Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Terulang kembali kisah lama


__ADS_3

"Ya, kamu benar! Sudahlah, mari kita tidur!" ajak Liu Min.


Liu Min berbaring di sisi Dara di antara dinding jalusi sel ia berusaha untuk merebahkan tubuhnya dan mengulurkan tangan agar Dara tidur di dekapan berbantalkan lengannya.


"Jika malam ini adalah malam terakhir untuk kita, aku ingin segalanya akan tetap menjadi indah," ucap Liu Min tersenyum di dalam gelap malam dan ruangan.


"Tuhan, aku tidak tahu … apakah aku masih bisa melihat istriku esok hari dan seterusnya? Sebelum Engkau benar-benar memanggilku untuk pulang kepada-Mu.


"Aku hanya minta, jika memang suratan takdir yang tertulis di tangan ini, aku harus meninggal di pertempuran kali ini, aku hanya minta selamatkanlah Ibu Ningrum dan kedua ponakan juga keluarga serta istriku.


"Tuhan, jika sudah tiba waktunya aku pergi aku hanya ingin musnahkan saja musuhku, agar semua ini menjadi sebuah kedamaian yang indah!" batin Liu Min berdoa.


Dara yang berbaring berbantalkan tangan Liu Min hanya mampu meraba wajah suaminya, ia ingin menangis dan terus menangis. Namun, ia tak ingin ia terlihat sangat rapuh.


"Siapa pun pasti akan mati dan siapa pun pasti akan ditinggal sendirian. Namun, jika aku bisa memilih, Tuhanku … Ya Rabb, aku ingin mati untuk kedua kalinya bersama suamiku ini," batin Dara meminta pada Tuhan.


"Jambangmu sudah terlalu panjang Laogong!" ujar Dara.


Ia membelai wajah suaminya menikmati wajah tampan Liu Min untuk yang kesekian kalinya. Ia ingin melukis wajah itu di dalam kematian yang akan menyongsongnya esok hari. 


"Ya, kamu benar! Aku lupa untuk membersihkannya kemarin, um … Sayang, aku rasa kamu sudah telat haid bukan?" tanya Liu Min.


Ia merasa jika bulan ini Dara tidak sedang datang bulan. Ia hanya mengingat sepenggal kisahnya di masa lalu dan saat hampir setahun bersama Dara di kehidupan yang penuh kekacauan di dunia modern.


Jika Dara selalu datang bulan di waktu dan tanggal yang sama, Liu Min tersenyum ia merasa begitu mencintai istrinya hingga hal yang sangat pribadi pun ia masih mengingat semua itu. 


Liu Min tersenyum setiap istrinya PMS, emosinya selalu meledak-ledak dan amarahnya sulit terbendung selain itu setelah masa haidnya selesai Dara berubah menjadi lebih cantik dan manis.


"Apa?!"


"Bukankah ini sudah tanggal 15, kamu belum kunjung haid, bukankah biasanya setiap tanggal 8?"ucap Liu Min.


Deg! 

__ADS_1


Jantung Dara terkesiap, ia sendiri lupa akan hal itu, ia mengingat jika sejak mereka menikah dan di dalam pelarian mereka sering melakukan hubungan suami-istri dan tanpa pengaman. 


"Waktu begitu cepat berlalu, Laogong. Aku lupa …," balas Dara.


Namun di dalam benaknya ia mulai menghitung dengan cepat jika ia pun sudah telat seminggu.


"Berhati-hatilah, Laopo! Aku tidak tahu apa yang ingin direncanakan mereka untuk kita, aku hanya ingin berusahalah selamat demi anak kita. Jika ... apa pun yang akan terjadi nanti," pesan Liu Min.


Sebagian hatinya tersayat perih, ia merasa kehidupan benar-benar tidak adil pada mereka berdua, mereka selalu disatukan di dalam ikatan cinta dan pernikahan juga dianugerahi buah hati.


Namun, mereka tak pernah menikmati cinta dan kasih sayang juga anugerah terindah untuk merawat dan membesarkan anak mereka.


"Apakah kamu akan menikah denganku lagi di masa depan atau kehidupan lain, jika kita tewas kali ini?" tanya Dara.


"Tidak!" balas Liu Min tegas.


Penolakan Liu Min membuat relung hati Dara bersedih. Ia tidak menyangka jika Liu Min akan berkata demikian.


"Mengapa? Apakah kamu tak lagi mencintaiku?" selidik Dara.


"Sayang, bukan aku tak mencintaimu. Tapi, ini sangat menyakitkan … dua kali kesempatan diberikan Tuhan pada kita. Aku rasa itu sudah cukup, aku tak pernah membuatmu bahagia, malah sebaliknya.


"Jika kamu menikah dengan pria lain mungkin nasib kehidupan kamu tak separah denganku, Sayang …," balas Liu Min mencium kening Dara.


Ia berkata seakan ia tak lagi membutuhkan Dara tetapi, di dalam jiwanya ia bersedih ia tak ingin wanita lain selain Dara.


"Aku sangat menginginkanmu dan selamanya menginginkan kamu, tapi … aku tak sanggup untuk terpisah lagi," bisik Liu Min.


Dara terdiam, ia menyadari akan hal itu, terlalu panjang perjalanan kisah cinta mereka hingga tak berbatas waktu. Namun, ia juga tak mengerti jika semuanya terasa menyakiti mereka.


"Sudahlah! Mari kita tidur," ajak Liu Min.


Ia ingin menepuk pelan punggung istrinya tetapi rantai yang membelenggu tangannya juga dinding jalusi penjara yang menghalangi ia untuk melakukan hal itu, tangannya tak lagi sampai hingga ia hanya bisa membelai wajah dan rambut istrinya.

__ADS_1


"Tidurlah, Cinta. Tidurlah, Matahariku, esok akan indah …," hibur Liu Min.


Walaupun ia sendiri tak yakin akan semua itu. Namun, sebuah keyakinan akan keberhasilan tetap membuat seorang Liu Min optimis.


Pada akhirnya dara dan Liu Min mencoba untuk tertidur berdampingan dengan pembatas dinding sel keduanya saling menggenggam tangan seakan tak ingin terlepas lagi.


"Aku tidak tahu apakah masih ada waktu untuk kami berdua?" batin keduanya di dalam diam dan saling memejamkan mata.


Keduanya berpura-pura seakan mereka tidur untuk sekedar menyenangkan pasangan mereka. Namun, keduanya tak menyadari jika mereka hanyalah bersandiwara melakukan semua itu.


Detak jantung bergema membelah malam dan keduanya masih saling diam tanpa bergerak maupun berbicara hanya naluri mereka saja yang berbicara.


"Kali ini, perpisahan kami tak banyak dengan kata-kata, Liu Min benar … ia pun sudah lelah …," batin Dara. 


Air mata bergulir di kegelapan malam tanpa disadari oleh Liu Min. Malam begitu cepat berlalu, hingga langkah kaki mendekat ke arah mereka.


Krieet!


Pintu terbuka cahaya masuk membuat keduanya langsung bangun dan sedikit menjauh.


"Selamat pagi! Aku harap mimpi kalian begitu indah pagi ini," ujar Quino tersenyum.


Ia memandang ke arah Dara dan Liu Min dengan tatapan yang sulit diartikan. Di belakangnya 4 orang pengawal langsung membuka pintu sel dan menyeret Dara dan Liu Min.


Akan tetapi mereka membawa keduanya dengan arah berlawanan, membuat Dara dan Liu Min saling pandang.


"Selamat tinggal Laopo, Wo ai ni (aku me cintamu)!" lirih Liu Min dengan gerak bibir.


"Selamat Jalan Laogong, Aku pun mencintaimu!" balas Dara.


Dara berusaha tersenyum dengan manis. Ia tak ingin terlihat menangis ataupun bersedih, ia sudah ikhlas untuk melepaskan semua penderitaan yang akan memerangkap jiwa mereka.


Dara digiring dengan Quino di belakang mereka menuju ke sebuah ruangan dan di dalam ruangan seseorang dengan pakaian putih sudah menunggu meraih lengan Dara dan langsung menembakkan sebuah laser infrared ke tangan Dara sehingga terbentuk sebuah kode digital yang mirip dengan tanda kode di setiap bungkus jajan yang dijual. 

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Dara penasaran.


__ADS_2