
Cahaya mentari menyilaukan mata, mengusik seseorang yang berada di alam mimpi. Kamila menyipitkan mata ketika cahaya mentari masuk melalui jendela kamar menembus gorden.
"Emh, jam berapa ini?" gumamnya sembari mengucek mata.
Suara barito Edwin berbisik tepat di telinganya. "Jam delapan pagi, sayang!"
"Hah?!" Kamila terperanjat dari tidurnya mendengar suara Edwin. Dia sontak turun dari ranjang ketika menyadari bahwa dirinya tidur berdampingan bersama pria tampan itu. "Mas Edwin. Ah, maaf! Pasti karena mengantuk sampai aku tak sadar jika tidur di atas ranjang." ucapnya canggung.
Edwin terkekeh melihat tingkah Kamila yang lucu menurutnya. "Tidak perlu bersikap seperti itu, karena aku yang memindahkan kamu ke atas. Aku tak tega lihat kamu tidur dengan tubuh ditekuk seperti semalam,"
"Hah? Ja-jadi Mas Edwin yang ... Kenapa gak pindahin aku ke kamar aja."
"Hei! Aku sedang sakit. Mana bisa gendong kamu ke kamarmu," Edwin berpura-pura marah.
"Oh iya. Tapi kan aku ... Eh, Ray!" Kamila baru sadar jika dirinya meninggalkan putra semata wayangnya di kamar sendirian. Dia melompat dari ranjang, kemudian berlari menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat si bayi gembul itu tengah bermain sambil berceloteh ria bersama kedua orang tua Edwin.
Ibunya Edwin yang melihat keberadaan Kamila di sana langsung berkata. "Eh, Mama udah bangun. Mandi dulu, Ma. Nanti main sama aku," ucapnya menirukan suara anak kecil.
Kamila tersenyum menanggapinya. Dia merasa tak enak hati kepada ibunya Edwin, sebab wanita paruh baya itu telah menjaga dan mengurus putra kecilnya.
Ray sudah dimandiin dan disuapi oleh Nyonya Herni, ketika Kamila masih tertidur di kamar tamu bersama Edwin.
Bukannya marah, kedua orang tua Edwin malah membiarkan Kamila tidur dan tak membangunkannya.
Selesai mandi, Kamila bergegas memasak untuk makan siang. Tak lupa ia menyiapkan roti bakar selai coklat dan secangkir kopi untuk Edwin dan kedua orang tuanya, sebab itu makanan kesukaan ketiganya.
Kedua orang paruh baya dan putranya itu menyukai makanan yang sama. Jadi, Kamila tak perlu repot-repot menyiapkan makanan yang berbeda jenis untuk sarapan ataupun makan.
Cukup lama Kamila berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang ini, tanpa dibantu pelayan sama sekali. Edwin memang mempekerjakan satpam, tapi tidak dengan pelayan. Dia tak mau kejadian serupa yang menimpa kedua orang tuanya dulu terulang lagi kepadanya saat dirinya berumah tangga kelak.
Hari ini Edwin tidak berangkat ke kantor, sebab ada urusan yang lebih penting dibanding urusan kantornya. Biarlah sekretarisnya nanti yang akan menghubunginya jika ada hal mendesak atau penting.
__ADS_1
Edwin sudah berbicara kepada kedua orang tuanya bahwa hari ini mereka akan datang ke rumah Kamila untuk melamarnya secara sah di hadapan kedua orang tua Kamila, yaitu Tuan dan Nyonya Ferdinan.
Sebenarnya, ia belum memberitahu Kamila jika akan pergi ke rumah kediaman Ferdinan hari ini karena takut Kamila tak mau diajak pergi.
Bukannya Kamila membenci kedua orang tuanya. Justru ia sangat malu kepada ayah dan ibunya mengenai pernikahannya dulu dengan Riki. Kamila malu sebab mencintai pria yang salah, walaupun kedua orang tuanya sudah mengatakan kebenaran tentang Riki dan berusaha melarangnya untuk menikah dengan pria itu.
Kamila menyiapkan makanan fi meja makan dan memanggil semua orang untuk makan bersama termasuk supir dan satpam. Tuan Huda tak marah, justru Beliau senang karena Kamila baik terhadap mereka.
Sore harinya, Edwin dan kedua orang tuanya bersiap dengan pakaian formalnya. Edwin juga menyuruh Kamila memakai pakaian yang serasi dengannya, serta menyuruhnya merias wajah. Begitupun Ray yang sudah di dandani sebaik mungkin oleh ibunya Edwin. Bocah lucu itu terlihat sangat menggemaskan ketika mengenakan kemeja dengan dasi kupu-kupu, serta sepatu yang senada dengan bajunya.
Beberapa bungkusan kado dari yang kecil hingga yang besar telah berjejer rapih di mobil pick-up, untuk dibawa sebagai cinderamata.
"Sebenarnya kita mau ke mana, Mas? Kenapa seperti ingin pergi seserahan saja_segala macam dibawa!" Kamila mengerutkan kening menatap semua yang sudah rapih di mobil.
"Memang mau seserahan, tapi bukan sekarang! Kita mau lamaran dulu. Siapa tahu diterima," sahut ayahnya Edwin terkekeh.
Kamila semakin bingung. "Siapa yang mau lamaran?"
Deg
Ada yang terluka tapi tak berdarah. Segumpal daging di dalam dadanya terasa tertusuk setelah kalimat tersebut.
L A M A R A N. Kata yang membuat hati Kamila terasa tertusuk belati tajam dan menyayat nya. Sakit sungguh sakit_begitulah rasanya hati Kamila saat ini.
Dengan perasaan bercampur aduk, Kamila melangkah lesu mengekor di belakang Edwin yang menggendong Rayyanza. Senyum ceria terbit dari wajah semua orang kecuali Kamila. Bibirnya sangat sulit untuk sekedang menyunggingkan senyuman walaupun kecil.
"Jadi, kepulangan kedua orang tua Mas Edwin dari Prancis ternyata untuk melamar pacarnya!" batin Kamila meratap sedih.
Dia tak tahu sebenarnya tujuan rombongan mereka akan pergi ke mana, sebab Edwin sendiri tak mengatakan apapun kepadanya.
Sepanjang perjalanan, Kamila hanya diam merenung tanpa memandang ke arah mereka yang tertawa bahagia dengan celotehan si kecil Ray.
__ADS_1
Hatinya terasa dicabik-cabik atas perkataan ibunya Edwin yang mengatakan akan melakukan lamaran untuk putranya. Kamila cemburu_sangat cemburu. Tapi dalam hati ia berkata, "Untuk apa menangisi pria yang bukan milikmu! Mas Edwin pantas bahagia dengan wanita yang jauh lebih baik,"
Perjalanan yang membutuhkan waktu tiga jam dari rumah Edwin itu, kini telah tiba di depan sebuah rumah mewah bergaya klasik.
Salah satu turun meminta satpam untuk membuka gerbang, dan mengatakan ingin bertemu dengan sang Tuan rumah.
Seorang satpam membuka pintu gerbang agar ketiga mobil rombongan Edwin bisa masuk ke halaman rumah kediaman Ferdinan.
Kamila masih belum sadar jika dirinya telah sampai di rumah kedua orang tuanya.
Ketika dia ikut turun dari mobil, Kamila terkejut bukan kepalang. Netra mutiara itu berembun menatap sekeliling halaman luas dengan dipenuhi tanaman bunga. Kamila meneteskan air mata ketika melihat kedua orang tuanya keluar menyambut kedatangan mereka bersama saudara yang lain.
"Mama ... Papa!" Kamila berlari menghampiri dengan air mata berlinang. Ia memeluk tubuh keduanya, kemudian bersimpuh di kaki mereka. "Papa ... Mama. Maafin Mila!"
Tuan dan Nyonya Ferdinan ikut menangis memeluk putri semata wayangnya itu. "Mila sayang, kami sudah memaafkan kamu. Jangan menangis lagi, Nak!" ucap keduanya.
"Mama ... Papa!"
Suasana menjadi haru ketika melihat mereka bertiga saling berpelukan. Sudah hampir dua tahun lebih Kamila pergi tanpa memberi kabar kepada kedua orang tuanya setelah menikah dengan Riki. Dia pergi dengan kemarahan ketika memaksa menikah dengan Riki, membuat ayah dan ibunya sangat sedih.
Tapi kini, Kamila kembali diantar oleh Edwin, calon suami yang akan membawanya memeluk kebahagiaan.
Setelah puas menangis, Kamila menoleh ke arah Edwin dan kedua orang tuanya. "I-ini maksudnya apa, Mas?" tanyanya dengan suara lirih.
Edwin tersenyum sembari menghampiri. "Aku dan kedua orang tuaku ke sini untuk melamar kamu, Mila!" tuturnya lembut.
"A-apa?" Kamila masih tak percaya.
Tuan dan Nyonya Bagaskara mendekat. "Sebenarnya, kami sudah bertemu dengan kedua orang tuamu untuk membicarakan hal ini. Dan tentunya ... mereka setuju!"
Kamila menoleh ke arah kedua orang tuanya yang mengangguk sebagai jawaban. Tanpa berkata, Kamila kembali memeluk kedua orang tuanya sambil menangis.
__ADS_1
...Bersambung ......