Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Dibalik rahasia Wanchai


__ADS_3

"Hahaha, ya kau benar! Sekarang kalian sudah kami dapatkan, kalian benar-benar membuat masalah di bisnisku. Aku bersyukur, orang-orang terbaik selalu bersamaku."Wanchai tersenyum puas.


"Lepaskan kami Wanchai! Apa yang kau inginkan dari kami?" teriak Liu Min marah.


"Kau bertanya, apa yang aku inginkan? Aku menginginkan, jika kalian mengikuti semua rencanaku maka aku akan membebaskan kalian." Wanchai tersenyum dan berdiri mendekati Dara dan Liu Min.


"Aku tidak yakin jika kau akan melakukan hal itu, Wanchai. Siapa pun tahu kau pria bajingan berkedok dermawan!" umpat Liu Min.


"Cuih, jika aku tidak mau, kau mau apa?" jawab Dara ketus.


Dara merasa jika Wanchai memiliki rencana bejat dan mustahil yang akan merugikan mereka berdua dan dia yang akan meraup keuntungan atas rencana yang diinginkannya.


"Tidak masalah! Tapi, kamu tidak tahu apa yang bisa aku lakukan kepada ibu Ningrum …," ujar Wanchai tersenyum.


"Apa?!" pekik Dara terhenyak.


Apa yang selama ini ditakutinya pada akhirnya terjadi juga. Selama ini Dara berusaha untuk menghindari semua itu, agar ibunya bisa aman dan nyaman. Akan tetapi, kini ia semakin tak kuasa dan tak bisa memilih antara nyawa ibu atau kehidupan dirinya.


"Hahaha, sudah aku katakan Nona, apa yang tak bisa dilakukan orang lain bagiku itu adalah hal yang sangat mudah," balas Wanchai dengan angkuh.


Ia langsung menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya. Di sebuah layar monitor terlihat Ningrum (ibunda Dara Sasmita) sedang berbicara dengan dua orang yaitu anak buah dari Wanchai.


Ningrum digiring memasuki sebuah mobil mewah dengan beberapa orang yang langsung menembak polisi yang menjaga Ningrum, Dara yakin jika Danu yang memberikan perlindungan pada ibunya.


Dara juga melihat Danu berteriak dan menembak anak buah Wanchai tetapi sebuah peluru telah menembak Danu hingga jatuh terkapar.


"Danu!" pekik tertahan Liu Min dan Dara terperanjat.


"Apa yang akan kau lakukan pada ibuku? Dia tak ada hubungan dengan semua ini. Ini urusan antara kamu dan aku, Wanchai!" teriak Dara histeris.


Ia tak menyangka jika Wanchai akan menggunakan ibunya dan Danu pun tidak tahu keadaannya. Wanchai tersenyum memandang ke arah Dara membelai lembut wajah Dara yang cantik. Dara berusaha untuk mengelak akan tetapi wanchai menjambak rambutnya.


"Sekuat apa pun seseorang, jika keluarganya diusik akan marah. Begitu juga denganmu," ujar Wanchai tersenyum.


"Wanchai! Lepaskan tangan kotormu dari tubuh Dara, Bajingan!" teriak Liu Min meronta di kursi tahanan.


"Hahaha, pasangan yang sangat luar biasa! Hm, jangan khawatir Tuan Liu, aku memiliki kejutan lain untuk mu," sambung wanchai tersenyum puas.

__ADS_1


Ia kembali menjentikkan tangannya di layar monitor lain kedua ponakannya Gu Ayin dan Gu Ahwa sedang terikat di sebuah kursi begitu juga dengan Liu Aching.


Deg!


"Sialan! Apa yang kau lakukan kepada kakak dan kedua ponakanku?" teriak Liu Min. 


"Hahaha, apa pun bisa aku lakukan. Sekarang, jika kalian berdua tidak mengikuti apa ya g aku inginkan maka bersiap-siaplah kalian kehilangan orang-orang yang kalian sayangi," balas Wanchai.


"Bajingan kau Wanchai!", teriak Liu Min.


Dara hanya diam memandang kedua monitor tersebut, "Bagaimana bisa mereka menyekap kedua ponakan Liu Min dan ce Aching?" batin Dara.


Dara menatap ke arah Quino dan Mitzuki yang tersenyum puas. Dara merasa dendamnya semakin membara ia mengingat segala dalang kejahatan saat dulu adalah keluarga Chien dan Qin.


"Apakah aku tertinggal hal yang menyenangkan?" tanya Pablo yang masuk ke dalam ruangan dengan pongahnya.


Dara mengingat pria yang pertama kali menyekap dan menculiknya di perairan Tanjung Balai.


"Bajingan ini yang bernama Pablo!" batinnya geram.


"Ah, Pablo saudaraku. Kau selalu saja terlambat! Kau benar-benar luar biasa, kau tahu. Kita sudah menyandera semua keluarga dari pasangan hebat ini." Wanchai berjalan ke arah Pablo dan keduanya berpelukan.


Ia menatap ke arah pasangan yang terikat di kursi. Pablo tersenyum dengan bangganya dan maju ke salah satu kursi di samping Mitzuki.


"Sudahlah, aku sangat malas melihat kalian reunian katakan saja, apa yang akan kami lakukan?" balas Liu Min sedikit malas.


Dara menatap ke arah suaminya, "Apa yang sedang direncanakan Liu Min?" batinnya.


Namun Dara selalu percaya jika Liu Min selalu saja memiliki rencana hebat di benaknya.


"Aku ingin, Kau …!" Wanchai menunjuk Liu Min, "merampok bank Hunan, esok hari bersama dengan Liang Bo," lanjutnya.


"Apa?! Kau gila! Aku bersama kakak Iparku? Kau tahu, dia sama sekali tidak bisa bertarung apalagi, memegang senjata!" teriak Liu Min.


"Hahaha, itu adalah kemalangan baginya! Dan kau," ujar Wanchai menunjuk ke arah Dara.


"Kau akan pergi mencuri pedang naga hijau! Jika tidak Ibu dan keluarga Liu Min akan mati esok hati di sini," balas Wanchai.

__ADS_1


Deg!


Jantung Dara bergetar ia benar-benar ingin marah dengan semua yang dilakukan oleh Wanchai dan sekutunya.


"Baiklah! Aku akan pergi besok," balas Dara.


Plok! Plok!


Semua orang bertepuk tangan, kecuali Liu Min dan Dara yang masih terikat di kursi.


"Aku tidak menyangka, kau benar-benar hebat, Permaisuri Dara Sasmita," ucap Wanchai.


"Begitu juga denganmu Guangzhou!" balas Dara tersenyum.


"Apa?! Siapa Guangzhou? Apakah si Wanchai ini?" tanya Liu Min bingung.


"Ya, dia adalah Guangzhou … selama ini dia telah menipu semua orang bukan hanya Tiongkok tapi seluruh dunia.


"Jika di dunia dia terkenal sebagai konglomerat Wanchai dan orang yang paling dermawan. Namun, di dunia bawah tanah dia terkenal sebagai Guangzhou. Bukankah begitu?" balas Dara.


Dara menatap ke arah Guangzhou, semua orang terdiam tak menyangka akan hal itu.


"Dari mana kau berpikir jika aku adalah Guangzhou? Pikiran apa itu?" bantah Wanchai.


"Cincin tengkorak itu! Bukankah itu sama seperti yang jatuh atau sengaja kau tinggal kala kau menjengukku di rumah sakit, bukan?" ujar Dara Sasmita.


Liu Min menatap di jari manis kanan Wanchai cincin yang sama yang diberikan oleh Ningrum kala mereka bertemu di rumah Ningrum.


"Wow, kau benar-benar hebat! Tidak salah pemerintah Indonesia mengangkatmu menjadi seorang intel hebat Nona!" balas Wanchai.


"Wah, apakah benar yang kamu katakan Sayang?" tanya Liu Min tak percaya.


"Ya, dan siapa lagi yang tahu kisah lama jika bukan Guangzhou yang tak lain adalah reinkarnasi dari Lu Dang. Bukankah begitu Tuan Lu Dang atau Guangzhou," tandas Dara.


Plok! Plok!


"Anda sangat hebat sekali, Nona!" balas Wanchai. 

__ADS_1


Ia langsung membuka topeng silikon di wajahnya dan terlihat jelas wajah Lu Dang atau Guangzhou. Semua orang terperangah termasuk Mitzuki, Quino, dan Pablo.


__ADS_2