Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Tumbal berdarah


__ADS_3

"Akhirnya, ini benar-benar berhasil! Hahaha!" Lu Dang mengambil mangkuk darah tersebut, ia mengamati mangkuk tersebut.


"Ambil pedang naga hijau milik Dara Sasmita!" suara berat bergema dari patung.


"Prajurit! Ambil pedang Dara Sasmita!" perintah Lu Dang pada seorang prajurit yang langsung bergerak cepat mengambil pedang Dara yang tergeletak di tanah.


"Ini Tuan!" ujar si prajurit langsung memberikannya dengan bersujud.


"Hm!" Lu Dang segera mengambil pedang tersebut.


Raja Iblis mengangkat tangan patungnya dan menarik salah seekor naga di angkasa, naga bersisik hitam langsung melesat ke arah patung raja iblis dan mendarat di depan mereka.


Jleb!


Sebuah kekuatan tak kasat mata langsung menusuk ke arah perut naga dan darah mengucur bersatu dengan mangkuk berisikan darah dari Li Phin dan Dara  membuat pendar hitam melayang terus ke arah bulan purnama membuat hujan petir kembali bergema.


Pedang naga hijau terangkat ke atas bersamaan cahaya dari mangkuk yang bersatu dengan pedang naga hijau yang terus berputar seakan memasuki pusaran angin beliung.


Semua orang menahan napas untuk melihat kelanjutan fenomena tersebut. Sementara naga hitam kembali hidup dan lukanya kembali mengering semua naga mengitari pedang seakan menantikan sesuatu di angkasa.


Bras! 


Cahaya pendar berwarna hijau mulai meredup berganti dengan cahaya hitam yang merasuki oedang.


"Aaaghr!" teriak raja iblis, ia merasa tertipu dan murka.


"Bawa Dara Sasmita dan Li Phin kemari!" perintah Raja Iblis Neraka, "gunakan ibunya agar dia tidak melawan!" teriak Raja Iblis Neraka marah.


Semua orang yang berada di podium terperanjat, mereka tak mengerti apa yang sedang terjadi. Lu Dang dan semua pasukannya mulai waspada dengan kelanjutan dari fenomena tumbal berdarah tersebut.


Beberapa orang pengawal langsung menuju ke arah Dara, mereka menarik  tubuh Dara.


"Jauhkan tangan kalian!" teriak Liu Min, ia ingin melindungi istrinya.


"Jika kau melawan! Lihatlah itu!" teriak Lu Dang, seorang pengawal langsung meletakkan sebilah pedang di leher Ningrum dan si kembar.


"Jangan lukai mereka!" hardik Dara, ia mulai murka dan amarah menguasai jiwanya ketika melihat ibu dan kedua keponakan suaminya yang masih kecil harus terlibat di dalam semua itu.


"Aku akan ikut! Enyahkan pedang kalian!" teriak Dara.

__ADS_1


Namun, tak seorang pengawal pun mengenyahkan pedangnya dari leher si kembar dan Ningrum, membuat Dara semakin marah.


Ia tak menyangka jika mereka masih saja terus menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan mereka. Dara diam digiring ke arah patung yang memancarkan sinar mata merah yang menyeramkan. 


"Dara … aku merindukanmu," lirih Li Phin, ia berjalan digiring para prajurit untuk menghampiri Dara yang berdiri dengan tangan diikat.


"Li Phin! Kaukah itu?" jawab Dara memandang Li Phin mereka berdua berdiri berdampingan dan tersenyum.


"Aku juga merindukanmu!" ucap Dara, ia tak menyangka akan bertemu dengan bagian jiwa di masa lalunya.


"Ada apa ini? Mengapa aku dibangkitkan dan memasuki tubuh ini? Tubuh siapa ini? Beginilah yang kamu rasakan dulu? Aku bersyukur si pemilik jiwa ini tidak begitu rewel sepertiku duku," ujar Li Phin.


"Karena tubuhmu itu adalah reinkarnasi dari masa laluku Li Phin, sehingga dia tak lagi rewel karena bertemu bagian jiwa masa lalunya," balas Dara, ia menatap wajah yang selama ini dirindukan dengan pakaian yang dipakai Li Phin yaitu : berwarna lila.


"Apa? Apa maksudmu?" tanya Li Phin bingung.


"Aku pun tak begitu memahaminya tapi yang jelas semua ini berkaitan dengan masa lalu kita," ucap Dara, ia berusaha secara singkat menjabarkan segalanya.


"Oo, sayang sekali! Aku tidak memiliki ramuan untuk mengobati luka, andaikan aku mendapatkan satu ramuan saja," keluh Li Phin.


"Ya, siapa yang menyangka jika masa lalu mulai kembali. Terima kasih, telah menjadikan Donglang menjadi kekaisaran yang makmur, Kaisar Li Phin. Kamu juga telah mengurus putra kita Liu Sun Ming dengan sangat baik," ucap Dara.


"Biarkan saja mereka bereuni ria, karena sebentar lagi, mereka akan aku kirim ke neraka," ketus Raja Iblis Neraka.


"Kau bukan Dewa Agung dan bukan juga Tuhan yang akan mengakhiri semuanya. Kau yang pengkhianat dan pembangkang! Jadi, aku lebih percaya dengan keputusan Tuhanku daripada dirimu Iblis!" hardik Dara.


"Hahaha, prajurit! Ikat mereka berdua di tiang itu! Aku akan menggunakan mereka berdua sebagai tumbal?" teriak Raja Iblis Neraka.


Beberapa prajurit langsung mengikat Dara dan Li Phin di sebuah tiang, menjadikan mereka satu.


"Apakah pada zaman ini adalah zaman kamu Dara? Apakah itu Liu Min?" tanya Li Phin, ia melihat Liu Min masih berjuang untuk membebaskan diri dengan mencoba untuk menghancurkan jaring emas. 


Sementara naga biru masih terus memancarkan api membuat Liu Min sedikit kewalahan.


"Ya, kami menikah pada zaman ini dan kamu pun menikah dengan Liang Si. Si kembar adalah anak kalian berdua," ucap Dara.


"Apa? Jadi, pada zaman ini … kami juga memiliki anak perempuan?" tanya Li Phin, ia tak mengerti.


"Ya, begitulah! Jendral Tan Jia Li juga menikah dengan Gu Shanzheng, hal yang tak masuk akal menjadi masuk akal pada zaman ini," papar Dara.

__ADS_1


Mereka berdua masih saling bergosip ria, sementara Liu Min melihat keduanya di tiang dengan bingung. Melihat dua wanit cantik yang pernah hadir di anda lalunya.


"Dasar wanita! Pantas saja ada istilah mulutnya dua! Setiap bertemu selalu saja meng-ghibah!" umpat Liu Min, ia masih saja berjuang untuk melepaskan diri.


Raja iblis neraka langsung mengangkat tangannya sehingga pedang melesat mengarah kepada Dara dan Li Phin ingin menembus keduanya.


"Dara!'


"Li Phin!"


"Mama!"


Teriak Liu Min, Ningrum, si kembar dan yang mengenal mereka. Para sekutu Lu Dang tidak menyadari jika Liang Bo dan Luo Kang telah mengendap diam-diam menuju ke arah Tan Juan, Ningrum, dan si kembar.


Krak!


Liang Si (Liang Bo) mematahkan leher para prajurit yang sedang menodongkan pedang ke leher putrinya.


Begitu juga dengan Luo Kang yang membunuh dengan tongkatnya ke arah prajurit yang menodongkan pedang ke arah Ningrum kemudian menyelamatkan Tan Juan.


Saat Tan Juan lepas ia berubah menjadi jendral Jendral Li Si (ayah Li Phin), sedangkan Ningrum menjadi selir Min Hwa.


"Terima kasih, Nak!" ucap Ningrum pada Luo Kang.


"Sama-sama Ibu," balas Luo Kang takjub melihat kecantikan ibu Dara.


"Ayo, kalian bersembunyilah! Aku rasa aku akan menolong mereka," ucap Tan Juan dengan baju zirah, ia menggiring si kembar dan Min Hwa ke arah batu besar di balik tembok yang tersembunyi.


"Ingatlah! Jangan pernah ke luar dari sini, sebelum pertempuran usai," ucap Tan Juan.


"Iya, berhati-hatilah Tuan Tan," balas Ningrum, ia memeluk si kembar dan bersembunyi.


Tan Juan, Liang Bo, dan Luo Kang bergerak dengan cepat melesat ingin menyerang ke arah musuh.


Sementara pedang naga hijau melesat terbang ke arah Dara dan Li Phin secepat kilat.


Trang!


Pedang terpental sebuah bumerang melayang menghalangi pedang naga hijau ingin membunuh Li Phin dan Dara. Bumerang bergerak bertempur dengan pedang yang dikendalikan oleh Liu Amei dari atas gedung.

__ADS_1


"Serang!" teriak Liu Amei dan Ahim Yilmaz di punggung kuda yang sama melesat melompat dari bangunan tinggi milik Guangzhou beserta 20 prajurit bayangan naga berpakaian hitam lengkap dengan senjata dan anak panah berhamburan menuju prajurit hantu dan pengawal.


__ADS_2