
Liu Min menatap ke arah Luo Kang, "Um, sembunyikan saja, siapa tahu suatu saat kita membutuhkan," balas Liu Min.
"Um, ada baiknya juga, usul itu Tuan Liu." Luo Kang tersenyum, ia merasa sudah saatnya kelompok Guangzhou berakhir.
Luo Kang merasa kali ini Dewa telah mendengar doanya untuk mengirimkan malaikat yang akan menumpas kejahatan Guangzhou dan kelompok mafia miliknya yang selalu meresahkan masyarakat.
Luo Kang juga sangat ingin membalaskan dendam dari semua sahabat dokter dan perawat yang telah tewas di Shenzhen dulu kala ia masih berada di sana.
Liu Min dan Luo Kang kembali menonton pertempuran dara dan sindikat naga merah, yang semakin mengerikan. Dara masih unggul dibandingkan dengan ke-20 orang tersebut
Pertempuran semakin sengit kala sang jagoan kepala kelompok sindikat naga merah mulai menyerang Dara dengan dua pedang sekaligus, tebasan pedang bergema membelah udara dan berusaha untuk saling menemukan korban dari keganasan pedang mereka.
"Guangzhou adalah reinkarnasi dari Lu Dang, aku rasa anggotanya memiliki tingkatan. Mungkin ini adalah tingkatan yang paling rendah sebagai umpan peluru," batin Dara.
Ia merasa begitu mudah menang karena mereka tidak sebanding dengan kekuatan yang pernah dimiliki oleh Lu Dang yang mengerikan.
"Dulu, jika bukan karena jiwa pedang naga hijau, jiwa Li Phin, bersatu dengan jiwaku, tak mungkin kami menang," batin Dara mengingat pertempuran terakhir mereka.
Dara sedikit risau jika kekuatan Lu Dang masih sama persis seperti dulu kala ia masih berada dj dunia Li Phin. Bayangan terakhir kematian mereka bertiga membuat Darah semakin kacau.
"Aku berharap mereka tak menemukan pedang itu! Dan aku masih bisa menggunakan kekuatan pedang untuk menyelamatkan duniaku," batin Dara penuh harapan.
"Kau harus mampus gadis ******! Kau telah membunuh semua anggota," teriak si pria bertopi koboi tersebut.
Dara tersadar dengan lamunannya,
"Coba saja!" balas Dara santai.
Tebasan demi tebasan mulai bergema dan beruntung namun, tak ada sedikit pun tebasan pedang menyentuh ataupun mengenai Dara. Hingga Dara mengayunkan pedang samurai langsung menusuk ke jantung si pria bertopi koboi hingga tewas.
Semua orang terperangah menatap hal yang luar biasa hebat bagi para penduduk Kampung Nelayan. Mereka tak menduga jika seorang wanita mampu menghabisi 20 orang anggota mafia kejam dengan begitu cepat hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit saja.
__ADS_1
Plok! Plok!
Liu Min bertepuk tangan di
sambut dengan tepuk tangan semua orang, "Wah, hebat sekali!" puji semua orang seakan mereka sedang merayakan sesuatu bukan baru saja menonton adegan melenyapkan nyawa seseorang di sana.
Para penduduk mematuhi semua instruksi Luo Kang langsung mengkremasi anggota mafia naga merah dan menyembunyikan mobil merdeka.
"Jangan lupa buang plat dan ganti kembali warna mobil," perintah Liu Min.
Acang menghampiri Luo Kang, "Dokter, apakah mereka pasangan yang kami selamatkan tempo hari?" tanya Acang masih penasaran.
Acang tidak menyangka jika pasangan yang mereka selamatkan adalah orang hebat. Acang dan semua penduduk bersyukur, mereka melakukan kebaikan hingga Tuhan membalas kebaikan mereka dengan mengirimkan malaikat penjaga bagi penduduk Kampung Nelayan, "Pasangan itu adalah orang baik bukan orang yang jahat." Acang masih menatap ke arah Liu Min dan Dara.
"Ya, Tuan Acang! Tuan Liu, ini adalah Tuan Acang sebagai Kepala Desa juga seorang pelaut yang telah menyelamatkan Tuan dan Nona Dara, dari lautan," jawab Luo Kang mengenalkan mereka.
Dara berjalan cepat meninggalkan area darah, sedangkan penduduk langsing membersihkan sisa darah dengan menyiramkan air, "Bersihkan semuanya! Aku takut jika pasukan anggota sindikat mafia naga merah akan kembali lagi.
"Aku harap yang terluka segera ke klinik Dokter Luo Kang untuk diberi pertolongan dan aku meminta jangan ada yang mengatakan hal ini kepada siapa pun. Aku sangat yakin jika musuh akan mencari anggota mereka yang lenyap.
"Baik, Tuan!" balas semua penduduk dengan serempak.
"Terima kasih, Tuan. Anda telah menolong kami!" ujar Dara, "jika tidak ada Tuan dan penduduk Kampung Nelayan, mungkin kami telah mati," lanjut Dara.
"Sudah kewajiban kita sesama umat manusia untuk saling tolong menolong. Tidak perlu sungkan," balas Acang tersenyum dengan ketulusan yang sangat luar biasa.
"Sebenarnya apa yang mereka perdagangkan?" tanya Dara penasaran.
"Mereka meminta kami untuk menjual narkoba melalui jalur laut dengan memasukkan narkoba ke dalam tubuh ikan, agar lara aparat keamanan negara tidak mengetahuinya," balas Acang.
"Oh, bwgh! Um, kalau boleh tahu. siapa pengurus bea cukai di pelabuhan ini?" tanya Dara.
__ADS_1
"Tuan Gu Feng!" bakas Acang.
"Baiklah, kalau begitu! Mungkin besok kami akan menemuinya," balas Liu Min.
Liu Min sudah menyusun rencana untuk kembali menelusuri keberadaan Guangzhou dan semua kaki tangan miliknya di Hunan.
"Apakah Tuan mengetahui di mana markas sindikat mafia naga merah?" tanya Liu Min.
"Um, kami kurang tahu hal-hal begitu Tuan. Sebaiknya besok, ikutlah kami ke Kota Jinjing, masyarakat di sana banyak berhubungan dengan orang luar, berbeda dengan kami." Acang memandang Liu Min dan Dara, ia merasa jika ada sesuatu hal penting yang akan terjadi.
"Sebaiknya kita bicara di rumah saja sekaligus aku bisa mengobati penduduk yang terluka," ajak Luo Kang.
"Itu ide yang sangat bagus," balas Acang.
Semua orang bergerak menuju ke klinik Luo Kang, suasana menjadi meriah dengan kesibukan semua orang untuk menolong yang terluka. Beberapa jam telah mereka habiskan untuk menolong pasien.
Dara dan Liu Min keluar dari klinik mencoba berjalan-jalan menyusuri setiap dok kapal di mana banyak kapal pukat dan kapal motor yang terlambat di bibir pantai.
"Dara, apakah sebaiknya besok kita ke Kota Jinjing?" tanya Liu Min meminta saran dari Dara.
"Aku rasa itu layak untuk dicoba Liu Mkn. Tapi, aku berharap kamu membantuku, bukan hanya enak-enakkan makan es krim. Dasar pria sadis," umpat Dara kesal atas sikap Liu min yang sama sekali tidak memiliki jiwa ksatria seperti Kaisar Liu Min.
"Aku sangat yakin kamu dengan mudah mengalahkan mereka!" balas Liu Min tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Dari mana kamu tahu? Jangan bilang jika kamu mengetahui semua itu dari filsafat gilamu itu." Dara menatap Liu Min dan memalingkan wajah kala burung camar mulai menukik menyambar ikan di permukaan laut kala senja hari yang indah di pelabuhan Kampung Nelayan.
"Aku mengetahui kekuatanmu, jika aku tidak tahu tak mungkin aku melepaskanmu begitu saja, Sayang!" ucap Liu Min.
"Sayang! Sayang! Kepalamu peyang!" umpat Dara kesla.
"Hahaha, um … Dara," lirih Liu Min menarik tubuh Dara ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Dara Sasmita!" ujar Liu Min.
"Kan aku susah bilang, kalau aku susah membalas cintamu," balas Dara menatap wajah Liu Min.