Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Selir Min Hwa


__ADS_3

"Li Phin mengapa engkau bersedih? Seharusnya kamu bergembira telah pulang ke rumah?" balas Dara bingung.


"Bagaimana aku tidak sedih? Mereka hanya baik jika berada di depan Ayahanda!" ujar Li Phin.


"Oh, begitu! Apakah kamu mengizinkan jika aku berbuat sesuatu?" tanya Dara.


"Tentu saja! Aku sudah muak melihat sikap penjilat mereka!" balas Li Phin tak peduli, "aku hanya rindu pada Ibunda Selir Min Hwa." Li Phin menerawang. 


"Aku lelah sebaiknya kita istirahat saja!" ajak Dara.


"Tapi itu tidak memiliki sopan santun!" jawab Li Phin.


"Kamu bilang, kamu akan memberikan kebebasan padaku, untuk berbuat apa saja! Gimana sih?" tanya Dara kesal dengan sikap plin-plan Li Phin.


"Baiklah jika begitu, terserah padamu!" ujar Li Phin.


"Ayahanda, aku mohon! Aku tidak pernah meminta apa pun padamu selama ini, maukah Ayahanda mengabulkan permintaanku?" tanya Dara.


"Silakan, Putriku apa pun yang akan kamu minta akan aku kabulkan," jawab Li Sun.


Semua selir langsung beringsut menegang di tempat memandang ke arah Li Phin, "Sialan! Apa yang akan diminta anak kurang ajar ini? Mengapa dia tak mati juga?" batin Qin Chai Cu.


"Aku hanya ingin bebaskan Ibunda Selir Min Hwa," ujar Dara dengan berlutut.


"Baiklah, Nak! Apa pun yang kamu inginkan!" balas Li Sun berusaha untuk menebus segala apa yang selama ini tertinggal yang tak pernah terpenuhinya sebagai seorang ayah.


"Tapi, Suamiku!" sela Selir Qin.


"Jenderal Tan Ji, lepaskan Selir Min Hwa!" ujar Li Sun.


"Baik, Yang Mulia!" Tan Ji langsung berjalan ke arah istana dingin diikuti oleh Dara. Li Phin tersenyum bahagia mengambil seruling dan meniupnya, ia sudah rindu akan Selir Min Hwa.


"Aku sudah 20 tahun tidak bertemu dengan Ibunda Selir Min hwa," lirih Li Phin merapikan baju zirahnya dan meniup seruling pemberian Min Hwa sebelum dihukum. Li Phin ingin terlihat cantik menyambut kepulangan Selir Min Hwa.


Li Phin berlutut di depan pintu gerbang dengan meniup seruling kesedihannya, ia melihat dari balik jendela jika Selir Min Hwa menatap ke arahnya dengan melambaikan tangan.


Krieett! 

__ADS_1


Pintu terbuka lebar kala Jenderal Tan Ji membuka pintu Istana Dingin yang membeku dengan bongkahan es untuk menghukum para selir jika berbuat kesalahan, siapa pun yang masuk di sana biasanya lebih memilih bunuh diri akan tetapi tidak dengan Selir Min Hwa walaupun ia sering diperlakukan semena-mena oleh Selir Qin.


Seorang wanita kurus kering merangkak ke luar dengan baju compang-camping, "Phin'er … kaukah itu?" ujar Selir Min Hwa dengan merangkak matanya telah buta.


"Ibunda!" teriak Li Phin berlari menggapai Min Hwa yang mencoba menggapai ke arahnya 


"Phin'er … kau sudah besar, Nak!" ujar Min Hwa membelai wajah dan sekujur tubuh Li Phin.


"Apa yang terjadi denganmu, Ibunda? Siapa yang melakukan semua ini?" teriak Li Phin marah. Untuk pertama kalinya Li Phin benar-benar marah dan menguasai diri sepenuhnya.


"Aku tidak apa-apa, Nak!" ujar Min Hwa, sebelum jatuh pingsan.


"Ibunda! Ibunda!" teriak Li Phin langsing menggendong tubuh Min Hwa di punggung.


"Nona, biarkan aku yang menggendong Selir Min!" pinta Jenderal Tan Ji 


"Tidak! Dia Ibuku! Aku yang akan menggendongnya," ujar Li Phin tegas.


Dara hanya menatap ke arah Li Phin yang marah. Akan tetapi jiwanya sedikit melemah.


"Siapa yang telah melakukan hal ini kepada Ibundaku! Dara aku mohon jangan biarkan siapa pun lepas dari semua ini!" teriak Li Phin marah dengan isak tangis.


Dara dengan secepatnya berlari melesat ke arah istana Persik. Li Sun terkejut akan keadaan Selir Min Hwa.


"Apa yang terjadi?" tanya Li Sun akan tetap Li Phin diam membeku ia telah masuk menuju ke kamarnya. 


"Dayang Hui!" teriak Li Phin, Dara memanjangkan tubuh Selir Min, Seorang Dayang datang tergopoh-gopoh. 


"Siapkan makanan dan pakaian yang bagus, juga beli dan rebus semua rempah ini!" perintah Li Phin.


"Ta-tapi Nona Phin'er!" jawab Dayang Hui.


"Jika kau tak melakukan perintahku! Aku yang akan menggantungmu!" ancam Dara.


"Ba-baik, Nona! Tapi bagaimana dengan Selir Qin?" tanya Dayang Hui.


"Aku yang akan bertanggung jawab! Bila perlu siapa yang mengambil mata Ibuku dia akan mengganti dengan matanya!" teriak Li Phin bergema dengan tenaga dalam membuat semua orang tercekat, semua vas bunga dan keramik pecah.

__ADS_1


Li sun terkejut ia tak menyangka jika tenaga dalam putrinya begitu mengerikan, begitu juga dengan ketiga selirnya.


LI Sun dan semua orang bergerak ke arah kamar Li Phin. Ia membersihkan tubuh Min Hwa dan mengganti bajunya, memberikan kapsul obat.


Dayang Hui langsung ke kuar membeli dan mengerjakan semua perintah Li Phin.


"Phin'er apa yang terjadi, Nak!" tanya Li Sun.


"Aku ingin siapa yang berani mengambil mata ibuku maka dia harus menggantinya dengan matanya!" tegas Dara.


Selir Qin terperanjat, ia tak menyangka jika Min Hwa akan selamat dan masih bertahan hidup, ia sudah menyiksanya sedemikian rupa, "Sialan, ini! Mengapa masih hidup? Aku sudah meracuninya!" batin Selir Qin.


"Jenderal Tan Ji, aku ingin kumpulkan semua pelayan dari dapur, tanyai siapa yang biasanya memberikan makanan kepada Selir Min! Jika ada yang membangkang! Pukul 100 kali!" teriak Dara.


Li Sun tercekat, ia mendekati Min Hwa yang pingsan, "Selir Min, apa yang terjadi padamu?" tanya Li Sun. 


"Ibunda Min sudah kehilangan kedua mata dan diracun, Ayahanda selalu menuduh dan mengatakan jika ia telah meracuni putranya sendiri tapi ia pun telah diracuni," ujar Dara.


Dara melakukan akupuntur dan memberikan dupa aromaterapi untuk menetralisir racun, "Siapa diantara kalian bertiga yang mengetahui hal ini dan melakukan hal ini pada Selir Min?" teriak Li Sun.


"Ampun Yang Mulia! Kami tidak tahu! Kami tidak pernah memasuki Istana Dingin," ujar Selir Jin berlutut.


"Ampun Yang Mulia! Saya pun tidak tahu!" ujar Selir Ming.


"Ampun Yang Mulia! Saya juga tidak tahu!" ujar Selir Qin.


"Jenderal Tan Ji! Siapa yang sering pergi ke Istana Dingin?" tanya Li Sun.


"Ampun Yang Mulia, Selir Qin yang sering mengunjungi Selir Min," jawab Jenderal Tan Ji.


"Apakah kau yang melakukan semua ini, Selir Qin?" tanya Li Sun menatap Selir Qin.


"Ampun Yang Mulia, saya memang sering mengunjungi Selir Min, tapi hanya melihatnya saja dan dia tidak buta," ujar Selir Qin.


"Bukankah kau sering main tangan Selir Qin? Apakah kau lupa dengan apa yang kau lakukan di saat aku kecil? Dan kau selalu membenarkan dirimu? Tidak mengapa Ibunda Min Hwa akan segera sadar jika ia mengatakan kebenarannya maka aku akan menghukum pancung siapa pun yang melakukannya," ancam Dara.


"Ampun, Yang Mulia! Selir Qin Yang melakukannya, kami disuruh tutup mulut jika tidak kami pun akan dimasukkan ke Istana Dingin," ujar Selir Jin.

__ADS_1


__ADS_2