
"Aku tidak pernah tahu, apa gelar diberikan oleh kaum pendekar di jagad persilatan, untukku! Aku hanya tahu, jika orang-orang licik dan kejam seperti kalian harus musnah!" balas Gu Shanfeng dingin.
Wajah tampannya mengeras bak pualam dingin dan membuat banyak wanita menggandrunginya, akan tetapi ia sama sekali tidak berminat untuk menikah pada saat ini.
Gu Shanfeng menebaskan pedang dan sebelah tangan di balik punggung dengan posisi seakan ia sedang berlatih pedang, "Kakak Tertua memang sangat hebat!" batin Gu Shanzheng, mengagumi kakaknya. Ia pun membantu kakaknya untuk melawan Shan Shi'er dan jenderal Mongol yang terkenal barbar.
Dentingan pedang dan serangan yang dilakukan oleh Gu Shanzheng benar-benar luar biasa, akan tetapi, Shan Shi'er bukanlah raja Mongol yang mudah ditaklukkan. Ia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa kuat. Kulit tubuhnya sekeras baja bukan hanya itu, ia begitu lihai menggunakan tombak besar mirip milik Liu Bei yang diwariskan kepada Gu Shanzheng.
Berulang kali Gu Shanzfeng menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan kulit naga milik Shan Shi'er namun, berulang kali kulit itu kembali bersatu dengan cepat, membuat Gu Shanfeng kelelahan.
"Sial! Dari tanah apakah Dewa menciptakan kulit Shan Shi'er?" guman Gu Shanfeng kesal, ia sudah berulang kali melukai bahkan membunuh Shan Shi'er tapi selalu saja hidup kembali seakan ia memiliki nyawa cadangan.
"Mungkin dari tanah longsor!" balas Gu Shanzheng sekenanya.
"Apa?" balas Gu Shanfeng berusaha untuk mencerna apa yang dikatakan oleh adiknya, "mengapa kamu bilang dari tanah longsor, Adik Ketiga?" tanya Gu Shanzfeng bingung.
"Bayangkan saja, setiap Kakak sudah berhasil membuatnya terluka selalu saja kulitnya kembali lagi luruh! Mungkin Dewa, kehabisan tanah yang baik dan mengambil sembarangan saja!" balas Gu Shanzheng kembali melesat dengan tombak milik kakek dari pihak ibunya.
"Hahaha! Kamu benar juga, bukankah dia mengambil semua hak Ibunda Permaisuri Zhu Sia (Ibunda Gu Shanfeng dan Gu Shanzian ibu tiri dari Gu Shanzheng yang terlahir dari selir, adik dari Kaisar Liu Fei ayah dari Liu Min (Jang Min) Selir Liu Jang Yin).
"Makanya bagaimana jika kita mengembalikan hak Ibunda Permaisuri dan Nenek Mo Yu'er!" balas Gu Shanzheng.
"Kau benar! Karena perbuatan Ayah Shan Shi'er Nenek Mo Yu'er dan Kaisar Liu Bei tidak menikah, kamu juga harus terbuang, dan Ibunda Liu Jang Yin harus di berdiam diri di istana tanpa boleh keluar," balas Gu Shanzfeng mengerti betapa sedih hati selir ayahnya tersebut yang tidak lain adalah ibunda Gu Shanzheng.
__ADS_1
Setiap kali Selir Liu Jang Yin ingin menonton festival atau upacara kerajaan ia harus berpura-pura menjadi seorang dayang di sisi Ibunda Permaisuri Zhu Sia dan dirinya.
"Ayo, kita serang dan bunuh dia!" ujar Gu Shanzheng.
Keduanya melebur menebaskan tombak dan pedang mereka, membuat Shan Shi'er kewalahan dan berulang kali harus mundur ke belakang dan bersalto akibat serangan Gu Shanfeng yang melesat seringan bulu belum lagi deru dan tabasan tombak Gu Shanzheng.
"Sial! Mengapa tombak Gu Shanzheng bisa melukaiku?" batin Shan Shi'er tidak mengerti.
"Adik Ketiga! Terus putar dan lukai tubuhnya! Aku akan menyalurkan kekuatanku padamu!" teriak Gu Shanfeg mendapatkan ide.
"Baik Kakak!" teriak Gu Shanzheng yang langsung melesat memutar tombaknya dan melesat menghajar tubuh Shan Shi'er kedua tombak berlaga dan mengeluarkan percikan warna biru dan api, Gu Shanfeng melesat ke belakang tubuh Gu Shanzheng menyalurkan tenaga dalamnya hingga Gu Shanzheng melesat dan menebaskan pedang ke arah Shan Shi'er.
Pertempuran kembali terjadi dengan ledakan yang mengerikan, tetapi Gu Shanfeng dengan tenaga dalamnya mampu menghalau semua serangan yang dilakukan oleh Shan Si'er.
Gu Shanzheng dan Gu Shanfeng melesat secepatnya memutar tubuh dan menghunuskan pedang tepat ke jantung Shan Si'er, hingga kematian menjemputnya. Kedua senjata pedang dan tombak kakak beradik menghunus tepat di jantung Shan Shi'er.
Namun, belum lagi Gu Shanzheng bergerak ia sudah harus melawan jenderal dari Mongol.
***
Sementara Jang Min di sisi kanan Dara masih bertempur dengan Raja Changsha, "Sial! Jika Dara melawan sendirian ia tak akan pernah sanggup! Matahari sudah mulai terbenam.
"Tidak ada tanda-tanda jika pertempuran akan usai. Pihak lawan pun sudah banyak kehilangan orang hebat di pihak mereka, aku rasa mereka tidak akan mundur selain kematian!" batin Jang Min.
__ADS_1
Ia melihat jika Raja Zedong dan Jenderal Sepuh Chen Lei sudah mulai bisa menyudutkan Raja Changsha ditambah Gu Shanfeng mulai turun tangan membantu.
"Yang Mulia! Bantulah Permaisuri!" teriak Raja Zedong.
"Baiklah! Aku serahkan Raja Changsha dan yang lain kepada kalian!" ujar Jang Min melesat ingin membantu Liang Si dan Dara di dalam tubuh Li Phin.
***
Sementara Dara masih melawan Lu Dang dengan mengerikan ia berulang kali harus bersalto dan menghunuskan pedang juga melindungi tubuhnya agar tidak tercakar oleh ilmu yang mengerikan yang dikeluarkan oleh Lu Dang.
Di sisi kirinya Liang Si berusaha untuk membantu Li Phin dan Dara menjatuhkan Lu Dang, tetapi berulang kali cakar Lu Dang mengenai tubuh Liang Si yang tidak peduli seakan ia benar-benar ingin melindungi kekasih hatinya.
"Jika kita tidak mengakhiri semua ini. Maka Liang Si akan mengorbankan nyawanya untuk kita!" ucap Dara melirik sekilas tubuh Liang Si yang sudah berlumur darah.
"Ya, Liang Si terlalu bodoh!" sungut Li Phin walaupun hatinya merasakan kesedihan dan kebahagiaan akan cinta yang diperlihatkan oleh Liang Si.
"Ayo, Phin'er jika kamu masih ingin melihat Liang Si esok hari! Ayo, akhiri perang ini!" ujar Dara.
"Ayo," ajak Li Phin melihat sekilas Jang Min yang masih bertempur di sisi kanan mereka.
Keduanya kembali menyatukan kekuatan mereka, "Hahaha! Rakyat Donglang harus tahu, jika Permaisurinya adalah seorang siluman rubah betina (sejenis musang biasanya adalah siluman yang jahat dan memiliki kekuatan)!" cetus Lu Dang membuat pertempuran terhenti seketika.
"Bajingan, kau Lu Dang! Seenaknya mengatakan diriku Rubah!" teriak Li Phin marah, "Dara Sasmita bukanlah iblis tapi seorang wanita dari masa depan yang akan membunuh dan menghancurkanmu! Dia adalah istri dari Kaisar Liu Min!" teriak Li Phin murka dan melesat menebas cakar Lu Dang dentingan pedang dan cakar bergema membuat sebuah kobaran api.
__ADS_1
Bayangan naga di pedang hijau Li Phin ke luar merayap melingkupi si pemilik pedang. Semua orang terkesima bersamaan dengan munculnya wajah dan tubuh Dara di antara tubuh Li Phin dan pedang bagaikan dua jiwa dan dua tubuh yang mencoba untuk bersatu.
"Kalian lihat, bukan? Apa yang aku katakan adalah benar adanya!" teriak Lu Dang berusaha untuk memprovokasi semua orang agar membenci dan memusuhi Li Phin, karena pada saat itu semua orang percaya akan kejahatan seekor rubah.