
Dara dan Liu Min terdiam memandang keempat pria yang meninggalkan mereka. Masing-masing kembali saling diam tanpa bicara, kesunyian kembali mencekam.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Liu Min bingung, ia hanya memandang ke arah Dara dengan seribu pertanyaan dan kebingungan harus memulai percakapan dari mana.
Lidahnya kelu, ia tak lagi seperti biasanya, "Aku tidak menyangka hanya karena seorang Dara aku benar-benar kesulitan untuk bicara," batin Liu Min kebingungan.
"Padahal banyak yang ingin aku katakan tetapi, aku tidak tahu harus memulainya dari mana?" lanjut batin Liu Min.
Sementara Dara sendiri pun tidak jauh berbeda dengan Liu Min, ia pun semakin tidak tahu harus bersikap dan bertindak bagaimana, ia masih marah.
Kebencian dan cintanya semakin membumbung tinggi.
"Apakah aku harus berdiri dengan diam begini? Liu Min benar-benar membuatku jadi gila dan terlihat bodoh! Cinta benar-benar merubah segalanya menjadi kacau," umpat batin Dara.
Dara masih memandang ke arah layar komputer menarik napas dan berjalan ingin meninggalkan ruangan komputer.
"Dara …." Liu Min mencengkram tangannya
Kala Dara melewati Liu Min yang masih berdiri memperhatikannya membuat Dara terhenti dan tidak menoleh ke arah Liu Min. Dara berusaha untuk mengokohkan dirinya dengan bersikap masa bodoh dan tak peduli lagi kepada Liu Min.
"Aku telah sakit hati, Liu Min benar-benar tidak menghargai semua perlakuan dan perhatian yang aku berikan.
"Jadi, buat apa aku bersikap seakan semuanya menjadi baik-baik saja?" batin Dara.
"Dara, please … bicaralah. Aku minta maaf telah menyakitimu," ujar Liu Min.
"Aku lelah dan ingin tidur!" bohong Dara. Ia berusaha untuk terlihat jika ia benar-benar lelah dan mengantuk.
Namun, ia tahu jika Liu Min tidak sepolos dan sebodoh itu mempercayai segala apa yang diucapkan bibirnya.
Akan tetapi Dara tidak peduli, rasa marah dan sakit hati telah menguasai jiwa raganya. Keduanya saling diam bagaikan sebuah patung pasangan yang tak ingin saling melepaskan.
__ADS_1
"Dara, aku tahu ... kamu hanya ingin menghindariku. Aku mohon Dara janganlah seperti ini, aku tidak suka kamu bersikap demikian," lanjut Liu Min memperhatikan Dara.
Dara hanya memandang sekilas dengan perasaan campur aduk, "Mudahnya kau bicara demikian? Setelah apa yang kau lakukan, Bajingan!" maki batin Dara.
Namun, ia hanya diam saja tak bergeming, "Sial, pancaran kebencian di mata Dara jelas terlihat. Oh, Tuhan … aku benar-benar menyakitinya," batin Liu Min, masih menggenggam tangan Dara.
Liu Min tidak berniat untuk melepaskannya, "Dara, aku mohon … bicaralah …," ulang Liu Min, dengan pandangan belas kasihan.
Dara menarik napas ia tak tega, tetapi ia juga tidak ingin harga dirinya selalu saja diinjak-injak sesuka hati oleh Liu Min. Dara memandang Liu Min dengan sejuta perasaan yang campur aduk.
"Oh, lalu kamu mau aku bersikap bagaimana Liu Min?" tanya Dara dengan lembut ia telah lelah seharian menangis, di sepanjang hidupnya dirinya tak pernah menangisi sesuatu hingga ia sampai terlihat bodoh.
"Hanya karena seorang Liu Min aku menangis betapa bodohnya aku!" batin Dara.
"Dara, aku tahu kamu marah kepadaku. Aku mohon ... maafkanlah, aku!" pinta Liu Min, "aku akan melakukan apa saja, agar kami mau memaafkan aku dan berbicara lagi padaku," ujar Liu Min.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu bicara padaku dan memaafkanku Dara," balas Liu Min.
"Baiklah, kali ini aku memaafkanmu. Tapi, apakah ada jaminan kamu tidak akan mengulanginya lagi, Liu Min?" tanya Dara menatap wajah di depannya.
"Percayalah kepadaku, aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Liu Min, "aku berjanji tidak akan menyakiti hatimu lagi," janji Liu Min dari hati yang paling dalam.
Ia rela merangkak di dalam kobaran api demi kata maaf dari Dara Sasmita, agar esok ia bisa melihat senyum dan omelannya, "Aku benar-benar tidak menyangka tanpa mendengar omelan dan melihat senyumannya aku menjadi gila," batin Liu Min.
Selama ini dirinya berpikir jika ia tak akan pernah jatuh cinta dan menjadi bodoh hanya karena senyuman seorang wanita. Namun, kini ia menyadari jika ia pun sudah menjadi gila karena cinta seorang Dara.
"Aku merasa Dara seperti penyihir yang bisa membunuhku tanpa melihat, ia juga telah berhasil membuatku menjadi budaknya," keluh batin Liu Min.
"Baiklah terserah padamu, "Aku ingin istirahat!" balas Dara dingin.
__ADS_1
"Apakah kita masih akan tetap berteman?" tanya Liu Min dengan bodoh. Ia benar-benar takut kehilangan Dara, ia tak ingin Dara menjauh apalagi meninggalkannya.
"Apakah kau menganggap kita bermusuhan selama ini?" tanya Dara ingin tertawa dan meninju wajah Liu Min, "aku yang semakin bodoh, apa dia yang dungu sih?" batin Dara kesal.
Liu Min ingin memeluk Dara tetapi diurungkannya, ia melihat Dara begitu dingin tak seperti biasanya. Selain itu, ia pun tak ingin jika kata maaf yang baru saja didapatkan akan ditarik kembali oleh Dara.
"Baiklah, Dara. Selamat istirahat dan bermimpilah yang indah," ucap Liu Min dengan lembut membuat Dara ingin melayang ke langit ketujuh dengan sikap Liu Min.
Namun, ia berusaha untuk tidak terlihat begitu bahagia, "Aku tidak ingin diangkat setinggi langit lalu dicampakkan dengan sakit ke bumi," batin Dara mengingatkan semua sikap Liu Min selama ini kepadanya.
Dara hanya diam dan langsung meninggalkan Liu Min yang masih memandangnya. Liu Min hanya mampu memandang kepergian Dara dengan rasa kecewa, "Ternyata diabaikan dan didiamkan itu lebih sakit daripada Dara marah-marah," batin Liu Min.
***
Keesokan malam ….
Dara, Liu Min, dan keempat pria tersebut telah bersiap-siap untuk membebaskan Jenny dan Jovich. Keenamnya berpakaian serba hitam dengan senjata lengkap telah terselip di pinggang dan sangkur juga bom asap.
Semua orang saling pandang, sebagian dari mereka yang berasal dari tentara menggunakan sejenis pewarna hitam yang dibalurkan di wajah mereka seperti Daniel dan Liu Min. Sementara Hendra, Jalik, dan, Dara hanya biasa saja.
Mereka mengendarai sepeda motor masing-masing. Sebelum keberangkatan mereka berdoa, "Semoga kita semua pulang dengan selamat dan berhasil membebaskan Jenny dan Jovich juga membersihkan nama baik kita," ujar Daniel memimpin doa.
"Amin!" balas semua orang.
Liu Min hanya diam memandang ke arah kelima sahabat di depannya, ia pun mengikuti doa dengan khidmat.
"Ayo, kita pergi!" ajak Liu Min, mengulurkan tangan kanan dengan telapak tangan menghadap ke atas di sambut dengan Daniel, Hendra, Jalik, Danu dan diakhiri dengan telapak tangan Dara yang menutupnya.
"Go!" teriak semua orang.
Mereka berjalan dengan cepat menuju ke garasi mengambil sepeda motor dan meninggalkan markas dengan cepat.
__ADS_1