
"Hei, bangun Kau!" teriak seorang preman berusaha untuk menghardik seorang wanita muda yang sedang hamil besar.
"Tuan, saya sudah memesan kursi ini. Tidakkah Anda kasihan melihat saya?" balas si wanita muda.
"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin duduk di sini, agar aku bisa menggoda gadis itu!" ujar preman tersebut ingin menggoda seorang gadis belia yang masih memakai pakaian sekolah.
"Tuan, tolong … adik saya masih kecil," ujar wanita tersebut masih bersikap lembut.
"Apa kau bilang? Jika kau tidak ingin pindah maka akulah yang akan membuangnya ke luar sana!" hardik di preman.
"Aku tidak ingin pindah!" ketus wanita tersebut.
Plak!
Si preman menampar wanita tersebut, hingga bibirnya mengeluarkan darah. Dara mengepal tangannya tetapi ia berusaha untuk mengurungkan niatnya karena tangan Liu Min menggenggam erat tangan Dara di dalam tidurnya.
"Sialan, nih Liu Min pura- pura tidur!" umpat Dara kesal.
Seorang keamanan dari KA muncul, "Ada apa ini, Tuan? Saya harap Anda tidak membuat kerusuhan di sini. Bukankah Tuan sudah mendapatkan tempat duduk?" tanya si keamanan.
Kereta api listrik terus berjalan dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
Buk! Buk!
Si preman langsung mengajar si keamanan KA hingga dirinya langsung terjengkang di koridor gang.
Tubuhnya ringsek menabrak kursi dan tiang juga pintu kereta yang tertutup. Darah berceceran dari tubuhnya, si preman tak puas juga. Ia bergerak cepat langsung menendangkan kakinya di rusuk si pria keamanan KA tanpa ampun.
"Aaa!" jeritan semua orang bergema.
"Jika ada yang berani membantunya maka aku 'kan menembaknya?" ancam preman yang lain lagi mengeluarkan pistol berdiri dengan tampang angkuh.
Wajah yang lebih garang dengan tato dan pakaian necis juga kancing kemeja yang terbuka hingga memperlihatkan dada bidangnya.
Si preman pertama langsung bergerak cepat mengeluarkan pisaunya ingin membunuh si keamanan KA, yang sudah terbanting di lantai Ka dengan tangan dan kaki patah.
"Bunuh saja dia! Mengganggu kesenangan saja! Ingat siapa pun yang berani melawan maka ia akan mati! Aku tidak akan segan-segan akan membunuh kalian,"ancam si preman yang membawa pistol.
Dara tak lagi ingin berdiam diri kala pisau itu hampir menikam leher si keamanan KA.
__ADS_1
Buk! Buk! Street!
Dara melesat menerjang si preman pertama dan langsung menghajarnya habis-habisan menarik tubuhnya juga menghantamkan tiang penyanggah KA yang berada di koridor dan membuat kaki dan tangannya patah.
"Bajingan! Bunuh wanita itu!" teriak preman yang menggenggam pistol ingin menembaknya.
Dor!
Liu Min tak ingin membuang tenaga langsung menembak pecah kepala si preman.
"Aaa!" teriak semua penumpang ketakutan.
"Bunuh dia!" teriak salah satu orang preman yang terkuat, "siapa yang berani melawan kelompok sindikat naga merah! Dia harus mati!" teriaknya.
Liu Min sudah semakin kesal dan geram, dor! Dor! Dor!
Ia langsung menembak semua preman hanya dengan duduk dan memejamkan mata kedelapan orang preman lainnya langsung mati tak bersisa.
Semua orang berteriak ketakutan, Liu Min menarik tuas rem untuk berhenti di dalam keadaan darurat.
"Laopo! Ayo! Ingat jika polisi dan yang lainnya bertanya katakan saja jika mereka sedang adu mulut kemudian mereka saling bunuh," pesan Liu Min, "jika tidak! Mereka akan membunuh kalian!"
Dor!
Dara dan Liu Min melesat melompati gang sempit dan bersandar di lorong bawah tanah yang hanya menyisakan sedikit celah untuk mereka bersandar agar tidak tergilas kereta api, keduanya melihat kereta api kembali melesat meninggalkan lokasi kejadian.
Gerbong terakhir kereta telah lewat didepan mereka, Dara dan Liu Min berlari secepatnya mengikuti lorong kereta bawah tanah hingga muncul di tempat terbuka, memanjat sebuah pagar duri dan keluar ke jalan raya.
Berjalan sekitar 5 meter dan menyetop truk ke Kota Shenzhen. Keduanya hanya diam, tanpa bicara sepatah kata pun.
"Tuan dan Nona, maaf. Bisakah kalian duduk di belakang saja dulu?" ujar supir truk yang membawa banyak ayam potong di dalam keranjang.
"Memang ada apa Pak?" tanya Dara bingung.
"Di depan, selalu saja ada preman yang meminta uang kepada kami, jika kami tidak memberinya biasanya mereka akan mengambil mobil dan seluruh muatan.
"Jika mereka melihat ada wanita cantik maka mereka pun akan mengambilnya," ujar si Pak Tua tersebut.
"Apa?" Dara tercekat mendengar ucapan pria tersebut.
__ADS_1
"Apakah mereka dari aparat kepolisian atau mafia?" selidik Liu Min.
"Mereka anak buah dari sindikat Naga Merah. Kepolisian saja takut," ucap pria tersebut.
Liu Min dan Dara melihat jika pria tersebut sedikit ketakutan, "Aku tidak ingin jika mereka akan membunuhku juga. Selain itu aku sering lewat jalan ini untuk mengantarkan pesanan ayam ke Shenzhen dan kota lain," lanjutnya.
"Tidak masalah jika dia menginginkanku, Pak!" jawab Dara sekenanya.
"Hah!" si pria langsung terperangah.
Ia merasa aneh jika ada orang yang sengaja ingin ditangkap oleh anak buah naga merah.
"Nona, aku katakan kepadamu, jika mereka adalah orang-orang bejat. Aku tidak ingin masa depanmu akan hilang, Nak!" nasihat di pria.
"Tenang saja, Pak!" ujar Liu Min.
Si supir truk hanya diam saja, ia tak mengerti akan keinginan anak muda di sampingnya,
"Terserah kalianlah! Jangan menyesal," tukasnya.
Di depan Dara dan Liu Min melihat jika para preman sudah memarkirkan mobil mereka tepat di tengah jalan raya, sehingga mengganggu kenyamanan lalu lintas. Seorang pria tidur di kap mobil depan seakan dia sedang berpiknik dia sebuah tempat dengan nyaman.
Di tangan pria tersebut terdapat sepucuk senjata yang ditimang-timang dan diputar seakan pistol tersebut adalah sebuah mainan.
Liu Min dan Dara melihat jika di sekitar mereka ada beberapa wanita muda yang sedang dipegang, oleh beberapa pria yang melecehkan mereka.
Dara melihat tangisan dari para wanita muda dan cantik tersebut
Darah Dara mendidih melihat hal tersebut, sebagai wanita ia merasa marah karena kaumnya begitu dihina dan dilecehkan bagaikan sebuah mainan yang tak berharga.
Beberapa anak buah naga merah langsung menodongkan senjata ke arah truk sehingga pak tua langsung menghentikan laju truknya.
"Mana setoran?" minta seorang preman dengan bengis.
"Ini, Tuan!" ujar si supir truk dengan berkeringat ketakutan memberikan beberapa Yuan ke tangan si pria.
"Mengapa sedikit sekali? Ini kurang? Apakah bosmu ingin kami mengambil semua muatan nya?" ancam preman tersebut.
"Maaf, kami belum mengambil uangnya. Nanti pulangnya akan saya berikan," ucap si supir truk ketakutan.
__ADS_1
Si preman melihat Dara, "suit! Suit!" siulnya, "um, berikan wanita ini padaku, maka aku kan membiarkan kalian lolos!" pintanya.
"Ayo, siapa takut!" balas Dara langsung membuka pintu truk melompat turun.