
Ciiit!
Nona Zhang Mei langsung mengerem mobil dan menghentikannya, ia melesat keluar secepat kilat dengan menendang pintu mobil hingga pintu mobil melayang mengenai pengendara motor yang tersisa.
"Enyahlah kalian! Jika tidak aku akan membunuh kalian!" teriak Mona Zhang Mei marah, ia langsung menebarkan serbuk putih membuat para pengendara kebingungan mereka terjebak dalam ilusi yang diciptakan nona Zhang Mei.
Nona Zhang Mei membiarkan para pengendara motor kebingungan dan meraung menangis bahkan saling bunuh di antara mereka.
Sementara ia langsung melesat naik ke atas kap mobil dengan kecepatan yang luar biasa, Zhang Mei menyambar tubuh Liu Min membawanya pergi menuju Kota Jinping ke sebuah rumah yang tidak jauh dari gurun Jinping.
"Bertahanlah, Kaisar … banyak yang bergantung padamu!" lirih Nona Zhang Mei.
Nona Zhang Mei memberikan serbuk ke luka Liu Min dan mengeluarkan peluru, ia juga memuntahkan mustika penguat sukma dari mulutnya, mustika berpendar bercahaya putih dan memasukkan ke dalam mulut Liu Min.
"Bangunlah Kaisar, waktumu masih panjang di kehidupan ini. Sudah waktunya kamu bahagia dengan cintamu. Ayo, bertahanlah!" bisik Zhang Mei di telinga Liu Min.
Ia menggerus sesuatu di batu pipih dan meremas tumbukan ramuan tumbuhan ke mulut Liu Min. Setelahnya ia menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Liu Min, yang terbaring lemah tak sadarkan diri.
Zhang Mei terdiam ia masih duduk di dalam gelap malam, cahaya bulan purnama yang belum sempurna bertengger di langit, ia melihat ke hamparan gurun Jinping.
"Tepat pada hitungan kalender Masehi dan Saka pada tahun 221 Saka (sebelum Masehi) di mana perang itu terjadi, dua hari lagi tanggal dan waktunya sama hanya berbeda waktu dan zaman.
"Aku berharap jika Permaisuri Dara Sasmita dan Kaisar Liu Min benar-benar kembali ke tubuh mereka (reinkarnasi Liu Min dan Dara Sasmita sekarang).
"Semoga di saat Naga merah dan Qinglong (naga hijau) bertemu tidak terlalu banyak korban nyawa berjatuhan dan kehancuran yang akan diciptakan mereka," batin Zhang Mei.
Ia masih menatap cahaya bulan, ia ingin meniup seruling namun itu akan memancing Lu Dang (Guangzhou) mengetahui keberadaan mereka berdua. Nona Zhang Mei duduk di antara dahan pohon bertengger menatap gelap malam.
***
__ADS_1
Sementara Liu Min masih bermimpi mengejar seorang gadis kecil mencuri kacang dan tertawa bahagia, "Li Phin!" teriak Liu Min.
Pusaran mimpi berganti kala ia dan Li Phin (Dara Sasmita) pergi ke Lembah Luo Yi dan bertemu dengan Zhang Mei muda, pusaran mimpi terus berganti hingga masa kini, mimpi itu membuat keringat membanjiri tubuhnya.
Tubuhnya bergetar hebat, cahaya lilin dan dupa memenuhi ruangan membuat Liu Min di ambang sadar dan tidur mengajaknya menelusuri kehidupan pada masanya. Ia mulai mengingat banyak hal.
***
Sementara Ahim Yilmaz, Liu Amei, Liang Bo, dan Luo Kang langsung melesat menghindari ledakan pertempuran bersama anggota dari Tan Juan yang palsu.
Mereka ingin ke Kota Jinping, namun karena Liu Min menelepon agar mereka kembali ke Hunan untuk mengambil pusaka Ahim Yilmaz yang diwariskan kepada ibunya, ia sendiri tidak mengetahui itu dari mana.
"Sayang, apakah kamu masih mengingat dimana menyimpan benda pusaka itu?" tanya Liu Amei.
"Aku mengingatnya, aku menyimpannya di belakang pohon bunga persik di taman kota di samping museum Hunan di rumah putih (istana putih zaman Dinasti Donglang adalah kediaman dari Jenderal Tan Yuan Li ayah dari Tan Jia Li).
"Aku berharap jika mereka tidak akan menemukan itu. Aku sangat yakin karena aku selalu mengawasinya diam-diam," balas Ahim Yilmaz, ia selalu lari pagi dan malam hari hanya sekedar mengawasi benda pusaka itu.
Ahim mencari tempat yang aman hingga ia tiba di depan istana putih yang hanya tinggal puing dan nama, ia langsung mencari tempat dan menemukan pohon bunga persik yang sudah ratusan tua masih berbunga indah dan subur dengan lubang gerowong di bagian akar menjorok ke tanah.
"Syukurlah! Kalau begitu!" balas Liu Amei.
Bagaimana dengan lukamu Liang Bo?" tanya Ahim penasaran, ia hanya melihat jika Liang Bo hanya diam saja.
"Aku rasa Luo Kang sudah mengobatinya dengan sempurna," balas Liang Bo.
"Itu karena kamu memiliki daya tubuh dan imun yang luar biasa, aku sendiri heran mengapa kamu tidak tewas Dokter Liang?" tanya Luo Kang.
"Apakah kamu berharap aku tewas begitu?" tukas Liang Bo, ia masih memikirkan nasib istri dan kedua anaknya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku malah berharap kamu selamat dan kita bisa bersama-sama lagi, membangun masyarakat sehat!" ucap Luo Kang.
"Ya, kamu benar. Aku hanya mengingat Aching dan si kembar lagi apa?" lirih Liang Bo.
"Sabarlah, setelah kita mengambil pusaka itu. Kita akan langsung secepatnya ke sana. Aku yakin Amin sangat membutuhkan itu, aku sendiri tidak tahu ada apa sebenarnya?" ujar Ahim Yilmaz.
Semua menjadi hening tak ada lagi yang bersuara, mereka hanya menantikan banyak hal di dalam diam, berharap segalanya akan cepat berakhir dan baik-baik saja.
Mereka telah tiba di istana putih, Ahim dan yang lainnya keluar dari mobil dan membawa senjata api di balik pakaian mereka.
Keempatnya berlarian dengan mengendap-endap menghindari kecurigaan orang-orang untuk tidak menangkap ataupun musuh yang sedang mengawasi, mereka benar-benar waspada.
Ahim berhenti di sebuah pohon bunga persik yang gerowong dan sudah tua, ia mengulurkan tangan dan mengambil sebuah peti yang tertutup plastik dan kain hitam. Ia langsung menyelempangkan di bahunya agar tak terlepas.
"Ayo, kita ke kota Jinping!" ujar Ahim Yilmaz.
Keduanya kembali berlarian dengan mengendap-endap dari balik pepohonan bunga dan puing-puing bekas istana kediaman Tan Yuan Ji.
Liu Amei merasakan sesuatu di balik puing-puing rumah tersebut, ia berhenti kala semua orang sudah menjauh.
"Apa itu? Mengapa itu berkilau? Aku seperti mengenalnya?" batin Liu Amei.
Ia langsung berlari mendekat dan melihat sebuah pedang dan busur juga anak panah yang masih rapi di dalam tempat yang terbuat dari kulit, ia juga melihat boomerang membuat Tan Jia Li langsung meraih semua itu tanpa pikir panjang ia merasakan kedekatan dengan ketiga benda tersebut.
"Mengapa lama sekali?" tanya Ahim.
"Ada yang aku ambil!" balas Liu Amei langsung duduk di sebelah suaminya
Ahim langsung mengendarai mobil melesat menuju ke kota Jinping, mereka melihat jika hari sudah mulai sore. Semua orang menatap ke angkasa dengan cemas, berharap tidak terjadi apa pun pada Dara, Liu Min, dan semua sandera.
__ADS_1
Akan tetapi, semuanya menjadi kacau, kala mereka melihat orang-orang menggunakan pakaian ninja sudah berada di depan mereka mencoba untuk menghadang dan menghentikan laju mobi.
Para ninja itu melesat dengan kecepatan yang luar biasa melesat dan sudah mengepung mobil.