
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Edwin membuyarkan lamunan Kamila.
Kamila pun refleks menoleh ke belakang. "Eh, Mas. Aku sedang membereskan pakaian Ray," ia berpura-pura melipat pakaian dan membereskannya.
Edwin tersenyum sembari melangkah menghampiri, kemudian duduk di samping Kamila. Tangan Edwin meraih tangan Kamila, lalu ia berbicara dengan nada lembut. "Mila. Besok Papa dan Mamaku akan kembali dari Prancis. Beliau ingin bertemu denganmu juga Ray," cetusnya kemudian.
Kamila terkesiap mendengar perkataan Edwin barusan. Tangannya mendadak gemetaran dengan rasa gugup yang menyelimuti. Perlahan Kamila menoleh dengan tersenyum canggung. "Umm, ingin bertemu denganku dan Ray?" Kamila bertanya untuk memastikan dan diangguki Edwin langsung. "Untuk apa, Mas? A-aku malu jika ..."
Edwin segera memangkas ucapan Kamila. "Orang tuaku tidak seburuk yang kamu pikirkan, Mila! Mereka orangnya terbuka dan juga pengertian," tutur Edwin menjelaskan.
"Tapi, aku malu Mas!"
"Malu kenapa?" Edwin menatap serius wajah Kamila, kemudian memegang kedua bahunya. "Aku sudah menceritakan semua tentangmu pada kedua orang tuaku, Mila. Mereka menyukaimu hingga ingin menemui kamu dan Ray secepatnya," kembali Edwin berkata.
"Justru karena itu aku malu, Mas! Aku bukan wanita baik dan sempurna. Banyak kekurangan dariku terutama aku ini adalah wanita yang ditinggalkan. Masa laluku itu kelam," desis Kamila lirih.
Rasanya sungguh sesak mengingat kehidupan pahitnya bersama Riki dan kedua mertuanya. Kamila merasa dirinya buruk untuk Edwin yang baik dan sempurna. Orang yang penyayang serta penyabar.
Kamila merasa tak pantas jika berada dalam keluarga Edwin yang baik.
Edwin menghela nafas panjang, kemudian duduk bersimpuh di pangkuan Kamila membuat Kamila terkejut. "Hei! Apa yang kamu lakuin, Mas?!"
"Aku sedang memintamu untuk menerima cintaku, Mila. Aku menerimamu apa adanya dengan segala kelebihan atau kekuranganmu. Aku terlanjur menyayangi kamu dan Baby Ray," tutur Edwin. "Usiaku sudah tak muda lagi, dan sudah waktunya aku berumah tangga." lanjutnya kemudian.
"Tapi, masih banyak wanita yang pantas untuk bersanding denganmu dari pada aku, Mas. Mereka jauh lebih baik," sanggah Kamila.
Edwin menggelengkan kepala. "Tapi, yang mengerti dan memahami tentangku ialah kamu. Aku sudah nyaman hidup denganmu, Mila."
Sebelum Kamila berucap lagi, Edwin segera mendahului. "Apa kamu menolak cintaku?"
__ADS_1
Seketika wajah Kamila mendongak, tak lama kemudian ia menggelengkan kepala sembari meraih tangan Edwin. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas. Sungguh! Aku juga ... cinta kamu!"
Senyum Edwin mengembang seketika mendengar pernyataan Kamila tentang kejujuran hatinya. Dia bertanya sekali lagi untuk memastikan dan Kamila mengangguk pasti.
Betapa bahagianya Edwin saat itu, karena cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Segera direngkuhnya tubuh Kamila serta mendaratkan kecupan-kecupan di pipi, Kening, kemudian, bibir. Walaupun sekilas, tapi itu sukses membuat Kamila salah tingkah dengan pipi bersemu merah.
"Aku senang karena kamu menerima cintaku," cetus Edwin masih dengan binar kebahagiaan.
Kamila tersenyum sembari mengusap kepala Edwin dengan sayang, kemudian memeluk tubuhnya erat. "Makasih atas semua kebaikan yang Mas berikan kepada kami!"
•
•
Riki dan kedua orang tuanya sedang berjalan menyusuri gang-gang komplek perumahan untuk mencari tempat tinggal. Mereka duduk di sebuah pos kamling yang ada di ujung jalan dekat dengan warung kecil.
Riki dan kedua orang tuanya duduk di sana selama lima jam dan warung tersebut masih ramai didatangi pembeli, baik pejalan kaki maupun yang memakai kendaraan.
Ketiganya menelan ludah saat melihat para pembeli yang memakan gorengan sambil minum kopi di warung tersebut. Tak terasa, perut mereka pun berbunyi nyaring pertanda minta diisi.
"Riki. Ibu mau makan," rengek Nani pada putranya sambil mengelus perutnya yang terus berbunyi.
Pak Wiryo pun menyahut. "Iya. Bapak juga lapar," timpalnya ikut memegang perut.
"Aku juga lapar, Pak, Bu! Tapi kita beli makan pake apa? Duit udah abis diambil mereka," cetus Riki geram.
"Salahmu sendiri, pake maen judi. Coba saja kalau kamu itu gak ngikutin ucapan si Desi itu, mungkin kita masih di rumah. Makan, tidur, hidup enak pokoknya. Coba sekarang, kita kaya gembel." hardik ibunya kesal.
"Malah lebih dari gembel. Di rumah walaupun banyak utang di warung, tapi mereka tak kasar seperti anak buah Mami Kelli yang langsung ngusir kita." timpal ayahnya.
__ADS_1
Riki mengeram kesal. "Terus aku harus apa, Pak, Bu? Semuanya sudah terlanjur terjadi," cetusnya.
Ketiganya saling menatap dengan menghela nafas panjang. Mereka harus mencari cara untuk bisa makan siang ini, karena dari kemaren sore sampai pagi tadi tak ada yang bisa mereka makan.
Hanya air putih yang bisa diminum, itupun tanpa di masak terlebih dulu. Air yang mereka minum berasal dari air bersih umum yang ada di kampung sebelah, itupun karena gratis.
Bukan mereka tak bisa mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang, tapi semua pekerjaan tak ada yang cocok menurut mereka.
Padahal, sepanjang perjalanan banyak dibuka lowongan pekerjaan. Namun, baik Riki ataupun kedua orang tuanya tak mau bekerja di tempat tersebut dengan alasan gaji yang sedikit.
Riki dan kedua orang tuanya menolak mentah-mentah pekerjaan yang ditawarkan satpam penjaga toko. Padahal pekerjaannya ringan saja, yaitu membereskan toko, meimbang tepung atau minyak yang kemudian dikemas dalam plastik, menghitung barang belanjaan, serta mengantarkan belanjaan pelanggan ke tempatnya.
Pemilik toko akan memberikan upah perminggu kepada mereka masing-masing sebesar dua ratus ribu rupiah ditambah uang makan. Tapi, Riki dan kedua orang tuanya menolak karena gajinya kecil menurut mereka.
Padahal jika mereka pikirkan, banyak orang di luar sana yang sulit mendapatkan pekerjaan.
"Kenapa kita menolak pekerjaan itu kemarin? Jika kita bekerja, kita pasti bisa makan dan punya penghasilan untuk biaya hidup." kata Pak Wiryo.
Bu Nani menyahut dengan nada tinggi. "Bapak mau kerja di tempat seperti itu? Pekerjaan yang melelahkan dengan gaji kecil. Ibu sih ogah banget,"
"Bener apa kata Ibu, Pak! Gaji segitu cukup buat apa?!" Riki menimpali. "Aku biasa pegang duit di atas dua juta perminggu, sekarang dikasih dua ratus rebu dan itupun harus capek dulu. Heh, mending tidur aku mah." sambungnya lagi yang disetujui ibunya.
"Mending tidur katamu?!" Wiryo melotot sembari berkacak pinggang di depan anak dan istrinya. "Perut kalian tak akan bisa diem hanya dengan diajak tidur! Memangnya kalian kenyang cuma makan angin?!" hardiknya kesal.
Riki dan Nani menunduk sembari berdecih sebal. Keduanya memang sama-sama tak mau bersusah payah untuk hal apapun, termasuk untuk mengisi perut.
"Si Bapak menyebalkan!" batin keduanya kompak.
...Bersambung .......
__ADS_1