
Qin Chai Xi dan Chien Ti'er masih memeluk mayat Qin Jiajia, "Sabarlah, Sayang! Kita akan menguburkan Qin Jiajia terlebih dahulu," ujar Qin Chai Xi.
Ia berusaha untuk membuat istrinya melepas dan merelakan kematian dari putri mereka, "Aku belum bisa melepaskan kepergian putriku, Suamiku! Dia baru saja menikah dan belum juga memiliki keturunan.
"Siapa yang menyangka jika nasibnya begitu tragis! Semua ini karena Kaisar Liu Min dan Li Phin. Andaikan Li Phin mau menerima putri kita menjadi salah satu selir kaisar ia pasti tidak akan mengalami nasib mengerikan seperti sekarang ini," balas Chien Ti'er.
Ia masih menangis dan memeluk tubuh putrinya, "Aku tidak akan kehilangan putriku! Tidak akan pernah," lanjut Chien Ti'er.
"Ya, semua ini karena keegoisan dari putri Li Sun. Jika ia mau menerima putri kita, semua peperangan dan pemberontakan tak akan pernah terjadi. Jika Ratu Li Hun tidak menyelamatkan Liu Min.
"Aku rasa kita dengan mudah menaklukkan Kekaisaran Donglang. Semua ini adalah keegoisan mereka!" cecar Qin Chai Xi.
Ia melimpahkan semua kesalahan atas kematian putri mereka kepada Jang Min dan Li Phin. Mereka tidak pernah menyadari jika kematian Qin Jiajia karena ambisi mereka yang ingin menguasai kekaisaran Donglang.
"Suamiku, aku berharap kamu membunuh mereka, balaskan dendam dan sakit hatiku, aku sudah kehilangan putriku satu-satunya," balas Chien Ti'er.
Chien Ti'er menatap ke arah Qin Chai Xi, "Aku akan meminta kepada Kakanda Chien Fu, untuk membalaskan sakit hatiku. Semua ini adalah idenya, untuk menikahkan Qin Jiajia dengan Shan Shi'er. Dia pun harus bertanggung jawab!" teriak Chien Ti'er.
"Pasti Istriku! Percayalah padaku, aku akan membalaskan sakit hati kita kepada mereka," janji Qin Chai Xi dengan mengepalkan tangannya.
"Apa yang terjadi dengan Qin Jiajia?" tanya Shan Shi'er yang baru saja tiba dan langsung berlutut di depan tubuh Qin jiajia.
"Shan Ti'er … Jiajia telah tiada!" balas Qin Chai Xi lemah.
"Mereka telah membunuh dan menjebaknya. Mengapa kalian begitu lambat menolong dan menyelamatkan putriku?" teriak Chien Ti'er menatap ke arah Shan Ti'er dengan kemarahan yang tidak lagi bisa ditahannya.
__ADS_1
"Apa?! Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini? Katakanlah!" ucap Shan Shi'er memeluk tubuh istrinya Qin Jiajia.
"Kaisar Liu Min, benar-benar menjebak dan telah merencanakan semua ini, hingga Selir Qin dan Selir Chien pun harus melawan maut. Aku tidak menyangka jika Kaisar Liu Min benar-benar ingin membunuh Qin Jiajia dan semua orang," balas Qin Chai Xi.
"Aku akan membalas dendam kepada mereka! Kita akan berperang!" teriak Shan Shi'er, "mereka juga memperkuat pertahanan di perbatasan dan seluruh Kota Chang An. Bahkan, banyak prajuritku telah tewas.
"Bukan itu saja, sepertinya Kaisar Liu Min bisa membaca semua gerakan yang telah kita susun. Apakah ada pengkhianat di kelompok kita?" ujar Shan Shi'er curiga.
"Apa maksudmu? Siapa yang berkhianat? Jika benar apa yang kamu katakan, aku akan membunuh si pengkhianat dan seluruh keluarganya hingga tidak tersisa" balas Qin Chai Jian, "aku tidak rela jika adikku telah tewas dan kedua bibiku masih bertempur dengan maut!" lanjutnya masih melihat kedua selir yang tak lain adalah bibinya masih belum sadarkan diri.
"Sepertinya ada pengkhianat diantara kita. Jika tidak! Tidak mungkin Kaisar Liu Min yang masih muda dan tidak tahu apa-apa bisa membaca dengan mudah setiap pergerakan dan mengetahui di mana kita bersembunyi," balas Shan Shi'er.
Semua orang terdiam, "Kita masih menanti kedatangan Raja Chien Fu dan pasukannya. Apakah mereka berhasil atau tidak!" balas Shan Shi'er.
"Ya, aku sudah lelah melihat semua ini. Aku tidak menyangka jika Liu Min benar-benar hebat di dalam siasat dan taktik perang. Kita akan menguburkan Qin Jiajia terlebih dahulu dan kita akan bermusyawarah mengenai perang yang akan kita lakukan!" ujar Lu Dang.
"Semua ini hanya demi ambisi dan putrikulah yang menjadi korban di dalam semua ini. Malangnya nasibmu, Nak! Para pria egois ini hanya mementingkan tahta dan kemasyuran tanpa memikirkan kasih sayang dan cinta," batin Chien Ti'er.
Ia masih membelai wajah putrinya yang cantik kini telah menjadi pucat pasi dan sehitam arang.
"Sabarlah, Chien Ti'er. Aku akan membalaskan dendammu. Percayalah padaku," ujar Lu Dang menyentuh bahu Chien Ti'er.
"Aku percaya kepadamu, Paman. Balaskanlah dendamku. Aku tidak akan pernah rela atas kematian putriku ini!" balad Chien Ti'er.
***
__ADS_1
Sementara Jang Ming dan semua jenderal serta prajurit, mulai berkumpul dan menyusuri semua perbatasan dan Kota Chang An. Berusaha untuk mencari sisa-sisa sekutu dari pemberontakan.
"Kaisar, aku rasa semua kaki tangan musuh sudah ditangkap! Tapi, kebanyakan dari mereka telah banyak meninggal," lapor Jenderal Tan Ji.
"Syukurlah! Akan tetapi, jangan pernah melonggarkan pertahanan di perbatasan dan setiap Kota. Beritahukan kepada semua kerajaan di bawah kedaulatan kekaisaran Donglang untuk berjaga dan bersiap atas segala kemungkinan perang.
"Apalagi, dengan kematian Qin Jiajia, aku sangat yakin mereka akan melakukan kudeta, cepat atau lambat," ujar Jang Min.
"Baik, Yang Mulia!" balas semua orang melakukan tugas mereka.
Jang Min beserta pengawalnya, berkuda menuju ke Istana Kekaisaran, "Suamiku, bagaimana?" songsong Dara mendekati suaminya, ia sudah seharian menunggu dengan gelisah hilir mudik di depan paviliun istana dalam.
"Seperti prediksi kita, jika mereka benar-benar, melakukan siasat untuk mencoba menyusup ke istana kekaisaran. Kita berhasil memukul mundur lawan, aku rasa Qin Jiajia telah tewas.
"Mungkin hal ini akan memicu peperangan karena Qin Jiajia adalah permaisuri dari Shan Shi'er," balas Jang Min.
"Lalu, apakah kita akan melayani mereka berperang begitu?" tanya Dara menatap suaminya.
"Jika mereka ingin berperang, mengapa tidak? Tapi sebelum itu, aku akan meningkatkan perekonomian dan pangan untuk semua rakyatku.
"Aku tidak ingin saat kita berperang semua rakyatku akan menderita!" balas Jang Min menatap ke arah kolam di paviliun.
"Suamiku, apa pun keputusanmu aku akan mendukungmu," balas Dara.
"Terima kasih, Istriku! Bagaimana keadaan putra kita? Apakah Jenderal Liang Si berada di sekitar sini?" tanya Jang Min mencari Liang Si.
__ADS_1
"Ada, Yang Mulia! Jenderal Liang Si berada di depan dan semua prajurit telah melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya," balas Dara.
"Syukurlah! Aku hanya takut mereka mencoba mengalihkan semua peperangan dengan menculik Putra Mahkota atau membunuhmu, Permaisuriku!" balas Jang Min menatap ke arah Dara yang langsung menyelipkan tangan ke selipan tangan Jang Min.