Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Wanita luar biasa bermulut tajam


__ADS_3

Liu Min langsung berenang membawa Dara ke pinggir, ia takut jika ia akan pingsan dan mati sia-sia. Liu Min membaringkan Dara di pinggir di antara lumpur dan bebatuan, "Sejak aku melihat gadis ini, aku selalu saja melihat bayangan pasangan aneh dari zaman lain yang aku tidak tahu.


"Apakah ada hubungan antara bayangan itu dan gadis ini? Lalu apa kaitannya denganku?" batin Liu Min memperhatikan wajah cantik Dara sambil menekan perut Dara untuk membuang air yang telah masuk ke dalam rongga perut Dara 


"Huek! Uhuk! Uhuk!" air meluncur dari mulut Dara dan ia langsung terbatuk.


"Akhirnya, wanita ini sadar juga! Menyulitkan sekali," umpat Liu Min di dalam Bahasa Mandarin. Ia takut jika ia berbahasa Kanton maka Dara memahaminya, ia mengingat dengan jelas jika Danu bisa berbicara Bahasa Kanton karena ajaran Dara.


Liu Min membaringkan tubuhnya berusaha untuk beristirahat sejenak. Sementara Dara mendengar sayup-sayup bahasa yang sudah hampir menemaninya selama setahun ini di dalam dunia khayalan.


"Liu Min …," lirih Dara tanpa sadar. Bayangan terakhir ia dan Liu Min membuat jiwanya merasakan kesedihan dan kehilangan.


Deg! 


Jantung Liu Min bergetar dan langsung bangun dan menatap wajah Dara, "Sial! Selain penyihir, gadis bernama Dara ini benar-benar cenayang! Jangan-jangan musuhnya ingin membunuhnya karena ia memiliki kekuatan sihir yang bisa melihat masa depan," batin Liu Min kacau.


Tiada seorang pun di Indonesia yang mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya selain atasannya Laksamana Tan Juan.


Dara membuka mata dan kedua mata mereka bertemu, keduanya saling terdiam, bibir Dara bergerak ingin mengatakan sesuatu dan derai air mata meluncur. 


"Apa yang terjadi? Mengapa Dara menangis?" batin Liu Min semakin bingung tetapi sebagian jiwanya bahagia dan terasa sakit menghimpit membuat perasaannya menjadi galau.


"Bajingan! Dia bukan Liu Min. Dia pasti ketua mafia atau penjahat mengerikan. Biasanya mafia hebat selalu bertampang manis? Bukankah begitu di novel-novel?" batin Dara.


Ia langsung bangkit ingin melawan, "Aku tidak akan ingin mati konyol hanya karena pria ini!" batin Dara membulatkan tekadnya, tangannya bergerak cepat mengambil bongkahan batu untuk memukul Liu Min.


Namun, Liu Min sudah mengantisipasi hal itu langsung menangkis tangan Dara hingga batu terpental, "Jangan pernah lakukan hal itu!" umpat Liu Min kesal.


"Siapa kau! Apakah kau mafia dari Hongkong?" tanya Dara.


Kriuk!

__ADS_1


Cacing di dalam perut Dara telah berbunyi, "sial! Berapa lama sih, aku tidak makan?" batin Dara merasa sekujur tubuhnya lunglai.


"Hahaha, cacing di dalam perutmu, sudah minta diberi makan tuh!" ujar Liu Min di dalam bahasa Kanton. Ia sudah tidak peduli jika Dara akan semakin berang.


"Siapa kau!" teriak Dara tidak peduli dan tidak ingin terlihat lemah di depan Liu Min.


"Sudahlah, nanti aku 'kan memberitahukan padamu, yang penting … kita cari makan saja dulu!" balas Liu Min.


Suara-suara ribut dan nyalak anjing mulai terdengar, "Sial! Aku yakin anak buah Pablo Sandez, telah mencari kita!" ujar Liu Min.


"Pablo Sandez? Mafia Kartel dan Narkoba Meksiko? Bagaimana bisa dia sampai kemari? Ini masih Indonesia 'kan?" tanya Dara seakan segalanya semakin membagongkan.


"Ya, banyak yang terjadi sejak kamu koma." Liu Min berusaha menajamkan mata dan pendengarannya juga memeriksa senjata di genggaman.


Kriuk! 


Kembali suara perut Dara bergema, "Kalau begini, aku bukan mati terbunuh mafia tapi, mati terbunuh cacing di perutku!" umpat Dara kesal.


"Nih, makan!" ucap Liu Min memberikan setengah coklat batangan yang mulai lumer.


"Sial, sekali hidupku! Baru saja terbangun, sudah terjebak lagi," umpat Dara kesal dan mengunyah semua coklat lumer tersebut. 


Liu Min mencerna kata-kata Dara di dalam bahasa Indonesia yang sangat cepat, "Jika berbicara, pelan-pelan aku baru belajar bahasa Indonesia sekitar 3 bulan!" ujar Liu Min.


"Itu urusanmu!" balas Dara tetap memakai bahasa ibunya, ia tidak peduli, "ngapain pula aku peduli dengan bandit ini? Hm, walaupun dia telah menolongku sih, dia bisa saja membunuhku!" batin Dara.


Ia terus berjalan mengendap-endap bersama dengan Liu Min berusaha bersembunyi di antara hutan bakau, "Aduh," lirih Dara kala kakinya menginjak sisa tunggul dari pohon bakau. Namun ia berusaha untuk menahannya.


"Cari, mereka! Aku yakin jika mereka berada di sini!" ujar suara dari anak buah Sandez bergema dari daratan yang tidak jauh dari keberadaan Liu Min dan Dara.


"Sialan!" umpat Dara, "apakah kamu memiliki pisau?" tanya Dara dengan bodoh.

__ADS_1


Liu Min meraba betisnya dan menarik sebuah sangkur dari lipatan celana jeans,


"Wow! Lebih dari yang aku harapkan!" sindir Dara kala Liu Min memberikan sangkur padanya.


Dara langsung mematahkan sebuah dahan bakau dan merincingkannya dengan cepat, "apa yang kau lakukan?" bisik liu Min.


"Aku butuh senjata. Lihat sajalah!" balas Dara dengan dingin.


Liu Min terdiam, "Danu benar, lebih baik melihat gadis ini terbaring koma daripada sadar," umpar Liu Min.


"Bawalah sangkur itu sebagai senjatamu!" ujar Liu Min memberikan usul.


"Wow! Kamu mafia yang sangat baik sekali! Jarang bajingan seperti kalian begitu bermurah hati!" sindir tajam Dara merasa jijik.


Liu Min berusaha mencerna tetapi dia tidak ambil pusing, musuh di depannya lebih berbahaya daripada gadis bermulut tajam di belakangnya.


Keduanya perlahan bergerak di antara lumpur dan rimbunnya hutan bakau, Dara melihat bayangan beberapa orang mengendap-endap di depan mereka dengan senjata laras panjang.


Syut!


Dara melemparkan dahan kayu yang tlah diruncinginya, jleb! Langsung menembus jantung si penyerang dan terkapar. Dara melakukan hal itu karena pelajaran yang diambil di dunia khayalan, selain itu sisa dari kekuatan naga pedang yang sebagian masih bersemayam di tubuhnya dan sebagian tertanam di tubuh Li Phin.


Liu Min terperangah Dara perlahan langsung bergerak dengan kecepatan diluar nalar manusia, "Gadis ini seperti gadis yang aku tonton di film saja!" batin Liu Min.


Ia melihat kelihaian Dara melesat di antara pohon bakau mengambil senjata laras panjang dan menarik ranting kayu tersebut dan kembali menancapkan kepada pria yang berada di sampingnya dan melesat secepatnya menarik ranting kembali membunuh pria di sisi kiri hanya dengan sebuah ranting.


"Aaa!" teriak musuh Dara yang terbunuh 


Dor! Dor! 


Serangan tembakan kembali bergema, "sial!" umpat Liu Min menembak ke arah musuh mereka yang ingin menembak Dara.

__ADS_1


Ia melihat Dara menghilang, "Ke mana lagi gadis itu?" batin Liu Min bingung Dara sudah muncul di daratan dengan memberondong musuhnya bermodalkan senjata curian.


"Ya, ampun! Wanita ini benar-benar luar biasa!" batin Liu Min terperangah.


__ADS_2