Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Dimakan mati nggak dimakan keracunan


__ADS_3

"Suatu saat nanti kamu akan mengerti, untuk sekarang kamu sudah berjanji. Bila kelak tiba waktunya, penuhilah janjimu  Pangeran Liang Si!" ujar Jang Min menatap Liang Si yang masih bingung dan berusaha untuk mencerna segalanya dengan sebaik-baiknya.


"Apa maksud dari semua ucapan Kaisar Liu Min? Aku tidak mengerti?" hatinya bingung, "Ya Dewa, apakah dia mengetahui mengenai wajah gadis di tubuh Li Phin? Apakah itu hukuman untuk Li Phin?" batin Liang Si masih bingung.


"Yang Mulia, maaf! Hamba tidak mengerti apa maksud dari perkataan Yang Mulia? Apakah ini ada hubungannya dengan wanita yang muncul di tubuh Permaisuri?" tanya Liang Si memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Apakah kamu melihatnya juga Pangeran Liang?" tanya Jang Min menatap ke arah Liang Si.


"Sebelum aku jatuh pingsan aku melihat jika ada wanita lain di tubuh Permaisuri Li Phin. Dan Lu Dang juga mengetahui hal itu," balas Liang Si.


"Ya, begitulah adanya. Suatu saat nanti kebenaran akan terungkap, Pangeran Liang, aku harap itu tetap menjadi rahasia kita," balas Jang Min, "hingga tiba waktunya," lanjut Jang Min.


"Baik Yang Mulia, hamba akan memegang janji hamba," ujar Liang Si.


"Baiklah, Pangeran Liang, malam ini Jenderal Tan Jia Li dan Jenderal Gu Shanzheng akan menikah. Aku harap Pangeran bisa hadir," ujar Liang Si.


"Baik, Yang Mulia!" balas Liang Si. 


Jang Min meninggalkan ruang Liang Si dan menuju ke ruangannya. Ia mandi dan Dara di dalam tubuh Li Phin langsung memakaikan baju Jang Min. Keduanya hanya diam tanpa bicara apa pun hanya hati mereka yang bicara.


"Sebaiknya kita makan di perjamuan pesta pernikahan Kakak Jia'er!" ujar Dara kepada Jang Min.


"Iya, tidak masalah! Sayang, apakah kamu memakai baju zirah, saja?" tanya Jang Min bingung.

__ADS_1


"Entahlah, aku takut jika sekutu Qin Chao Xi akan menyerang kala kita lengah. Bukankah mereka selalu saja melakukan hal itu?" ujar Dara mengantisipasi segala hal kemungkinan.


"Wow, kamu selalu saja bersiaga!" balas Jang Min tersenyum.


"Aku belajar dari pengalamanku, aku sampai kemari karena terlalu percaya kepada bawahanku yang berkhianat!" balas Dara.


"Jika itu tidak terjadi, mungkin kita tidak bertemu Permaisuriku yang cantik!" ujar Jang Min.


"Ya, itu adalah hikmah dibalik semua ini, Sayang!" balas Dara tersenyum.


"Baiklah, aku rasa kali ini adalah pengecualian. Kamu pakailah pakaian kebesaran seorang permaisuri, Sayang. Sangat lucu jika aku berpakaian seorang kaisar dan kamu berpakaian  seorang jenderal," balas Jang Min menarik pinggang ramping Li Phin dan mendekap di dalam pelukannya.


"Baiklah, Sayang! Aku akan memakai pakaian kebesaran itu!" balas Dara.


Ia langsung memakainya dibantu oleh Jang Min menghias wajah, Dara dan Li Phin begitu cantik di dalam satu tubuh dengan dua jiwa yang sangat luar biasa.


Dara dan Li Phin tersenyum di dalam tubuh mereka dan Jang Min bisa melihat semua itu, ia pun hanya mampu tersenyum, "Ayo, kita lakukan kewajiban kita!" ajak Jang Min.


Keduanya pergi ke aula di dalam benteng yang terlindungi yang sudah ditata sedemikian rupa, warna merah mendominasi semua ruangan, membuat indah suasana. Semua orang sudah hadir, Tan Jia Li dan Gu Shanzheng memakai pakaian berwarna merah juga gulungan bunga di leher keduanya.


Mereka melakukan ritual dengan disaksikan semua orang sebagaimana yang pernah Dara dan Jang Min lakukan. Semua orang memandang kecantikan Dara dan Li Phin yang berbeda malam ini, semua orang mengagumi permaisuri mereka yang luar biasa hebat dan luar biasa bijaksana.


"Selamat Kak Jia'er dan Jenderal Gu Shanzheng!" ujar semua orang termasuk Li Phin, Dara, dan Jang Min. Liang Si hadir di sana dengan perban yang masih membalut tubuhnya 

__ADS_1


Tarian telah digelar begitu juga makanan, Dara menari dengan indah semua orang terperanjat mereka tak menyangka, jika permaisuri mereka benar-benar luar biasa. Namun, semua orang mengikutinya. Kebahagiaan terlihat di wajah semua orang.


Keceriaan terpancar dari wajah-wajah yang sudah lelah selama pertempuran yang sering terjadi di Xihe, "Ayo, kita menari Suamiku!" ajak Dara.


Jang Min mengikuti apa yang diinginkan Dara, sebagai balasan jika Dara tak lagi lama bersamanya, Jang Min tidak peduli jika semua kerajaan dan prajurit juga semua penduduk Xihe bingung menatap keduanya yang langsung menyatu dengan gaya tarian yang berbeda.


"Sayang, apakah nama tarian ini?" tanya Jang Min merasa bingung.


"Ini adalah dansa dari negara barat orang-orang yang memiliki rambut pirang," balas Dara, "suatu saat kita akan mengenal mereka," lanjut Dara.


Jang Min dan Dara menari seiring suara musik, semua orang mengikuti gerakan yang dilakukan oleh keduanya. Liang Si menatap ke arah Li Phin yang tak lain adalah Dara, "Apakah gadis itu yang mengambil alih tubuh Li Phin?" batin Liang Si, "jika Phin'er tidak 'kan tahu gaya tarian ini, karena tarian itu bukan berasal dari dunia ini," batin Liang Si.


Jang Min dan Dara menikmati semua tarian yang mereka lakukan, di sisi mereka semua orang menari dengan pasangan masing-masing termasuk kedua mempelai pengantin.


Malam telah berlalu, Jang Min dan Dara telah kembali ke peraduan mereka, "Sayang, maukah kamu menari lagi denganku?" pinta Jang Min.


Ia merasakan kedekatan di antara keduanya, "Ayo!" ajak Dara meraih tangan Jang Min keduanya berdansa di bawah rembulan di sisi benteng Xihe sebagai saksi dari keromantisan kedua orang tersebut.


Mereka berjalan berdansa ke luar dari peraduan hingga ke sepanjang benteng Xihe. Semua orang memandang pasangan kaisar dan permaisuri mereka yang bahagia.


 "Sayang, aku ingin kamu mengingatku, jika purnama indah datang di Donglang ini," ujar Dara menengadah menatap wajah suaminya, "Ya, Tuhanku! Apakah aku masih bisa bertemu dengan wajah ini? Wajah dan jiwa suamiku?" batin Dara. 


Bayangan Liu Sun Ming sang putra mulai mengusiknya ia begitu rindu akan putranya, tetapi jika ia mengikuti kata hati maka ia tak ingin kembali ke dunianya. Dara benar-benar dilema, bagaikan buah simalakama, dimakan dirinya akan mati nggak dimakan dirinya juga keracunan.

__ADS_1


Li Phin tidak pernah muncul ia benar-benar ingin memberikan kebahagiaan antara Jang Min dan Dara tanpa ia ganggu lagi. Dara berputar di tangan Jang Min tersenyum dengan bahagia yang terlihat di wajahnya walaupun hatinya menangis pilu ia berusaha untuk terlihat bahagia sebagai kenangan untuk suaminya.


"Dara  … kamu bisa begitu mudah tersenyum dan bahagia. Begitu bahagianyakah kamu di duniamu? Hingga aku dan Sun Ming tak ada artinya bagimu …?" batin Jang Min, ia pun tersenyum dengan berlapang dada walaupun sesak menghimpit jantungnya.


__ADS_2