bisa ketemu mama dan papa," ucap Jenny bahagia.


"Iya, Sayang!" balas Dara mengecup puncak kepala Jenny dengan penuh kasih sayang, bayangan Liu Sun Ming kembali terbayang, "putraku, aku berharap ia menjadi anak yang baik dan bertanggung jawab. Aku rindu," batin Dara menatap langit dengan cahaya bintang berkedip di sana.


Duar! Duar!


Ledakan terjadi di kapal kargo membunuh pasukan khusus tentara yang sedang mengevakuasi dan menangkap sindikat mafia naga merah.


Dor! Dor!


Rentetan tembakan bergema ke arah ledakan di mana para tentara dan anak buah sindikat mafia naga merah ingin menyelamatkan diri.


"Bajingan! Siapa yang melakukan ini!" umpar Kolonel Ardi langsung menembak helikopter yang tidak dikenal.


Dor! Dor! 


Helikopter menjauh tenang sedikit lebih tinggi menghindari tembakan dari kolonel Ardi dan anak buahnya di perahu karet. 


"Aaa!" jeritan tentara yang terkena berondongan peluru masuk ke dalam air laut begitu juga dengan perahu karet yang telah kempes tertembak akhirnya karam.


"Mereka pastilah anak buah Guangzhou yang tidak ingin diketahui keberadaan mereka dan juga bukti dari narkoba serta penyelundupan senjata," ujar Jovich.


"Sialan!" ujar Kolonel Ardi berang, "padahal aku ingin bersantai sejenak dari malapetaka, ini. Pemerintah sudah mendesak untuk menumpas mereka. Dasar Bangsat!" umpat kolonel Ardi. 

__ADS_1


"Jenny mendekatlah bersama dengan Om Jovich!" ujar Dara melesat mengambil senjata basoka dan langsung menembak ke arah helikopter tersebut hingga ledakan terjadi.


Sedangkan dua helikopter lain berusaha memberondongkan peluru ke arah mereka, "Menunduklah!" ujar Liu Min memberikan dan memakaikan pelampung ke dalam tubuh Jenny dan Jovich.


Ia juga mengikat luka Jovich dengan bajunya, "Jovich aku mohon, bertahanlah dan selamatkan Jenny! Di dermaga ada Daniel, Hendra, Danu, dan Jalik," ujar Liu Min melemparkan Jovich dan ke laut.


"Jenny, percayalah kepada Om Jovich dia akan membawamu kepada Mama Joy! Ingat, jangan jauh dari Om Jovich jangan pernah lepaskan dia!" pesan Liu Min meletakkan Jenny ke punggung Jovich.


"Bro, kamu yakin aku akan sampai ke tepian?" tanya Jovich ia tak yakin dengan lukanya.


"Aku yakin, hanya kamulah satu-satunya harapanku, Jovich. Aku yakin kamu kuat, demi Jenny … dia … masa depannya masih panjang.


"Joy menunggunya di rumah. Selain itu, aku titip Ibu Ningrum katakan kepada Danu, aku akan berusaha menjaga putrinya jika aku selamat, di mana pun aku berada. Aku pun akan menikahinya kelak.


"Selamat tinggal! Ayo, cepatlah, nah!" ujar Liu Min memberikan senjata laras panjang beserta rentetan kalung peluru di leher Jovich. 


Jenny melihat orang-orang berhamburan terbakar dan berjatuhan ke laut lepas.


"Sayang, ingat apa pun yang terjadi jangan pernah jauh dari Om Jovich. Usahakan kalian sampai ke tepian. Ayo, cepatlah! Aku akan melindungi kalian!" ujar Liu Min.


"Selamat tinggal kawan! Selamat tinggal Kolonel!" ujar Jovich memberikan penghormatan ala tentara kepada Liu Min yang langsung dibalasnya.


Jovich melesat berenang secepatnya menuju tepian dengan Jenny berada di punggungnya Liu Min masih melihat ke arah Jovich dan Jenny yang semakin menjauh.


Jenny berulang kali melihat ke belakang dengan melambaikan tangan dan menyeka air mata, "Bertahanlah, Nak! Kita akan menemui orang tuamu!" ucap Jovich.


Ia melupakan rasa sakit di kaki di mana sebutir peluru masih bersarang di sana, belum juga luka akibat penyiksaan yang dilakukan Paulin dan Solano. 


"Aku harus tiba di tepian sebelum aku mati! Aku tidak akan membiarkan Jenny mati bersamaku," lirih batinnya penuh tekad.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Liu Min? Jovich sedang terluka?" ujar Dara bingung. Ia tidak yakin jika Jovich akan berhasil mencapai pantai.


Dara juga takut jika darah Jovich akan memancing ikan ganas di lautan, "Apakah lukanya tidak membuat mereka semakin berbahaya?" tanya Dara ketakutan.


"Jangan khawatir! Jovich adalah orang yang kuat dan dia pun sudah berpengalaman di lautan.  Aku sudah menyelidikinya. Jika di negaranya dia adalah perenang nomor 1 sebelum dan sesudah menjadi marinir," balas Liu Min.


Ia percaya kepada Jovjch yang sudah 20 meter berada di depan jarak pandang mereka, berenang timbul tenggelam dengan lincah dan cepat. Sementara tubuh Jenny tak sedikit pun masuk ke dalam air, ia hanya berada di permukaan saja.


Jenny masih sering melihat ke belakang, Dara berulang kali melambaikan tangan dan sebuah tangisan bergulir. 


Dara mengingat putranya, "Aku benci kepada manusia bejat, yang selalu memisahkan orang tua dan anak mereka," batin Dara bertekad ingin membunuh semua sindikat mafia tersebut.


Dara dan Liu Min hanya melihat dan berusaha melindungi keduanya agar tak terlihat dan tertembak oleh musuh Keduanya terlihat bagaikan sebuah titik yang jauh. 


"Syukurlah, Jovich sudah hampir sampai ke tepian hanya dengan beberapa menit saja." Dara sedikit lega melihat hal itu, "ayo, kita lindungi Kolonel Ardi!" ajak Dara mengangkat kembali ssenjatanya.


Dara dan Liu Min mengambil senjata dan menembak ke arah helikopter dan ledakan membahana akan terapi, bom terakhir yang ditembakkan helikopter sebelum meledak langsung menembak ban karet mereka hingga semua orang berhamburan masuk ke perairan.


"Dara!" teriak Liu Min melihat Dara melayang terkena serpihan proyektil senjata dan jatuh ke dalam air, byur!


Liu Min langsung berenang secepatnya mencoba meraih tubuh Dara yang telah terluka dan berlumur darah, melayang semakin dalam tenggelam ke dasar lautan.


Liu Min bergerak dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan jika kaki dan tangannya pun telah terluka, "Dara aku mencintaimu!" ucap Liu Min di dalam air tanpa disadarinya jika air mulai masuk ke dalam mulutnya juga.


"Liu Min aku pun mencintaimu!" balas Dara di dalam gerakan bibir mengulurkan tangan untuk meraih tangan Liu Min. Darah mewarnai sekujur tubuh keduanya yang saling menyentuh dan berciuman di sana.


Liu Min meraih tangan Dara dan menariknya berusaha naik ke permukaan dan menuju ke tepian. Namun, keduanya tersapu ombak terombang ambing di lautan lepas. 


Dara dan Liu Min saling berpelukan dan berpandangan di dalam gulungan ombak yang semakin menghantarkan mereka menjauhi perairan Indonesia, dengan air sudah memenuhi rongga paru-paru mereka.

__ADS_1


__ADS_2