Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Hilangnya Dara Sasmita


__ADS_3

Liu Min ingin menarik tangannya akan tetapi, tangan Dara langsung menggenggamnya. Deg! Deg! Jantung Liu Min seakan tersengat tegangan listrik dan merasakan Dejavu sesaat.


Suatu bayangan masa lalu yang dirinya sendiri pun tidak mengerti siapa pasangan yang begitu mesra dengan menggunakan baju zaman dulu sedang berpelukan mesra tanpa bisa Liu Min melihat wajah kedua orang tersebut.


"Ada apa dengan wanita ini?" batin Liu Min bingung. Ia menoleh ke arah Ningrum dan Danu yang masih ngobrol di sofa di ruangan rumah sakit tersebut.


"Bangunlah! Banyak yang bergantung kepadamu, Dara …," bisik Liu Min di telinga Dara, ia ingin mengajak jiwa Dara kembali. Liu Min merasa jika semua orang bergantung kepadanya.


Detak jantung di mesin terlihat semakin kencang bunyi bip di layar mesin monitor semakin bergerak cepat. Danu dan Ningrum merubungi brankar, "Apa yang terjadi?" tanya Ningrum kepada Liu Min yang langsung diterjemahkan oleh Danu.


"Saya, tidak tahu Bu. Saya menyentuh tangannya dan ia menggenggam tanganku, kemudian detak jantungnya tidak beraturan," ujar Liu Min, "maafkan saya," lanjut Liu Min.


"Tidak masalah, Nak!" balas Ningrum, "kami tidak menyangka, dia akan bereaksi demikian. Selama ini dia tidak memiliki reaksi apa pun," ujar Ningrum meneteskan air mata.


Itu adalah awal Liu Min bertemu dengan Dara Sasmita tanpa dia tahu siapa dan bagaimana latar belakang wanita cantik yang terbaring di brankar dengan rambut yang tergerai.


Sejak saat itu Danu dan Liu Min menjadi akrab selain di divisi yang sama, Liu Min merasa nyaman karena Danu mengerti Bahasa Kanton membuatnya seperti berada di negaranya sendiri.


Selepas ia menunaikan pekerjaannya menyelidiki dan membekuk gembong narkoba bersama timnya, ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke tempat Dara Sasmita. 


Selama hampir 3 bulan Liu Min berada di Indonesia tepatnya Kota Medan, ia selalu berkunjung ke ruang inap Dara di RS yang berada di Jalan Listrik dan membawa banyak buku cerita di dalam Bahasa Kanton juga Inggris.


Liu Min menceritakan banyak hal, tentang semua yang terjadi mengenai pekerjaan dan perkembangan kasus yang sedang dihadapi oleh kesatuan mereka. 


"Aku tidak tahu mengapa aku merasa nyaman berada di dekatmu? Selain itu, hanya kamu dan Danu juga Ibumulah temanku, di negara ini. Cepatlah, sadar aku ingin berbicara secara langsung padamu.


"Aku ingin mendengar suara dan tawamu, aku tidak tahu bagaimana suaramu? Ibumu bilang, 'Kamu adalah orang yang dingin dan terlalu perfeksionis, wah, luar biasa!" puji Liu Min sekedar berbicara dengan Dara sambil menggenggam tangannya.


Liu Min tidak mengetahui jika Dara sedang berbahagia di zaman masa lalu bersama bagian jiwanya di kelahirannya yang lalu.


Secara lambat laun Liu Min mengerti dan belajar Bahasa Indonesia setiap dia ingin bicara kepada Ningrum.

__ADS_1


***


8 September 2019 ….


Liu Min berlari kecil mengendarai sepeda motor yang sudah dibelinya, ia lupa jika dulu ia membenci Indonesia. Kini ia mulai menyukai tinggal di Indonesia dan keramahtamahan orangnya. 


"Aku akan mengunjungi Dara," lirihnya membeli buket bunga krisan, dan membawa buku cerita. Ia ingin menceritakan jika mereka telah berhasil menumpas beberapa gembong narkoba dari Meksiko.


 


Liu Min berjalan riang menuju ke kamar inap Dara yaitu Melati nomor 3, "Ada apa, Bu?" tanya Liu Min melihat Ningrum yang sedang menangis dan jajaran polisi sudah berada di sana.


"Dara, Nak!" lirih Ningrum menangis, pilu.


"Ada apa, dengan Dara?" tanya Liu Min bingung, ia melihat jika brankar Dara kosong, jiwanya melemah dan menjerit takut.


"Dara hilang!" balas Ningrum semakin menangis.


"Salah satu polisi itu telah tewas, yang satu masih koma, Nak!" balas Ningrum menyeka air matanya.


"Apa yang terjadi? Apakah Dara mengetahui sesuatu?" batin Liu Min bingung, "tenanglah Bu. Aku akan bertanya kepada salah satu polisi, aku akan menanyakan kepada Komandan Jimmy," ujar Liu Min berjalan ke arah Jimmy.


"Maaf Pak. Apakah ada yang tahu kronologis kejadiannya?" tanya Liu Min kepada Jimmy.


"Kami sedang menyelidikinya, CCTV di ruangan telah mati! Sepertinya telah ada yang sengaja melakukan hal itu," ujar Jimmy kurang begitu suka kepada liu Min, "mengaku bajingan ini kemari? Untung saja kami sudah mengamankan Dara  jika tidak? Dara pasti akan membongkar semuanya. Akulah yang akan mati konyol!" batin Jimmy.


Liu Min mengawasi sekeliling, ia merasa sangat aneh dengan kejadian. Liu Min melihat beberapa bercak darah terlihat jelas di lantai dan tembok, "Apakah itu darah kedua polisi yang terluka dan tewas?" tanya Liu Min.


"Ya, begitulah. Penyerang begitu brutal," balas Jimmy.


"Aneh! Bagaimana mungkin pihak rumah sakit tidak mengetahuinya?" ujar Liu Min.

__ADS_1


"Pihak rumah sakit mengatakan, 'Jika sebelum hilangnya Dara ada pemberitahuan dan alarm kebakaran berbunyi sehingga semua orang sibuk berhamburan keluar dan mengevakuasi yang terluka.', begitulah," balas Jimmy. 


"Apakah ada ruangan yang terbakar?" tanya Liu Min.


"Hanya kantin saja!" balas Jimmy, "aku berharap pria ini kabur saja, banyak sekali pertanyaannya seakan menginterogasi!" umpat Jimmy kesal.


"Maaf, Tuan Liu. Sepertinya saya harus memberikan informasi kepada media!" balas Jimmy berusaha untuk kabur.


"Silakan!" balas Liu Min mengambil  sarung tangan dan berusaha untuk mencari jejak si penculik dan si pembunuh, "Aku yakin yang melakukan ini bukan hanya satu orang.


"Jika satu orang kemungkinan mereka tidak akan berhasil membunuh salah satu polisi. Aku melihat kedua polisi itu memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi," batin Liu Min.


Memperhatikan perlawanan yang diberikan kedua polisi di dalam ruangan tersebut hingga sebuah sisa proyektil peluru tersisa di tembok dan darah mengenai dinding tersebut.


"Salah satu penjahat pasti menggunakan pistol jarak dekat dan peredam hingga menembak tepat di kepala si polisi ….


"Dan satu lagi di dada, kemudian si polisi tersungkur di lantai. Si penembak adalah orang ketiga yang langsung menembak dengan cepat!" Liu Min mulai berpikir keras.


"Apakah si penembak ketiga adalah orang yang dikenal oleh kedua polisi?" batinnya mulai berandai-andai.


"Saudara Liu apa yang terjadi? Kemanakah Bu Dara!" ujar Danu. 


Liu Min mengangkat bahu, "Apakah kalian telah kembali dari penyergapan di perairan Tanjung Balai?" ujar Liu Min.


"Ya, kami berhasil meringkus dari bandar narkoba dari Thailand yang menggunakan kapal pukat melalui perairan Malaysia," ujar Danu.


Keduanya saling pandang, "Sayangnya sebagian lolos, tapi kami berhasil mengamankan barang bukti!" balas Danu. 


"Um, apakah Pablo, ikut di dalam penyergapan itu?" ujar Liu Min mengacu kepada pria sangar keturunan Meksiko.


"Tidak! Dan seperti kata Jovick (Agen dari Rusia), 'Ada mata-mata, di divisi!' awalnya aku tidak yakin tapi kegagalan yang kami derita aku semakin yakin," balas Danu 

__ADS_1


__ADS_2