
"Hahaha, kau begitu memandang remeh kepada kami! Tidak semudah itu kalian bisa mengalahkan Aliran Racun Sekte Hitam Lu Dang!" balas Shan Po tersenyum puas melihat Gu Shanzheng yang mulai membeku akibat racunnya.
"Sial, aku terlalu lengah!" batin Gu Shanzheng menyesali jika dirinya terlalu teledor.
Ia mengira jika musuhnya telah berhasil ditaklukkan dan menyuruhnya untuk pulang, "Lain kali jika aku bertempur dengan mereka, jika aku selamat. Aku tidak akan membiarkan dan memberikan kebebasan! Aku tidak akan mengampuni mereka lagi," batin Gu Shanzheng di antara sadar dan tidak sadarnya.
Gu Shanzheng hanya bisa pasrah karena ia tak lagi bisa menggerakkan tubuh, ia hanya bisa melihat jika Shan Po tertawa girang mengejek dirinya. Shan Po melesat ingin menghujamkan pedang ke dada Shan Po, "Matilah kau, Pangeran Wuling!" teriak Shan Po melesat secepat kilat, ia tak lagi ingin memberikan ampun seperti yang dilakukan oleh Gu Shanzheng kepadanya.
Pedang Shan Po melesat ingin menembus jantung Gu Shanzheng jika tidak sebuah pedang langsung menghalangi pedang miliknya.
Trang!
"Bajingan, siapa kau!" teriak Shan Po.
Ia menyipitkan mata menatap wanita cantik berpakaian putih dengan rambut panjang tergerai dengan busur dan anak panah di punggung juga bumerang di pinggang.
"Jenderal Tan Jia Li?!" lirih Shan Po mengingat hanya ada satu jenderal wanita hebat di Kekaisaran Donglang.
Ia hanya tidak menyangka akan bertemu wanita hebat yang selalu menjadi buah bibir di dunia persilatan dan ditakuti semua orang selain Permaisuri Li Phin yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir semua orang.
Shan Po hanya tidak mengenali
karena jenderal wanita tersebut tidak memakai baju zirah hitam miliknya yang bersisik, "Aku tidak menyangka jika jenderal wanita ini begitu cantik!" batinnya.
Shan Po melihat sebuah pedang melesat menghalangi pedang dan mematahkan ujung pedang miliknya, patahan pedang terjatuh menancap ke tanah.
__ADS_1
"Bertahanlah, Shanzheng! Mengapa kamu begitu lemah?" omel Tan Jia Li menotok aliran darah Gu Shanzheng dan memberikan sebuah pil ke mulut Gu Shanzheng.
Akan terapi, pil tersebut tidak bisa tertelan oleh Gu Shanzheng akibat racun tersebut telah melumpuhkan semua saraf Gu Shanzheng.
"Hahaha, kau akan sia-sia saja memberikan penawar itu Nona! Dia akan mati hanya di dalam hitungan detik saja!" teriak Shan Po dengan bangganua.
"Sial! Jika Shanzheng tewas! Kau akan membayar dengan nyawamu!" teriak Tan Jia Li kesal dan marah.
Jantungnya bergemuruh marah, "Shanzheng bertahanlah!" ujar Tan Jia Li, ia berulang kali memberikan pil penawar ke mulut Gu Shanzheng tapi tetap ke luar, "apa yang harus aku lakukan?" batin Tan Jia Li.
Ia berpikir keras dan cepat lalu memiliki pemikiran tersendiri, ia langsung mengunyah pil penawar dan memberikannya kepada Gu Shanzheng melalui mulut ke mulut. Membuat semua orang yang berada di sana terkejut dan terperanjat atas apa yang dilakukan oleh Tan Jia Li.
"Hahaha, percuma kau melakukan itu! Dia akan mati juga!" ujar Shan Po, "apakah itu pantas dilakukan oleh seorang wanita kepada seorang pria?" hina Shan Po pada Tan Jia Li.
"Aku tidak peduli! Yang jelas aku telah berbuat semaksimal mungkin untuk menolongnya," balas Tan Jia Li.
Keduanya saling serang dan tangkis dengan kecepatan yang luar biasa, di sisi kanan-kiri Tan Jia Li pasukan bayangan miliknya masih terus bertempur dengan pasukan Shan Po, hingga padang Tan Jia Li yang bergerak dengan cepat berhasil menebas tangan Shan Po.
"Kau tidak akan bisa lolos dariku!" teriak Tan Jia Li langsung melesat berusaha untuk membunuh Shan Po. Hingga pedang Tan Jia Li berhasil menebas lengan Shan Po membuat darah mengucur deras membasahi rerumputan sehingga rumput langsung mengering dan hangus terbakar.
"Seluruh tubuh pria ini penuh dengan racun! Aku harus hati-hati melawannya," batin Tan Jia Li melesat mundur ke belakang.
"Aaa! Bajingan kau! Aku akan membunuhmu," teriak Shan Po marah, ia tidak menyangka akan dikalahkan oleh seorang wanita. Shan Po mengeluarkan racun dari tubuhnya hingga kabut racun kembali merebak.
Tan Jia Li melesat dan menutup mulut, "Aku harus menelan pil penawar yang diberikan oleh Wong Fei," batin Tan Jia Li langsung meminum pil penawar tersebut. Ia bersiap untuk menerima serangan dari Shan Po yang tiba-tiba akan dilakukan pria bercadar itu.
__ADS_1
Namun, Tan Jia Li tidak merasakan serangan selanjutnya ia melesat ke udara ingin melihat apa yang terjadi, "Bajingan! Ternyata pria itu telah kabur!" umpat kesal Tan Jia Li.
Ia masih terus berputar-putar di udara mencoba untuk mencari jejak Shan Po dan semua pasukannya yang masih tersisa, "Bagaimana dengan Gu Shanzheng?" batinnya melesat langsung menuju ke tempat Gu Shanzheng yang masih berdiri kaku.
"Suit!" siulan Tan Jia dibalas oleh pasukan bayangan naga hitam miliknya, "syukurlah, mereka selamat!" lanjut batin Tan Jia Li kembali melakukan siulan sebanyak 3 kali dan dibalas oleh Lin Tao dan Zhao Wei yang langsung melesat menuju ke benteng
Tan Jia Li melesat membawa tubuh Gu Shanzheng ke dalam benteng untuk menemui Wong Fei, "Bertahanlah Shanzheng! Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu!" ujarnya memeluk tubuh Gu Shanzheng dan membawa pulang.
Sesampainya di benteng, "Asisten Wong! Tolong periksa Jenderal Gu!" teriak Tan Jia Li begitu khawatir.
Wong Fei berlari menyambut tubuh Gu Shanzheng dan membaringkan di sebuah bale untuk diperiksa.
Perasaan campur aduk Tan Jia Li benar-benar kacau-balau, ia selalu saja bertengkar dan menutupi rasa cinta dan kasih sayangnya kepada Gu Shangzheng.
"Aku tidak ingin menjadi penyesalan di sepanjang hidupku kelak, jika terjadi sesuatu kepada Shanzheng," batinnya.
"Bagaimana keadaan Shanzheng Asisten Wong?" tanya Tan Jia Li masih memangku Gu Shanzheng dengan penuh kasih sayang.
Semua orang melihat ke arah pasangan yang kerap bertengkar tersebut dan merasakan jika keduanya saling menyayangi dan mencintai walaupun sering bertengkar dan tak pernah akur.
"Untunglah, Jenderal Tan cepat memberikan penawaran. Jika telat sedikit saja, mungkin Jenderal Gu tidak akan terselamatkan," balas Asisten Wong Fei memeriksa nadi Gu Shanzheng dan meminumkan ramuan lain lagi ke mulut Gu Shanzheng.
"Oh, syukurlah jika begitu!" lirih Tan Jia Li lega.
Beberapa saat kemudian Wong Fei meninggalkan Gu Shanzheng dan Tan Jia Li, "Lapor, Jenderak Tan! Kami sudah mengumpulkan semua musuh yang meninggal dan menguburkan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Jenderal Gu?" tanya Zhang Fuk, ia ingin mengetahui keadaan atasannya yang arogan dan dingin.