
Dara memeluk Jenny yang ketakutan, "Sayang, ini Tante Dara," ujar Dara berusaha untuk mendekati Jenny yang langsung beringsut menjauh semakin dalam ke sudut ruangan.
Ia bagaikan seorang hewan piaraan yang diletakkan di sebuah kurungan, "Jenny, apakah Jenny tidak mengingat Tante?" tanya Dara berlutut memegang jeruji kurungan tersebut.
Ia memahami jika Jenny akan takut kepada setiap orang karena Jenny sudah tersekap hampir 7 bulan jika selama ini Jimmy hanya mendapatkan ancaman saja namun, pada akhirnya kelompok mafia sindikat naga merah menculik putrinya juga.
Jenny menatap Dara, "Tante Dara teman papa? Bukankah Tante sedang di rumah sakit?" tanya Jenny.
"Iya, kemarin Tante sedang sakit. Apakah Jenny tahu?" tanya Dara bingung.
"Mama dan papa sering membawa Jenny mengunjungi Tante. Tapi, Tante tidak bangun-bangun dan papa sering menangis karena Tante," ujar Jenny menatap Dara.
"Benarkah?" tanya Dara terenyuh.
"Iya, aku akan mengatakan kepada papa jika Tante sudah bangun. Jadi, papa tidak perlu menangis lagi," balas Jenny sedikit mendekat ke arah Dara mengulurkan tangan menyentuh wajah Dara.
"Nah, bagaimana jika kita keluar dari sini. Mau 'kan?" tanya Dara pada Jenny yang langsung menganggukan kepala.
"Tapi ada paman dan tante jahat yang tidak akan membiarkan Tante membawaku," ujar Jenny.
"Jangan khawatir, percayalah kepada Tante!" hibur Dara meyakinkan Jenny, untuk mengikutinya.
Jenny hanya menganggukkan kepala, "Nah, sekarang mundurlah!" perintah Dara mengeluarkan pistolnya.
Jenny beringsut mundur menjauh kala Dara menembak gembok yang mengunci Jenny hingga kurungan terlepas, "Tante!" pekik Jenny tersenyum.
Namun, "Awas Tante!" teriak Jenny membuat Dara melesat dan menembak ke arah musuh yang ingin memukulkan sebuah besi ke arah Dara. Jenny terperanjat melihat darah yang mengalir dari tubuh pria yang langsung ambruk di depannya.
"Jenny, ayo, Nak. Cepat!" ajak Dara mengulurkan sebelah tangan kanannya ia mengingat putranya Liu Sun Ming, "putraku …." lirihnya.
"Tante Dara! Hiks, hiks, apakah papa ikut?" tanya Jenny menangis.
"Maaf, Sayang. Papa tidak ikut," balas Dara melepaskan Jenny dari kurungan.
__ADS_1
Jenny langsung meraih tangan Dara yang langsung menggendongnya berlari meninggalkan ruangan tersebut,
"Maaf Tante Dara datang terlambat," ucap Dara.
Akan tetapi, kala Jenny sudah ingin keluar dengan menggendong Jenny, "Tidak semudah itu kau membawa gadis kecil itu. Serahkan dia kepadaku!" perintah Paulin dengan dingin.
"Selir Qin!" lirih Dara melihat wajah Paulin yang sangat mirip dengan Selir Qin, "sial, apakah mereka bereinkarnasi juga? Ya, ampun! Ini mengerikan," batin Dara.
"Sayang, tetaplah duduk di kursi ini, jangan ke mana-mana, apa pun yang terjadi tutuplah kedua mata dan telingamu. Jangan pernah membukanya, sebelum Tante menyuruhmu," pesan Dara kepada Jenny dan meletakkannya di sebuah kursi yang berada di ruangan kabin.
"Baik, Tante," balas Jenny mengikuti perintah Dara.
Gadis kecil berumur 5 tahun tersebut langsung, menutup mata dan telinga dengan kedua tangan berada di telinganya.
Dara maju ke depan, "Ayo, selesaikan semua ini jika kau menginginkan Jenny," ujar Dara.
"Hahaha, aku tidak menyangka wanita sepertimu benar-benar bernyali, telah berani mengganggu sindikat mafia Naga Merah. Aku sangat yakin, kau begitu bodoh atau kau merasa terlalu pintar, begitu?" sinis Paulin.
Dara memperhatikan dengan seksama memandang dan meneliti dengan cermat jika Paulin menyembunyikan racun di tubuhnya Dara berusaha mencium aroma racun di tubuh Paulin.
"Syukurlah, dia tidak memilikinya," batin Dara sedikit lega.
Paulin langsung menarik pesan samurai dari punggung, "Ya, ampun dia memiliki samurai? Hadeh! Aku harus menggunakan apa?" batin Dara bingung.
Ia mengambil handuk yang bertebaran di sekitarnya dan menggulung dengan tebal di kedua belah tangannya, "Sial, jika dulu akulah yang memakai pedang, mengapa sekarang aku yang harus menggunakan handuk sebagai selendang?" batin Dara mengingat masa lalu mereka di dunia lain.
Paulin menyerang dengan cepat berusaha untuk membunuh Dara, namun Dara melesat dengan cepat dan selincah kala ia masih di dunia Li Phin, "Aku tak tahu semakin aku menemukan lawan yang bereinkarnasi, aku merasa kekuatan Li Phin dan pedang naga hijau kembali datang," batin Dara.
Ia semakin ngeri membayangkan kehancuran yang akan dihadapinya kelak, namun ia sadar tak memiliki pilihan lain lagi selain menghadapi semuanya.
Keduanya langsung melesat dengan cepat saling membunuh dengan kekuatan yang sama sekali tanpa mereka berdua sadari, "Matilah, kau!" teriak Paulin menebaskan pedangnya.
"Tidak semudah itu, sialan!" tangkis dara yang menggunakan sebuah handuk langsung menangkis samurai tajam tersebut hingga handuk terbelah dua, "matilah, aku!" batin Dara terkejut ia menunduk ke bawah dan langsung menotok aliran darah Paulin hingga Paulin terduduk lemas.
__ADS_1
"Sekarang kau rasakan, bajingan!" umpat Dara. Namun, Dara terperanjat Paulin begitu mudah melepaskan totokan di nadi nya hingga ia kembali melesat menyerang ingin membunuh Dara.
Dara kembali melambung ke sisi kanan dan mendaratkan pukulan handuk tepat di pinggang Paulin hingga ia terhuyung ke dek kapal di buritan belakang hingga menyentuh pagar pembatas di tepian kapal.
Dara tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung menyerang Paulin. Hingga ia babak belur dan samurai sudah terlepas jatuh ke lautan.
Byur!
"Sampai jumpa lagi Dara Sasmita! Aku akan membalaskan dendamku!" teriak Paulin melesat masuk ke dalam lautan dan menghilang.
"Sial! Aku tidak berhasil menangkapnya!" umpat Dara kesal.
Helikopter dan jajaran tentara AL dengan kapal telah mengepung kapal kargo hingga perahu karet diturunkan penuh dengan tentara yang ingin menuju ke geladak kapal, meringkus penjahat.
Kilatan mercusuar menerangi ke arah kapal kargo, "Angkat tangan! Kalian sudah terkepung!" terjak seseorang dari kapal AL.
Dara melesat secepatnya mengambil Jenny ia tak peduli jika pasukan tentara akan membunuhnya, "Bukalah matamu, Sayang!" ujar Dara menyentuh lembut tangan Jenny.
"Apakah tante jahat itu sudah ditangkap Tante?" tanya Jenny.
"Sudah, Sayang!" bohong Dara.
"Terima kasih, Tante! Aku sangat rindu kepada papa dan mama!" ujar Jenny bahagia.
"Tante akan membawamu menemui mereka," balas Dara, "maaf Jenny, papamu Jimmy sudah tidak ada lagi di dunia ini," batin Dara menyesali hal itu.
Di anjungan kapal Dara bertemu dengan Liu Min yang memapah Jovich, semua jajaran aparat telah memasuki kapal dan melihat Liu Min dan Dara.
"Angkat tangan kalian!" teriak komandan di barisan depan.
"Paman! Tante ini dan Paman itu telah menolongku dan Om Jovick," ketus Jenny.
"Turunkan senjata kalian! Mereka adalah orang kita! Tangkap semua sindikat narkoba juga semua bahan buktinya, semua ini sudah diketahui oleh dunia," ujar Kolonel Ardi yang berada di kapal yang sedang menuju ke arah mereka berbicara menggunakan Toa.
__ADS_1