Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Putra seorang selir


__ADS_3

"Sudahlah, kita sudah terlalu lelah. Zhang Fuk! Potong dan sop saja orang ini, lumayan untuk makanan kita malam ini." ujar Gu Shanzheng.


Semua penduduk terdiam tidak menyangka jika Jenderal yang bersama mereka benar-benar akan memakan orang. Masing-masing penduduk saling berhimpitan dan ketakutan merayap di jiwa mereka.


"Apa kau bilang?" ujar Tan Jia Li, "aku tidak segila kamu mau makan orang! Masih banyak makanan di dunia ini," teriak Tan Jia li saling berhadapan.


"Daripada kamu capek-capek mengintrogasinya mending dibunuh saja! Kasihan para warga, mereka butuh makan," ujar Gu Shanzheng santai, "selama ini pasti dialah biang kerok untuk menakuti semua penduduk, agar tidak pergi ke ladang dan bekerja.


"Dengan mengatasnamakan Kaisar Liu Min. Jadi, aku rasa … karena tubuhnya ini lumayan gemuk bisa memberi makan kita secara keseluruhan," ucap Gu Shanzheng.


"Baik, Yang Mulia Jenderal! Makan besar! Makan besar!" ujar Zhang Fuk mengayunkan kepak ke arah leher Xiang Lu.


"Aaa! Ampun, saya akan mengatakan sejujurnya,"ujar Xiang Lu.


"Ahh! Ayo, katakan siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan segala konspirasi kekacauan dan menakuti penduduk?" tanya Gu Shanzheng sedingin kutub.


"Seorang pria bertopeng, dia meminta kami sebagai adipati dari kepala Distrik Xihe untuk melakukan hal itu. Jika tidak, keluarga kami akan dibunuh. Bahkan, kepala Distrik Xihe sampai detik ini mereka sekap entah di mana beserta keluarganya," ujar Xiang Lu.


"Lalu, apakah kalian juga yang membubuhkan racun di sumur-sumur masyarakat?" tanya Tan Jia Li.


"Tidak, kami tidak berani melakukan  hal itu. Seseorang yang selalu memakai penutup kepala, dia juga yang selalu mengetahui dan menumpas setiap pengawal yang membawa bahan pangan juga selalu menggagalkan rencana Kaisar Liu Min, untuk mengirimkan pangan dan obat-obatan ke Xihe," ujar Xiang Lu berlutut.


"Hah, kamu benar-benar pengecut. Kau dengan mudah membuka mulut untuk lawanmu," ujar Gu Shanzheng menatap tajam ke arah Xiang Lu.


"Aku tidak masalah mati, aku hanya ingin tolong, selamatkanlah anak dan istriku juga Kepala Distrik Xihe yang ditawan di perbatasan Gunung Kunlun dan Wuling," ujar Xiang Lu.


"Apa? Apakah maksudmu kerajaan Wuling ikut memberontak?" tanya Gu Shanzheng.


"Bukan! Aku rasa bukan, tapi lebih dari itu, mereka sepertinya ingin mengadu domba Kerajaan Wuling dan Kekaisaran Donglang.

__ADS_1


"Bahkan, kemarin Pangeran kedua Limen Utara telah mereka sekap dan ditangkap beserta putri Jendral Li Sun, Tapi aku tidak berani menolong mereka, karena mereka orang hebat! Aku menakuti penduduk agar mereka tidak berkeliaran dari Xihe," ujar Xiang Lu.


"Um, baiklah aku tidak bisa mempercayai kamu. Tapi, kamu bisa mengantarkan kami besok ke Perbatasan Gunung Kunlun dan Wuling," ujar Gu Shanzheng.


"Baik, hamba akan melakukannya! Maaf, para warga aku hanya tidak ingin kalian ke luar dari Xihe karena di perbatasan Desa Ling Gao dan yang lain selalu ada perampok dan mereka orang hebat," ujar Xiang Lu.


"Siapa orang ini sebenarnya!" batin Tan jia Li, "bisa jadi dia adalah musuh yang menyamar," batin Tan Jia Li.


***


Keesokan paginya Tan Jia Li, Gu Shanzheng, dan Xiang Lu menunggang kuda perlahan-lahan  menuju ke arah Gunung Kunlun dan perbatasan Wuling.


"Wuling masih saja sama!" batin Gu Shanzheng, Ia putra Selir Liu Jang Yin sepupu dari Kaisar Liu Fei ayah Kaisar Liu Min. Sehingga sedari umur 10 tahun ia wajib mengikuti wajib militer ke kaisaran Donglang sebagai rasa kekeluargaan untuk membela kerajaannya.


Tan Jia Li melihat ke arah perbatasan Wuling, ia tak pernah ke Wuling sehingga ia sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Wuling. 


"Tuan, aku hanya berani sampai di sini mengantarkan kalian! Aku tidak ingin mereka curiga jika kalian telah berhasil di Xihe," ujar Xiang Lu.


Xiang Lu menelan ludahnya, "Ba-baik jangan khawatir Yang Mulia," ujarnya melesat kembali ke Xihe, di sampingnya di dalam rerimbunan semak bayangan Lin Tao dan Zhao Wei mengikutinya.


Gu Shanzheng dan Tan Jia Li berkuda cepat memasuki Perbatasan gunung kunlun dan Wuling, "Apakah menurutmu penyamaran kita sudah cukup luar biasa sebagai pedagang?" tanya Tan Jia Li.


"Siapa bilang kita sebagai pedagang?" ujar Gu Shanzheng.


"Apa maksudmu?" tanya Tang Jia Li menatap ke arah Gu Shanzheng.


"Siapa pun tidak akan yakin jika kita seorang pedagang. Akan tetapi kita sebagai pasangan suami-istri yang sedang melakukan perjalanan ke Taman Wuling yang indah, bulan ini adalah perayaan Kerajaan Wuling.


"Semua orang akan mendapatkan banyak kesenangan  dan hiburan, kamu tidak akan pernah merasa bosan di Wuling," ujar Gu Shanzheng.

__ADS_1


"Um, jadi kita ke mana sekarang? Aku tidak pernah ke Wuling," jujur Tan Jia Li.


"Baiklah, ayo ikutan aku!" ajak Gu Shanzheng memacu kudanya memasuki Kota Wuling. 


"Wah, Wuling sangat indah! Aku baru tahu jika Wuling begitu indah. Hei, Tuan Gu! Um, kamu tidak rindu dengan rumah kamu?" tanya Tan Jia Li menatap ke arah Gu Shanzheng.


"Um, aku rindu aku sudah terlalu lama tidak pulang, hehehe aku hanya bertemu ibuku jika dia berkunjung ke Kaisaran," ucap Gu Shanzheng.


"Apaakah Wuling dan kerajaan Mongol berteman dengan baik?" tanya Tan Jia Li.


"Permaisuri Zhu Sia adalah putri Mongol aku rasa Wuling berteman cukup baik, tapi aku tidak tahu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka," ucap Wuling dengan seberkas kesedihannya. 


Ayahnya Raja Wuling Gu Tian menikahi putri Mongol melahirkan dua putra Mahkota yang pertama Gu ShanFeng dan Gu Shanzhai. Gu Shanzheng hanyalah putra ketiga yang terlahir, sebagai putra selir tidak terlalu penting kedudukannya sehingga ia selalu diasingkan ke Kaisaran Donglang dibesarkan oleh kakeknya Liu Bei.


Ia susah hamoir 20 tahun tidak pernah pulang ke Wuling, karena mereka sangat takut jika kecakapan Gu Shanzheng akan menjadi raja Wuling selanjutnya.


Sementara Gu Shanzheng selalu suka bersenang-senang dan bermain wanita sedangkan Gu Shanzhai lebih senang berjudi.


Gu Shanzheng hanya diam saja memasuki penginapan di pusat Kora Wuling keduanya memakai pakaian bangsawan dan wajah Tan Jia Li sedikit di poles sehingga begitu menawan.


"Selamat datang Tuan Muda di penginapan kami! Apakah Tuan Muda membutuhkan seorang wanita?" tanya si pelayan.


"Tidak! Saya bersama dengan istri saya, bisa-bisa kepala saya dipenggal nanti," bisik Gu Shanzheng. Bisikannya menbuat seluruh tamu di penginapan langsung melihat ke arah pasangan di depan mereka.


"Hahaha, zaman sekarang masih ada seorang pria yang takut dengan istrinya? Hahaha, bodoh sekali!" ujar Seorang pria berpenampilan keren dan seorang bangsawan.


Gu Shanzheng terdenyun, "Aku bukan takut, tapi menghargainya sebagai wanita menghargai ibuku yang telah melahirkanku," ujar Gu Shanzheng tersenyum.


Seorang pria dari lantai atas di sebuah meja sedang menikmati arak dan beberapa wanita cantik menemaninya mengamati Gu Shanzheng dan Tan Jia Li.

__ADS_1


"Panggil pasangan itu kemari!" ujar pria bangsaean trrsebut.


"Baik, Yang Mulia!" ujar Pengawal langsung berjalan menyusuri tangga dan menghampiri Gu Shanzheng dan Tan Jia Li.


__ADS_2