
Tan Jia Li selalu menyuruh semua anggotanya untuk mendirikan patung kala malam di setiap tembok perbatasan seakan semua prajurit sedang berpatroli. Sedangkan prajuritnya yang asli lebih banyak merayap di antara patung.
Ia ingin menghindari banyaknya korban jiwa jika musuh menyerang, taktik Tan Jia Li untuk beberapa hari benar-benar berhasil, tetapi ia semakin gelisah sudah masuk hari ke-5 Gu Shanzheng belum sadar dan semua anggota yang diutusnya belum satu pun yang pulang membuat dirinya semakin kacau balau, ia sudah tidak bisa tidur lagi.
Semua anggota Gu Shanzheng dan anggotanya sudah berulang kali memintanya untuk istirahat tetapi ia tak juga bisa untuk istirahat. Ia seakan terobsesi, "Aku tidak bisa! Bagaimana jika mereka datang menyerang?" batinnya semakin kacau.
Apa yang ditakutkan oleh, Tan jia Li benar-benar terjadi, serangan anak panah langsung menyerang mereka menghujam ke arah para patung prajurit yang berdiri.
"Bersiaplah! Mereka menyerang!" teriak Tan Jia Li melesat ke benteng untuk memimpin pertempuran yang sedang dihadapinya.
"Pasukan panah api, serang mereka!" teriak Tan Jia Li memberi perintah.
Di dalam sekejap panah berapi langsung melesat membalas musuh, kobaran api langsung memberi cahaya di mana arah dan keberadaan musuh membuka semua sisa anggotanya dan Gu Shanzheng langsung melesat di dalam kegelapan membunuh musuh.
Tanda api yang diberikan oleh Zhao Wei memberi isyarat yang melesat ke angkasa, "Dasar, sialan! Semua ini adalah jebakan," umpat Tan Jia Li, ka semakin murka, "bajingan! Andaikan Gu Shanzheng tidak terluka, aku bisa secepatnya ke sana. Tapi, jija aku meninggalkan benteng aku takut ini hanya jebakan saja untuk mengalihkan perhatianku!
"Mereka bisa saja membunuh Gu Shanzheng dan membuat Wuling dan Donglang kehilangan persaudaraan. Dasar, Mongol keparat!" umpat Tan Jia Li.
Ia mulai murka dan gelisah, ia melihat balasan dari lawannya dari sebelah barat serangan beruntun meriam bola api melesat menembus dan menghacurkan sebagian benteng membuat pasukan berkuda dari Changsha mulai bergerak secepatnya masuk menyerang benteng.
"Buka, jebakan!" teriak Tan Jia Li.
Para prajurit langsung membuka parit-parit dalam yang penuh dengan kayu-kayu runcing yang berlumurkan oleh minyak, "Bakar, mereka!" teriak Tan Jia Li melesat melihat ke arah Utara.
Salah saru prajurit menembakkan anak panah api membuat parit langsung terbakar bersamaan dengan para prajutir berkuda musuh yang langsung masuk ke api dan ada juga yang berhasil melesat masuk. Langsung dihadang oleh Tan Jia Li dan prajuritnya dengan pedang, "Serang!" teriak Tan Jia Li melesat menebas musuh dengan secepatnya.
"Aku sangat yakin jika mereka pun pasti bergerak di Utara. Karena tiga posisi ini sangat rentan!" umpat Tan Jia Li kesal.
__ADS_1
Apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi, gempuran meriam dari Utara mulai melesat menghancurkan benteng, Tan Jia Li harus membagi pikirannya ketiga tempat sementara tangan kanannya tlah pergi ke Donglang.
"Zhang Fuk, urus bagian depan! Zhao Wei bagian Barat! Aku Utara, Tuan Wong evakuasi tubuh Shanzheng!" teriak Tan Jia Li melesat dengan secepatnya menemui semua orang.
"Baik, Yang Mulia!" balas ketiganya.
"Usahakan kita bertahan! Jika kita mati pun, matilah dengan secara terhormat!" teriak Tan Jia Li.
Ia langsung melesat menuju Utara, bersama pasukan di bagian benteng Utara.
Ia melihat Zhang Fuk langsung melesat membalas serangan musuh yang menggunakan kuda. Perang mulai berkecamuk begitu juga dengan Zhao Wei di bagian barat.
Pertempuran semakin sengit telah banyak korban dari pihak musuh dan pihak Donglang di perbatasan Xihe. Asisten Wong Fei dan penduduk bersiap meracik obat dan bersembunyi mencoba untuk membantu dengan membuat jebakan-jebakan yang sudah mereka buat dan menyebarkan penawar racun yang akan digunakan musuh.
Ia telah membawa tubuh Gu Shanzheng yang masih koma, "Andaikan Jenderal Gu bisa secepatnya sadar, pertempuran akan seimbang!" ujar Wong Fei masih memeriksa nadi Gu Shanzheng.
Ucapan Wong Fei membuat Gu Shanzheng mulai merespon dengan jemari tangan yang mulia bergerak.
Aliran darah langsung memompa ke jantung membuatnya mulai tersadar dan berpikir, suara pedang dan teriakan juga derap kuda juga dentuman meriang langsung bergema.
Belum lagi teriakan kesakitan dan kematian mulai membuat Gu Shanzheng bergerak membuka mata.
"Jia'er!" teriaknya bangun langsung duduk.
"Tuan Gu, syukurlah Anda telah bangun!" balas Wong Fei bahagia.
"Apa yang terjadi Tuan Wong? Mana Jia'er?" tanya Gu Shanzheng menatap ke arah Wong Fei.
__ADS_1
"Nona Tan sedang bertempur di luar, Yang Mulia! Pasukan Mongol dan Changsha sedang menyerang!" balas Wong Fei menceritakan segalanya.
"Bajingan!" umpat Gu Shanzheng melesat meraih tombak bermata lebar milik kakeknya Liu Bei melesat ke luar gua persembunyian.
"Aduh, aku lupa bilang jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam, bisa kacau nantinya!" batin Gu Shanzheng, "apa yang harus aku lakukan?" ujar Wong Fei mengejar berusaha untuk mengikuti Gu Shanzheng yang sudah melesat jauh tanpa bisa terkejar dengan rambut panjang tergerai dan tanpa menggunakan baju zirah.
Gu Shanzheng benar-benar membabi buta dan langsung membunuh musuh yang berada di depannya. Semua orang terperanjat menatap ke arah Gu Shanzheng yang mengamuk di sana.
"Kalian benar-benar ingin mati, Jahanam!" teriak Gu Shanzheng berang langsung membunuh musuhnya.
"Gu Shanzheng! Benarkah itu Gu Shanzheng?" batin Tan jia Li bahagia.
Ia merasa jika Gu Shanzheng benar-benar telah pulih senangatnya kembali membara untuk membunuh, musuhnya. Pertrmoiran semakin dengit kala bantuan dari Mongol dan Qin mulai membaur membantu sekutu mereka.
Tombak Gu Shanzheng, berkelebatan membelah malam di antara kilatan pedang musuh yang menghunus ke arahnya.
"Ayo, maju kalian!" teriak Gu Shanzheng, memutar tombak besarnya.
Memutar dan menghunuskan ke arah musuh yang menyerangnya secara bergerombol dan mengelilingi tubuh Gu Shanzheng.
Ia berhasil membunuh musuh mereka, akan tetapi musuh semakin banyak menyerang bahkan anak panah semakin berterbangan ke arah Gu Shanzheng, membuat Gu Shanzheng melesat memutar tombaknya untuk menghalau dan menangkis anak panah.
Gu Shanzheng mengeluarkan tenaga dalamnya terlalu banyak, hingga ia semakin lemah karena ia sudah tak sadarkan diri selama 5 hari. Namun, ia berusaha untuk bertahan, "Sialan! Aku semakin lemah! Ada apa denganku?" batin Gu Shanzheng bertanua di dalam hati.
Ia merasa hanya beberapa hari saja ia tak sadaekan diri, "Bangsat! Bagaimana aku bisa membantu Tan Jia Li bila terus-terusan begini?" batinnya.
Sementara Tan Jia Li di bagian Utara masih bertempur, ia melihat dari kejauhan jika Gu Shanzheng jewalahan, "Keparat, jika terus-terusan begini Gu Shanzheng benar-benar bisa tewas!" umpat Tan Jia Li.
__ADS_1
Ia ingin menolong Gu Shanzheng akan tetapi musuh yang dihadapinya semakin banyak. Tan Jia Li pun kewalahan menghadapi musuhnya