Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Si Beruang Madu sedingin kutub


__ADS_3

Jenderal Tan Jia Li dan Gu Shanzheng memasuki ruangan Jang Min lengkap dengan baju zirah mereka, "Salam Yang Mulia Kaisar Liu Min Semoga Dewa memberkati!" ujar keduanya memberikan penghormatan.


"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua," ujar Jang Min menatap keduanya, "begini, aku ingin kalian pergilah ke Xihe dan selidiki ada apa sebenarnya di sana. Sekalian, pergi ke perbatasan Mongol, aku ingin kalian mengawal bahan sandang pangan juga obat-obatan untuk penduduk Xihe.


"Sekalian aku ingin kalian menyelidiki aktivitas pemberontak yang dilakukan di Xihe. Apakah benar mereka adalah orang-orang Mongol atau Changsha? Kalian awasi aktivitas mantan perdana menteri Qin," ujar Jang Min menatap keduanya.


"Baiklah, Yang Mulia!" balas Tan Jia Li dan Gu Shanzheng, setelah melakukan penghormatan keduanya langsung pergi menuju Xihe dengan 20 pengawal Naga hitam milik Tan Jia Li dan orang kepercayaan Gu Shanzheng.


Mereka menyamar menjadi pedagang untuk mengantarkan obat-obatan yang telah disediakan oleh menteri sandang pangan juga Tabib kekaisaran Tabib Luo. Asistennya Wong Fei yang mengikuti arakan membawa pedati sandang pangan tersebut.


Tan Jia Li dan Gu Shanzheng hanya diam saja, keduanya tak banyak bicara selain hanya melalui tangan kanan  masing-masing yaitu dari pihak Tan Jia Li adalah Lin Tao dan dari pihak Gu Shanzheng adalah Zhang Fuk. 


"Lin Tao, katakan kepada Jenderal Gu, di mana kita akan berhenti? Di depan sedikit rawan apalagi malam sudah semakin turun," ujar Tan Jia Li kepada asistennya.


"Baik Yang Mulia Jenderal!" ujar Lin Tao menemui Zhang Fuk.


"Yang Mulia Jenderal Gu, Nona Tan bertanya, 'Di mana kita akan istirahat?' Apa yang harus hamba sampaikan?" tanya Zhang Fuk. 


Ia dan Lin Tao sudah sangat lelah dan ingin kabur akan tetapi atasan mereka adalah orang yang sangat mengerikan di dalam hukuman.


"Katakan saja, di Desa Ling Gao kira akan istirahat," ujar Gu Shanzehng dingin.


Zhang Fuk langsung memacu kudanya untuk mengatakan kepada Lin Tao begitu seterusnya. Jika mereka bertemu di dalam satu kancah pertemuan dan baru kali ini keduanya disatukan di dalam misi.


"Andaikan bukan Kaisar Liu Min yang memerintahkan, aku tidak akan mau satu tim dengan wanita keras kepala ini dan berhati batu" batin Gu Shanzheng kesal dan menarik napasnya.


Ia melirik ke arah wanita berkuda hitam di sampingnya sekitar 5 meter di samping pedati lain dengan diam, "sebenarnya Jia Li sangat cantik walaupun dia tidak menggunakan riasan wajah, tapi … kata-katanya sangat menyakitkan bagaikan silet yang menyayat jantung!" batin Gu Shanzheng.

__ADS_1


Ia melihat ke arah Tan Jia Li bertepatan dengan Tan Jia Li yang melihat ke arahnya Tan Jia Li langsung membesarkan retina matanya seakan menghardik Gu Shanzheng.


"Hahaha, wajahnya lucu sekali!" batin Gu Shanzheng tertawa.


"Ish!" cibir Tan Jia Li, "andaikan Jang Min bukanlah seorang kaisar? Aku telah memukul dirinya, enak saja dia menyatukanku dengan beruang madu sedingin salju!" batin Tan Jia Li mengingat adik angkat yang besar bersamanya tak lain adalah seorang putra mahkota Liu Min.


Tan Jia Li masih melirik ke arah Gu Shanzheng, ngiiikk! Ringkikan kuda mulai menjerit-jerit ketakutan di perbatasan Desa Ling Gao.


"Tenanglah! Tenanglah!" ujar semua orang berusaha untuk mengamankan kuda mereka yang ingin berbalik arah.


"Lin Tao! Zhao Wei! Berjaga di bagian belakang bersama dengan yang lain. Jangan biarkan seseorang ingin merampok pedati!" teriak Tan Jia Li langsung melesat naik ke sebuah dahan mengintai apa yang terjadi.


"Berhati-hatilah! Pasukan pemanah telah bersiap di depan?" teriak Tan Jia Li melesat menarik busurnya begitu juga dengan 20 orang bawahan di bawah komandonya langsung menarik busur panah. Anak-anak busur panah langsung saling tubruk di angkasa dan jatuh ke tanah tanpa adanya korban.


Pasukan Gu Shanzheng langsung membuat brigade untuk melindungi pedati," Apa pun yang terjadi jangan pernah tinggalkan pedati!" teriak Gu Shanzheng.


Beberapa orang berpakaian hitam dan bercadar langsung menyerang, "Berhati-hatilah! Mereka menggunakan racun!" teriak Wong Fei asisten Tabib Luo.


"Suit!" siulan Tan Jia Li membawa 10 anggotanya melesat dari sisi jalanan langsung berlari menembus musuh yang masih meluncurkan anak panah, sementara 10 lagi berusaha untuk menangkis serangan panah agar tak mengenai kuda dan si kusir pedati.


Gu Shanxeng telah berhasil membunuh beberapa orang musuh beserta bawahannya yang cukup kuat, "Yang Mulia Gu, apa yang harus kita lakukan?" teriak Zhang Fuk.


"Bunuh saja mereka! Jika bisa ditangkap hidup-hidup untuk diinterogasi!" teriak Gu Sanzheng. 


***


Tan Jia Li dan Zhao Wei melesat langsung membunuh semua pemanah yang berada di depan mereka tanpa ada yang berhasil kabur, "Zhao Wei! Tangkap salah satunya agar kita bisa !" teriak Tan Jia Li kesal. 

__ADS_1


Zhao Wei melesat dan berhasil menangkap 2 orang memanah yang memakai kerudung dan berbaju hitam, 


"Hahaha, kalian tidak akan mendapatkan apa pun dari kami!" teriak salah seorang dan tiba-tiba tubuhnya ambruk ke tanah dan menggelepar dan mengeluarkan cairan buih dari mulut.


"Sialan! Mereka rela mati untuk menutupi siapa dalang dibalik semua ini?" ujar Tan Jia Li, mengulurkan pedangnya membuka cadar di wajah mayat, "apakah kamu mengenalnya?" tanya Tan Jia Li pada Zhao Wei.


"Maksud Yang Mulia?" tanya Zhao Wei.


"Maksudku, apakah ini salah satu dari batalyon kita. Apakah kamu pernah melihatnya?" tanya Tan Jia Li.


"Oh, sepertinya tidak! Sepanjang waktu kita selalu bersama Jenderal Tan dan kita selalu di perbatasan," ujar Zhao Wei.


"Ya, kamu benar! Aku hanya curiga jika salah satu dari mereka berasal dari Donglang jika benar … apa yang kita dengar mengenai mantan perdana menteri benar adanya, tetapi belum menemukan bukti.


"Jika mereka tidak mengenali kita, mengapa mereka selalu saja menutup wajah?" ujar Tan Jia Li, "ayo, kembali! Apakah si Beruang Kutub itu berhasil mempertahankan pedati dengan nama besarnya?" cibir Tan Jia Li dan ke-10 anggotanya melesat kembali ke iringan pedati.


"Apa yang terjadi?" tanya Jia Li menghampiri Gu Shanzheng yang berjongkok di depan mayat salah satu musuh yang kematiannya sama dengan yang ditemui oleh Tan Jia Li,


"um, berarti mereka benar-benar menggunakan racun bunuh diri, jika semua misi gagal. Orang yang paling loyal, tapi siapa yang bisa membuat orang lain mengikuti semua keinginannya?" tanya Tan Jia Li tak mengerti.


"Apakah kamu juga menemukan hal demikian?" tanya Jenderal Gu berdiri berdampingan dengan Tan jia Li.


"Ya," balas Tan Jia Li mengangkat kedua bahunya, "Baiklah, aku rasa kita tak perlu lagi menginap di Desa Ling Gao. Kita terus saja ke Xihe!" ujar Jenderal Gu Shanzheng.


"Baiklah! Bersiaplah untuk berangkat!" teriak Tan Jia Li melesat ke atas kudanya begitu juga dengan semua orang.


Derap langkah kuda dan roda pedati terus melesat menembus malam yang mulai turun melewati hutan bambu dan sebuah jaring kembali menghadang mereka.

__ADS_1


"Biadab! Tidak bisakah kalian membuat aku istirahat?" teriak Tan Jia Li kesal.


"Cuih! Ternyata Jenderal wanita Donglang Tan Jia Li, pantas saja berhasil melewati perbatasan Desa Ling Gao." Seorang pria berdiri di salah satu dahan bambu menggunakan sebuah topi jerami, dengan pedang tipis berusaha untuk menggagalkan misi Tan jia Li dan Gu Shanzheng.


__ADS_2