Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Pernyataan Cicero


__ADS_3

"Minggir, Dara! Aku akan membunuh Bajingan ini!" teriak Liu Min menodongkan pistol ke arah Cicero.


Ia benar-benar mengarahkan pistol ke arah Cicero tanpa memiliki rasa belas kasih lagi, Liu Min benar-benar marah karena Cicero tidak mau bicara sepatah kata pun mengenai Pablo Sandez, keberadaan Jenny, apalagi mengenai Guangzhou.


"Jika kau menghalangi aku membunuhnya, maka aku akan membunuhmu!" teriak Liu Min.


Daniel, Jalik, dan Hendra terkesiap, "Bro! Kamu jangan gila!" teriak Daniel berusaha untuk mencegah Liu Min membunuh Cicero dengan mendekati dan ingin merampas pistol di genggaman tangan Liu Min.


Adu rebutan pun terjadi di antara keduanya, Daniel berusaha untuk menghalangi Liu Min membunuh Cicero, begitu juga dengan Dara yang masih berdiri di depan Cicero.


Dor!


Suara tembakan tak terdengar hanya 


peluru yang melesat menembak kaki kursi tepat di sisi kaki kiri Cicero membuat kaki kursi oleng dan tubuh Cicero melesek miring.


"Kalian gila! Jika Guangzhou dan Pablo Sandez mengetahui hal ini! Bukan hanya kalian saja yang akan diburu, tapi seluruh keluarga kalian!" teriak Cicero membahana dengan wajah telah berlumur darah dari pelipis dan mulutnya.


Sementara sangkur masih menancap di pahanya, "Aku tidak peduli, Bajingan! Bila perlu kau harus mati, maka akulah yang akan memburu Guangzhou!" umpat teriakan Liu Min masih mengarahkan pistol ke arah Cicero.


"Bagi Guangzhou kau sama sekali tidak ada artinya, jika kau mati dia masih memiliki kaki tangan yang lain. Sebaliknya apa yang kau dapatkan Bodoh?" cecar Liu Min marah. 


Daniel terjatuh di lantai kotor sedangkan Hendra dan Jalik hanya mematung melihat apa yang sedang terjadi mereka tidak menyangka jika Liu Min benar-benar ingin membunuh Cicero.


"Liu Min, hentikan!" teriak Dara menarik pistol dari balik punggungnya, "jika kau terus melakukan hal gila ini, aku akan membunuhmu!" bentak Dara kesal ia pun menodongkan pistolnya ke arah Dara.


"Aku tidak peduli! Jika aku mati aku pun akan membawa si Jahanam ini mati bersamaku!" sanggah Liu Min.


 Ia terus saja menodongkan senjata ke arah Cicero, "Cicero, katakanlah apa yang diinginkannya! Aku tak bisa lagi untuk menahan orang gila ini?" teriak Dara.


"Kalian bunuh saja aku! Aku tidak akan mengatasinya," umpat Cicero.

__ADS_1


Do! Dor!


Dua tembakan beruntun mematahkan kaki kursi yang lain, "Sekali lagi aku tanya, di mana Jenny dan Guangzhou?" ujar Liu Min murka.


"Aku tidak tahu!" tolak Cicero.


Dor!


Sebutir peluru langsung mendarat di bahu kiri Cicero membuat Dara dan ketiga pria di sana terkesiap.


Ketiganya tidak tahu harus berbuat apalagi, "Jika kalian menolongnya pun sama saja, kalian membiarkan Jenny dan semua orang menderita!" ujar Liu Min.


"Baiklah, terserah padamu! Aku tidak mau tahu, Hendra, Daniel! Kuburkan mayat Cicero dengan baik! Jangan sampai ada yang tahu," ketus Dara meninggalkan ruangan dengan dingin.


"Siap, Komandan!" balas Daniel dan Jalik juga Hendra.


"Dara! Dara! Tolong, kumohon jangan biarkan si gila ini membunuhku!" mohon Cicero memelas kepada Dara bergerak di lantai berusaha untuk merayap dengan luka di sekujur tubuh. Cicero telah bermandikan darahnya. 


Dara menatap dengan perasaan iba kepada Cicero, namun ia tahu apa yang dilakukan Liu Min adalah salah, tetapi Dara juga kesal. Cicero terlalu patuh kepada sindikatnya.


"Nah, bersiaplah! Tunggu Pablo dan Guangzhou di neraka." Liu Min mengarahkan senjatanya ke arah Cicero.


"Ba-baiklah aku akan mengatakannya!" teriak Cicero.


Ucapan Cicero membuat Dara dan semua orang melihat ke arah Cicero, "Apakah ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Dara.


"Tentu saja! Aku mohon … Jenny ada di gudang ikan di Belawan bersama Jovich yang kami tanggap dan sekap. Pablo sedang di Hunan bersama Guangzhou," ketus Cicero.


"Hendra dan Jalik, bawa dia ke rumah sakit dan serahkan kepada Kolonel Brian, telepon saja dan ceritakan segalanya. Ingat jangan sampai ada yang tahu jika Cicero tertangkap," perintah Dara.


"Satu hal lagi Cicero, Apakah Solano, Quino, dan Paulin pun di sini bersama denganmu?" tanya Liu Min dingin.

__ADS_1


"Ya," balas Cicero dengan lemah.


Hendra dan Jalik membawa Cicero sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Dara.


Liu Min menyimpan senjatanya diam dan ke luar dari ruangan, "Liu Min benar-benar kacau, dia sangat berbeda dengan Liu Min masa lalu. Pria ini … sembrono dan entahlah," batin Dara melirik kepergian Liu Min.


Namun, ia pun berpikir sangat lega, jika pada akhirnya Cicero berhasil membuka mulutnya walaupun telah mengalami banyak luka dan penderitaan.


"Setelah ini kalian pergilah kemari!" ujar Dara menuliskan sesuatu di punggung masing-masing dari ketiga pria di depannya dengan gerakan jari, agar tidak diketahui oleh Cicero yang sudah lemah.


Dara menatap ke sekeliling ruangan sebelum ia melangkah ke luar menyusul Liu Min. Dara melihat Liu Min yang menyalakan sebatang sigaret dan bersandar di sepeda motor menantikan Dara.


"Wajah Liu Min lebih keras dan tampan dari yang dulu, hanya saja pria ini sangat keras kepala walaupun apa yang dilakukannya benar tetapi, itu menyalahi hukum," batin Dara melangkah maju mendekati Liu Min.


"Ayo, kita kembali ke markas. Aku sudah menyuruh ketiganya untuk langsung ke markas di pantai.


"Liu Min … kau benar-benar gila! Pantas saja kamu di penjara, itu benar-benar melanggar HAM!" umpat Dara kesal.


"Sudah ngomelnya? Atau … aku harus mendengarkan semua celotehanmu dulu dan berbicara mengenai semua draft hukum?" balas Liu Min menatap dingin Dara.


Bayangan tangan Cicero yang mendekap tubuh indah di depannya membuat sebagian dirinya terbakar, "Sial, jika bukan karena Cicero menyentuhmu. Aku tak segila ini.


"Namun, sialan itu! Benar-benar keras kepala melindungi sindikat mafia naga merah," batin Liu Min.


"Baiklah, mari kita pergi!" ajak Dara, "sebaiknya aku yang mengendarainya, kamu diamlah di boncengan!" pinta Dara mengambil alih sepeda motor.


Keduanya diam tanpa bicara sepatah kata pun, Dara membawa sepeda motor ngebut hingga secepatnya tiba di markas kala hari mulai senja.


Danu susah berada di depan ruang komputer menyantap mie instan, "Nah," Dara mengangsurkan nasi bungkus kepada bawahannya dan berlalu ke kamarnya.


Begitu pun dengan Liu Min, "Bah, ada apa dengan mereka? Apakah mereka kembali bertengkar? Ya, ampun kalau mereka ini?" batin Danu hanya memandang keduanya. 

__ADS_1


"Jika terus-terusan begini bisa kacau. Aku rasa Liu Min perlu dibawa ke psikiater!" umpat Dara memakai baju bersih setelah dia mandi dan duduk di tempat tidurnya.


"Apakah dia bisa memakai bajunya?" batin Dara mengingat tangan Liu Min yang luka, "sial!" umpatnya berjalan menuju kamar Liu Min.


__ADS_2