
Edwin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ruang perawatan Kamila.
Ditatapnya penuh kekaguman wajah cantik yang tengah memejamkan mata dengan tangan terpasang selang infus. Wajah cantik wanita itu sangat menarik perhatian Edwin. Tapi, pria ini cukup sadar diri jika wanita yang sedang tertidur di ranjang ini sudah memiliki pendamping.
Tapi, dimanakah suaminya? Itu menjadi pertanyaan yang selalu mengusik pikiran Edwin. "Aku harus mencari suamimu ke mana, nona cantik?!" tangannya mengusap wajah yang terlihat gusar. Ia terus memperhatikan wajah Kamila yang sedikit pucat karena kelelahan.
"Untung kamu selamat. Kalau tidak, bagaimana cara aku harus mencari keluargamu?!" Edwin semakin menunduk lesu.
Pria itu terduduk di samping ranjang perawatan Kamila. Matanya semakin sayup dan tak lama kemudian tertutup sempurna karena mengantuk.
Rasa lapar yang tadi dirasakan, hilang begitu saja seiring kepanikan yang dialaminya ketika membawa Kamila ke rumah sakit. "Cepet sembuh ya, Nona cantik!" Dia pun tertidur pulas dengan posisi duduk sambil memegangi tangan Kamila.
Kamila yang baru saja sadarkan diri, merasa sesuatu menindih tangannya. Matanya mengerjap perlahan untuk melihat apa yang menindih tangannya itu.
Saat dia melirik ke samping, seorang pria sedang tidur dengan posisi terduduk dan kepala menindih sedikit tangan Kamila. Namun, wajahnya tak terlihat karena menghadap ke arah berlainan sambil memegangi tangan Kamila.
Seulas senyum terukir di bibir Kamila. Dia mengira jika itu adalah suaminya, Riki. "Dia ternyata masih memperhatikanku, walaupun selalu kasar kepadaku. Ya Tuhan. Rasa syukur ku panjatkan karena ada suamiku yang selalu mendampingi di saat aku sedang kritis." batin Kamila bersorak riang.
Tangan kanannya terulur dan mengusap lembut kepala pria yang tengah tertidur itu.
"Mas, bangun!" suaranya lirih nyaris tak terdengar.
Mendapat suatu pergerakan di kepala, Edwin mengerjapkan mata kemudian perlahan mengangkat kepalanya untuk berdiri tegak. Tangannya mengucek kedua mata, serta mengusap wajahnya perlahan dan menolehkan wajah menghadap Kamila.
"Sudah bangun ya," suara yang lembut penuh kehangatan walaupun masih serak ciri khas bangun tidur.
Betapa terkejutnya Kamila saat tangan kekar itu terlepas dan menampakan wajah seorang pria tak dikenalnya. Suaranya yang asing membuat Kamila semakin syok.
"Siapa kamu?"
Edwin yang menyadari jika wanita cantik itu tengah terkejut karena kehadirannya, segera melambaikan tangan. "Jangan takut Nona, Saya tidak bermaksud jahat kok! Saya yang semalam nolongin Anda sewaktu di toko gelap itu!" tutur Edwin menjelaskan kesalahpahaman.
Kamila berpikir sejenak mengingat kejadian semalam, saat dirinya tengah menahan sakit. Tiba-tiba saja seseorang mengangkat tubuhnya dan membawanya ke rumah sakit.
Walaupun sedikit kesadaran, Kamila tetap ingat jika dia dibawa ke ruang operasi untuk mengeluarkan bayinya. Tangan Kamila menyentuh perutnya yang sudah kempes tak seperti kemarin. "Bayiku!"
Edwin tahu Kamila pasti akan bertanya. Ia pun berusaha memenangkan wanita itu. "Tenang, dia di ruangan khusus bayi. Selamat Nona, bayi Anda laki-laki. Dia sehat dan tampan. Wajahnya mirip sekali dengan Anda,"
__ADS_1
Kamila menatap sekilas Edwin sebelum menundukkan wajahnya. "Maaf, Mas! Aku sudah merepotkan dirimu!" cicitnya.
Senyum Edwin terukir indah, serasi dengan wajah tampannya. "Jangan sungkan, Nona! Saya hanya menolong sebagai sesama manusia. Tapi maaf sebelumnya, karena saya sudah lancang menandatangani surat izin operasi untuk proses melahirkan. Karena semalam kondisi Anda sangat kritis, jadi saya harus bertindak cepat untuk menyelamatkan nyawa Anda dan si bayi." Edwin menjelaskan.
Kamila menggelengkan kepala. "Tidak masalah, Mas! Aku paham kok akan situasi saat itu. Pasti Mas bingung ya, karena kita kan tidak saling kenal. Justru malah dimintai tanggung jawab sebesar itu," ucap Kamila cepat.
Keduanya saling tersenyum kemudian mengulurkan tangan. "Nama saya ...!" Ucap mereka bersamaan, kemudian terkekeh kecil karena sama-sama mengulurkan tangan. "Hehehe!"
"Nama saya Edwin Bagaskara" ucap Edwin memperkenalkan diri.
"Namaku Kamila Set ... ah, Kamila Ferdinan!" ucapnya meralat.
Tadinya ia akan memperkenalkan diri sebagai Nyonya Setiawan, karena dia masih bersuamikan Riki Setiawan. Namun setelah kejadian semalam itu dan ia terusir dari rumah, dia pun enggan untuk menyebut nama suaminya.
Wajah sedih jelas tergambar di sana. Kesedihan bercampur dengan kebingungan.
Edwin nampak canggung melihat raut wajah sedih Kamila setelah saling memperkenalkan diri. Dia tampak ragu untuk menanyakan perihal suami dan keluarganya, mengingat tas ransel yang di bawanya saat menolong Kamila semalam.
Sepertinya dia sedang ada masalah sama suami atau keluarganya, batin Edwin.
Wajah Kamila mendongak mendengar jika Edwin akan terlambat masuk kantor karena menunggui dirinya di rumah sakit. Dia menjadi tak enak dan merasa bersalah. "Umm, Mas. Kalau kamu ingin pergi, silahkan saja! Aku baik-baik saja kok! Lagipula, pekerjaanmu lebih penting," desisnya.
Edwin tersenyum sebelum berkata. "Tidak apa-apa kok, Nona! Ada asistenku yang akan menangani," pungkas Edwin.
"Mas, bisa tidak bahasanya gak usah formal gitu. Aku menjadi kaku jika ingin meminta bantuanmu!," kata Kamila terkekeh.
Edwin yang melihat senyuman indah Kamila menjadi terpesona. Untuk sesaat dia melupakan jika wanita di hadapannya itu adalah seorang istri dari pria lain. Namun, kesadarannya kembali saat seorang suster mendorong troli box berisikan bayi tampannya Kamila, diikuti Dokter di belakang.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya! Ini putranya," Suster menyapa keduanya.
Senyum Kamila kian mengembang setelah bayinya dibawa dan diberikan kepadanya.
"Uuh, anak Mama!" diciumnya terus-menerus wajah mungil sang bayi dengan penuh kegembiraan.
"Bagaimana kabar Anda, Nyonya? Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya dokter.
"Alhamdulillah sudah lebih baik, Dok. Terima kasih!" sahut Kamila.
__ADS_1
"Syukurlah, Nyonya! Saya turut senang. Ini semua berkat suami Anda yang dengan cepat membawa Anda kemari. Jika tidak? Saya tidak tahu apa yang akan terjadi," tutur Dokter menjelaskan.
"Ah, Iya Dok." keduanya tersenyum canggung.
"Saya periksa istrinya dulu ya, Tuan! Setelah itu baru kalian bisa menikmati masa kebersamaan dengan putra kalian!" ucap Dokter terkekeh menggoda.
Sekali lagi, mereka hanya tersenyum canggung mendengar candaan dari Dokter. Dua orang yang tak saling kenal sebelumnya, disatukan oleh perkiraan Dokter yang mengira jika mereka suami-istri.
"Kondisinya bagus, hanya luka bekas operasi saja yang perlu diperhatikan. Mungkin butuh waktu beberapa hari lagi untuk bisa pulang ke rumah ya, Tuan." jelas dokter setelah memeriksa kondisi Kamila.
"Mm, itu Dok. Bagaimana dengan semua biaya? Berapa yang harus saya bayar?" Edwin dan Dokter saling menatap, kemudian beralih menatap Kamila.
"Kenapa Anda menanyakan masalah biaya? Suami Anda sudah melunasinya sampai waktunya anda pulang nanti," tutur Dokter. "Apa ada masalah?" selidik Dokter mencurigai.
"Tidak ada, Dok! Di-dia hanya bingung saja karena kondisi keuangan saya saat ini, iya kan!" Edwin mencoba berbohong.
Dia tak mau Dokter mengira jika ada masalah dengan mereka, padahal keduanya bukan sepasang suami istri.
Mana mungkin seorang Edwin Bagaskara, pemilik perusahaan makanan bisa kekurangan uang.
"Oh, seperti itu! Saya kira kalian sedang tidak rukun!" Dokter menebak. "Baiklah, saya tinggal dulu. Ayo Sus, berikan ruang untuk mereka!" Dokter melangkah meninggalkan keduanya diikuti Suster.
Edwin dan Kamila tersenyum canggung. "Terima kasih, Dok, Sus!"
Sepeninggalan Dokter dan Suster, suasana kembali hening. Karena mereka terus berdiam, Edwin pun memilih mendekati sambil mengulurkan tangan.
"Apa aku boleh menggendongnya?" tanya Edwin antusias.
Kamila sontak menatap Edwin. "Boleh, kok!" ia tersenyum sambil menyerahkan bayinya ke tangan Edwin. "Begini cara menggendongnya," Dia pun mengajarkan cara menggendong bayi yang baik dan benar kepada Edwin.
Edwin tersenyum senang saat bayi tampan itu berada di tangannya. Dia pun mendekatkan bibirnya di telinga sang bayi dan membisikkan sesuatu.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ..." suara adzan yang hanya di dengar sang bayi dan ibunya di ruangan itu. Walaupun suaranya lirih, namun Kamila tetap bisa mendengar jelas.
Hati Kamila terenyuh ketika mendengar suara merdu nan lembut Edwin. "Andaikan itu Mas Riki," gumamnya dalam hati.
...Bersambung ......
__ADS_1