Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Perlawanan


__ADS_3

"Tidak! Mungkin karena mereka tahu aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan," balas Liang Bo berusaha tersenyum dengan bibir bengkak.


Liu Min memperhatikan luka di sekujur tubuh Liang Bo, ia merasa heran walaupun kakak iparnya tak memiliki kepintaran di bidang beladiri tapi melihat bekas luka di tubuh dan darah di sekujur bajunya ia merasa heran.


"Apakah mereka menyiksamu begitu mengerikan?" tanya Liu Min, "jika orang biasa, ia pasti sudah tewas!" batin Liu Min.


"Ya, karena mereka memintaku untuk memberitahukan di mana kamu dan Dara juga Cece Amei dan Ahim Yilmaz.


"Syukurlah aku tidak mengetahui keberadaan kalian, jika aku tahu pun aku tak akan memberitahukannya." Liang Bo berjalan tertatih memasuki mobil Van.


Liu Min sangat yakin akan hal itu, Liang Bo sangat terkenal dengan sebuah kejujuran yang luar biasa. Ia bersyukur akan hal itu. Namun, kala ia harus mengingat jika ia dan Liang Bo dipaksa untuk merampok bank Hunan membuat Liu Min sedikit kacau.


"Ko, apakah kamu yakin akan melakukan hal ini?" tanya Liu Min duduk bersebelahan dengan Abang iparnya.


"Apakah aku punya pilihan Amin? Tidak, bukan? Jika aku tak melakukan hal ini, bagaimana keadaan istri dan anak-anakku? Hanya merekalah milikku yang paling berharga di dunia ini. Tak ada yang lain lagi," balas Liang Bo.


"Ya, Koko benar! Um, baiklah. Apakah Koko bisa menggunakan senjata api?" tanya Liu Min.


"Aku pernah minta ajarin sama Ko Ahim, aku rasa … aku masih mengingat caranya," ujar Liang Bo.


"Ya, syukurlah! Um, aku berharap apa pun yang terjadi, jangan pernah gugup. Santai saja, anggap saja kita sedang bermain petak umpet!" balas Liu Min.


"Ya, semoga saja! Apa pun yang terjadi, maksudku … jika aku mati, aku berharap kamu mau membebaskan kakak dan kedua anakku. Aku mohon Amin," ujar Liang Bo.


Liu Min hanya menganggukkan kepala, ia sedikit ngeri membayangkan harus bertempur berdampingan dengan abang iparnya yang sama sekali tidak mengetahui cara bertempur.


Liu Min juga mengagumi sikap Liang Bo yang luar biasa hebat. Dia tak menyerah dengan keadaan dan terus berjuang demi keluarga kecilnya.


"Kita harus maju apa pun yang terjadi, bukan hanya Ce Aching dan si kembar. Bahkan, ibu Ningrum mereka sandera untuk memaksa Dara melakukan keinginan mereka. 


"Sialnya, Wanchai si konglomerat dermawan itu adalah Guangzhou!" ujar Liu Min.


"Apa? Benarkah? Pantas saja, begitu sulit untuk menyentuhnya? Dia selalu saja berpindah-pindah tempat ternyata saat Wanchai pergi ke luar negeri untuk bisnisnya terlihat di layar GPS jika Guangzhou bisa berada di mana pun." 

__ADS_1


Liang Bo merasa geram, ia dan semua orang tak menyangka akan hal itu. Liu Min melihat Pablo sudah duduk di samping pengemudi mobil Van, mereka menggunakan masker untuk menutup wajah dan bersenjata lengkap.


Sementara dia dan Liang Bo tidak diberi senjata apa pun. 


"Dasar Bajingan! Mereka sengaja mengumpankan kita untuk kerusuhan dan ya, sehingga orang tak terlalu memperhatikan jika Pedang Naga Hijau lenyap dari museum," umpat Liu Min.


Liu Min masih diam, ia masih khawatir akan keberadaan Liang Bo, ia menarik napasnya dengan berat.


"Mengapa kehidupan terkadang tidak adil, orang yang jujur harus mati demi tanah air dan keluarga. Sementara si bajingan masih terus melangkah dengan keberhasilan dan pongah.


"Andaikan Tuhan bermurah hati, membuat mereka selamat kali ini dan meminjamkan kekuatan-Nya untuk menghancurkan manusia-manusia biadab ini. Itu adalah hal yang sangat luar biasa," batin Liu Min.


Laju mobil begitu lambat, membuat rasa cemas di hati Liu Min semakin was-was kala mobil sudah mendekat ke arah bank Hunan.


Mereka menunggu dengan berhati-hati, Pablo menyuruh dua orang masuk dari mobil lain untuk berpura-pura menjadi nasabah.


"Kita menunggu 20 menit kamu berdua masuk! Nah, bawa ini!" ujar Pablo memberikan masing-masing sepucuk senjata.


"Apa?!" Liang Bo, memeriksa senjatanya dia pun terhenyak.


"Ya, begitulah! Ingat jika kalian berusaha untuk kabur maka, bum! Ingat ledakan itu Sayang? Kalian pantas mendapatkan semua ini," ucap Pablo bersemangat.


Pablo menodongkan senjata kepada Liu Min dan Liang Bo begitu juga semua kaki tangannya di dalam mobil Van.


"Jadi, mau atau tidaknya kalian memang harus melakukan semua pekerjaan ini. Ayo, cepat lakukan!" perintah Pablo dengan bengis.


"Bajingan! Andaikan Ko Liang Bo tidak ikut! Aku pasti bisa melumpuhkan mereka, paling tidak jika aku mati pun aku akan membawa mereka," umpat batin Liu Min kesal.


Buk! Buk!


Liu Min terperanjat ia tak menyangka jika Liang Bo bisa bergerak dengan kecepatan yang luar biasa memukul dan membunuh musuh hanya dengan tangan kosong.


"Kau tidak akan pernah bisa mengorban kami Bajingan! Lebih baik aku mati!" teriak Liang Bo.

__ADS_1


"Selamatkan istri dan anakku, Amin!" teriak Liang Bo.


Ia langsung menendang dan melakukan gerakan kaki dan tangan selihai atlit taekwondo. 


"Wah, kau hebat Ko! Katakan sendiri pada Ce Aching!" balas Liu Min.


Ia langsung menarik leher musuh di belakang joknya hingga si pria tersungkur menabrak jok di depan. Liu Min mengambil senjata dan membuang peluru dengan selihai mungkin.


Pablo tersentak dengan semua serangan yang tidak dipikirkan sebelumnya, "Jangan biarkan mereka selamat!" teriaknya marah.


Dor! Dor! Dor!


Di dalam mobil Van tersebut kericuhan terjadi adegan saling pukul dan tembak terjadi membuat semua orang di jalan raya berteriak dan berlarian. Kap mobil tembus akan peluru yang ditembakkan akibat perebutan senjata yang dilakukan oleh Liu Min dan Liang Bo.


Brak!


Liang Bo menendang jok penumpang di depan hingga si supir melesat ke luar menerobos kaca depan mobil membuatnya jatuh dan tewas seketika.


"Musuh, melawan! Aktifkan jarak lumpuh!" teriak Pablo berbicara pada earphone di telinganya 


Buk! Buk!


"Tidak semudah itu bajingan! Kau kira aku tidak bisa menonaktifkan fungsi kode digital ini? Bukankah tadi aku tertawa senang? Karena aku sudah menggunakan semua ini sejak lama, perangkat dari perusahaan Wanchai!" hardik Liu Min.


Ia langsung menyambar earphone milik Pablo dan membuangnya, Liang Bo berhasil merampas senjata api milik musuh tetapi ia tidak begitu lihai menembak membuatnya kebingungan.


"Amin!" teriak Liang Bo.


Ia melemparkan senjata pada Liu Min yang masih adu pukul dengan Pablo dari jok penumpang dan jok depan, hingga berguling ke luar mobil dan masih adu pukul.


Semua orang berlarian melihat orang-orang dari dalam mobil menggunakan senjata Laras panjang. Senjata yang dilempar oleh Liang Bo malah ditangkap oleh anak buah Pablo.


"Hahaha! Kalian memang ditakdirkan untuk mati!" umpat Pablo bahagia.

__ADS_1


__ADS_2