Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 21~Merindukanmu.


__ADS_3

Sementara Kamila yang sudah menemukan tempat untuk ia tinggali. Riki dan kedua orang tuanya malah harus kehilangan tempat tinggal.


Riki diusir dari rumahnya oleh bodyguard Mami Kelli. Dia berhutang kepada sang Mami pemilik bar sebesar lima ratus juta rupiah.


Uang itu ia pakai untuk berjudi karena tergoda oleh bujuk rayu Desi, kekasih barunya.


Awalnya Riki menang sekali, kemudian kedua kalinya pun dia menang. Karena merasa ini adalah hari keberuntungannya, Riki pun mempertaruhkan hadiah yang sudah dua kali dia dapat sebelumnya.


Tapi naas, kemenangan tadi mungkin hanya sebuah kebetulan saja atau mungkin sebuah permainan mereka. Riki langsung kalah di awal permainan. Tak terima dengan kekalahannya, Riki pun meminta pinjaman kepada pemilik bar, yaitu Mami Kelli.


Tentu saja Mami Kelli sangat senang, karena bertambahnya orang bodoh di dunia ini. Permainan yang biasa dimainkan oleh mereka itu sudah disabotase oleh para pengawal Mami Kelli, agar mereka ketagihan dan terus ketagihan.


Jika dia menang, itu hanya permainan Mami Kelli supaya bisa menjeratnya ke dasar jurang terdalam, sehingga dia tak bisa kembali naik dan hanya bisa memberikan apapun yang ia miliki.


Seperti Riki saat ini. Dia mempertaruhkan segalanya termasuk menggadaikan sertifikat rumah kepada Mami Kelli.


"Aku ambil ini sebagai jaminan. Jika kamu menang dan membayar seluruh hutangmu, maka ku kembalikan sertifikat rumahmu ini. Tapi jika kau kalah ... ya terpaksa kau dan kedua orang tuamu harus keluar dari rumah!" ujar Mami Kelli mengingatkan.


"Tentu, Mami. Tapi, tolong berikan pinjaman yang lebih besar ya. Aku ingin menarik uang lebih banyak lagi," cetus Riki antusias.


Mami Kelli menyeringai penuh arti. Dia tahu jika Riki termasuk orang yang serakah dan tak cukup hanya dengan sekali atau dua kali kemenangan, sehingga Mami Kelli dengan mudah memperdaya Riki hanya dengan diiming-imingi sedikit kemenangan.


Dengan yakinnya Riki mengambil pinjaman dari Mami Kelli untuk bertaruh di meja judi. Dia bermain dan terus bermain atas bujukan Desi. Padahal, Desi adalah salah satu orang suruhan Mami Kelli untuk menjerat mangsa.


Riki sudah tidak berhubungan lagi dengan Meri dan Tante Susi, sebab mereka dibawa pindah oleh suaminya masing-masing ke luar kota.


Suami Meri dan Susi sudah mengetahui perselingkuhan mereka, hingga secara tegas melarang istri mereka untuk berhubungan dengan pria seperti Riki.


Sepeninggalan Meri dan Susi, Riki bertemu dengan Desi. Gadis cantik yang bekerja di sebuah Bar sebagai penerima tamu.

__ADS_1


Desi memiliki banyak uang, yang pastinya bisa dimanfaatkan Riki untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tapi, dia tak tahu jika Desi sebenarnya yang memanfaatkan Riki untuk menguras seluruh harta benda pria tersebut.


Karma buruk yang dituai Riki dibayar tunai, setelah hampir setahun dia menyiksa Kamila dengan kepedihan. Tanpa mengingat atau menafkahi istri serta putranya yang baru lahir, Riki telah berbuat dzolim.


Tapi, pria itu tahu dan tak mau tahu tentang keberadaan ataupun kabar keduanya.


Yang terpenting saat ini untuknya adalah harta kekayaan, dan kehidupan yang menurutnya enak.


Tawa Riki mengudara ketika kemenangan berhasil diraihnya. "Aku menang!" serunya girang.


Riki menaruh kembali yang didapatnya, setelah Desi membujuk untuk bertaruh lagi. Lagi dan lagi ia mempertaruhkan semua hingga di percobaan yang ke dua puluh kali, semua yang didapat Riki seluruhnya habis.


Riki melongo menatap uang dengan jumlah miliaran tersebut ditarik oleh orang lain yang menang kali ini. Tak ada yang bisa ia pertaruhkan lagi sekarang. Uang habis dan kini ia memiliki hutang yang sangat besar.


Karena kebodohan Riki, dia dan kedua orang tuanya harus didepak keluar dari rumah mereka, sebab Riki tak dapat melunasi hutang yang jumlahnya sangat besar.


"Dasar anak kurang ajar! Kenapa kamu mempertaruhkan rumah kita di meja judi?" hardik ayahnya sambil memukul kepala putranya bertubi-tubi.


Bu Nani langsung menahan tangan sang suami saat hendak memukul kepala putranya lagi. "Sudahlah, Pak! Enggak ada gunanya kamu memukul putramu terus. Walaupun sampai mati, tuh rumah gak bakal bisa balik lagi!" lerai ibunya sembari memeluk Riki.


"Iya, Pak. Masih untung aku gak di penjarakan sama Mami Kelli," timpal Riki tanpa merasa bersalah.


Wiryo menatap jengah wajah putranya. Terlihat jelas kerutan di wajahnya, menandakan ia sangat jengkel. "Ini semua gara-gara ulah mu, anak bodoh!" ucap ayahnya dengan menggertakkan gigi. "Sekarang kita mau ke mana? Rumah kita udah disita dan kita pun tak punya duit sama sekali." lanjutnya mengeram kesal kepada Riki.


Riki menerawang ke dalam lamunan. "Andaikan saja Kamila masih di rumah. Mungkin dia bakal bisa jamin kehidupan kita," selorohnya diikuti helaan nafas panjang.


"Salahmu sendiri, bodoh! Kenapa waktu itu sok-sokan ngusir padahal butuh?!" cibir kedua orang tuanya.


Riki hanya memberengus kesal karena tak ada yang bisa dilakukannya selain diam saja mendengar ocehan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Baru kali ini Riki merasa menyesal telah mengusir Kamila dari kehidupannya, setelah mereka menjadi gelandangan di luar. Saat ini Riki dan kedua orang tuanya sangat membutuhkan Kamila untuk mengurus mereka, mencukupi kebutuhan hidup, serta membayar hutang-piutang agar rumahnya bisa kembali.


Tapi apalah daya, Riki pun tak tahu keberadaan istrinya itu. "Hemh. Di mana kamu sekarang, Kamila?" gumamnya dalam hati.




Meninggalkan Riki dengan segala penyesalannya, saat ini warung nasi Bu Siti sedang ramai pembeli seperti biasanya.


Para pelayan sedang melayani pembeli yang makan di warung maupun yang membungkus makanan tersebut. Mereka berebut untuk mendapatkan pelayanan pertama agar bisa segera makan.


"Sabar ya, Mas, Mbak!" Bu Siti turun tangan membantu para pekerjanya di depan.


Warung yang kini semakin ramai pembeli karena menu tambahan yang dulu dimasak Kamila. Walaupun masakan itu sudah dimodifikasi dengan tampilan serta rasa yang beda, mereka pun tak lagi mempermasalahkan siapa yang masak.


Yang terpenting bagi para pelanggan adalah cita rasa yang enak dan dapat diterima lidah mereka.


Seorang wanita menggendong bayi mungil tampan, memasuki warung nasi tersebut. "Bu, nasinya dua porsi ditambah gulai ikan kakap sama tempe tepung. Sambalnya sedikit ya, Bu!" pinta wanita tersebut.


Merasa mengenal suara wanita itu, Bu Siti lantas mendongak seraya mengamati wajah yang tak asing di matanya. Seketika matanya berbinar menatap wanita di hadapannya dengan bereaksi heboh. "Mila! Ya Tuhan, ini beneran Mila?!"


Kamila hanya mengangguk sembari tersenyum. "Lihat! Cucu Ibu udah lahir," cetusnya sembari memperlihatkan si tampan ke arah Bu Siti.


Bu Siti dan ketiga pelayan yang bekerja di sana pun langsung melompat kegirangan. Mereka sudah sangat senang atas kedatangan Kamila, ditambah kehadiran si kecil yang dulu masih dalam kandungan.


"Aih, gantengnya cucuku!" Bu Siti meminta bayi tampan itu untuk digendongnya. "Uluh-uluh, sayangnya Nenek!"


Kamila tersenyum melihat wajah berbinar Bu Siti. Dia tahu jika Bu Siti kesepian atas kehilangan putranya, karena meninggal dunia.

__ADS_1


"Semoga ini menjadi obat untuk kerinduan Ibu padanya," gumam Kamila dalam hati.


...Bersambung ......


__ADS_2