
Ahim Yilmaz dan Liu Amei sedang mencetak skornya berbeda dengan Dara dan Liu Min yang sedang menantikan kelahiran sepasang bayi kembar mereka.
"Sayang … apakah kamu tidak ingin pergi berbulan madu?" tanya Liu Min, ia masih membelai perut istrinya yang sudah membuncit.
Liu Min menyadari jika sepanjang pernikahan mereka telah dilewati dengan pertempuran demi pertempuran, Liu Min ingin memberikan kebahagiaan kepada istrinya dengan rasa kasih sayang dan cinta.
"Memang mengapa Laogong?" tanya Dara, ia melihat ke wajah suaminya.
Semakin hari Dara semakin mencintai suaminya dengan segenap rasa dan kasih sayang yang sangat luar biasa. Begitu pun dengan Liu Min, terkadang keduanya masih sangat merindukan pasangan naga yang sudah tak mungkin pernah mereka lihat.
"Um, nanti saja! Setelah anak kita lahir! Lagian, aku ingin sekali pergi ke Mongol," jawab Dara, ia ingin melihat kampung halaman dari jejak masa lalu.
"Asyik, kita akan pergi ke perbatasan Turki dan Mongol, di sana sangat indah …," ujar Liu Min, mereka masih memandang musim gugur di luar jendela di mana bunga persik masih menggugurkan bunganya.
"Sayang tidakkah kamu rindu ingin memainkan suling, Sayangku?" tanya Liu Min, ia menatap istrinya yang semakin hari semakin cantik.
Liu Min begitu menyukai jika Dara meniup seruling yang diberikan Zhang Mei, Liu Min merasakan ketika ia pertama kali bertemu dengan Dara yang masih berada di tubuh Li Phin.
Mereka masih menyimpan kedua pedang abadi di ruangan kamar mereka walaupun kedua pedang itu kini hanyalah menjadi pedang biasa. Mereka seakan kehadiran pasangan naga masih di sisi mereka.
"Tentu saja!" ucap Dara, ia merasa akhir-akhir ini begitu sulit untuk bergerak.
Liu Min mengambil dan memberikan seruling pada Dara yang langsung meniup seruling dengan penuh rasa kerinduan dan cinta. Liu Min memeluk istrinya membelai perut istrinya yang sedang mengandung buah hati mereka.
Bunga persik berguguran menghiasi malam penuh cahaya purnama, menguak kisah kenangan cinta di mana mereka menikah setahun yang lalu. Dara menghentikan tiupan serulingnya, menyandarkan kepala di dada suaminya.
"Kapankah pesta pernikahan Luo Kang dan Xiao'er?" tanya Dara, ia mengingat jika Dokter Luo Kang akan menikahi asistennya yang cantik yaitu : Xiao'er.
Keduanya mengingat kala pertempuran terakhir di gurun Jinping jika Xiao'er berlari menyongsong dan memeluk Luo Kang dengan penuh cinta dan kasih sayang, kedua begitu dilanda cinta.
Luo Kang yang kini bertugas di Kampung Nelayan di sebuah rumah sakit besar yang dibangun oleh Dara dan Liu Min dari hasil emas yang disembunyikannya bersama permaisuri Shandong di gua di mana mereka bersembunyi dulu.
Dara dan Liu Min menggunakan semua emas tersebut untuk membangun panti asuhan, rumah sakit, sekolah di berbagai kota di Tiongkok dan Indonesia.
"Bagaimana bisa menikah? Jika Luo Kang masih belum melamar Xiao'er?" ucap Liu Min, "Luo Kang, terlalu lambat pergerakannya …," keluh Liu Min.
__ADS_1
"Memang dirimu, Yank!" ejek Dara, ia mencubit perut suaminya dengan manja.
"Ya, iya dong! Jika aku selangkah saja lambat … aku tidak tahu … jangan-jangan kamu akan menjadi perawan tua dan aku menjadi panglatu alias panglima lajang tua tak laku!" ujar Liu Min.
"Hahaha, kamu bisa saja, Laogong!" jawab Dara.
Kini kehamilan Dara sudah memasuki usia 8 bulan, Liu min melihat kesulitan yang dialami istrinya, ia merasa tak tega melihat semua itu.
"Sayang! Sebaiknya kita melakukan sesar saja saat kamu melahirkan nanti," usul Liu Min.
"Nggak ah! Kecuali memang sudah tak bisa normal lagi Laogong," ujar Dara, ia tersenyum melihat pancaran kekhawatiran dari suaminya.
"Sudahlah, Laogong. Seperti kata Ce Aching, kita cukup melakukannya seminggu 3 atau 4 kali mengunjunginya, untuk memperlancar persalinan," ucap Dara.
Glek!
Liu Min menelan ludahnya, "Memang, kamu nggak ngeri gitu Sayang?" tanya Liu Min, ia ngeri membayangkan jika mereka harus melakukan hubungan suami-istri dengan perut yang sudah segede gunung.
"Um, aku rasa, tidak perlu seminggu 3 atau 4 kalilah, Yank …," bisik Liu Min, ia tak ingin istrinya semakin kelelahan.
"Hah! Apakah kamu sudah tidak tertarik lagi denganku, Laogong? Karena perutku sudah Segede ini begitu? Kamu jahat sekali! Hiks, hiks," tangis Dara.
"Ah, Laogong … serius … kamu bukannya sudah bosan padaku?" tanya Dara, ia merasa moodnya selalu turun naik semenjak hamil.
Dara tidak mengerti ia menyukai cewek cantik tapi terlalu dingin terhadap cowok terkadang Liu Min merasa malu karena dia harus mengantri di pusat perbelanjaan atau tiket konser hanya untuk melihat cewek-cewek cantik sedang lalu lalang pusat perbelanjaan atau pagelaran busana hanya untuk menyenangkan hati Dara sekedar melihat cewek cakep.
Liu Min merasa ngeri membayangkan jika sepasang anak kembarnya akan mewakili sifatnya dan Dara. Namun, Liu Min mengingat pesan nenek Zhang Mei jika semua itu adalah cerminan kedua orang tuanya.
Sehingga Liu Min tidak terlalu khawatir untuk hal itu, ia memandang istrinya yang masih merajuk. Liu Min tidak mengerti, semenjak hamil Dara selalu hampir tiap hari minta jatah, membuat Liu min kebingungan.
"Sayang … bukankah selama ini aku pun selalu menginginkanmu? Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan," bujuk Liu Min.
"Yee, jangan salahkan aku! Ini yang mau anakmu, Laogong. Aku sih, ogah! Sakit kaki, sakit pinggul, sakit, pinggang … tapi enak sih …," ucap Dara tanpa malu.
Gubrak!
__ADS_1
Liu Min merasa dunianya kalang kabut jungkir balik tak mengerti harus bagaimana menghadapi mood booster dari istrinya yang naik turun milik rolling coster di Dufan.
"Tapi … Yank …," bisik Liu Min kala Dara sudah dengan santainya duduk di atas tubuhnya.
"Mau tidak?! Kalau tidak mau ya, sudah aku tutup lagi. Jangan pernah minta!" ancam Dara.
"Jangan gitu dong, Yank. Aku sih, yes mau tiap hari pun aku sih mau banget tahu! Cuma … bagaimana dengan kamu Yank? Apakah itu tidak mengerikan begitu?" tanya Liu Min masih tak tega membayangkan kesulitan yang sedang di hadapi istri tercintanya.
"Sayang … pokoknya aku mau! Titik tidak pakai koma," ketus Dara, ia santai duduk di atas perut suaminya tanpa menimbang rasa.
"Iya, iya, deh! Sekarang bagaimana jika kita ke luar dulu, Yank?" ajak Liu Min.
"Ke mana?" tanya Dara bingung, ia tak mengerti maksud dan tujuan Liu Min.
"Ayolah …!" ajak Liu Min tersenyum.
Keduanya berjalan bersisian, mereka tak pernah menggunakan sisa dari kekuatan mereka, kedua berjalan bergandengan ke bawah pohon persik di sekitar rumah.
"Selamat ulang tahun pernikahan pertama kita, Sayangku, Aku tahu sudah sangat telat untuk setiap waktu yang sudah kamu berikan untukku di kehidupan indah ini dan masa lalu …," ujar Liu Min.
"Oh, terima kasih Sayang …," balas Dara, ia kira jika Liu Min lupa.
"Aku sangat ingin memberimu ini," ujar Liu Min, ia memberikan sebuah mangkuk tembikar yang selalu bercahaya jika tertimpa sinar apa pun.
"Aku tidak tahu ingin menberikan kado apa, pada ulang tahun anniversary kita yang pertama di kehidupan ini, untukmu Sayang. Perhiasan dan pakaian kamu sudah terbiasa dengan semua itu, selain itu … kamu tidak terlalu peduli juga.
"Jadi, aku memberikan mangkuk ini …," ucap Liu Min tanpa membungkus mangkuk yang terbuat dari sejenis kristal yang unik.
Liu Min mengingat jika Zhang Mei pernah mengajarinya cara menggunakan tanah lihat untuk membuat sesuatu dengan sedikit meminjam sisa kekuatan dari masa lalu yang masih tersisa di tubuh Liu Min untuk dipersembahkan pada istri cantiknya.
"Ini sangat canti sekali, Sayangku …," balas Dara, ia merasakan sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Dara mengeluarkan sesuatu dari balik kantung di baju dasternya, "Aku hanya memberikan ini untukmu Sayang, ucap Dara dengan penuh kasih.
Dara memberikan sebuah pena untuk suaminya, "Wah, ini bagus sekali! Um, ini … bukankah ini …," lirih Liu Min menatap Dara.
__ADS_1
"Ya, itu dari sisik Qinglong yang terlepas saat perang dulu, diam-diam aku menyimpannya sebagai kenangan saat dia pergi dan tak akan kembali, ternyata itu benar adanya bukan?.
"Terkadang aku masih merindukan mereka semua, rasanya masih baru kemarin kita bergelantungan di punggungnya dan bersama ke sana kemari," bisik Dara, ia menatap ke angkasa.