Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Takdir sungguh kejam


__ADS_3

"Ya," balas Dara acuh.


Keduanya berlari ke jalan raya dan menyetop sebuah truk akan tetapi tak seorang supir pun yang mau mengangkut mereka berdua, hingga Dara berdiri di tengah jalan raya kala sebuah truk meluncur membelah jalanan


"Berhenti atau kutembak!" gerak bibir Dara mengokang senjata ke arah supir truk dari kejauhan, membuat sang supir langsung menghentikan truknya.


"Antarkan kami ke terminal!" ujar Dara, masih menghunuskan pistol hingga sang supir hanya menganggukan kepala dengan takut.


"Ayo, Nona!" ajak si supir.


Dara dan Liu Min langsung naik ke mobil dan supir meluncur dengan cepat tanpa suara hingga mengantarkan keduanya ke terminal.


"Terima kasih!" balas Dara. 


Si supir hanya menganggukan kepala, "Aku rasa, kalian tidak akan bisa melewati setiap perbatasan!" ujarnya.


"Mengapa?" tanya Dara menatap ke arah supir dengan penasaran.


"Wajah kalian berdua sudah disiarkan di sosial media dan TV," balas si supir.


"Apa maksudmu?" tanya Dara. Liu Min hanya menyimak saja, sambil melirik jalanan. Ia berusaha untuk mewaspadai banyak hal.


"Karena, kalian sudah menjadi buronan!" balas si supor.


"Buronan? Buronan bagaimana? Aku seorang Letda dan baru saja siuman dari koma. Apa yang telah aku lakukan!" ujar Dara, "katakan sejujurnya atau kau pun akan aku tembak!" ancam Dara menyalahi aturan kepolisiannya.


"Ba-baiklah! Singkirkan pistol itu!" ujar si supir tanpa rasa takut.


Dara menyelipkan pistol keselipan kemeja di balik jas Liu Min.


"Para petinggi kepolisian dan TNI mengatakan jika buronan dunia Liu Min atau Liu Peter telah melarikan narkoba jenis sabu sebanyak 5 kilogram," ujarnya.


"Apa?!" teriak Liu Min, "padahal sabunya paling sekitar, 3 Kg saja!" balas Liu Min.


"Siapa? Liu Min" ulang Dara.

__ADS_1


"Iya, Liu Min dan foto wajah kalian berdua ada di setiap media sosial dan TV. Jika kalian tidak percaya coba saja!" balas supir truk tersebut.


"Hei, kau! Siapa sebenarnya namamu? Liu Min atau Liu Peter?" teriak Dara yang berada di tengah dua pria tersebut.


"Aku Liu Min dan nama internasional saat aku ditugaskan dari Hongkong bernama Liu Peter!" balas Liu Min.


"Bangsat! Jadi kau benar-benar seorang penjahat kelas kakap? Sial, benar!" ketus Dara, "mengapa sialan ini bisa bereinkarnasi menjadi penjahat?" batin Dara kesal.


Ia masih memandang ke arah Liu Min, "Apakah Tuhan telah marah kepadaku? Hingga dia menghukumku dengan begini? Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengatakan padanya, jika dia tidak mengingatku.


"Aku juga harus menangkapnya. Malang sekali cinta dan takdir ini. Kini kusadari jika takdir begitu kejam!" batin Dara.


"Jangan berpikir yang bukan-bukan, nih!" balas Liu Min memberikan kartu tanda penduduk Hongkong, pasword, dan kartu anggota jika dia adalah seorang Tentara Angkatan Laut Hongkong.


"Hm, disini tertulis jika kau seorang kolonel! Lalu mengapa kau bisa menjadi seorang NAPI  dan pihak Hongkong sendiri mengatakan, 'Jika kau adalah seorang Narapidana, begitu?" tanya Dara masih bingung 


"Ceritanya sangat panjang!"  balas Liu Min dengan malas.


"Kamu bisa mempersingkatnya!" jawab Dara tegas.


Dara dan supir truk terdiam tanpa bicara lagi, "Lalu mengapa kau bisa berada di perairan tanjung Balai?" tanya Dara.


Liu Min menceritakan segalanya, "Jadi, menurutmu kau dijebak, karena kau dan barang bukti hilang, begitu?" ketus Dara mulai memahaminya.


"Ya, begitulah, selain itu! Barang bukti sudah kamu hancurkan! Bagaimana aku bisa kembali ke kesatuan AL Indonesia?" tanya Liu Min.


Dara dan si supir terdiam, "Um, maaf. Aku kira kamu adalah mafia sungguhan  dan ya, begitulah!" balas Dara, "tapi aku tidak bisa mempercayaimu 100 % Tuan Liu!" ujar Dara menatap ke arah Liu Min.


"Terserah kepadamu! Semua itu adalah hak kamu!" balas Liu Min kesal, "aku baru tahu jika apa yang dikatakan oleh Danu benar adanya," umpat Liu Min.


"Apa Danu? Danu siapa?" tanya Dara.


"Ya, Bripka Danu! Anggota di kesatuan kamu. Dialah yang harus menggantikan kamu selama ini, untuk bergabung dengan AL Indonesia dari pihak kepolisian dari semua negara.


"Jika malam itu, dia tidak menjaga Ibumu yang sedang terpuruk akan kehilangan tubuhmu yang koma, mungkin yang tewas bukanlah Danil tapi Danu!" balas Liu Min.

__ADS_1


"Apa?!" pekik Dara tertahan ia semakin penasaran akan banyak hal yang sudah terjadi. 


"Maaf, Bapak dan Ibu! Daripada kalian bertengkar. Sebaiknya kalian bersembunyilah dulu di bak belakang di antara tumpukan ikan-ikan, sepertinya di depan ada razia!" ujar si supir truk.


Keduanya saling pandang dan memandang ke arah si supir truk, "Baiklah, kami akan bersembunyi. Siapakah namamu, Pak?" tanya Dara.


"Aku Jalik Nasution!" ujar Jalik.


"Baiklah, Pak Nasution, apakah kami harus merayap di pintumu untuk ke belakang trukmu atau Bapak akan menghentikan laju truk ini?" tanya Dara.


"Sebaiknya, aku menghentikannya saja dulu!" balas Jalil Nasution.


Jalik langsung menghentikan laju kendaraan, Dara dan Liu Min melompat turun begitu juga Jalik yang langsung membuka tenda, tumpukan peti kemas ikan terlihat yang akan dibawa ke kota Medan.


"Apakah kami akan bersembunyi di dalam peti bersama ikan dan es begitu Pak?" tanya Liu Min tidak percaya, "itu artinya kami juga akan mati membeku! Lebih baik, baku tembak daripada demikian!" umpat Liu Min kesal.


"Jangan khawatir, Pak! Aku tidak sebodoh itu menyuruh kalian untuk melakukan hal itu! Di belakang peti ini, ada peti kosong. Tapi, hanya satu peti, aku harap kalian berdua bisa buat di dalam peti bagian tengah itu.


"Jika kalian mau, kita akan menggeser peti ikan di bagian ini." Jalik menunjuk peti bagian pinggir, meminta persetujuan keduanya.


"Baiklah! Jika kamu ingin selamat dan mengungkap kebenaran, ikuti saja arahan Pak Nasution ini!" ujar Dara.


"Apakah kamu yakin jika dia tidak berbohong?" tanya Liu Min curiga dengan Bahasa Kanton.


Liu Min tidak ingin membuat Jalik Nasution sakit hati akan kecurigaannya, "Aku sangat yakin!" balas Dara.


"Baiklah!" balas Liu Min.


Ketiganya naik ke atas bak truk dan menggeser peti kemas yang terisi ikan dan es, kemudian di bagian paling sudut dekat kepala truk Jalik membuka peti kemas yang kosong melompong. 


Liu Min dan Dara saling pandang bingung menatap ke arah peti kemas yang hanya seukuran 2 meter x setengah meter.


"Bagaimana ini?" tanya Dara bingung.


"Aku akan berbaring karena jika kita duduk, kita pun tidak bisa. Kepala kita akan menonjol, jika berbaring ukuran tubuhku pas hanya lebih beberapa centimeter saja," ujar Liu Min.

__ADS_1


"Lalu aku? Jangan bilang, aku akan berbaring di dalam peti bersamamu  Brengsek!" ketus Dara.


__ADS_2