
Jang Min melesat dari podium menyambar tubuh istrinya yang terkulai lemah membawanya ke dalam pelukannya, "Jangan biarkan siapa pun meninggalkan arena, sebelum ditemukan dalang di balik semua ini?" teriak Jang Min marah.
Semua prajurit Donglang langsung mengepung semua raja tetangga dan permaisuri mereka beserta prajurit pengawal, yang segera diamankan.
***
"Istriku! Istriku! Apa yang terjadi?" teriak Jang Min langsung melesat dengan ilmu peringan tubuh menuju istana membawa Li Phin ke kamar mereka, "Dayang! Panggil Tabib Luo!" teriak Jang Min.
Dayang berlari ke rumah Tabib Luo dan segera membawanya, "Tabib periksa istriku! Apakah dia terkena racun?" ujar Jang Min memangku kepala Li Phin yang pingsan.
"Dia tidak terkena racun apa pun, selamat Yang Mulia! Permaisuri sedang hamil," ujar Tabib Luo.
"Apa?! Apakah Istriku benar-benar hamil Tabib? Bukan karena racun?" tanya Jang Min masih tak percaya.
"Iya, Yang Mulia! Selamat, semoga dengan hadirnya penerus Donglang segalanya akan menjadi lebih baik kedepannya untuk nasib semua penduduk Donglang," ujar Tabib Luo.
"Terima kasih, Dewa!" ujar Jang Min mengecup wajah permaisurinya berulang-ulang, "tapi Tabib, di pertandingan tadi. Ada segelintir orang yang mencoba ingin membunuhnya, aku akan menyelidikinya!" ujar Jang Min.
"Hm, terkadang air tenang tak selamanya dangkal dan aman, hati-hatilah, itu akan menenggelamkan!" ujar Tabib Luo.
"Ya, Anda benar Tabib!" balas Jang Min.
"Baiklah Yang Mulia, Permaisuri harus lebih banyak beristirahat jangan terlalu lelah! Rebuslah ramuan ini sebagai penguat rahim dan calon bayinya juga menambah stamina," ujar Tabib Luo.
"Terima kasih Tabib," ujar Jang Mi, "Dayang antarkan Tabib Luo," perintahnya.
"Istriku, kado terindah yang kamu berikan untukku adalah anak kita, aku harap segalanya akan baik-baik saja dan diberkati Dewa," bisik Jang Min menyeka wajah Li phin dengan handuk kecil yang sudah dibasahi air.
Jang Min mengganti baju istrinya dengan sebuah pakaian yang longgar, "Suamiku! Apa yang terjadi?" lirih Dara menatap Jang Min di depannya yang masih terawat tubuhnya.
"Sayang Kamu pingsan, Tabib Luo sudah memeriksamu. Minumlah ini," ujar Jang Min menyuapkan sedikit demi sedikit rebusan ramuan ke mulut Li Phin.
"Kepalaku pusing dan aku mual, aku tidak tahu aku salah makan apa?" ujar Dara bingung mengingat apa yang telah dimakannya, "rasanya aku tidak terkena racun apa pun," lanjutnya.
"Kamu terkena racun cinta, Sayangku! Hasil dari lembur dan makan pisang setiap malam," balas Jang Min berkelakar.
__ADS_1
"Maksudnya?" balas Dara bingung.
"Kamu hamil, Sayang! Terima kasih," ujar Jang Min.
"Oh, hehehe. Apaa? Hamil? Yang benar!" balas Dara ingin bangkit dan meraba perutnya yang masih rata.
"Iya, kamu hamil! Anak kita," ujar Jang Min menatap ke arah Li Phin.
"Oh, gila! Bisa-bisanya di dunia ini aku menikah dan hamil? Di duniaku jangankan hamil pacar pun aku tak punya," batin Dara.
"Ya, itu 'kan tubuhku Dara! Jangan lupa?" balas Li Phin di sudut benak dengan tersenyum bahagia, "aku tidak menyangka kita akan bakalan punya anak," lanjut Li Phin tersenyum.
"Mengapa kamu tidak bisa memeriksa jika kita hamil Li Phin?" tanya Dara, "untung, tidak terjadi apa-apa dengan anak kita! Jika terjadi sesuatu bisa-bisa Jang Min memenggal kita," ujar Dara.
"Ya, aku tidak tahu aku tidak pernah memeriksa orang hamil dan tidak pernah hamil juga. Bagaimana aku tahu? Um, aku hanya tahu mendeteksi racun!" balas Li Phin tersenyum.
"Dayang Ling'er! Jagalah Permaisuriku, aku ingin menginterogasi siapa saja yang telah berusaha untuk menyakiti Pernaisuri," perintah Jang Min.
"Baiklah, Yang Mulia!" balas Dayang ling'er.
"Maaf, Yang Mulia! Kami sudah mengamankan semuanya. Akan tetapi sesampainya kami di sana semua mayat telah hangus terbakar tak ada lagi yang tersisa. Tapi, kami menemukan jika mereka memang merencanakan semua ini.
"Tapi kita tidak bisa menuduh kerajaan tetangga yang mana, lagian mereka bukan di bawah kedaulatan kita sehingga kita sedikit sulit untuk melakukan interogasi.
"Jika kita melakukannya maka kita akan berperang dengan 9 kerajaan itu.
Mereka benar-benar merencanakan semua ini dengan matang!" balas Chen Li.
"Salam Yang Mulia!" ujar Li Sun.
"Silakan Ayah mertua!" ucap Jang Min memberi sedikit hormat kepada mertuanya.
"Bagaimana keadaan Phin'er?" tanya Li Sun cemas.
"Dia baik-baik, saja! Dia muntah dan karena hamil," balas Jang Min.
__ADS_1
"Oh, Terima kasih Dewa. Akhirnya, aku akan menjadi seorang Kakek," ujar Li Sun bahagia rambutnya sudah mulai putih semua.
"Tapi kejadian ini sangat berbahaya jika kita melakukan eksekusi maka semua kerajaan mengira kita melakukan ekspansi pada mereka membuat mereka semakin takut dan waspada. Namun, aku pun tidak bisa membiarkan hal ini terjadi," ujar Jang Min.
"Menurutku, begini saja! Dengan diam-diam kita menyelidikinya, Jenderal Chen Li sebagai kepala kepolisian dia harus menyelidiki segalanya seakurat mungkin apa yang terjadi di wilayah Donglang dan sekitarnya.
"Sebagian jenderal yang dipercaya yang memiliki dedikasi dan kesetiaan yang tinggi kepada Donglang kirimlah untuk menyelidiki ke luar kota yang sedang terjadi pergolakan," ujar Li Sun.
"Baiklah, Jenderal Chen, laporkan segalanya secara tertutup kepadaku aku ingin agar permaisuri jangan sampai tahu. Aku tidak ingin dia akan semakin bersemangat untuk menemukan siapa yang telah melakukan semua ini.
"Aku tidak ingin terjadi apa pun pada anak dan istriku, juga negaraku. Melaporkan secara diam-diam, jika ada yang bertanya, katakan saja kita sedang menyusun perbaikan keamanan," ujar Jang Min.
"Baik Yang Mulia! Hamba pamit dulu, Paduka Yang Mulia, Panglima Jenderal Li Sun," ucap Jenderal Chen Li melakukan dan pamit melakukan tugasnya.
"Apakah kamu sudah mengatur siapa yang akan menyelidiki semua kasus ini Yang Mulia?" tanya Li Aun.
"Ayahanda, bagaimana menurutmu jika Kakak Jia Li dan Gu Suzhang yang akan melakukan penyelidikan?" ujar Jang Min.
"Um, boleh juga! Jenderal Jia Li sangat tangkas dan mahir begitu juga dengan Jenderal Gu Suzhang. Tapi … apakah tidak masalah meletakkan keduanya di dalam satu wadah?
"Aku membuat mereka berlawanan arah dari dulu, satu di Barat dan Timur karena mengingat mereka selalu bersaing dan bertengkar setiap waktu, sejak mereka masih menjadi prajurit biasa," ujar Li Sun menerawang mengingat keponakan perempuannya dan seorang jendral tampan yang berasal dari Wuling tersebut.
"Aku rasa tidak masalah!" ujar Jang Min tersenyum melihat kekhawatiran mertuanya.
"Selain itu, Raja Liang Bao mengirimkan pesan ini!" ujar Li Sun menyerahkan dukungan.
Jang Min menerima dan membacanya, "Apa! Sialan, jadi Kerajaan Mongol berusaha untuk mengekspansi kerajaannya? Um, syukurlah Kerajaan Limen Utara adalah orang yang paling baik dan setia. Ayahanda aturlah orang untuk membantu ke Limen Utara.
"Aku rasa Jenderal Tan Ji cukup mahir untuk membantu ke sana selain Jenderal yang lain berjaga-jaga di sini," ujar Jang Min.
"Lalu bagaimana perlombaannya? Aku ingin Yang Mulia merahasiakan kehamilan Permaisuri. Aku tidak ingin akan ada yang mencoba untuk menyakitinya lagi," balas Li Sun khawatir pada putri dan cucunya.
"Aku akan meminta Jenderal Yuan Ji untuk berjaga di Kekaisaran dan Jenderal Ming Fai kembali menyelidiki Qin Chai Xi di gunung Kunlun. Aku curiga, mengapa dia tak mau diasingkan di Gunung Sun agar lebih mudah melakukan sembahyang dengan Dewa," ujar Jang Min.
"Baiklah, Yang Mulia! Aku akan menghubungi Yuan Ji dan Ming Fai besok malam kami akan datang kemari," ujar Li Sun.
__ADS_1