Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bukan tong sampah


__ADS_3

"Phin'er … bukankah kamu telah menikah, Nak? Apakah kamu masih ingat pelajaran yang Ibunda berikan, saat kamu belajar tata krama dan menjadi seorang wanita bangsawan?" tanya Min Hwa sedikit khawatir, ia merasa jika putrinya kali ini berbeda ia lebih banyak menggunakan pedang daripada benang. 


"Ibunda tidak tahu, apa yang kamu alami sejak Ibunda tak di sisimu. Tapi  belajarlah terus tidak ada ruginya, semua itu untuk kebaikanmu! Jadilah, yang terbaik di dalam bidang apa pun, tetaplah menjadi dirimu sendiri yang rendah hati, memiliki budi pekerti, dan tidak boleh angkuh.


"Sebagai permaisuri kamu harus mendahulukan, kepentingan kekaisaran dan rakyatnya daripada kepentingan pribadi, bertahan dan bersabarlah, sebesar apa pun ujian itu!" ujar Min Hwa, membelai kepala Li Phin yang tidur di pangkuannya.


"Aku masih ingat Ibunda, jangan khawatir! Tapi, aku tidak begitu suka menjadi permaisuri. Aku tidak pernah bercita-cita ingin menjadi seorang Permaisuri," keluh Li Phin.


"Takdir seseorang tak ada yang tahu,  Nak! Jalani dan bersyukur saja!" balas Min Hwa tersenyum.


Syut!


Sebuah pedang melayang ingin menebas leher Selir Min Hwa, "Sialan! Siapa kalian?" teriak Li Phin langsung menggendong tubuh Min Hwa berdiri di atas dahan persik.


"Kau tak perlu tahu, kalian harus mampus! Aku tidak ingin kau menjadi permaisuri Kekaisaran Donglang! Dan kau wanita buta, kau harus mampus!" teriak seseorang di dalam balutan pakaian berwarna hitam dengan tertutup tanpa bisa dikenali selain matanya.


"Hm, tenaga dalam dan racunmu sangat luar biasa! Syukurlah, pada akhirnya kau muncul juga. Jadi, aku tak perlu untuk mencarimu, buka saja pacarmu! Jika kau tak membukanya aku yakin, kau juga masih kerabat kekaisaran," ujar Dara. 


Melayang dengan ringan ke tanah, "Ibunda, berpeganglah yang erat! Apa pun yang terjadi jangan pernah lepaskan aku!" pesan Dara pada Min Hwa yang sudah berada di punggung Li Phin.


"Tapi, Phin'er! Biarkanlah, Ibu di tanah saja. Ini akan membuatmu sulit!" ujar Min Hwa khawatir.


"Tidak! Wanita licik ini akan menyerang Ibunda dengan racun, jika dia tak berhasil membunuhku!" jawab Dara.


"Hahaha, kamu pintar sekali! Um, kalian harus mampus!" teriaknya langsung menyerang Dara dengan pedang. Di punggung Li Phin, Min Hwa terlunta-lunta dan terus berdoa pada Dewa untuk keselamatan putrinya.


"Ayo, kerahkan semua racun dan tenaga dalammu! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? Kau menggunakan racun beraliran yang sama dengan Perguruan Racun Sekte Hitam, bukan? 


"Aku tak menyangka, jika Kekaisaran Donglang lebih banyak dihuni ular berbisa dari Kerajaan Changsha!" teriak Dara melesat dan menangkis pedang wanita pengguna racun tersebut.

__ADS_1


"Sialan, mengapa Li Phin bisa tahu mengenai Guru Lu Dang?" batinnya, "anak ini, sudah terlalu banyak tahu. Dia harus mati! Jika tidak, segala rencana yang disusun 'kan gagal," batinnya. Ia langsung menyerang dengan pedang dan menaburkan racun ke arah Li Phin.


Li Phin langsung memutar pedang dan menyerang secepat kilat dengan jurus tanpa bayangan ke arah wanita tersebut. Li Phin berhasil memukul dada si wanita dengan tendangan dan melukai bahunya.


"Makanlah racunmu, sendiri! Aku sudah cukup kebal diracun, oleh Selir Qin, bodoh!" teriak Li Phin.


"Bajingan! Huek!" si wanita langsung muntah darah dan kabur.


Li Phin melihat dahan dan ranting bunga persik berjatuhan akibat sabetan pedangnya dan si wanita, "Siapa wanita itu?" ujarnya.


"Suaranya seperti orang yang telah membuat mataku buta," ucap Min Hwa.


"Mari, kita pulang Ibunda!" ajak Dara. Ia melesat secepatnya ke Istana Persik, "apakah mungkin Selir Qin?" ia langsung bergerak dengan cepat menuju aula utama di Istana Persik. 


Li Phin melihat ayah, dan ketiga selirnya masih berada di jamuan makan bersama dengan Ratu Li Hun, Jang Min, dan semua petinggi Kekaisaran Donglang.


"Jadi bukan Selir Qin?" batin Li Phin, ia langsung menurunkan Min Hwa, "Salam Yang Mulia Ibunda Ratu Li Hun dan Putra Mahkota Jang Min! Salam sejahtera dan semoga Dewa memberkati dengan umur yang panjang!" ujar Li Phin.


"Berdirilah!" ujar Li Hun.


Keduanya langsung berdiri, "Maafkan, saya Yang Mulia! Karena saya membawa putri saya. Sehingga Yang Mulia harus menunggu kami," ujar Min Hwa merasa bersalah.


"Jangan khawatir Selir Min hwa, kami sudah memutuskan pernikahan keduanya lusa," ujar Ratu Li Hun. Li Phin dan Dara melirik ke arah Jang Min yang tersenyum padanya.


"Hadeh, si omes selalu saja!" batin Dara dan Li Phin melihat tingkah Jang Min yang menggerak-gerakkan alisnya.


"Nyebelin!" umpat Dara di dalam hati ia tak berani terang-terangan.


"Namun, Perdana Menteri Qin Chai Xi meminta Putra Mahkota untuk menikahi putrinya Jiajia menjadi selir pertama. Aku rasa pernikahan mereka, setelah pengangkatan Kekaisaran dan Permaisuri?" ujar Ratu Li Hun.

__ADS_1


"Apa?" teriak Jang Min dan Li Phin bersamaan.


"Bukankah Putri Jiajia akan menikahi Pangeran kedua Limen Utara yaitu Liang Xi, Ibunda?" ujar Jang Min.


"Hadeh, belum jadi permaisuri saja sudah banyak yang antri mau jadi selir!" batin Dara.


"Mana lagi si wanita rubah itu? Ya Dewa, apakah tidak bisa dibatalkan saja pernikahan ini?" tanya Li Phin.


"Maaf, Yang Mulia Ratu, apakah tidak bisa jika pernikahanku dan Putra Mahkota dibatalkan saja?" ujar Dara, membuat semua orang terperangah.


"Apa maksudmu, Phin'er? Aku tidak akan pernah membatalkan pernikahan kita dan aku tidak akan menikahi wanita manapun selain dirimu!" tegas Jang Min.


Ratu Li Hun terdiam, "Memang apa salahnya berbagi, Nak! Dari zaman ke zaman semua raja dan kaisar memiliki istri lebih dari satu untuk kepentingan kekaisaran. Kalian boleh saling cinta tapi kedaulatan negara tetap diutamakan," ujar Li Hun.


"Oh MY God! Aku bisa gila!" umpat batin Dara.


"Ya, lebih baik aku menjadi gadis lembah Luo Yi seperti Nona Zhang Mei saja!" balas Li Phin.


"Maaf, Yang Mulia! Dulu saya dihina karena saya dibilang mengejar calon suami orang yaitu pangeran kedua Limen Utara. Sekarang setelah saya mundur, mengapa Putri Jiajia yang ingin merebut Suami saya? Apakah dia tidak punya rasa malu dan otak?" teriak Dara membuat Perdana Menteri Qin Chai Xi langsung merah padam.


"Apa maksudmu? Kau belum menjadi permaisuri saja sudah tidak memiliki rasa sopan santun!" ujar Perdana Menteri Qin.


"Yang jelas lebih baik tidak memiliki rasa sopan santun daripada menjadi seorang pengkhianat!" teriak Dara.


"Siapa yang penghianat?" teriak Perdana Menteri Qin.


"Di Changsa saat bulan purnama, bulan lalu! Siapakah yang bersama dengan Raja Chien Fu dan para pembesar Qin dan Mongol, Tuan Qin?" tanya Dara membuat semua orang terperanjat menatap ke arah Perdana menteri Qin.


"Aku bisa saja, menyuruh kekaisaran membunuhmu!" teriak Perdana Menteri Qin.

__ADS_1


"Jangan tidak sopan kepada calon permaisuriku, Perdana Menteri! Aku pun melihat siapa saja pengkhianat itu! Saat ini, kau bisa mengelak tapi nanti kau tidak akan bisa! Satu hal lagi! Saya tidak akan menerima wanita yang sudah menjadi bekas pria lain! Ingatlah, aku seorang calon kaisar bukan tong sampah!" balas Jang Min. 


__ADS_2