
Dara langsung menembak anggota mafia yang ingin membunuh para polisi yang berniat masuk untuk menangkap para pengedar dan mengamankan keadaan.
Akan tetapi, mereka malah menjadi korban dari para mafia yang telah berada di sana, "Berarti benar, jika diskotik ini adalah basis mereka untuk bertransaksi dan mengedarkan narkoba!" batin Dara.
Asap menyelubungi ruangan yang berasal dari bom asap hingga segalanya menjadi berkabut dan menyesakkan dada, "Aku harus membunuh para mafia ini," ujar Dara.
Dara langsung memakai masker dan melesat secepat kilat, tanpa disadarinya ia bergerak secepat kala ia masih di dunia Li Phin. Dara tidak menyadari jika pergerakannya melebihi kekuatan manusia biasa.
Dara langsung menembak mati semua mafia di balik kabut asap dan menyeret polisi yang terluka ke tempat aman, "Bertahanlah! Telepon tim penyelamat!" perintah Dara kepada para polisi yang diselamatkan Dara.
"Bu-bu Dara Sasmita! Bukankah kau?" tanya polisi yang merupakan anggotanya dulu.
"Aku dan Liu Min, hanya dijebak! Carilah informasi yang lebih baik Iqbal!" perintah Dara langsung meninggalkan Iqbal yang tertembak di kaki.
Dara terus melesat menembak para mafia yang ingin membunuh polisi dan dirinya, Dara melesat mengejar pria bule dan Jimmy yang berniat kabur.
"Berhenti, kau Jim!" teriak Dara kepada mantan bawahannya yang langsung bergerak, "jika kau tidak berhenti aku akan menembakmu!" teriak Dara kesal.
Namun, Jimmy langsung melesat berlari meninggalkan Dara, "Sialan, kau Jim! Kai memaksaku untuk melakukan semua ini," barin Dara langsung mengarahkan pistol ke arah kaki Jimmy.
Dor!
Sebuah tembakan bersarang di dada Jimmy, "Sialan! Siapa yang melakukannya?" batin Dara melihat ke arah tangga seorang pria berlari melompati jendela kaca di lantai 2.
"Berhenti!" teriak Dara ingin mengejar si penembak, "bajingan! Dia pasti tidak ingin jika Jimmy membongkar kedok mereka," batin Dara langsung berlari melintasi ruangan yang dipenuhi asap.
Namun, Jimmy memegang kakinya, "Bu Dara … maaf! Aku terpaksa melakukan semua ini, anakku diculik mereka," ujar Jimny berlinang air mata.
"Jim! Apa maksudmu? Mengapa kau tak mengatakannya, Jim?" teriak Dara, ia merasa iba melihat dada Jimmy sudah berlumur darah begitu juga dengan mulutnya.
Dara berlutut memegang dada Jimmy,
__ADS_1
"Aku terpaksa Bu," balas Jimmy.
Dor!
Sebuah tembakan kembali mendarat di pelipis Jimmy, swbelun Jimmy mengatakan sesuatu, darah merembes keluar dan napas terakhir Jimmy pun berakhir dengan menggenggam tangan Dara.
Dengan kedua mata Jimmy yang masih terbuka menatap Dara dengan linangan air mata, "Semoga kamu tenang di alam barumu Jim. Maaf, jika selama ini aku tidak mengetahui penderitaanmu," lirih Dara menutup mata Jimmy, "aku sudah memaafkanmu!" balas Dara.
Bayangan kala Jimmy dan Danu serta semua anggotanya masih begitu kompak dan bersama dengannya menggerebek semua pengedar narkoba dan menangkap semua penjahat. Hingga mereka selaku menjadi yang terdepan dari semua divisi di kepolisian.
Wajah Jimmy yang paling tampan dari semua anggota di kesatuan yang dikomandoi Dara menikahi gadis cantik bernama Joy. Jimny begitu bahagia untuk pertama kalinya. Semua sahabatnya menghadiri pernikahan hingga setahun kemudian istrinya Joy melahirkan seorang putri yang diberi nama Jenny.
"Jimmy!" lirih Dara.
Ia tak menyangka selama ini pria yang ingin dibunuhnya telah terbunuh oleh jaringan mafia yang telah memaksanya, "Apakah Jinny benar-benar diculik?" batin Dara penasaran.
Dor! Dor!
"Bajingan! Aku tidak menyangka bisa sebodoh ini," umpat Dara.
Di depannya para mafia telah mengepung nya dengan senjata yang siap menembak dirinya.
"Akhirnya, Polwan Dara Sasmita akan tewas malam ini. Semua kesalahan akan dilimpahkan kepadanya, hahaha!" ujar salah satu mafia memiliki tato di leher.
"Habisi saja, dia dengan cepat!" teriak seseorang, "sebelum para polisi kembali datang!" lanjutnya, ia segera mengokang pistol mengarah ke tubuh Dara.
Dara tidak peduli, ia bersiap dengan mengarahkan kedua pistolnya ke arah para mafia, "Jika aku mati aku pun akan membawa kalian mati bersamaku!" tegas Dara tanpa rasa takut kala menghadapi kematian.
Dor! Dor! Dor!
Sebuah tembakan langsung memberondong ke arah mafia hingga mereka langsung ambruk dan sebagian mafia yang masih berdiri kembali membalas tembakan ke arah sebuah sepeda motor yang melesat mengitarai ruangan yang sudah porak poranda.
__ADS_1
"Liu Min?!" lirih Dara. Sebagian hatinya begitu bahagia dan tak menyangka jika Liu Min telah menyusul dirinya.
Dara bergulingan di lantai sembari menembak ke arah musuh dan bersembunyi di balik pilar bangunan dan langsung membantu Liu Min dengan senjata laras panjangnya m60.
"Dara!" teriak Liu Min melesat langsung mendekatinya dengan sepeda motor.
Dara melompat ke boncengan Liu Min yang langsung melesat meninggalkan gedung perbelanjaan bertepatan dengan bala bantuan polisi dan ambulan telah tiba di sana untuk menangkap dan menyelamatkan yang telah tewas.
Liu Min mengendarai sepeda motor memasuki ruangan pusat perbelanjaan hingga semua serpihan kaca berserakan, "Untung saja pusat perbelanjaan ini kosong karena ini sudah pukul 02.00WIB dini hari," ujar Liu Min.
Ia menggeretakkan gerahamnya, ia merasa begitu bodoh harus terlibat di dalam semua ini. Namun, ia tak ingin berdebat dengan Dara, karena polisi masih mengejar bersama para mafia yang ingin menangkap dan membunuh keduanya yang sedang buronan.
Sepeda motor Liu Min menerjang pintu kaca melesat dengan kencang ke luar dari pusat perbelanjaan menuruni anak tangga menuju pelataran mall dan langsung melesat ke jalan raya.
Para Mafia dan mobil patroli masih mengejar, kedua kubu saling tembak membuar Liu Min tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur.
Liu Min terus membawa sepeda motornya dengan kencang menuju kembali ke daerah pantai Cermin, namun ia merasa bahunya terluka hingga ia sedikit oleng.
Namun, ia tidak ingin membebani Dara hingga ia hanya diam saja menahan luka dan sakit yang sedang dideritanya.
Darah terus merembes membasahi jaket Liu Min, pandangannya mulai kabur.
"Liu Min? Apa yang terjadi?" lirih Dara memegang bahu yang telah berdarah, "sial, kau terluka?" umpat Dara langsung memegang kendali setang sepeda motor karena Liu Min mulai pusing.
Dara menghentikan laju kendaraan dan mengambil alih, "Pegang aku erat Liu Min!" perintah Dara, yang langsung mengendarai sepeda motor dengan kencang menembus malam menuju markas hanya itulah tempat teraman yang terlintas di pikirannya.
Ia langsung membawa Liu Min ke markas mereka, "Apa yang terjadi Bu?" ucap Danu yang langsung memapah Liu Min membawa ke dalam kamarnya.
"Sial! Saudara Liu Min benar-benar terluka! Aku tidak tahu, apakah masih ada persediaan darah di ruang penyimpanan," umpat Danu mulai khawatir.
Ia langsung mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan pertolongan pertama kepada Liu Min, Dara hanya diam membeku. Bayangan masa lalu kembali menguak, "Andaikan Tabib Luo ada!" batin Dara.
__ADS_1