Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Berita yang menggemparkan


__ADS_3

Jang Min dan Dara menunggangi kuda mereka melesat hingga meninggalkan lembah Luo Yi, "Ternyata lembah ini jauh juga. Kasihan juga Jang Min, membawa kita kemari. Aku tidak menyangka jika dia benar-benar melakukan semua itu dengan penuh rasa tanggung jawab yang sangat luar biasa," ujar Dara.


"Ya, kamu benar! Aku juga tidak menyangka dia akan mau menolong kita," ujar Li Phin, "aku sangat yakin jika dia akan menjadi suami yang baik," lanjut Li Phin.


"Apa kau yakin? Percaya kepada pria artinya kau siap untuk dilukai," balas Dara.


"Ya, kau benar! Tapi apa salahnya dicoba," ucap Li Phin.


"Perasaan kok, pakai uji coba! Ini perasaan bukan kelinci percobaan ? Laboratorium kali pakai uji coba," balas Dara geli.


"Jika kita tidak sedikit membuka hati, kita tidak tahu, apakah dia hanya memanfaatkan kita atau serius pada kita," ujar Li Phin.


"Cie, yang pernah terluka akibat cinta mulai dewasa, ejek Dara.


"Ya begitulah, jika kita tak pernah terluka karena cinta ... maka kita tak akan pernah tahu arti mencintai yang sangat dalam. Aku pernah mencintai Liang Si begitu gila tanpa rasa malu dan merendahkan harga diriku sebagai wanita. Tapi, aku belum pernah dicintai seorang pria dengan begitu gila," balas Li Phin terdiam di sudut benak mereka.


"Ya, kau benar! Aku pun tak pernah jatuh cinta dan terluka hingga aku tak tahu harus bersikap bagaimana?" balas Dara.


"Aku penasaran kamu di duniamu seperti apa?" tanya Li Phin.


"Aku tidak tahu, semua anggotaku mengatakan jika aku adalah seorang  komandan yang dingin, kejam, dan selalu menginginkan kesempurnaan mungkin karena itu, aku tak pernah bisa jatuh cinta," balas Dara termenung.


"Phin'er berhentilah di depan! Sepertinya di depan ada penginapan," ujar Jang Min yang sudah tiba di samping Dara.


"Oh, baiklah!" balas Dara patuh.


"Ingat janjimu?" ujar Jang Min.

__ADS_1


"Janji apa?" Dara dan Li Phin bingung.


"Jika aku berhasil mengejarmu maka aku akan memeluk dan mengecup bibirmu!" ulang Jang Min.


"Apa? Jika itu kau lakukan maka aku benar-benar, akan menendangmu!" sungut Dara kesal, "baru saja dipuji sudah nyebelin!" batin Dara dan Li Phin kali ini keduanya bersekongkol.


"Dasar jambu!" balas Jang Min.


"Wow, enak dimakan dong!" ejek Dara spontan ia mengingat sepenggal judul lagu di dunianya yang pernah booming.


"Berhenti dan berhati-hatilah! Ini kawasan Donglai, memang masih bawahan kekaisaran Donglang tapi aku tidak begitu yakin lagi, kerajaan mana yang masih memihak kepada Kaisar Liu Fei," balas Jang Min.


Keduanya memberikan kuda kepada pelayan dari penginapan, Jang Min dengan penuh tanggung jawab mengatakan semua keperluan yang akan dilakukan dan apa yang diperlukan untuk Pocia dan Si Hitam.


Keduanya masuk ke dalam penginapan, Dara sudah memakai sebuah topi yang sangat panjang hampir seperti payung yang menutup wajah dari bahan mirip kelambu zaman nenek Dara berwarna hitam. Ia juga memakai pakaian berwarna lila dan Jang Min memakai abu-abu. Jang Min memesan makanan dan penginapan.


"Aku tidak mengerti jalan pikiran kaisar, bukankah Changsha dan Mongol juga Qin selalu membuat kerusuhan? Baru-baru ini di Donglai di desa Xui mereka juga baru menjarah dan memperkosa wanitanya? Apakah Kaisar mulai aneh?" tanya seseorang di sana.


"Jadi, esok Jenderal Li Sun dan pengikutnya akan dihukum gantung?" tanda seseorang lain lagi menghentikan cawan araknya.


"Iya begitulah, berita yang aku dengar terakhir kali dari Penasihat kerajaan Donglai Tuan Han Zui. Tapi yang aku dengar jika Kaisar Liu Fei sedang sakit dan tidak bisa bergerak akibat keracunan," balas seseorang lagi.


"Akh, kekaisaran Donglang semakin kacau selalu saja ada yang keracunan dan mangkat," jawab seseorang lagi.


Dara menajamkan indra pendengarannya, "Ayahanda dan semua orang? Apa yang sebenarnya terjadi? Jang Min mengatakan jika kami berhasil, meraih kemenangan. Lalu mengapa mereka bisa dihukum?" batin Dara penasaran.


Ia mendekati beberapa pria yang sedang minum arak dan cemilan, "Apakah yang kalian katakan itu bisa dipercaya?" tanya Dara bingung. Ia merasa baru pergi baru 3 atau 4 hari, "mengapa bisa begitu mengerikan kabar yang aku terima?" batin Dara bingung.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak percaya pergilah ke Gunung Lun, esok tengah hari. Mereka melakukan eksekusi di sana," balas seseorang.


"Mengapa tidak di kekaisaran jika Kaisar melakukan eksekusi?" tanya Dara bingung.


"Itulah yang membuat semua orang bingung. Tapi, Kerajaan Donglai takut untuk menentang karena ia tak ingin ia sendiri yang akan maju, karena Limen Utara sudah diboikot jika berusaha untuk menolong putra keduanya yaitu Pangeran Liang Si. 


"Sedangkan Jenderal Tan Yuanji pun tak bisa berkutik untuk melakukan pertolongan kepada putri satu-satunya dan pada kakak iparnya Jenderal Li Sun," ujar pria tersebut.


Tiba-tiba semua orang terdiam, mereka melihat pasukan berpakaian merah darah dengan wajah sangar memasuki ruangan, "Jangan ada yang meninggalkan ruangan dan penginapan ini! Jika kalian masih ingin hidup!" ancam pria berperawakan sedang dengan angkuh meletakkan pedang di meja.


Semua orang terdiam di meja masing-masing tanpa bicara, "Jika ada yang berani ke luar esok hari karena akan dilakukan eksekusi pengkhianat maka mereka pun akan dihukum yang sama," papar pria tersebut.


Kemudian pria tersebut meminta arak gratis dan ke luar ruangan tapi semua anak buahnya berjaga di luar penginapan dan di sepanjang jalan utama Kerajaan Donglai.


"Mereka siapa?" tanya Dara bingung, "aduh, Jang Min ke mana saja sih? Di saat genting begini malah kabur, mirip Li Phin," batin Dara.


"Hei, aku tidak pernah kabur! Aku menghilang karena jiwaku kalah dengan jiwamu dan di satu tubuh tidak boleh memiliki dua jiwa, yang lemah ya menghilang," balas Li Phin marah.


"Maaf, aku hanya ingin membuat  rencana menolong Ayahanda dan semuanya," balas Dara.


"Apakah kamu orang baru?" tanya pria tersebut.


"Iya, kami dari Luoyang!" jawab Dara mengingat jika Jang Min pernah mengatakan sebuah nama negara bawahan Donglang yang makmur.


"Oh, pantas saja! Mereka adalah prajurit rahasia dari kekaisaran, jika ada yang dihukum mati maka mereka mengawasi untuk melarang adanya kudeta," jawab seseorang.


"Apakah itu sudah lama? Maksudku … tentara itu dibentuk … apakah sudah lama sekali?" tanya Li Phin mengambil alih, karena ia tak pernah melihat atau mengetahui hal itu.

__ADS_1


"Aku rasa tidak, baru-baru ini saja, sejak berita hukuman Jenderal Li Sun. Mungkin karena putrinya berhasil membunuh semua jendral Changsha dan pendekar nomor satu di dunia yaitu  Chien Fang yang tak lain adalah paman dari Raja Chien Fu," keteranganya membuat Dara dan Li Phin menelan ludah, "Matilah aku!" batin Dara dan Li Phin.


__ADS_2