Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Sumur rahasia


__ADS_3

Liu Min semakin gelisah, ia berjalan lambat sembari mengintip apa yang dilakukan istrinya di sana.


Glek!


Liu Min menatap istrinya di sebuah kolam berair jernih dengan mata air sedang mengalir deras dan tanpa selembar benang, Liu Min ingin berlari menerkam Dara, yang memukul pakaian dengan sebuah papan.


Siluet tubuh indah Dara begitu mengundang pria mana pun yang memiliki mata untuk melompat ke dalam kolam untuk melampiaskan hasrat mereka, kecuali dia adalah orang-orang suci.


"Dan aku bukanlah orang suci!" keluh Liu Min.


Ia menyadari pedang tumpul di bawah perut mulai berkedut tak karuan minta diemut. Liu Min mulai gelisah, ia ingin melakukannya lagi dan lagi.


Namun, bayangan kekejaman Quino dan Paulin juga bayangan Dara hamil besar harus bertarung dengan kedua wanita gila itu membuat Liu Min menjadi tak bergairah lagi. Pedangnya mulai terkulai layu tertidur kembali. 


"Hadeh, jika manusia-manusia bejat itu masih berkeliaran. Aku tak akan pernah nyaman begitu juga dengan semua orang," keluh batin Liu Min.


Ia masih berdiri menatap istrinya dengan perasaan serba salah, mematung dan mulai berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa selamat dan menghancurkan Guangzhou dan pasukan sindikat naga merah.


"Laogong, kemarilah … aku akan mencuci baju itu. Selain itu, kamu harus menangkap ikan jika ingin kita tidak mati kelaparan!" perintah Dara.


"Wah, sifat permaisurinya mulai keluar! Ckckck, aku bukan seperti kaisar malahan tapi seperti kacung?" sungut Liu Min tapi masih menurut apa yang diucapkan Dara.


"Hahaha, aku mendengar kamu menggerutu, Sayang. Jika kamu terus menggerutu, aku tidak akan memberimu jatah selama seminggu!" ketus Dara.


"Hah! Um, tidak apa-apa!" balas Liu Min.


Ia berencana tidak akan menyentuh Dara di dalam waktu dekat ini, karena ia tidak ingin Dara akan hamil secepat itu sebelum musuhnya hancur.


"Masa? Pegang janji! Beneran nggak mau!" goda Dara membelai tubuhnya sendiri membuat pedang tumpul Liu Min beraksi dengan sendirinya.


"Dasar nih, kepala botak nggak punya otak! Baru dipancing begitu saja sudah mulai," keluh Liu Min.


Ia masih berusaha untuk mengalihkan pandangan dari tubuh indah istrinya. Secepatnya menanggalkan pakaian dan memberikan pada Dara.

__ADS_1


Liu Min segera meminum air dari pancuran. Ia merasa butuh asupan energi untuk melawan dirinya sendiri dan pedang tumpul yang selalu saja bergetar aneh melihat tubuh Dara.


"Wah, kamu benar, ikannya banyak sekali! Kita tidak akan mati kelaparan, paling-paling cacingan!" sungut Liu Min.


Liu Min mengawasi ikan-ikan yang berenang dengan cermat dan langsung mengulurkan tangan menangkap ikan tersebut secepat bayangan yang tak terlihat.


Dara terkesiap, ia merasa Liu Min bukanlah Liu Min zaman sekarang ia melihat bayangan kaisar Liu Min di sana dengan rambut panjangnya.


Dara menggelengkan kepala dan ia melihat jika Liu Min masa kini yang berada di sana. Namun, kembali bayangan itu berulang, Dara merasakan sesuatu mulai menjadi aneh. 


"Sebenarnya ada apa ini? Mengapa kami semua bereinkarnasi begitu juga dengan musuh? Apakah pertempuran dulu masih menyisakan sesuatu yang belum usai?


"Atau karena aku pun masih hidup di masanyadan kini semantara aku  dulu pernah bersama mereka?" batin Dara mulai bertanya 


Dara mulai memukul-mukul baju seperti zaman kuno dan membersihkannya dengan sebuah larutan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di sekitar gua yang dipenuhi rerumputan di bagian luar sedikit.


"Apakah aku yang membawa mereka kembali ke portal masa kini?" Dara mulai berpikir secara tak logika.


Liu Min sudah membakar ikan kini ia hanya menggunakan pakaian zaman kaisar Liu Min. Dara beruntung mengikuti saran permaisuri Shandong untuk memasukkan ke dalam lemari pakaian para suami mereka.


Dara semakin melihat bayangan kaisar Liu Min walaupun Liu Min masa kini berambut pendek ala tentara.


Dara masih mematung memasang suaminya yang begitu serius, mereka memakan ikan dengan bahagia dan saling tertawa.


"Ayo, kita lihat apa isi koper itu?" ajak Liu Min penasaran setelah Mereka makan.


"Ayo," 


Keduanya membuka koper dan melihat foto semua musuh mereka, Guangzhou, Pablo, Quino (mirip dengan selir Chien) dan Paulin,  dan kaki tangan mereka di bawah para atasan yang memiliki kekuatan tertinggi di bagi beberapa bagian kekuatan sesuai keahlian mereka masing-masing.


"Struktur kepemimpinan mereka sangat luar biasa mengikuti masa kerajaan," lirih Dara.


Mereka menemukan basis di Kota Shenzhen yang terletak diskotik A, kasino, dan sebuah rumah di sudut kota di bagian pantai Shenzhen Utara, yang dikepalai oleh Kakak 1 Chin Kit, keduanya melihat foto Chin Kit. 

__ADS_1


Dan bagian Barat dikepalai oleh Lu Tek basisnya di daerah perkampungan kumuh di dekat rumah susun, Shin Zu.


Keduanya melihat hanya itu yang ada, selain itu Wong Jin memberi kunci sepeda motor dan surat-surat palsu dan uang kes, juga denah rumah untuk mengambil sepeda motor dan perlengkapan senjata yang berada di Shenzhen Utara.


"Bukankah ini, adalah rumah yang di atas?" tanya Liu Min.


"Ya, di mana dia menyembunyikannya?" tanya Dara penasaran.


"Sabarlah Laopo. Nanti malam kita akan naik ke atas. Eh, bagaimana kita bisa naik? Aku merasa jika sumur ini sedalam 30 meter," ucap Liu Min.


"Ya, tebakanmu selalu benar Laogong," ujar Dara, "iya, juga! Bagaimana ya? Bukankah kita tidak memiliki kekuatan seperti masa lalu?


"Kita malah tidak memiliki ilmu peringan tubuh dan tenaga dalam! Aduh, kenapa aku tidak berpikir dari tadi, ya?" sesal Dara. 


Ia merasa begitu bahagia menemukan sumur tersebut dan langsung tanpa berpikir masuk ke dalam, ia merasa masih tinggal di zaman kuno.


"Hah! Ckckck, hm ... entahlah. Sebaiknya kita tidur saja! Besok kita pikirkan lagi, aku lelah!" balas Liu Min.


Ia pun tak bisa menyalahkan istrinya tetapi ia juga tidak bisa berpikir bagaimana caranya mereka naik. Sehingga ia memutuskan untuk menenangkan diri dengan cara tidur, besok ia akan bisa berpikir dengan jernih.


Akhirnya Liu Min dan Dara tertidur dengan nyenyak, keduanya tak pernah merasakan kenyamanan selama ini, mereka selalu saja waspada hingga di dalam tidur pun mereka seakan tak tidur dan berjaga jika musuh tak menyerang.


Kicau burung pagi begitu indah terdengar membuat Dara dan Liu Min bangun, keduanya kembali memanggang ikan.


Setelah makan Dara dan Liu Min mencoba naik ke atas sumur.


Berulang kali mereka mencoba mamanjat selalu saja mereka terjatuh. Hingga keduanya, duduk diam. Saling memandang dan tertawa.


"Bukankah kita sudah anumerta? Gilanya, kita malah akan beranak pinak di sini, seperti orang gila," ujar Dara.


"Hahaha, paling tidak kita masih bisa tidur nyenyak tidak kelaparan, dan masih bisa bercinta," goda Liu Min.


Membuat Dara tertawa, keduanya begitu beruntung memiliki pasangan yang saling melengkapi. Keduanya kembali terdiam menikmati semilir angin hingga ia merasa suara erangan arwah pedang naga hijau bergema di kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2