Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Pion dari sebuah rencana


__ADS_3

Dara merasakan kerinduannya semakin menghentak, ia mulai lelah dan membenci semua hal. Ia terus melesat membelah malam mencari Liu Min, ia tak ingin membuang waktu lagi.


"Laogong … aku ingin bersamamu di dalam hidup dan matiku … jangan tinggalkan aku, Laogong ….!" lirih Dara.


Ia berusaha melesat secepatnya untuk mencari suaminya, hembusan angin laut Shenzhen memberikan aroma wangi Liu Min. 


"Apakah Liu Min berada di Utara?" batin Dara kembali melesat memutar arah ke Utara dari Kota Shenzhen.


***


Sementara Liu Min yang mencari Dara dengan sepeda motornya telah tiba di Shenzhen Utara, di mana pasukan Chin Kit dan Paulin telah menantikannya.


"Bunuh saja dia! Jangan biarkan dia lolos! Jika dia tewas, maka Dara akan mudah kita kendalikan dan kita bisa memanfaatkan kekuatannya untuk menguasai dunia ini.


"Bayangkan, kekuatan Naga Hijau bersatu dengan kekuatan Naga Merah. Kita akan mudah melakukan apa pun di dunia ini, bahkan semua kekuasaan akan berada di kaki kita!" ujar Paulin, mengepalkan tangannya.


"Baik, Nona Paulin!" balas Chin Kit, "siapakah formasi untuk menghadapi Liu Min. Jangan lengah, walaupun dia sendirian ia memiliki kekuatan dan kelihaian di bidang senjata dan taktik.


"Usahakan jangan sampai berhadapan dengannya," pesan Chin Kit pada semua bawahannya.


"Tembak!" teriak Chin Kit.


Kala sepeda motor Liu Min telah memasuki pantai berpasir putih tepat di gerbang pertahanan kubu Guangzhou Shenzhen Utara dikepalai oleh Chin Kit.


"Jangan beri kesempatan bagi Liu Min menggunakan senjatanya!" teriak Chin Kit.


Dor! Dor! Dor!


Berondongan peluru langsung menyerang Liu Min, ia langsung melesat secepatnya ke udara kala sebuah bazoka menyerang ke arahnya.


Duar!


Ledakan bergema membakar sepeda motornya, melemparkan sepeda motor yang terbakar ke udara menjadi serpihan dan api mewarnai sekitar pantai di Shenzhen Utara.


Liu Min melesat berusaha untuk mencapai daratan dan bersembunyi. Akan tetapi,


serangan beruntun menyerangnya hingga tak ada lagi kesempatan untuk Liu Min bernapas, ia terus bergulingan di pasti putih tanpa adanya tempat untuk berlindung.

__ADS_1


"Aaa!" teriak Liu Min terjerembab kala bahu kirinya sudah tertembus peluru.


Ia berusaha untuk mundur ke belakang, bertiarap seperti seekor ular yang merayap membelah pasir yang yang mulai berdarah tersiram darah Liu Min. 


"Laopo? Apakah kamu ada di benteng itu?" lirih Liu Min. 


Ia membiarkan darah mengucur deras di bahunya, Liu Min tak mengindahkannya ia masih begitu cemas akan keselamatan istriya Dara Sasmita.


Liu Min bersembunyi dan bersandar di sebuah pohon, memeriksa pelurunya, "Sial! Hanya tinggal 3 peluru lagi! Aku begitu tolol tidak membawa banyak persediaan," umpat Liu Min menyesalinya.


Ia masih menatap nanar ke depannya, menyobek sebagian pakaiannya untuk mengikat luka di bahu, "Dara …," lirihnya.


Bayangan istrinya yang cantik tertidur saat ia meninggalkannya membuat Liu Min menyesal kebodohan yang dilakukannya. Ia merasa tak ingin melibatkan Dara semakin dalam, tetapi segalanya semakin kacau.


"Andaikan aku tahu, begini. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Laopo! Ya, Tuhan … aku hanya minta selamatkanlah istriku dimana pun dia berada. Lindungi dia, jangan biarkan dia terluka, aku mencintainya Tuhan. Engkau Maha Tahu," lirih batin Liu Min.


Ia mencium pistolnya, "Ayo, tunjukkan kehebatanmu padaku. Andaikan aku mati, aku ingin mati terhormat! Jika aku selamat, aku tak akan meninggalkan istriku lagi. Apa pun yang diinginkannya, aku akan menurutinya. Bantu aku, untuk memenuhi janjiku," lirih Liu Min.


Ia menatap ke depan ia memutar arah ke arah gelap di sisi pantai di dekat benteng pertahanan berlari secepatnya seperti yang diajarkan oleh pendidikan ketentaraan dan kakaknya Liu Amei, kala masih kecil yang sering mereka lakukan untuk mencuri mangga di kebun tetangga di dalam bayangan malam.


"Aku tidak mengerti mengapa penjahat begitu mudah mendapatkan kemewahan dan izin dari pemerintah setempat untuk mendirikan pertahanan hanya untuk sebuah rumah? Ckck," umpat Liu Min kesal.


Kras! 


Liu Min menggorok leher musuh dan mengambil bazoka milik musuhnya.


Liu Min kembali melesat ke dalam semak di seberang benteng pertahanan rumah mewah di pinggir pantai tersebut.


"Rasakanlah ini!" umpat Liu Min.


Ia membisikkan bazooka tepat di tengah rumah hingga duar! Duar! Ledakan beruntun membuat semua penghuni kalang kabut keluar dari rumah.


"Sayang sekali, amunisiku hanya tinggal 3." Liu Min masih berpikir bagaimana menghabisi musuhnya.


Ia terus memuntahkan bazoka yang dicurinya, ia melesat kembali ke benteng dengan secepatnya kala ledakan demi ledakan beruntun terjadi.l, ia ingin mencari Dara.


Kras!

__ADS_1


"Aaa!" teriak Liu Min. 


Kala samurai Paulin telah menebas punggungnya, bruk! Liu Min jatuh terjerembab jatuh ke pasir putih darah membasahi pasir.


"Heh! Akhirnya kau akan mati Liu Min! Sialan! Kau telah membunuh kekasihku," lirih Paulin dengan suara sedingin kutub 


Buk! Buk!


Paulin tanpa rasa belas kasihan langsung menendang dan memijak luka Liu Min di punggung dan bahunya.


"Hehehe, aku bersyukur telah membunuh Tiger bersaudara. Kau tahu, Paulin … aku pun telah membunuh Solano," ujar Liu Min tersenyum dengan mulut penuh darah.


"Bajingan kau, Liu Min!" terisak Paulin murka.


Buk! Buk!


"Kau tahu, kau pun akan menyesali semua perbuatan yang pernah kau lakukan kepada kami. Sekarang, kekasihmu pun mungkin telah menjadi budak dari Tuan Wanchai! Hahaha." Paulin tertawa dan kembali memukul Liu Min.


"Wanchai? Apa hubungan Wanchai dengan semua ini?" selidik Liu Min.


Ia tak mengerti jika Wanchai pria paruh baya yang baik hati itu memiliki keterlibatan dengan Guangzhou.


Deg!


Jantung Liu Min bergetar, "Sial! Jangan-jangan semua orang yang aku bunuh kala keterlibatan pengedar narkoba dulu hanyalah kambing hitam untuk menyingkirkanku dan semua saingan bisnis Wanchai?" batin Liu Min.


Ia mulai merunut benang kusut di hidupnya, "Apakah Admiral Tan Yuan pun terlibat di dalam skandal ini?" batin Liu Min, "bajingan!" teriak Liu Min.


"Hahaha! Kenapa Liu Min? Kamu menyadari suatu hal? Ckckck, kasihan! Kalian hanyalah pion yang akan dikorbankan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk mencapai semua keinginan mereka," hina Paulin 


"Hahaha, aku tidak menyesali jika aku harus membayarnya setahun ini di penjara. Aku akan membalas semua perlakuan kalian, walaupun aku telah mati!" ujar Liu Min murka.


Ia menggenggam pasir, ia merasakan kesakitan akan luka yang dideritanya tak sebanding dengan denyut kebencian di hatinya untuk mereka yang telah membuatnya menjadi bodoh dan mempercayai semua itu dengan kebenaran.


"Aaa … mati kau bajingan!" teriak Paulin menebaskan pedangnya ke arah tubuh Liu Min.


Byur! Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


Liu Min melemparkan genggaman pasirnya dan bergulingan ke sisi kanan meraih pistol secepat ia bisa dan menembak Paulin dengan tiga peluru yang tersisa.


__ADS_2