
"Aku ingin, tapi aku tidak bisa! Kamulah yang akan meneruskan perjuanganku di sini Phin'er. Aku titip mereka berdua padamu! Jadilah istri dan ibu yang baik buat mereka dan titip rakyat Donglang juga, jadilah permaisuri yang luar biasa!" balas Dara.
Keduanya hanya diam, "Aku berjanji padamu Dara, akan meneruskan semuanya dengan kasih dan sayang juga kehebatanmu. Kelak, aku akan menceritakan segala hal pada anak kita mengenai rahasia ini," balas Li Phin berlinang air mata.
Keduanya saling menangis tak kuasa menahan haru dan kesedihan. Detik semakin berganti. Waktu begitu cepat berlalu hingga waktunya tiba, Jang Min melesat naik ke punggung kudanya Pocia.
Dara di dalam tubuh Li Phin melihat kesiapan Jang Min, debar di jantungnya kembali bergetar, "Tuhan, untuk terakhir kali aku akan mendampinginya di medan perang. Selamatkan dia dan semua orang yang kusayang!" doa kecil Dara menengadahkan tangan dan menatap langit kelam penuh cahaya bintang yang mulai disinari mentari.
Dara melesat ke punggung si hitam, begitu juga dengan Liang Si, Tan Jia Li, Gu Shanzheng, Chen Li, dan Chin. Semua bersiap-siap di atas kuda dan senjata mereka yang sudah berada di punggung dan pinggang.
Baju zirah dan topi pelindung sudah tersemat juga di lengan dan kaki mereka, "Ini sangat berat, sekali!" keluh Dara.
"Ya, kamu benar! Semoga Dewa melindungi kita! Demi Donglang dan seluruh rakyatnya! Hidup Donglang!" teriak Jung Min menarik pedang perak tipis yang tajam.
Dara melihat pedang itu jarang digunakan oleh Jang Min, itu adalah pedang warisan dari keluarga Liu turun temurun.
"Hidup Yang Mulia Kaisar Liu Min dan rakyat Donglang!" teriak semua orang.
Yel-yel berkumandang pintu gerbang perbatasan Xihe bergedebam ke tanah terbuka lebar derap langkah kaki kuda langsung menyerbu ke luar berlari cepat beserta para prajurit yang melangkah dengan derap kaki mereka yang rapi dan berbaris panjang.
Jang Min menatap ke arah Dara yang menatapnya dengan senyuman, "Aku mencintaimu, Suamiku!" ujar Dara melemparkan kecupan jarak jauhnya membuat Jang Min tersenyum bahagia sekaligus sedih.
Ia merasa itu adalah hal terakhir yang akan dikenangnya bersama dengan Dara, "Aku juga mencintaimu, Sayangku yang terbaik dari segala hal yang diberikan Dewa kepadaku!" balas Jang Min.
__ADS_1
Derap kuda terus melaju ke medan perang dan tak lagi bisa ditarik mundur, semua orang telah ikhlas jika mereka harus meregang nyawa hanya demi sebuah kejayaan, cinta, dan kemakmuran semua rakyat Donglang.
Pasukan pemanah telah bersiap berlapis-lapis di atas benteng begitu juga pelontar meriam. Dara telah mengajari kepintarannya dengan menggunakan mesiu untuk merakit bom molotov seadanya.
Ia ingin mengajari menggunakan pistol tetapi sudah tak ada waktu, "Satu hal yang aku sesali. Aku tidak mengajari mereka menggunakan dan merakit senjata," batin Dara.
Si Hitam dan Pocia melesak membelah debu dan tanah perbatasan antara Xihe dan Mongol. Di depan mereka pasukan musuh pun telah berbaris dengan angkuh, di barisan depan Lu Dang, Chien Fu, Shan Si'er, Selir Qin, Selir Chien, Qin Chai Xi, Qin Chai Jian dan banyak lagi jenderal dan orang hebat di pihak mereka.
Kedua kubu saling pandang dan saling mencibir dengan bengis juga mengukur kekuatan masing-masing lawan, "Serbu!" teriak Qin Chai Xi.
Serbuan anak panah langsung menghujani pasukan Dongkang, "Buat pertahanan!" teriak Jang Min menarik pedangnya memimpin pertempuran.
Semua prajurit langsung melindungi tubuh dengan membuat basis pertahanan dengan tameng.
"Serang dengan meriam!" teriak Qin Chai Xi.
Dentuman meriam musuh bergema dan dibalas dengan dentuman meriam dengan api dan granat melotov sederhana oleh pasukan Donglang. Teriakan para prajurit dan ringkikan kuda juga ledakan meriam di tanah membuat lubang menganga dan kebakaran dimana-mana semua orang berjumpalitan begitu juga dengan kuda yang terjerembab.
"Serang!" teriak Jang min membuat pasukan berkuda terdiri dari bayangan 21 naga dan pasukan seluruh jenderal bergerak dengan cepat di antaranya Dara melesat menarik pedang naga hijaunya membuat pendarnya bergema dengan cepat menerobos dan melompati lubang menganga dan kobaran api.
Tebasan pedangnya memenggal semua musuh dengan cepat, kudanya meringkik dengan ganas di antara serbuan tombak yang berusaha menembus baju zirah si Hitam di sisinya Pocia meringkik dengan melakukan gerakan yang sama.
Pasukan musuh hanya mengirim prajurit dan jenderalnya saja tanpa bersusah payah turun tangan, Qin Chai Jian melesat menuju ke arah Tan Jia Li, "Dia bagianku!" teriak Qin Chai Jian dengan kemarahan dan dendam.
__ADS_1
Tan Jia Li melesat dengan cepat beserta kudanya menyerang Qin Chai Jian.
Trang! Trang!
Bunyi pedang dan pedang bergema, "Aku akan membunuhmu agar Gu Shanzheng tak lagi bisa memilikimu!" teriak Qin Chai Jian marah.
Kecemburuan dan dendam telah menguasainya, "Cobalah jika kau bisa Jian!" teriak Tan Jia Li melesat ke udara kala pedang Qin Chai Jian mencoba menulisnya dari tempat duduk.
Pertempuran semakin sengit kala Prajurit dan jendral Mongol di bawah Shan Po kembali menyerang Liang Si dan Gu Shanzheng. Pasukan pemanah masih saling serang di angkasa begitu juga dengan dentuman meriam
Mereka tidak lagi menggunakan aturan peperangan. Masing-masing berniat saling menghancurkan pasukan musuh, pasukan prajurit Donglang sudah mulai goyah, mereka tidak menyangka jika pasukan musuh begitu kuat dengan menggunakan racun yang disebarkan oleh Lu Dang.
Tan Jia Li berhasil menebas tangan Qin Chai Jian, membuat selir Qin melesat ingin membunuh Tan Jia Li, namun Dara melesat menangkis pedang Selir Qin.
"Dasar anak, kurang ajar!" teriak Selir Qin, berjumpalitan mencoba menguasai dirinya.
"Aku akan membalaskan dendam apa yang telah kau lakukan kepadaku dan Ibunda Min Hwa!" teriak Li Phin dengan keberaniannya.
Ia mulai menyatu dengan Dara, "Aku harus lebih kuat sekarang! Jika Dara pergi, aku tak akan mungkin selalu bisa ditindas lagi. Selain itu, aku tidak mau membuat Dara malu memilikiku," batin Li Phin ia menarik pedang dengan kekuatan yang berasal dari Dara yang mulai menyatu dengannya.
"Ayo, kamu pasti bisa demi Liu Sun Ming putra kita dan rakyat Donglang Phin'er!" teriak Dara memberi semangat.
Untuk pertama kalinya Li Phin menguasai tubuhnya menyerang Selir Qin dengan seluruh kekuatannya, ia menyebarkan penawar racun kepada semua orang begitu juga semua prajurit membuka bungkusan yang diberikan oleh Tabib Luo.
__ADS_1
Dentingan pedang beradu dengan selendang milik Selir Qin, sehingga bunga api berdenting di udara. Qin Chai Xi susah melesat menuerang Jang Min, Chien Fu menyerang Liang Si, Shan Shi'er menyerang Gu Shanzheng.