Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 11~Kondisi kritis


__ADS_3

"Dia pergi, Rik. Cegah dia supaya tak pergi!" pinta ibunya berbisik.


Riki hanya mematung tak bisa mengatakan apa-apa. Mungkinkah Kamila sudah tak mencintainya? Atau memang dia sudah keterlaluan kepada istrinya, sehingga Kamila tak tahan tinggal bersamanya?


Pikiran Riki menerawang entah kemana. Dia terus menatap punggung Kamila yang semakin mengecil karena menjauh sampai menghilang di kegelapan malam.


Sesungguhnya dia tak ingin mengusir Kamila. Dia hanya ingin memberikan pelajaran atau membuat istrinya patuh terhadap apa yang dikatakannya.


Jauh di lubuk hati, dia tak bermaksud seperti itu karena dia sangat mencintai Kamila Mungkin memang dia suka uang dan menjerat para wanita dengan pesonanya demi mendapatkan uang. Tapi, cintanya yang tulus hanya untuk Kamila.


"Riki. Kenapa melamun?" Ibunya menepuk lengan sedikit lebih keras membuyarkan lamunan Riki.


Riki yang tersentak karena tepukan ibunya, sontak tersadar dan menoleh ke arah sang ibu.


"Dia pergi, Bu?" tanya Riki datar.


Ibunya berdecak. "Iya, dia sudah pergi jauh. Kamu kenapa sih malah melamun?" Ibunya terlihat kesal.


"Ta-tapi, dia gak mungkin pergi begitu saja. Dia mencintai Riki, Bu!" ucap Riki tak percaya.


"Persetan dengan cinta. Nyatanya dia langsung pergi saat kamu mengusirnya!" terang Nani.


Seketika Riki terdiam dan langsung masuk kedalam rumah tanpa menoleh lagi ke arah ibunya.


Bu Nani sempat melihat mata Riki yang berkaca ketika masuk ke rumah. Dia pun melihat putranya menjadi tak bersemangat karena di tinggalkan Kamila, padahal belum lima menit. Raut kesedihan nampak jelas tergambar di wajah putranya itu.


"Huh. Si Riki jadi melankolis setelah di tinggal istrinya. Awalnya dia yakin kalau Kamila akan memohon. Eh ternyata malah sekarang dia menyesal karena Kamila pergi!" gerutu Nani kesal.


...___&___&___...


...___&___&___...


Kamila berjalan menggendong tas di bahu dengan perut besarnya. Usia kandungannya kini sudah menginjak tujuh bulan, berarti hanya tinggal dua bulan lagi menuju waktu persalinan.


Setelah memutuskan untuk keluar dari rumah Riki, Kamila pergi ke suatu tempat.


Orang satu-satunya yang akan siap menolong dirinya yaitu Bu Siti. Dia selalu menolong Kamila tanpa pamrih membuat, Kamila sendiri nyaman berada di samping Bu Siti.


Namun, kali ini Kamila tak mendatangi rumah Bu Siti dengan alasan tak mau terus-menerus merepotkan.


Langkah kakinya mengarah ke sebuah gang kecil tak jauh dari tempatnya bekerja, yaitu warung nasi Bu Siti.


Matanya dengan jeli memperhatikan setiap tulisan yang menempel di pintu pagar besi depan rumah.


Banyak sekali tulisan "Ada kontrakan" di pagar besi dan dia pun masuk untuk bertanya kepada pemiliknya.

__ADS_1


"Permisi, Bu! Apa masih ada kamar kosong?" tanya Kamila.


"Maaf, sudah penuh!" jawab si pemilik.


"Tapi di depan masih ada tulisannya, Bu!"


"Oh itu, ibu lupa melepaskan tulisannya!" cicit ibu pemilik terkekeh.


"Baiklah, Bu! Terima kasih!" ucap Kamila berpamitan dengan sopan. "Permisi!"


Kamila berjalan kembali menyusuri gang dan membaca setiap tulisan di depan pagar. Banyak sekali tulisannya, namun itu bukan bertuliskan kontrakan melainkan "lowongan pekerjaan".


"Haish. Kemana lagi harus nyari tempat tinggal? Ya Tuhan!" nafas berat terdengar memburu dari mulut Kamila yang sedang mengeluh.


Dia terus memutar dan menelusuri gang-gang sempit sampai keluar, tetap saja tak ada kontrakan yang kosong. Semua sudah terisi penuh.


Kamila terduduk barang sejenak di depan sebuah toko yang sudah tutup, karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat empat puluh tujuh menit. Semua toko-toko sudah pada tutup, digantikan kedai-kedai penjual roti bakar, pecel lele, martabak, dan lain-lain.


Dari kejauhan, Kamila melihat kepulan asap dari gerobak bertuliskan "sate madura". Baunya sangat harum menggoda indra penciuman serta perutnya yang sedang kelaparan.


Dia tersenyum sesaat, kemudian melangkahkan kaki bermaksud menghampiri penjual sate madura tersebut.


Saat Kamila akan berdiri, ia harus terduduk kembali sambil meringis menahan sakit. Kakinya menjadi kram karena lelah berjalan berjam-jam dengan perut yang besar.


"Aaa-aduuhhh!" dipegangi perutnya yang teramat sangat sakit. "Ya Tuhan. Aaaaaaaa ... sakit banget sih!" Dia terus meringis sambil memegangi perut.


Tangan Kamila hanya menggantung di udara dengan mulut terbuka ingin berkata. "Tooolloooooong!" suara lirihnya tak bisa di dengar orang sekitar.


Tak ada yang memperhatikan Kamila juga, karena posisi Kamila terduduk di depan toko yang lampu terasnya tidak di nyalakan oleh pemiliknya.


"Hahh ... haaahhh!" Ia tak dapat berkata-kata lagi. Hanya deru nafas menahan kesakitan di bagian perutnya.


Mata Kamila terpejam dengan ringisan dan isak tangisnya. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya melayang dan mendarat di sebuah kursi yang cukup empuk.


"Jalan, pak!" Samar-samar terdengar orang berbicara menyuruh untuk berjalan. Tapi Kamila tak kuasa membuka matanya karena rasa sakit yang terus menyerangnya.


Kamila merasakan pergerakan dari tempat yang ia duduki yang ternyata sebuah mobil mewah.


Mobil itu terus melaju membelah kegelapan malam ibukota yang di hiasi kemacetan, menuju arah rumah sakit.


"Haaaaaa ... sakit!" Kamila terus merengek tanpa membuka matanya.


Sesampainya di rumah sakit, tubuh Kamila kembali diangkat oleh orang itu masuk ke dalam rumah sakit.


Walaupun ada belankar dan perawat yang berdiri di depan pintu rumah sakit, orang itu tetap menggendong sendiri tubuh kecil Kamila.

__ADS_1


"Dokter ... Dokter!" teriaknya saat masuk.


Seorang Dokter dan Suster tergopoh menghampiri. "Ada apa ini, Pak?" tanya Dokter cemas melihat wanita yang di gendong pria itu menahan sakit.


"Saya juga tidak tahu, Dok. Tapi, dia terus memegangi perutnya!" tutur si pria.


"Baiklah, Pak. Baringkan di ranjang biar saya periksa dulu!" kata dokter seraya membuka pintu ruang pemeriksaan.


"Anda tidak boleh masuk, pak!" cegah suster dengan menutup pintu ruangan tersebut saat pria itu akan mengikutinya.


"Oh, baiklah!" Dia mengalah dan menunggu di bangku koridor sampai dokter selesai memeriksa.


Terlihat jelas ke khawatiran di wajahnya. Keringat bercucuran di pelipis yang sesekali ia lap menggunakan telapak tangan.


Dokter keluar dengan raut wajah kebingunngan.


"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi kepadanya sampai dia terus meringis kesakitan?" cerocos pria itu memberondong dengan banyak pertanyaan saat Dokter keluar.


"Kondisinya kritis, Pak. Kemungkinan harus melahirkan lebih awal dari waktunya!" jelas Dokter.


"Me-melahirkan?" Pria itu terkejut dengan pernyataan yang di sampaikan Dokter.


Saat dia menolong Kamila, dia tak melihat jika wanita yang ditolongnya itu sedang hamil karena dress yang dikenakan sedikit longgar dan tak menampakan perut besarnya. Apalagi, Kamila terus meringkuk kesakitan dengan menelungkupkan kedua tangannya di perut.


"Kami akan mengambil tindakan cepat untuk istri Bapak, supaya bisa menyelamatkan keduanya!" terang dokter.


"Tapi, dia bukan ...!"


Ucapannya menggantung karena Dokter segera memotongnya. "Saya tahu, Pak. Usia kandungannya masih tujuh bulan. Tapi tidak apa-apa, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Bapak jangan khawatir, ya!" Dokter menepuk bahu si pria yang sedang kebingungan itu.


"Silahkan tanda tangan di sini pak, sebagai izin untuk melakukan operasi!" pinta Suster.


"Ta-tapi, saya bu-bukan su ...!"


"Jangan gugup, Pak. Saya tahu, ini pasti anak pertama kalian, kan!" kata suster menyela ucapannya. "Bapak harus tenang dan banyak berdoa supaya keduanya selamat!"


Pria itu tersenyum pelik ke arah Suster, sebelum Suster itu pergi mengikuti Dokter yang masuk kembali ke ruang operasi.


"Saya bukan suaminya, Suster! Dia bukan istri saya!" namun perkataannya tak mampu di dengar, karena mereka sudah menutup pintu ruang operasi tersebut.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia sedang hamil dan akan melahirkan.Tapi, suaminya di mana aku juga gak tahu. Yaelah, tadi pake minta tanda tangan sebagai penanggung jawab lagi. Gimana kalau terjadi sesuatu kepada wanita itu dan bayinya? Bisa gawat kan."


Dia pun terlihat tak tenang dengan mondar-mandir di depan ruang operasi.


"Ya Tuhan! Semoga dia dan bayinya selamat. Amiin!"

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2