Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Permintaan Liu Amei


__ADS_3

Dara dan Liu Min bergulingan menebas semua prajurit dan pengawal Guangzhou, yang tak habisnya.


"Sayang, mengapa para hantu ini tak mati juga? Ada yang aneh sepertinya?" tanya Liu Min, ia masih berjumpalitan di udara berputar dan langsung menebas semua musuh akan tetapi prajurit hantu dan pengawal yang sudah mati tak juga benar-benar mati mereka seakan hidup kembali.


"Jika terus-terusan begini kapan usainya?" batin Dara kesal, ia sudah berusaha untuk menghancurkan semua musuh tetapi mereka masih saja terlalu kuat.


Tubuh hancur mereka kembali bersatu dan kembali menyerang dengan kekuatan yang lebih besar, membuat Dara dan Liu Min semakin kewalahan karena tenaga yang mulai terkuras dan sia-sia membunuh musuh.


Keduanya masih terus harus bersalto ria dengan cepat agar pedang dari musuh tidak menggores tubuh mereka. 


Sementara pertempuran semakin memanas, dari lubang yang menganga selalu saja muncul prajurit yang terus keluar dengan rasa lapar begitu juga dengan naga dari lubang di angkasa.


Namun, semua yang muncul adalah kelompok dari Lu Dang dan sekutunya membuat segalanya menjadi kacau.


***


"Sayang, apakah kamu yakin jika ini adalah tempatnya?" tanya Ahim Yilmaz, ia masih meneliti pintu masuk yang terbuat batu hitam mengerikan.


Sementara Ahim Yilmaz dan Liu Amei berusaha berlari mencari celah di pintu masuk, keduanya saling pandang dan melesat secepatnya memasuki pintu dan mencari patung raja iblis.


Keduanya merasa terkejut kala sebuah kekuatan membuat mereka berganti pakaian di tubuh mereka menjadi pakaian pada masa dinasti Donglong.


"Sayang, apakah zaman dulu aku berpakaian seperti ini?" tanya Ahim Yilmaz sudah berpakaian ala Gu Shanzheng.


"Ya, kamu seperti itu, Yank!" ucap Liu Amei yang sudah melihat jika mereka berdua sudah memakai pakaian baju zirah ala jenderal masa kekaisaran Donglang.


"Wah, keren banget! Apakah pada masaku aku banyak digandrungi cewek-cewek?" tanya Ahim begitu penasaran.


Ia masih meneliti semua pakaian dan kepala yang memakai topi seorang jendral hebat pada masanya.


"Ya, lumayanlah … tapi masih kalah hebat dengan Gu Shangeng, putra mahkota Wuling," ujar Dara.


"Hm, berarti pamorku tidak terlalu ya?" keluh Ahim Yilmaz, ia masih berusaha untuk mengingat masa lalu yang mulai terlihat nyata.


"Aku rasa itu patungnya!" ucap Liu Amei, ia memecah keheningan melihat sebuah patung seram dengan kedua mata yang masih memancarkan sinar merah dan di bawah patung terdapat dua orang gadis yang sudah tewas dengan keadaan tubuh tidak memiliki darah lagi.


"Bajingan! Dasar iblis Keparat! Guangzhou sudah mengambil tumbal untuk persembahan. Pantas saja iblis semakin kuat," umpat Liu Amei, ia mendekati kedua gadis tewas tersebut.


"Apa yang harus kita lakukan dengan patung itu?" tanya Ahim Yilmaz bingung, ia tak mengerti dengan keadaan tersebut.


"Kita peluk-peluk! Ya, kita hancurkanlah, Yank! Aduh, suami-suami masa kini semakin aneh? Lihat, cewek bohay saja yang langsung gercep," keluh Liu Amei yang sudah berpakaian ala Tan Jia Li.


Cring! Liu Amei langsung menarik pedang ingin menebas patung tersebut. Crat! Crat! Desingan anak panah mulai menghujani mereka berdua.


"Awas, Sayang!" teriak Liu Amei yang langsung melesat secepatnya menangkis seluruh busur yang melayang bak angin ke arah mereka.


Patahan anak panah memenuhi ruangan, di sisinya Ahim Yilmaz sudah berhasil mencapai ke arah patung tetapi sebuah tombak langsung menghunus ke arahnya.

__ADS_1


Trang!


Liu Amei secepatnya menangkis pedang yang ingin melesat membunuh suami tercinta.


"Sialan! Selama aku masih hidup tidak akan aku izinkan kalian menyentuh suamiku Bangsat!" teriak Liu Amei. 


Ia melontarkan bumerang untuk menangkis semua anak panah dan tombak yang terus melesat ke arahnya.


"Apakah sebaiknya aku melontarkan bumerang ke arah patung?" batin Liu Amei, ia langsung melontarkan bumerang ke arah patung akan tetapi bumerang tak bisa menyentuh patung karena sebuah kekuatan yang tak kasat mata melindungi patung tersebut.


Sehingga bumerang hanya berputar di depan patung dengan jarak 5 cm yang terus berusaha untuk menggapai tubuh patung.


"Bajingan! Jika begini bagaimana bisa menyelamatkan semua orang? Hanya patung inikah sumber dari malapetaka ini," batin Liu Amei.


Ahim masih terus bergerak di sana seakan dirinya sedang bertarung dengan sesuatu yang tak terlihat sekaligus harus menangkis semua kekuatan anak panah dan tombak yang terus muncul.


Brak!


Pengawal dengan pakaian hitam langsung menyeruak masuk mencoba untuk melumpuhkan Liu Amai dan Ahim Yilmaz. 


"Tadi anak panah dan tombak sekarang malah pengawal berpakaian serba hitam. Ya, ampun! Setelah ini apalagi sih?" keluh Ahim Yilmaz, ia tidak bisa membayangkan saat dulu bagaimana ia bisa bertahan hidup di dinasti Donglang.


Trang! Tring!


Bunyi pedang berdenting kala pedang Liu Amei dan Ahim Yilmaz mulai berlaga dengan pedang pengawal.


"Tangkap mereka! Tuan Lu Dang meminta kita untuk menangkap mereka untuk dipersembahkan sebagai tumbal!" teriak seorang pengawal sebagai ketua.


Liu Amei melesat dengan bertumpu pada dinding dengan kakinya, ia melesat secepatnya dan bergerak memutar pedang seakan ia terbang mengambang di angkasa yang terus memutar pedang.


Kras! 


"Laopo!" teriak Ahim, ia melihat Liu Amei terjatuh karena pedang seorang pengawal menusuk pergelangan tangan.


Bruk!


Liu Amei jatuh ke lantai hingga ia pun harus berusaha menarik bumerang dari patung untuk menghalau musuhnya tetapi bumerang tak lagi bisa dikuasainya.


Sementara Ahim Yilmaz masih harus bertempur di sisi lain di dekat patung.


"Bajingan! Aku 'kan membunuh kalian!" teriak Ahim bergerak secepatnya tetapi para pengawal tak mengizinkan Ahim Yilmaz untuk menolong istrinya, hingga ia harus bertarung kembali.


Sementara Liu Amei berusaha berdiri dengan mencabut satu pedang lagi. Akan tetapi darah dari pergelangan tangannya menetes ke lantai hingga sebuah asap muncul dari tetesan darah Liu Amei.


"Kau ingin meminta apa, Tan Jia Li?" sebuah suara iblis bergetar memenuhi gendang telinga Liu Amei membuat tubuhnya bergetar.


Liu Amei terjatuh kembali, "Aku hanya ingin Dewa Agung dan Tuhanku, membangkitkan 20 prajurit bayangan naga hitam dan aku ingin iblis kembali hancur. Aku percaya jika, kebaikan 'kan selalu menang!" teriak Liu Amei.

__ADS_1


Liu Amei menutup kedua telinganya agar suara-suara iblis yang bergema menghilang dari benaknya dan lenyap.


"Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu! Aku ingin kamu meminta sebuah kesenangan! Aku ingin kamu meminta keselamatan dirimu dengan ditukar dengan darahmu yang manis ini," rayu Iblis.


"Tidak akan! Aku hanya ingin Tuhanku dan Dewa Agung menghancurkan kalian!" teriak Liu Amei, ia bergulingan di lantai. 


Darah dari tangan Liu Amei berceceran di lantai membuat asap membumbung ke mana-mana memenuhi ruangan yang membuat para pengawal berbaju hitam milik Guangzhou kesulitan karena asap.


"Aaa!" teriak suara kesakitan dan bumerang melesat bergerak memenggal kepala iblis yang langsung jatuh bergelinding ke lantai mengenai asap dari darah Liu Amei.


Fenomena lain muncul seberkas cahaya putih langsung terpantul dari asap yang langsung berubah menjadi kobaran api yang membumbung tinggi membakar kepala patung raja iblis neraka yang langsung membentuk sebuah lubang menganga. 


Prajurit bayangan 20 naga hitam muncul lengkap dengan senjata, baju zirah, dan kuda mereka berbaris menyeruak dari dalam lubang.


"Lintao! Zhao Wei, Gu Zu …," Liu Amei menyapa semua anggota pasukannya.


Liu Amei merasakan sebuah kebahagiaan kala melihat semua pasukannya telah berkumpul.


"Maaf Komandan! Kami telat!" ujar Lin Tao, ia dan yang lain langsung melesat memasuki pertempuran. 


Liu Amei tersentuh, ia bersyukur akan semua pemberian Tuhan dan Dewa Agung padanya dan semua orang.


Pertempuran seimbang, para prajurit bayangan 20 naga hitam milik Tan Jia Li telah kembali membuat segalanya menjadi lebih muda, Liu Amei, meneteskan air mata haru. Ia langsung mengobati luka di lengannya dengan obat yang diracik oleh Liang Bo dan Luo Kang dicampur dengan air mata kesedihan Long Mei.


"Laopo! Apakah kamu baik-baik, saja?" tanya Ahim Yilmaz, ia menghampiri istri tercintanya. 


Ia melihat Liu Amei meneteskan air mata dan luka di tangannya sudah mengering dengan ajaibnya.


"Sayang, ada apa?" tanya Ahim Yilmaz, ia merengkuh istrinya di dalam dekapan hangat yang ingin diberikannya.


Ahim Yilmaz tak ingin melihat deraian air mata di sana, ia hanya ingin senyum dan tawa yang menghiasi wajah cantik Liu Amei atau Tan Jia Li yang sangat dikagumi dan dicintainya dengan penuh kasih sayang.


"Aku hanya terharu bertemu kembali dengan 20 prajuritku, hanya itu. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa kembali hadir. Apakah semua prajurit dan jenderal Donglang akan kembali di atas sana? Aku penasaran.


"Sebaiknya kita harus menghancurkan patung iblis agar tak ada lagi manusia yang akan bersekutu dengannya," ucap Liu Amei.


"Jika kamu penasaran, ayo, kita tuntaskan di sini, agar kita mencari di mana mereka menyembunyikan semua sandera! Aku pun tak ingin kita terlalu berlarut-larut di sini," ujar Ahim Yilmaz.


Para prajurit bayangan 21 naga telah kembali lengkap dengan senyuman dan wajah yang terlihat bahagia. Liu Amei melesat menunggangi kudanya yang muncul terakhir berlari ke arahnya.


Meringkik dengan kedua kaki diangkat ke udara.


"Oh, Zhouzhou! Ayo, selesaikan perang terakhir kita! Aku tak ingin ini semakin berlarut-larut. Maaf, aku memanggil kalian kembali ke suami kejam ini. Maaf bila aku telah mengganggu kehidupan abadi kalian di alam baka," ujar Liu Amei, ia sudah melesat di punggung Zhouzhou menepuk pelan lehernya.


Kuda hitam bernama Zhouzhou hanya meringkik. Tan Jia Li benar-benar telah kembali dengan kekuatannya, mereka menghancurkan semua musuh hingga darah para prajurit mengalir kembali ke patung.


Namun, Ahim Yilmaz menebaskan pedang ke aliran darah musuh hingga pendar cahaya ungu membakar darah dan menghentikan aliran darah menuju ke patung raja iblis.

__ADS_1


Semburan api memenuhi ruangan membuat  Ahim Yilmaz melesat ke atas punggung Zhouzhou.


"Ayo, tinggalkan tempat ini!" teriak Tan Jia Li, semua prajurit miliknya melesat bersamanya berkejaran melintasi lorong panjang dan tangga menuruni tangga demi tangga menuju sayap gedung mewah milik Guangzhou.


__ADS_2