
Liu Min menarik kakinya, secepat ia bisa hingga betisnya terkoyak oleh suatu benda yang tajam di jok mobil. Ia merangkak secepatnya menjauh dari kolong mobil berguling ke mobil musuh di sebelahnya dan menjatuhkan diri ke selokan.
Duar! Duar!
Ledakan dari mobil Liu Min beruntung ke mobil di sebelahnya. Percikan bunga api semakin membubung tinggi Liu Min mengikat luka di betis dan berjalan secepatnya menuju ke arah musuh yang bersorak girang melihat kematian musuh mereka.
"Tidak semudah itu Bajingan!" geram Liu Min langsung menarik sangkur da. Menggorok leher musuhnya yang berdiri di sisi mobil lain dengan senjata Laras panjang.
Liu Min langsung mengambil senjata tersebut beringsut masuk ke dalam selokan dan menembak tangki minyak mobil membuat ledakan kembali bergema.
Liu Min melesat mencoba untuk berlari menjauhi ledakan. Ia berdiri di tengah jalan raya dengan mengacungkan senjata kepada pengendara mobil yang ingin melewati jalan tersebut.
"Berhenti atau kutembak!" ancam Liu Min, ia mengacungkan senjatanya ke arah pengendara mobil seakan-akan ia ingin membegal mereka.
Si pengendara mobil langsung menghentikan laju mobilnya, leomi melihat seorang wanita tua yang sedang mengendarai mobil. Liu Min merasa kasihan dengan nenek tersebut.
"Maaf Nek aku harus melakukan ini, Aku ingin secepatnya tiba di kota Jinping. Apakah engkau mau mengantarkanku ke sana?" tanya Liu Min dengan sopan
Wanita tua tersebut hanya tercekat melihat tubuh Liu Min yang penuh luka dan darah, awalnya ia sangat takut akan tetapi ia merasa Liu Min adalah orang yang sangat baik sehingga ia merelakan untuk mengantar Liu Min.
"Baiklah anak muda aku akan mengantarmu sampai ke kota Jinping, kebetulan aku pun ingin bersenang-senang," ujarnya tersenyum.
"Terima kasih, Nek!" balas Liu Min, ia tak menyangka jika ia malah menodong seorang nenek-nenek.
"Apakah kau terluka, Nak?" tanya wanita tersebut, ia melihat darah yang masih merembes di kain yang sengaja dibenarkan di betis Liu Min dengan sisa kausnya.
__ADS_1
"Ya!" balas Liu Min masih menatap lurus ke depan.
"Gunakanlah ini!" balas Nenek tersebut, ia memberikan ramuan tradisional dari sebuah serbuk hitam kecoklatan yang sangat bau.
"Apa ini Nek? Mengapa baunya mirip dengan kotoran sapi?" tanya Liu Min, ia mencium bau menyengat ya g mengerikan dari bungkusan kertas tersebut.
"Jangan cerewet! Kamu mau sa.oai di Kota Jinping tidak?" tanya si nenek.
"Ya, mau sih!" balas Liu Min pasrah, ia mengikuti instruksi dari nenek tersebut untuk me.baurkan serbuk tersebut pada lukanya.
"Bagaimana jika obat ini malah membuat kakiku semakin parah dan diamputasi?" batin Liu Min semakin bingung.
"Jangan takut! Aku tidak akan menambahi dosa dengan membunuhmu!" balas si nenek masih mengendarai mobil dengan tenang dan tanpa rasa takut.
Liu Min mengakui nyali si nenek luar biasa, "Jika wanit Alain ia pasti sudah lari terbirit-birit," batin Liu Min.
"Hah! Wah, jika obat ini diperdagangkan sangat luar biasa! Paling tidak, para dokter tidak perlu terlalu terlalu mahal untuk mencari obat, masalahnya mereka selalu saja memasang tarif yang tinggi. Hingga rakyat kecil kesulitan untuk berobat!" ujar Liu Min tersenyum.
Si nenek hanya tersenyum mendengar ocehan Liu Min, "Pria ini tidak berubah dia masih saja memikirkan orang banyak," batin si nenek senang mendapati Liu Min.
"Apakah kau ingin segera tiba di Kota Jinping?" Tanya si nenek penasaran, ia merasa jika Liu Min benar-benar ingin tiba secepatnya di kota Jinping.
"Tentu saja Nek! Aku ingin segera tiba di sana karena ada yang ingin aku kerjakan. Istri, mertua, Kakak, dan keponakanku juga orang-orang yang disandera bukti untuk diselamatkan jika aku tidak menyelamatkan mereka siapa lagi.
"Terima kasih Nek, telah meminjamkan dan mengantarkan diriku sampai ke sana. Aku tidak akan melupakan kebaikan Nenek,"ujar Liu Min dari sanubarinya.
__ADS_1
"Baiklah jika demikian kita harus ngebut! Pakailah sabuk pengaman kamu, Nak. Aku tidak ingin kamu akan terluka lagi, aku rasa obatku sudah menipis dan aku tidak memiliki stok untuk itu." Si nenek langsung memasang tuas kemudi dan menginjak gas secepatnya.
Brum!
Liu Min terbengong, kala si nenek benar-benar ngebut di jalan raya. Bahkan, Liu Min tidak menyangka jika si nenek mampu menyalip mobil-mobil seakan ia telah terbiasa melakukan hal itu.
"Wah, Anda hebat sekali Nek! Cara mengemudi Nenek mengalahkan Valentino Rossi!" puji Liu Min.
"Hahaha, kamu bisa saja! Bukankah kamu bilang, kamu ingin segera tiba di Kota Jinping?" ucap si nenek.
"Ya, Nenek benar sekali! Aku memang ingin segera tiba di sana, terima kasih Nek. Maaf jika aku menodongmu, itu sangat tidak sopan sama sekali. Namun bagaimana lagi, jika aku tidak melakukan hal itu aku sangat yakin tidak akan ada yang mau menolong," ucap Liu Min.
Liu Min masih terguncang di jok penumpang akibat si nenek terlalu ngebut di jalan raya, Liu Min melirik si nenek dengan pandangan takjub dan kagum yang sangat luar biasa.
"Nenek, apakah kita pernah bertemu?" tanya Liu Min, ia merasakan jika ia pernah bertemu dengan nenek tersebut walaupun ia sendiri tidak tahu di mana.
"Aku tidak tahu mungkin dari masa lalu kita tidak pernah tahu apa pun yang pernah terjadi di kehidupan lalu Nak."si nenek tersenyum kembali menatap ke arah Liu Min yang masih menatapnya.
"Ya, masa lalu! Karena masa lalu hidupku jadi berantakan dan juga penuh dengan kebahagiaan …," lirik Liu Min.
Liu Min sendiri tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa bahkan semua kebahagiaan juga kesedihan silih berganti di dalam hidupnya, Liu Min harus benar-benar bertarung untuk meraih kebahagiaan di dalam percintaan rumah tangga dan kemenangan yang berlumurkan darah dan air mata.
Namun, ia bersyukur memiliki Seorang istri yang sangat luar biasa.
"Dara Sasmita bukanlah wanita biasa, ia memiliki sejuta talenta, kebaikan, cinta, kasih sayang, dan segalanya. Istriku adalah wanita yang benar-benar mencerminkan kekuatan dan lambang kasih sayang dari seorang wanita yang mencerminkan pengorbanan," batin Liu Min.
__ADS_1
Liu Min tersenyum ia merasa bersyukur atas pemberian Tuhan kepadanya tak ada lagi yang paling berharga di hidup Liu Min selain Dara dan kasih sayang dimilikinya, untuk semua orang yang membutuhkan demi sebuah keadilan dan keamanan semua orang.
"Apakah kau begitu mencintainya Nak?" tanya si nenek tersenyum, seakan ia bisa merasakan kasih sayang dari lamunan Liu Min.