
Jang Min melesat menerjang Qin Chai Jian berusaha untuk membunuhnya, tetapi Qin Chai Jian pun tak ingin dengan mudah mati, ia menangkis semua serangan Jang Min secepat kilat, "Kau tidak akan bisa membunuhku, Jang Min! Aku bukanlah Qin Jian yang dulu!" teriak Qin Chai Jian dengan nyaring.
"Bajingan, ilmu apa yang dipelajarinya? Apakah ilmu aliran sesat sekte racun hitam?" batin Jang Min tak mau mengalah terus menyerang Qin Chai Jian.
Di sampingnya Liang Si masih berhadapan dengan Lu Dang, "Hahaha, anak ingusan sepertimu tak akan mampu untuk menghancurkanku! Menyerahlah!" teriak Lu Dang.
"Tidak akan pernah!" balas Liang Si. Pukulan demi pukulan telah bersarang di tubuh Liang Si, "aku tidak boleh mati! Aku masih ingin melihat senyum Li Phin," batinnya bertekad untuk terus maju menyerang Lu Dang.
Syut! Seberkas cahaya hitam mulai menerjang ke arah Liang Si membuat dirinya terpental dan jatuh ke tanah dengan muntah darah, "Huek! Sialan! Siapa pendekar ini?" batin Liang Si.
Ia masih melihat Jang Min bertempur dengan cepat dengan Qin Jian,"Mengapa musuh begitu lihai dan luar biasa kuat? Apakah mereka telah menyusun kekuatan sejak lama?" batinnya berusaha untuk bangkit.
Akan terapi Lu Dang ingin menyerangnya dengan cepat, sebelum pukulan itu mengenai Liang Si, Tan Yuan Ji melesat menghadang pukulan tersebut membuat keduanya terpental dan bala bantuan datang dari semua prajurit Donglang beserta negara tetangga.
Gu Shanzai (kakak kedua Gu Shanzheng) dari Wuling, kerajaan Limen Utara, Luoyang menyerbu masuk membuat Lu Dang dan Qin Chai Jian terdesak dan kabur secepat mereka bisa.
Jang Min melesat menangkap tubuh Liang Si yang jatuh akibat pukulan Lu Dang sebelum ia kabur tetapi Jang Min berhasil mendaratkan pukulan kepada Qin Chai Jian, yang terluka di bagian dada sebelum diselamatkan oleh Lu Dang.
"Para Tabib! Tolong rawat senua prajurit yang terluka!" teriak Jang Min. Ia langsung melihat keadaan Liang Si yang sudah bersimbah darah.
"Pangeran Limen! Pangeran Limen sadarlah!" balas Jang Min menatap Liang Si yang mulai memandangnya dengan tatapan redup.
"Phin'er …."
"Phin'er baik-baik, saja! Percayalah! Ayo, bertahanlah, Pangeran!" balas Jang Min.
__ADS_1
"Syukurlah!" balas Liang Si tak sadarkan diri.
"Tabib, Yu! Tolong Pangeran Liang Si. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada dia," ujar Jang Min.
"Baik Yang Mulia!" jawab Tabib Yu.
"Terima kasih, Tabib!" balas Jang Min, "Liang Si benar-benar mencintai Phin'er … sainganku benar-benar orang yang sangat luar biasa hebat! Bagaimana keadaan Istri dan anakku?" batin Jang Min melesat menuju ke arah sudut istana.
"Ayah Angkat! Bagaimana dengan Istri dan anakku?" tanya Jang Min cemas dan takut.
"Yang Mulia, Permaisuri adalah wanita yang luar biasa kuat, ia telah melahirkan seorang putra yang sangat tampan dan sedang dirawat, sedangkan Permaisuri pun masih ditangani para tabib perempuan, keduanya sehat dan tidak kurang satu apa pun!" balas Dayang Ling'er.
"Terima kasih, Dewa! Ayah Angkat aku ingin melihat Istriku, aku harap kremasikan yang telah meninggal dan obati yang terluka. Bagaimana dengan ayah mertuaku?" Jang Min mengingat keadaan mertuanya.
"Tabib Luo nasih mengobatinya, kita belum mendapatkan kabar," balas Tan Yuan Ji.
"Baik Yang Mulia, jangan khawatir!" balas Tan Yuan Ji, undur diri ingin mengerjakan semua perintah dari kaisarnya. Selain itu Tan Yuan Ji tidak ingin jika jenazah dari sahabat lamanya Jenderal Ming Fu akan disentuh oleh orang lain.
Tan Yuan Ji menggendong sahabatnya Jenderal Ming Fu di punggung berjalan menuju tempat penguburannya dengan wajah mengeras dan linangan kepedihan di wajah. Ia mengingat kala, ia, Li Sun, Ming Fu, dan Chin masih muda.
Mereka dan anak-anak yang lain sebagai pangeran kecil yang berusaha untuk mencari jati diri juga sebagai utusan dari putra-putra kerajaan tetangga yang dijadikan sebagai jaminan kerja sama antara kerajaan mereka dengan kekaisaran. Mereka dijadikan anak sekolah dan mendapatkan pelatihan dari kekaisaran Liu Bei.
Keempatnya sangat akrab dan selalu tertawa bahagia, juga selalu menderita kala pelatihan yang sangat berat yang harus mereka jalani, "Tidurlah Sahabatku, tugasmu telah usai!" ujar Jenderal Tan Yuan Ji, membaringkan Ming Fu di altar untuk didoakan para biksu sebelum proses pemakaman.
***
__ADS_1
Sedangkan Jang Min melesat menemui Li Phin yang masih terbaring lemah di kamar mereka, "Phin'er … bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Jang Min mendekat dan duduk di sisi tempat tidur menatap istri tercintanya.
"Sayang, aku baik-baik, saja! Bagaimana dengan Para pemberontak?" tanya Dara menatap Jang Min yang terlihat lelah dan banyak bercak darah musuh di baju zirahnya.
"Mereka kabur, saat bala bantuan datang! Aku akan mengurus nanti, aku ingin melihat keadaanmu, Sayang!" balas Jang Min menatap sang istri tercintanya.
"Sayang bagaimana dengan putra kita? Aku belum memikirkan namanya," ujar Dara menatap Jang Min.
"Aku akan memberi nama padanya, Liu Sun Ming! Aku ingin ia mewarisi kekuatan, kesetiaan, dan rasa persaudaraan yang luar biasa juga rasa tanggung jawab dari kakeknya Li Sun dan Jenderal Ming Fu yang hebat.
"Aku ingin kekuatan dua jenderal hebat di Donglang akan menjadi tonggak sejarah untuk Tiongkok kedepannya," balas Jang Min menggenggam erat tangan Dara yang masih menatapnya.
"Liu Sun Ming! Nama yang luar biasa bagus. Suamiku bagaimana keadaan ayahanda?" tanyanya khawatir.
"Ayahanda baik-baik, saja! Jangan khawatir, Tabib Luo masih merawatnya. Setelah ini aku akan melihat ayahanda. Jangan khawatir, Sayang!" balas Jang Min sedikit berbohong, ia takut jika Li Phin terlalu banyak berpikir hingga ia akan pendarahan.
"Oh, syukurlah!" balas Dara bahagia.
"Dara, coba tanya bagaimana keadaan Liang Si?" ucap Li Phin.
"Apa?" pekik Dara bingung, "um, baiklah!" balas Dara sedikit takut jika Jang Min cemburu dan marah jika ia bertanya mengenai Liang Si.
"Iya, aku penasaran!" balas Li Phin.
Dara memahami rasa cinta dan kasih sayang Li Phin kepada Liang Si begitu juga sebaliknya. Liang Si begitu menyayangi Li Phin, "Semoga saja Jang Min tidak merasa marah dan cemburu!" batin Fara.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana dengan keadaan semua prajurit? Apakah semua orang baik-baik saja?" tanya Dara berusaha bertanya sehalus mungkin dan Jang Min tidak merasa curiga.
"Semua baik-baik saja, kecuali Jenderal Ming Fu yang tewas, sisanya terluka dan ada juga yang meninggal," balas Jang Min menatap tajam ke arah Dara, "apakah istriku berani bertanya mengenai Liang Si?" batin Jang Min sedikit cemburu.