
"Apakah kamu tahu berapa lama aku terbaring koma?" tanya Dara menatap mata bening Liu Min yang teduh. Bayangan wajah Dara terlihat di sana, "aku selalu merindukan tatapan ini," batin Dara.
Ia mengingat dansa terakhir yang diberikannya sebagai kenang-kenangan kepada Liu Min di atas benteng Xihe, "Itu sangat indah, dan aku merindukannya," keluh batin Dara.
"Um, aku tidak tahu pasti. Yang aku tahu, kamu sudah setahun terbaring koma. Itu pun dari Danu dan Ibumu Ningrum," balas Liu Min.
"Oh, apakah kamu mengenal Ibuku?" balas Dara, "padahal aku sudah berada di dunia Li Phin selama 2 tahun," batin Dara tidak mengerti, "mengapa perbedaan waktu begitu jauh antara dunia Li Phin dan duniaku?" lanjut batin Dara bertanya.
Dara masih termenung, "Apakah aku sudah banyak melewatkan banyak waktu? Aku sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.
"Jika Liu Min mengenal Mama dan Danu. Apakah pria ini benar-benar baik? Andaikan Liu Min tahu jika kami telah memiliki putra? Apakah Liu Sun Ming baik-baik saja?" batin Dara.
"Dara, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Liu Min.
Liu Min begitu tidak menyukai keheningan yang tengah terjadi, Liu Min merasakan jika hasratnya mulai bergelora indah di sana menyiksanya semakin menjadi-jadi. Apalagi bagian bukit Dara mulai menghimpit dada di mana jantungnya sudah ingin meledak.
"Dara … aku ingin kamu teruslah berbicara, aku tidak tahu mengapa begitu lama truk ini tiba? Apakah Pak Jalik Nasution tidak menipu kita?" ujar Liu Min sedikit curiga.
"Aku rasa tidak, jarak antara Kota Tebing dan Kisaran lumayan jauh juga. Um, memang mengapa kamu memaksaku untuk berbicara?" tanya Dara dengan suara sangat lembut mendayu membuat segala indra perasa di sekujur Liu Min semakin bergetar hebat.
"Dara, tidak bisakah kamu tidak bicara padaku selembut itu, untuk saat ini?" pinta Liu Min. Ia merasa secara tiba-tiba seluruh kepala atas dan bawahnya mendadak pusing.
"Kamu rewel, sekali! Begini salah begitu salah! Mau kamu apa sih?" umpat Dara.
"Aku hanya …." Liu Min tidak tahu bagaimana ia harus mengatakannya, ia sangat takut jika apa yang akan dikatakannya terlalu vulgar dan tidak senonoh.
Dara menyipitkan mata dan merasakan di bawah tubuhnya benda tumpul itu terus saja berdenyut dan sekaan ingin meloncat ke luar.
"Sial! Apakah karena masalah yang di bawah sana?" batin Dara mulai memahami satu hal, "karena itu Liu Min terus memaksaku untuk berbicara banyak hal?" batin Dara bingung.
__ADS_1
Ia mulai diam dan memutar otaknya untuk mengalihkan pikiran kotor Liu Min, "Bagaimanapun kami adalah dua orang yang berlainan jenis dan masih memiliki keterikatan masa lalu. Walaupun, mungkin Liu Min tidak menyadarinya.
"Sial, sekali. Hanya aku yang mengetahui semua kisah kami," batin Dara.
"Dara," lirih Liu Min sedikit serak dan terdengar berat, seluruh rambut halus di tubuh Dara merinding.
"Ada apa? Um, Liu Min … apakah kamu sudah lama tinggal di Indonesia? Bagaimana di Hongkong? Apakah kamu pernah ke Mongol?" tanya Dara.
Ia ingin tahu apakah Mongol dan Changsha masih ada, "Aku ingin bertanya, apakah benar ada sejarah mengenai Donglang?" batin Dara.
"Um, aku belum pernah ke Mongol aku ingin mengajak istriku suatu saat nanti, untuk berbulan madu ke sana atau Hunan," balas Liu Min.
"Hunan?!" ujar Dara penasaran.
"Ya, aku suka di sana. Itu adalah tempat yang paling aku suka," balas Liu Min.
"Aku kurang memahami peta Tiongkok, di mana Hunan berada?" balas Dara, "jika masih di dinasti Donglang mungkin aku paham," batin Dara, bayangan itu kembali datang.
"Apa?! Xuchang?" tanya Dara.
Deg!
Jantungnya mengingat awal mula mereka bertemu dan dekat, "Xuchang …," lirih Dara gelisah.
"Hm, Provinsi Hunan sangat indah di Tiongkok Tengah Cina Daratan, dulunya masih zaman kerajaan dan kekaisaran bernama Xuchang beribu kota Chang An," ujar Liu Min.
"Apakah kamu pernah ke sana?" tanya Liu Min menara Dara, "Bahasa Mandarin dan Kanton-mu sangat bagus!" lanjut Liu Min mengagumi kepintaran Dara.
"Pada saat sekarang aku belum pernah ke sana. Mungkin suatu saat nanti aku akan ke Hunan dan melihat Chang An. Jika masih ada," balas Dara, "aku hanya belajar dari teman sekolah dan tetanggaku Tek Kim," balas Dara jujur.
__ADS_1
"Oh, sangat bagus! Dara apakah kamu memiliki kekasih?" tanya Liu Min entah mengapa ia merasa Ingin mengetahui banyak hal mengenai pribadi Dara.
Walaupun ia sudah banyak mendengar jika Dara tidak memiliki kekasih, "Memang mengapa kamu ingin tahu? Kamu penasaran dengan kehidupan pribadiku?" goda Dara tersenyum.
Liu Min terpesona dengan senyuman manis yang diberikan oleh Dara, "Sialan, senyumannya manis sekali! Bisa kenyang aku seminggu kecuali kepala bawah sialan ini!" umpat batin Liu Min merasa kesal sendiri.
"Hayo, kamu mikir apa?" goda Dara. Entah mengapa ia begitu ingin menggoda Liu Min.
"Karena sangat tidak etis jika ada wanita yang berbaring di atas tubuhku adalah kekasih atau istri orang lain," balas Liu Min, "memang aku pria apaan?" ketus Liu Min.
"Dasar, bajingan! Aku istrimu, bodoh!" umpat batin Dara kesal, "dan aku pun tidak mau berbaring di atas tubuh pria yang sudah memiliki kekasih apalagi beristri!" ketus Dara kesal.
"Hahaha, aku belum memiliki keduanya. Aku tidak tahu mengapa? Apalagi, selama setahun ini, aku terpenjara di Hongkong. Menyebalkan!" cetus Liu Min mengingat banyak hal yang tersia-siakan.
"Jeleknya, sekarang pun aku masih menjadi buronan yang tidak jelas!" ujar Liu Min.
"Ya, apalagi aku. Begitu siuman seseorang ingin mencekik dan membunuhku. Dan sekarang, aku harus berbaring di tubuh pria genit yang entah dari dunia mana!
"Selain itu, aku harus menjadi buronan yang tidak jelas, nasib benar-benar mempermainkanku," kesal Dara.
"Aku adalah pria yang akan menjadi kekasih hatimu!" rayu Liu Min mengangkat kedua alisnya dengan genit.
"Ish, najis!" umpat Dara kesal namun sebagian jiwanya merasakan sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"Hahaha, jangan najis-najis nanti jadi mimpi manis!" ujar Liu Min.
Liu Min sedikit terdiam, "Mengapa sejak berdekatan dengan Dara Sasmita hatiku sedikit hangat?" batin Liu Min bertanya-tanya tak mengerti, "aku yang dingin dan masa bodoh! Selain, aku juga tidak menyukai makhluk Tuhan yang bernama wanita," lanjut batin Liu Min.
Namun, wanita yang berada di atas tubuhnya seakan memanggil Liu Min untuk tertawa dan membuka diri sedikit demi sedikit, "Dara, apakah kamu merasa, jika truk ini sudah mulai berhenti?" tanya Liu Min.
__ADS_1
"Ya, kamu benar! Tapi, apakah kamu mendengar keributan?" tanya Dara.
Keduanya berusaha untuk menajamkan indera pendengaran mereka.