Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Sebuah Kitab Racun Iblis


__ADS_3

Setelah mereka menolong salah seorang warga desa sebelah yang melahirkan, Mereka melanjutkan ke kota Xihe. Namun, mereka terlambat mereka hanya menemukan mayat-mayat bergelimpangan di sana, seakan baru saja dijarah dan dirampok.


"Ada yang aneh dengan semua ini?" ucap Luo Zhu, ia memeriksa mayat tanpa luka tetapi darahnya habis kering terhisap sesuatu.


"Ini bukan perbuatan manusia, aku yakin akan hal itu. Apakah ada seseorang yang sedang menggunakan ilmu sesat atau ramuan gila?" tanya batin Zhang Mei.


Ia membaui mayat di sana, ia merasa jika itu bukanlah perbuatan manusia biasa melainkan seseorang yang sudah menguasai tingkat pencapaian yang tinggi di dalam menggunakan racun.


Deg! 


"Apakah ayah masih menyimpan kitab itu?" batin Zhang Mei, ia sudah berulang kali bersama ayahnya Zhang Yung ingin menghancurkan kitab tersebut. 


"Apakah ada yang telah diam-diam membaca kitab tersebut? Lu Dang, aku sangat yakin. Aku mencium darah yang aneh di tubuhnya? Yang berbeda di seluruh orang yang berada di perguruan," batin Zhang Mei, ia masih mengingat mengenai kitab tersebut.


Namun, mereka tak pernah berhasil, kitab itu mereka dapatkan secara tidak sengaja dari warisan seseorang yang ditolong oleh Zhang Yung.


Namun, karena hati nurani dan sifat Zhang Yung yang bijak ia sama sekali tak tergoda dengan hal itu, malah Zhang Yung berhasil menciptakan penangkal semua jenis racun tersebut.


Dengan bantuan Zhang Mei, mereka menjaga keutuhan dari jerat kitab iblis tersebut. Zhang Mei masih memeriksa semua luka, "Sebaiknya kita menguburkan mayat-mayat ini," ujar Luo Zhu.


Beberapa warga mendekat yang selamat dari tempat persembunyian, "Tabib Luo dan Nona Zhang, benarkah itu kalian?" tanya seorang walikota Xihe.


"Ya, Tuan Li. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luo Zhu.


"Seseorang mengamuk dengan memakai topeng tengkorak menculik dan memperkosa para gadis dan wanita mereka tidak pandang bulu. Setelahnya mereka meminumkan sebuah ramuan dan sesuatu cairan pada wanita tersebut.


"Kemudian tubuh semua wanita itu berteriak kesakitan langsung kehilangan darah seakan ada yang menghisapnya Tabib," ujar Walikota Li Chung, "kami tidak berani menolongnya, mereka kuat sekali.


"Mereka seperti menggunakan kekuatan hanya dengan mengangkat tangan saja tubuh semua orang bisa mendekat padanya dan langsung terkulai tak berdaya," papar Li Chung.


"Oh," balas Tabib Luo bingung, "benarkah? Baiklah, aku akan mengirimkan semua informasi ini pada kekaisaran," lanjut Luo Zhu, ia mulai mencatat di dalam hati.


"Sekarang, bantu kami untuk mengubur mayat-mayat ini, jika tidak mereka akan menjadi mayat hidup yang berjalan siang hari dan menghisap darah.


"Kita harus membakar mereka malam ini, tolong bantu saya untuk membakar semua mayat ini," pinta Zhang Mei.


Luo Zhu melihat ke arah Zhang Mei, ia ingin bertanya sesuatu tetapi diurungkannya, ia merasa sangat tidak etis jika bertanya di depan semua orang.


"Apakah Cie Mei tahu apa yang sedang terjadi?" batin Luo, ia sama sekali tak pernah melihat fenomena aneh demikian.


Luo Zhu masih memandang ke arah Zhang Mei yang mengerutkan dahi seakan ia sedang berpikir keras. Semua orang membakar semua mayat malam itu juga.


"Cie, apakah engkau mengetahui sesuatu?" tanya Luo Zhu penasaran, ia melihat jika Zhang Mei bolak-balik masih kembali ke arena pertempuran, seakan-akan ia sedang menyelidiki dan mempertegas pandangannya.


Berulang kali Luo Zhu melihat kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah Zhang Mei. Namun, ia tak berani bertanya disaat semua warga masih merubungi mereka.


Zhang Mei melihat sekilas ke arah Luo Zhu, "Aku tidak yakin dengan firasatku kali ini, tapi melihat kondisi dan keadaan sang mayat dan arena pertempuran yang sama sekali tidak ada perlawanan.


"Aku semakin yakin, kalau semua ini adalah perbuatan orang yang mengamalkan ilmu sesat dari sebuah kitab racun iblis," balas Zhang Mei. 


"Apa?! Kitab racun iblis? Aku baru mendengar hal itu? Pasti kitab itu sangat berbahaya sekali!" ujar Luo Zhu bingung, ia tidak menyangka jika ada orang yang tidak waras untuk mengamalkan isi kitab yang mengerikan itu.

__ADS_1


"Luo Zhu, tidak semua orang berpikiran seperti dirimu. Jika semua orang berpikiran sepertimu dan ayah, aku sangat yakin dunia ini akan aman.


"Namun, kebanyakan hanya orang-orang bejat yang memiliki pikiran tersebut, mereka tidak pernah puas dengan apa yang diberikan Dewa kepada mereka. Sehingga mereka merasa ingin menguasai banyak hal dengan cara instan.


"Mereka tidak peduli, apakah mereka harus menghancurkan manusia lainnya? Mereka hanya tahu, jika untuk mencapai sesuatu dibutuhkan pengorbanan, walaupun pengorbanan itu adalah nyawa orang lain," ujar Zhang Mei.


"Benarkah?!" balas Luo Zhu, ia masih tidak mempercayai hal itu.


"Luo Zhu, kamu masih terlalu sangat muda adikku. Suatu saat kamu akan mengerti dan memahami jika di dunia ini memiliki banyak warna," balas Zhang min, "tidak semua orang, berpikiran dan berpandangan seperti dirimu dan ayah. Bersyukurlah kamu memiliki kebaikan di hatimu. Pertahankanlah kebaikan itu, Dik!" lanjut Zhang Mei.


"Lalu cie, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita terus menyelidiki setelah mengobati para penduduk yang terluka ini ataukah kita akan melaporkannya kepada kekaisaran?" tanya Luo Zhu.


"Kirimkan saja semua informasi kepada kekaisaran melalui merpati, agar kekaisaran bersiap-siap untuk mencari solusi tentang masalah ini.


"Aku sangat yakin, jika Kaisar Liu Fei akan mencari solusi yang tepat. Sebaiknya kita mengobati dan membentengi masyarakat jika si pengacau itu datang lagi, paling tidak mereka bisa menyelamatkan diri. Hanya saja aku tidak yakin, apakah semua ini akan berfungsi atau tidak?" ujar Zhang Mei.


Zhang Mei sedikit tidak yakin karena mereka sama sekali tidak pernah menggunakan penangkal itu, untuk menghancurkan racun tersebut karena selama ini tidak ada seorang pun yang pernah menggunakan racun dari kitab racun iblis yang mengerikan itu.


Zhang Yung dan Zhang Mei berusaha untuk menjaga agar kitab tersebut tidak pernah jatuh kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Keduanya menyimpan kebenaran rahasia kitab tersebut sampai mereka mati.


Akan tetapi sekarang segalanya semakin rancu, "Bagaimana bisa kitab itu muncul ke permukaan? Apakah ada seseorang yang telah mencurinya? Itu tidak mungkin, Ayah pasti akan kehilangan kitab tersebut dan dia pasti akan membicarakannya padaku.


"Apakah kitab itu telah memilih tuannya? Sehingga kitab itu menggunakan dirinya sendiri, untuk mencari orang yang memiliki hati nurani yang sangat bejat?" batin Zhang Mei.


"Cie, aku sangat yakin apa pun yang ingin kamu lakukan, biasanya adalah hal yang sangat luar biasa. Aku akan selalu mendukungmu, Cie. Ayo, kita lakukanlah," ajak Luo Zhu berusaha untuk meyakinkan Zhang Mei yang masih ragu.


"Baiklah, mari kita meminta warga untuk mengumpulkan bahan-bahannya. Apa salahnya jika kita mencobanya," ucap Zhang mei.


"Terima kasih Tabib Luo dan Nona Zhang Mei, kami hanya memiliki ini sebagai ucapan terima kasih," ujar Li Chung sebagai walikota memberikan beberapa tail perak dan sedikit hasil panen.


"Tuan Li, sebaiknya gunakan itu untuk kebutuhan rakyatmu. Mungkin beberapa hari kedepan, malapetaka akan terjadi di kekaisaran Donglang. Aku berharap kalian sudah siap untuk menghadapi semua itu," ucap Zhang mei, ia menolak pemberian walikota Li Chung.


Semua orang terdiam dengar ucapan dari nona Zhang Mei, "Apakah benar yang Nona katakan? Lalu, apa yang harus kami lakukan?" ujar Li Chung bingung.


"Ajarkanlah, semua yang kami ajarkan kepadamu dan wargamu di dalam membuat ramuan tersebut, kepada orang lain. Dengan begitu, kita bisa menyelamatkan nyawa orang lain lagi.


"Minta juga kepada orang yang kamu ajarkan tersebut, untuk mengajarkan kepada orang lain lagi. Dengan demikian, proses untuk melindungi semua warga di kekaisaran Donglang, akan cepat terwujud sekalian kita membantu kekaisaran.


"Jika kita menunggu bantuan dari kekaisaran, itu akan sangat lama karena letak kota Xihe terlalu jauh dari Chang An. Aku harap kalian mengerti," papar Zhang Mei, ia memberi arahan yang sangat bagus kepada semua orang.


"Baiklah Nona Zhang. Kami akan mematuhi dan menuruti semua perintahmu. Salam kepada tabib guru Zhang Yung," ujar Li Chung.


"Saya akan menyampaikan, salam Anda Tuan Walikota kepada ayah saya," balas Zhang Mei tersenyum, "sebaiknya kami akan pergi, kami ingin melihat desa-desa sebelah," lanjut Zhang Mei.


Semua warga melepas kepergian Zhang Mei dan Luo Zhu, dengan perasaan rasa yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Mereka merasa sangat beruntung dengan kehadiran Nona Zhang Mei  dan tabib Luo.


Keduanya berjalan cepat menuju ke desa-desa sebelah, "Awas Titi!" teriak Zhang Mei. 


Zhang Mei  langsung mengibaskan tangannya hingga kepulan asap dan air memukul seseorang yang menyerang mereka dengan racun.


"Siapa kalian? Mengapa kalian menyerang kami dengan bersembunyi. Siapa yang mengirim kalian untuk membunuh kami?" teriak Zhang Mei murka.

__ADS_1


Keduanya melihat kumpulan beberapa orang menggunakan topeng tengkorak sedang menghadang mereka.


"Hahaha, ternyata pasangan mesum yang sedang melintasi hutan ini. Ayo, kita bunuh mereka!" ancam sebuah suara.


Zhang Mei seperti mengenali suara tersebut, "Dasar manusia picik! Aku tidak menyangka jika kau mencuri dan membaca kitab racun iblis itu, Lu Dang!" ujar Zhang Mei marah, ia tidak menyangka jika firasatnya kali ini memang benar-benar nyata.


"Jika aku tahu kau mempermalukan perguruan ramuan, dari dulu Aku akan membunuhmu Lu Dang. Namun, Ayah selalu berharap kau berubah. Ternyata, seorang sampah tidak akan pernah berubah," ketus Zhang Mei.


"Lu Dang? Kaukah itu? Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau melakukan semua ini Lu Dang?" tanya Luo Zhu, ia tidak menyangka jika adik seperguruan yang sangat dihormati dan disayangi olehnya adalah dalang dibalik semua itu.


"Hahaha, Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu saudaraku, Luo Zhu. Kau hanyalah seorang anak selir, guru begitu menyayangimu begitu juga dengan wanita sialan ini!" umpat Lu Dang murka.


"Apa?! Jaga mulutmu Lu Dang, kau tidak berhak untuk berkata begitu kepada kakak tertua. Dia menyayangi kita semua begitu pun dengan guru tak pernah membeda-bedakan di antara kita," bela Luo Zhu.


"Hah! Aku yang merasakan bukan dirimu, Aku membenci kebersamaan kalian. Mengapa Zhang Mei begitu menyayangimu? Apa bedanya denganku?" teriak Lu Dang marah.


"Kau ingin tahu mengapa aku lebih menyayangi Luo Zhu ketimbang dirimu? Dengar, jika kau ingin tahu perbedaan dirimu dengan dia.


"Luo Zhu, ia memiliki kepintaran bahkan martabat yang tinggi daripada dirimu. Namun, ia tidak pernah berlaku angkuh dan sombong apalagi memandang rendah kepada semua orang.


"Sedangkan kau! Kau hanya putra seorang perdana menteri tetapi sikapmu sangat arogansi. Kau selalu semena-mena kepada semua orang, perbedaan lainnya:  sejak Luo Zhu kecil aku sudah mengenalnya hingga detik ini ia tidak pernah berpikiran jahat kepadaku.


"Luo Zhu, benar-benar menyayangiku sebagai saudaranya dan tidak pernah berniat jahat atau berpikiran mesum kepada diriku. Tidak sepertimu yang selalu diam-diam menghalalkan dan mengintip diriku jika aku mandi.


"Kau sebagai pencuri yang tak tahu malu, kau juga yang memperkosa para wanita itu bukan? Kau telah mendalami ilmu dari kitab racun iblis. Kau biadab sekali Lu Dang! Aku akan membunuhmu!" ancam Zhang Mei murka.


"A-apa?! Benarkah itu Lu Dang? Kau yang melakukan semua kejahatan itu? Kau tega sekali!" umpat Luo Zhu.


"Hahaha, serang dan bunuh mereka! Jangan biarkan mereka hidup, ini akan sangat berbahaya! Bunuh mereka seperti kita menghancurkan perguruan ramuan Zhang Yung!" perintah Lu Dang. 


"Apa kau bilang? Kau telah menghancurkan perguruan?" teriak Luo Zhu dan Zhang Mei, keduanya tidak mempercayai hal itu.


"Ini buktinya!" balas Lu Dang, langsung menunjukkan kitab racun iblis kepada mereka berdua.


"Bangsat kau Lu Dang! Aku akan membunuhmu!" teriak Luo Zhu menyerang Lu Dang, akan tetapi Luo Zhu langsung terpental dan tubuhnya terjerembab begitu mudah di tanah dengan tubuh tak lagi bisa bergerak.


"Hahaha, bodoh sekali! Kau bukanlah tandinganku Luo Zhu," hina Lu Dang, ia sangat senang sekali melihat Luo Zhu sekarat.


"Ilmu apakah yang digunakan Lu Dang? Beginikah rasa yang diderita oleh semua korbannya?" batin Luo Zhu, ia merasakan seluruh tubuh dan sendinya tidak bisa bergerak lagi.


Masa panas menggerogoti tubuh Luo Zhu, iya saya akan merasakan mati. Perlahan-lahan darah di seluruh tubuhnya seakan tersedot keluar oleh suatu kekuatan yang sangat mengerikan.


Luo Zhu tidak melihat apa pun yang mengambil darahnya namun semua darahnya seakan ingin keluar, "Ya, Dewa. Aku mohon kepadamu selamatkanlah cie cie Zhang Mei," lirihnya.


"Titi! Minum ini!" ujar Zhang Mei, ia melesat secepat kilat bak bayangan memberikan pil ke mulut Luo Zhu. 


Zhang Mei menyambar sebuah dahan di sebuah pohon yang tepat berada di dekat mereka dan memberikan sebagian kekuatannya pada tongkat dahan tersebut.


"Gunakan ini sebagai senjatamu!" ucap Zhang mei, kala ia melihat Luo Zhu sudah mulai bisa bergerak.


Selain itu, Zhang Mei mengetahui jika Luo Zhu bukanlah tandingan Lu Dang dan kawan-kawannya. Zhang Mei, tidak peduli dia menyalurkan sebagian kekuatannya melalui tongkat tersebut untuk diberikan kepada adik angkatnya.

__ADS_1


 


__ADS_2