
"Aku … aku hanya bermimpi Dara. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa melakukan hal itu? Serius, aku kira semua itu adalah mimpi Dara." Liu Min langsung memakai pakaiannya.
Dara hanya diam saja, "Apa? Kamu bermimpi? Mimpi apa?" balas Dara, "jadi mimpi itu? Bukan aku saja yang bermimpi, begitu?" batin Dara.
"Iya, aku bermimpi!" ketus Liu Min dengan mengangkat tangan dan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
Dara memandang ke arah Liu Min, "Um, kalau boleh tahu. Kamu mimpi apa?"
Liu Min menatap Dara dan bersemu merah ia malu untuk mengatakannya, "Um, aku … sudahlah. Aku mengaku salah!" ucap Liu Min.
Liu Min takut jika Dara akan menghajarnya dan berpikir jika otaknya benar-benar kotor.
"Bukan aku hanya ingin tahu, masalahnya aku juga bermimpi aneh," jawab Dara.
Deg!
Jantung Liu Min bergetar, "Jadi, kamu juga bermimpi indah begitu?" ujar Liu Min berlutut menghadap Dara yang duduk di sisi tempat tidur meletakkan tangannya di pangkuan Dara.
"Ayo, katakan saja! Aku mau tahu!" paksa Dara, ia sendiri pun malu jika ia harus menceritakan awal mimpinya.
"Kamu janji tidak akan marah 'kan?" ucap Liu Min masih sedikit takut akan menceritakan mimpi basah dan gilanya.
"Jika kamu tidak menceritakannya, aku malah semakin marah Liu Min," tukas Dara dingin.
Dara menatap ke arah Liu Min, dengan perasaan penasaran dan juga ingin tahu. Dara merasa aneh jika mimpi mereka sama dan menjadi nyata.
"Um, aku bermimpi kita berada di sebuah lembah, aku rasa itu lembah Arkhon (Mongol), kita berkuda dan …." Liu Min menceritakan semua mimpi gilanya hingga ia tak sengaja hampir melakukannya di dunia nyata.
Deg!
Jantung Dara terkesiap seakan berhenti berdetak, "Aku juga … memimpikan hal yang sama. Ada apa dengan lembah Arkhon? Dulu, kita tidak pernah ke sana, karena daerah Mongol dikuasai oleh Kerajaan Mongol Shan Si'er." Dara menceritakan sedikit masalah perseteruan Donglang dan Mongol.
"Apakah kita harus ke sana Dara?" tanya Liu Min, "di dalam mimpi aku berjanji akan membawamu ke sana," lanjut Liu Min.
__ADS_1
Dara memandang ke arah Liu Min, "Aku rasa suatu saat nanti, kala kita berbulan madu saja. Untuk sementara ini aku rasa kita harus fokus mengenai masalah Guangzhou," ucap Dara.
"Ya, kamu benar. Hari sudah siang, mari kita bangun!" ajak Liu Min.
"Aku akan mandi dulu, najis jika bermimpi demikian tidak mandi wajib!" ucap Dara memberikan semua hukum yang menyangkut masalah itu.
"Oh, baiklah kalau begitu. Ajari, aku!" balas Liu Min.
Dara pun perlahan mengajari Liu Min hingga akhirnya Liu Min mandi dan bergantian dengan Dara. Ia dengan cepat hapal apa yang diajarkan oleh Dara.
Semua keluarga sudah berada di meja makan bersama seorang ulama dan Kadi (penghulu).
Glek!
"Aku beneran menikah?" batin Dara.
Ia tidak menyangka jika ia akan benar-benar akan menikah lagi di Negara Tirai Bambu tersebut, untuk yang kedua kalinya bersama pria yang sama dengan alam yang berbeda.
"Liu Min sebelum kamu menikah kamu harus mengucapkan dua kalimat Syahadat, berhubung kamu memang sudah sunat itu tidak diperlukan lagi," ucap Liu Amei.
Namun, Liu Min menggenggam tangan Dara seakan mencari kekuatan di sana.
Dara hanya menganggukan kepala dan tersenyum.
"Baiklah!" balas Liu Min.
Prosesi itu pun selesai dilakukan dengan baik, Dara tidak menyangka Liu Min telah hapal akan surat-surat pendek dan kalimat syahadat sehingga memudahkan proses segalanya.
"Maaf, Pak Kadi (penghulu) kami pun ingin menikahkan mereka sekaligus, apakah tidak masalah?" tanya Liu Amei.
"Tidak Nyonya, itu malah bagus sekali. Untuk menghindari dosa," ujar Pak Penghulu tersenyum teduh.
Acara pernikahan digelar dengan wali hakim karena ayah Dara sudah tidak ada dan dia juga tidak memiliki waris yang masih hidup sehingga segalanya hanya diwakilkan saja, mengingat dirinya pun berada di luar negara.
__ADS_1
Setelah menandatangani surat-surat dan ijab kabul prosesi itu pun selesai dilakukan. Kebahagiaan terpancar dari pasangan yang baru menikah juga semua orang.
Acara selanjutnya diiringi dengan doa dan ucapan selamat juga makan bersama, "Maaf Dara, Titi (adik) kami hanya bisa melakukan acara sederhana. Kelak jika semua ini sudah usai kita akan mengadakan resepsinya di Indonesia dan melamar Dara sebagaimana mestinya.
"Bukan karena kita tidak memiliki adat hanya saja aku tidak tenang, jika kalian ke sana kemari berdua-duan tanpa ikatan yang jelas.
"Jika Liu Min adalah pria, tidak ada bekas untuknya tapi Dara, dia adalah seorang gadis dan putri seorang keluarga yang membesarkan dan mendidiknya hingga ia menjadi wanita kuat dan hebat.
"Alangkah sedih dan hancurnya hati Ibu Ningrum. Jika mengetahui putri kesayangannya, hanya dibawa ke sana kemari tanpa ikatan yang jelas. Itu pasti tidak ada lagi yang akan melebihinya nantinya," ucap Liu Amei penuh pengertian.
"Terima kasih, Ce. Sudah memikirkan sejauh ini," ujar Dara berlinang air mata kebahagiaan dan kesedihan.
"Aku tahu Dara, karena kami juga wanita. Kamu pastinya bersedih pernikahanmu tak dihadiri oleh sanak familimu tapi, percayalah … jika suatu saat nanti semuanya ini usai. Kami akan ke Indonesia dan melamar dan meminta kepada Ibu Ningrum walaupun itu terlambat," ujar Liu Aching tersenyum.
"Hei, jangan bersedih. Bukankah kita juga keluarga! Di mana pun kita adalah keluarga sesama umat-Nya yang memiliki kepercayaan yang sama adalah keluarga.
"Begitu juga dengan kepercayaan yang lain. Jangan lupakan hal itu," ucap Ahim Yilmaz dengan bijak.
"Ya, Dara. Kami adalah keluargamu!" timpal Luo Kang dan semua orang menyemangati Dara dan Liu Min.
"Dara, jangan khawatir soal Mama, sebelum aku menyuruh Jovich untuk menyelamatkan Jenny. Aku sudah berpesan padanya, untuk mengatakan kepada Danu dan Mama.
"Di mana pun aku berada jika aku masih hidup, aku akan selalu melindungi dan akan menikahimu. Aku sudah mengatakan hal itu pada Jovich percayalah!" ucap Liu Min.
"Benarkah?!"
"Ya, kelak kamu bisa bertanya pada Jovich, Danu, atau Mama." Liu Min menatap Dara dan menggenggam tangannya.
"Terima kasih!" balas Dara.
Ia merasa lega mengetahui hal itu, walaupun mungkin hanya dengan secuil kata ia merasa ibunya akan sedikit tenang menghadapi kehidupan putrinya yang penuh liku.
"Maafkan, aku Ma. Kelak aku akan membayar semua ini, aku akan pulang ke Indonesia dan akan bertanggung jawab akan semua perbuatanku nantinya," batin Dara.
__ADS_1
Malam bergulir dengan cepat, membuat Dara dan Liu Min hanya diam memandang rembulan dan gugurnya bunga persik dari jendela kamar mereka. Keduanya masih berpelukan dengan diam, memandang keindahan itu.