
"Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang, Luo Zhu?" tanya Zhang Mei, ia melihat jika adiknya sudah bisa bergerak dan berdiri dengan menggunakan tongkat yang diberikannya untuk menopang tubuh Luo Zhu.
Luo Zhu tidak pernah membawa senjata tajam, ia selalu merasa jika senjata tajam akan mengundang orang-orang untuk berbuat jahat kepadanya. Apalagi, ia hanyalah seorang tabib biasa yang tidak memiliki apa pun untuk dirampok.
Luo Zhu hanya membawa sebuah keranjang kecil di belakang punggungnya yang berisikan buku ramuan dan juga obat-obatan, jika ia ingin pergi ke desa-desa sebelah memeriksa semua warga yang membutuhkan pertolongan dari Perguruan Ramuan yang didirikan oleh kaisar Liu Bei, seperti janji tabib ketua Zhang Yung pada kaisar tersebut
Luo Zhu berusaha untuk memenuhi semua janji tabib Zhang Yung pada Kaisar Liu Bei, karena tabib Zhang Yung sudah terlalu uzur untuk pergi dari Lembah Luo Yi.
Apalagi, matanya pun sudah mulai kabur Jika malam hari, umurnya yang sudah 200 tahun lebih membuat dia tak lagi bisa bergerak ke mana pun secara leluasa seperti dahulu kala. Sehingga Luo Zhu berinisiatif untuk menggantikan gurunya memenuhi janji tersebut.
Luo Zhu tidak ingin membebani kakak angkatnya dengan keadaan, kecantikan yang dimiliki oleh Zhang Mei yang akan membuat kakaknya merasa kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Para pria selalu ingin menikahinya membuat Zhang Mei sedikit kesulitan. Sehingga ia lebih banyak berdiam diri di gua miliknya tanpa diketahui siapa pun.
Sebagai seorang anak angkat dan murid pertama dari perguruan ramuan, Luo Zhu berusaha untuk bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan dan janji yang telah diucapkan oleh tabib Zhang Yung.
Namun, belum lagi sempat Luo Zhu membalas pertanyaan dari Zhang Mei, serangan bertubi-tubi dilakukan oleh Lu Dang dan pasukannya. Mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada keduanya untuk saling menguatkan dan mengobati.
"Luo Zhu! Kamu lawan anggota Lu Dang, aku akan menghabisi pengkhianat keparat ini!" ketus Zhang Mei murka, ia langsung menyerang dan menangkis setiap serangan yang dilakukan oleh Lu Dang.
"Bajingan! Mengapa wanita ini hebat sekali? Aku sama sekali tidak menyangka, Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengalahkan kekuatan?" batin Lu Dang, ia merasa selama ini jika Zhang Mei hanyalah wanita manja.
"Andaipun ia memiliki kekuatan, Aku tidak pernah membayangkan jika kekuatannya begitu hebat!" lanjut batin Lu Dang.
Lu Dang tidak mengerti mengapa nona Zhang Mei selalu bisa menangkis dan membaca setiap gerakannya, sehingga apa pun yang dilakukan oleh Lu Dang tak pernah bisa menyentuh tubuh Zhang Mei.
Zhang Mei dengan mudah mengembalikan keadaan, ia langsung menyerang bertubi-tubi ke arah dada lu Dang, bukan itu saja ia sengaja menggunakan semua kekuatannya untuk membunuh Lu Dang karena rasa benci dan kemarahan yang menyelimuti hati Zhang Mei.
"Apakah benar kau telah membunuh ayahku Keparat?" teriak Zhang Mei, ia terus memukul dengan telapak tangannya luar biasa hebat.
"Hahaha, aku sangat senang melihat dia sekarat dan memohon padaku saat ajalnya tiba!" ejek Lu Dang, ia memang mengingat semua kesakitan yang sedang dialami oleh Zhang Yung dan semua orang di Perguruan Ramuan.
Ia membunuh mereka semua tanpa Rasa belas kasih, padahal selama ini merekalah temannya di dalam suka dan duka. Akan memanggilnya sebagai kakak kedua. Akan tetapi Lu Dang tidak mau mengingat semua itu.
Baginya, "Siapa pun yang akan membangkang maka, akan mati!"
"Aaa! Dasar, kau Jahanam! Aku tidak akan membiarkanmu hidup!" amuk Zhang Mei, ia mengeluarkan banyak kekuatan menghantam tubuh Lu Dang hingga tubuh Lu Dang ringsek berulang kali terkena pukulan yang dilakukan oleh Zhang Mei.
"Aku tidak menyangka jika aku akan mati di tangan wanita yang paling aku cintai," batin Lu Dang, ia tak lagi bisa menggunakan kekuatan dengan darah sudah merembes di sekujur tubuh.
Hantaman demi hantaman yang dilakukan oleh Zhang Mei, membuat Lu Dang kehilangan semua kekuatan dan kesaktian miliknya, seluruh tubuhnya sudah hancur tidak bisa dikenali lagi.
Namun, Zhang Mei benar-benar telah kehilangan rasa kasihan kepada Lu Dang. Zhang Mei terus menyerang dan menghancurkan tubuh Lu Dang, mengambil dan membuang semua kesaktian milik Lu Dang hingga tak ada lagi yang tersisa di tubuhnya selain selembar nyawa yang mulai sekarat.
"Kau akan merasakan, apa yang dirasakan oleh semua korbanmu. Kau adalah manusia paling bejat yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan kasih sayang sesama manusia.
"Manusia sepertimu tidak pantas untuk hidup, terlalu lama di dunia ini karena akan membuat kehancuran juga kerusakan di mana-mana. Dewa akan senang mengambil nyawamu, membuat tugas-Nya berkurang untuk Melindungi dunia dari orang-orang sepertimu, Bangsat!" maki Zhang Mei.
Zhang Mei menarik tangannya, ia ingin membakar tubuh Lu Dang dengan kekuatan kuno miliknya, selama ini ia tak pernah memperlihatkan semua itu pada siapa pun selain ayahnya Zhang Yung.
Lu Dang terperangah dengan kobaran api yang diciptakan Zhang Mei dari tangannya, nyali Lu Dang langsung menciut.
"Aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin mati! Tolonglah, selamatkan aku! Aku akan bertaubat …," lirih Lu Dang memohon.
__ADS_1
"Jangan meminta ampun, padaku! Aku tidak berhak mengampunimu, hanya Dewa yang berhak untuk melakukan semua itu, Jahanam!" umpat Zhang Mei melesat ingin membakar tubuh Lu Dang hingga tak tersisa.
"Aku tidak ingin, jika bumi dan tanah yang indah ini akan menerima mayat dirimu, aku tidak ingin jika tumbuhan akan tumbuh di atas mayatmu, karena aku sangat yakin jika tumbuhan itu dimakan oleh manusia lain atau binatang. Maka mereka memiliki sifat yang sama buruknya denganmu!" hina Zhang Mei, ia langsung melesat ingin menghancurkan Lu Dang.
Lu Dang semakin ketakutan melihat kobaran api yang dilontarkan telapak tangan Zhang Mei yang melesat ke arahnya dengan cepat.
"Raja Iblis! Aku mohon, selamatkan aku! Aku akan mengabdi padamu hingga anak cucuku!" teriak Lu Dang, ia tak menyadari jika semua permintaan dan janjinya telah didengar oleh Raja Iblis Neraka yang selama ini selalu bersama dengannya.
Syut!
Api milik Zhang Mei hanya membakar hutan sementara tubuh Lu Dang telah diselamatkan dan dibawa oleh raja iblis.
"Dasar, Bajingan! Siapa yang telah menyelamatkan pria kurang ajar itu?" umpat Nona Zhang mei kesal.
Zhang Mei, tidak menyangka jika ia gagal membunuh ludang karena telah diselamatkan oleh orang yang tidak dikenal.
"Sepertinya orang itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, tapi siapa dia? Dunia akan semakin kacau dengan kehadiran pendekar baru itu. Apalagi jika dia bersama dengan Lu Dang si penghianat," batin Zhang Mei.
Sementara di sisinya Luo Zhu masih bertempur dengan menggunakan tongkat kayu yang diberikan oleh Zhang Mei.
Luo Zhu tidak menyangka jika tongkat itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, tongkat tersebut berdenting seakan ia sebuah pedang dan tombak yang terbuat dari baja yang sangat luar biasa kuat.
Luo Zhu merasa ia memiliki kekuatan berbeda dan dengan mudah membunuh musuh mereka, Luo Zhu bergidik. Selama ini ia selalu berusaha untuk menyelamatkan nyawa manusia.
Namun, kini ia malah mengambil nyawa tersebut. Luo Zhu masih terpaku menatap mayat dari musuh mereka yang tak lain adalah adik seperguruan mereka sendiri yang sudah membangkang dan mengikuti Lu Dang si penghianat.
Sebagian hati Luo Zhu merasakan kesedihan, ia sama sekali tidak pernah bermimpi jika ia akan membunuh adik seperguruannya sendiri. Zhang Mei, mendekati dan menyentuh punggung adiknya.
"Cie, apakah Lu Dang telah tewas?" tanya Luo Zhu, ia hanya melihat kobaran api yang masih membakar sebagian hutan.
Zhang Mei kembali menggunakan kekuatannya dengan menyiramkan air dari telapak tangan untuk memadamkan kebakaran.
"Seseorang telah menyelamatkannya. Aku rasa orang itu sangat hebat sekali! Dan selama ini, aku pun tidak pernah mendengar jika ada seorang pendekar yang sangat hebat, aku mengenal semua pendekar walaupun aku tidak pernah bertarung dengan mereka.
"Dan aku merasa dia bukanlah salah satu dari pendekar hebat tersebut, aku yakin pendekar itu bukan berasal dari dunia manusia." Zhang Mei merasa tercekat, ia semakin takut dengan pikirannya.
"Apakah mungkin itu adalah raja iblis neraka? Apalagi, yang ingin dibuat dan direncanakan oleh Dewa Agung?" batin Zhang Mei, ia merasa semakin kacau.
Namun, Zhang Mei tidak ingin mengatakan semua itu kepada Luo Zhu. Zhang Mei tidak ingin membebani adiknya dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Walaupun ia telah hidup dengan semua hal yang mustahil yang akan pernah terjadi di dunia fana ini.
"Luo Zhu, mari kita pulang ke Lembah Luo Yi. Apakah benar yang dikatakan oleh Lu Dang? Aku berharap itu hanyalah gertakan saja! Mengapa ayah tidak memberi tahu dan mengabari semua itu lewat telepati?
"Apakah Ayah sudah mengetahui semua rencana ini? Terkadang aku tidak mengerti cara pikir ayah. Seakan ia sama sekali tidak ingin membebani diriku," ucap Zhang Mei.
"Mari, Cie. Aku pun ingin mengetahui kebenaran, apakah benar yang dikatakan oleh Lu Dang? Aku berharap itu tidak benar! Cie, ini aku kembalikan tongkatmu," ucap ucap Luo Zhu, ia mengangsurkan tongkat kayu tersebut kepada Zhang Mei.
"Itu sudah aku berikan kepadamu, Adikku. Gunakanlah itu, untuk melindungi dirimu dari segala marabahaya dan gunakanlah itu untuk kebaikan bukan untuk kejahatan. Jika kau menggunakan itu untuk kejahatan, maka dengan sendirinya kekuatan itu akan lenyap.
"Tapi Jika kamu menggunakan tongkat itu untuk kebaikan dan menolong sesamamu. Maka tongkat itu akan semakin hebat walaupun, bentuknya sangat jelek sekali! Maaf, aku terlalu terburu-buru tadi. Jadi aku tidak bisa berpikir untuk memberikan sesuatu yang lebih baik untukmu," balas Zhang Mei.
"Ini, sudah sangat bagus sekali! Aku malah senang jika tongkat ini seperti ini bentuknya. Paling tidak, tak seorang pun yang tahu jika ini adalah tongkat yang sangat hebat. Sehingga aku tidak kesulitan untuk menjaga dan melindunginya dari orang-orang yang ingin memilikinya.
"Aku tidak ingin, jika gara-gara tongkat ini akan terjadi keributan lain lagi yang akan membuat kekaisaran Donglang semakin kacau," balas Luo Zhu dengan pikirannya yang sangat sederhana.
__ADS_1
Zhang Mei tersenyum memandang adiknya, ia sama sekali tidak menyangka adiknya benar-benar adalah manusia yang luar biasa baik. Luo Zhu sama sekali tidak tergoda untuk menjadi orang terkenal maupun memiliki senjata sakti yang akan ditakuti oleh siapa pun di dunia ini.
Luo Zhu hanya ingin hidup sederhana seperti ayahnya Zhang Yung, "Kamu sangat mulia sekali, Adikku. Percayalah, jika Dewa akan mengangkat derajatmu dan anak keturunanmu dengan sebuah kemuliaan.
"Walaupun kau tidak menginginkan ketenaran itu. Akan tetapi, Dewa tidak akan pernah melewatkan orang-orang yang baik! Kau akan menjadi salah satu legenda seorang tabib yang akan luar biasa kedepannya," batin Zhang Mei, ia melihat gambaran masa depan adiknya.
Namun, Zhang Mei tidak ingin mengatakan semua itu kepada Luo Zhu, karena ia tidak ingin semua itu akan membebani Luo Zhu dan membuatnya akan semakin menjauh dari kebaikan.
Keduanya melesat meninggalkan hutan yang tinggal mengisahkan asap dari kebakaran yang dilakukan oleh Zhang Mei. Mereka berlari secepat kilat tanpa disadari oleh Luo Zhu.
Keduanya hanya ingin segera tiba secepatnya di lembah Luo Yi, fajar mulai menyingsing. Keduanya masih terus berlari, mereka tiba dan berdiri di sebuah perguruan ramuan yang selama ini tenang.
Kini perguruan ramuan tersebut sudah porak-poranda hanya menyisakan mayat-mayat yang bergelimpangan juga serahkan dari tumbuhan ramuan di tanah yang biasanya dijemur.
Perguruan sudah hancur lebur rumah-rumah sudah tidak terlihat yang tersisa hanyalah tinggal puing-puing kehancuran sisa dari pertempuran yang dilakukan oleh Lu Dang dan kawan-kawannya.
Bruk!
Luo Zhu dan Zhang Mei jatuh terduduk bersujud di depan pintu gerbang, "Jahanam kau Lu Dang! Aku akan membunuhmu suatu saat nanti," janji Zhang Mei bersama Luo Zhu.
Keduanya mengepalkan tangan melihat semua kehancuran yang telah terjadi di depan mata.
"Ayah!" lirih Zhang Mei, ia melesat mencari keberadaan ayahnya dengan mengandalkan indra penciuman miliknya.
Di belakangnya Luo Zhu pun mengikuti Zhang Mei untuk mencari guru serta memeriksa semua teman mereka.
Akan tetapi, tak satu orang pun yang selamat, semuanya telah mengering seakan-akan telah diambil seluruh darah yang ada di tubuh mereka.
"Bajingan kau Lu Dang! Kau benar-benar bukan manusia, Aku akan membunuhmu suatu saat nanti," batin Luo Zhu, ia melihat Zhang Mei masuk ke dalam ruangan rahasia yang berada di ruangan pribadi ayahnya.
Luo Zhu pun mengikuti Zhang Mei, keduanya menemukan jasad dari tabib ketua Zhang Yung.
"Ayah!"
"Guru!"
Keduanya memeluk jasad tersebut dari semua jasad hanya jasad ketua Zhang Yung yang masih utuh, Zhang Mei mendengar sebuah telepati yang sengaja disimpan ayahnya saat kematian merenggut jiwanya.
Zhang Yung ingin membagi semua kenangan terakhir kepada putri satu-satunya yang pernah dimiliki oleh Zhang Yung dan istri tercintanya.
"Ayah …!" lirih Zhang mei.
Zhang Mei dan Luo Zhu melihat sebuah mutiara keluar dari mulut Zhang Yung yang bersinar memperlihatkan kenangan di sana kala Lu Dang menyerang di pagi hari. Dimana Zhang Mei dan Luo Zhu sedang pergi malam harinya ke desa sebelah.
***
Kenangan yang dibagikan oleh Zhang Yung ….
Sementara di Lembah Luo Yi, Zhang Yung masih mengajari para muridnya meracik dan merebus ramuan.
"Nah, gunakan api yang kecil jangan terlalu besar," instruksi Luo Zhu, di depan perebusan ramuan obat di meja masing-masing muridnya.
"Guru Zhang! Guru Zhang!" teriak salah satu murid Zhang Yung yang terluka di sekujur tubuhnya.
__ADS_1