Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Mencuci pedang


__ADS_3

Dara tersenyum melihat Liu Min ingin segera tiba di Shenzhen dan ingin mencari Wong Jin dan menyelidiki Guangzhou. Dara merasa jiwanya beruntung memiliki suami seperti Liu Min untuk yang kedua kalinya.


"Terima kasih, Tuhan … Engkau tetap memberikan pria baik dan bertanggung jawab ini untukku!" batin Dara, memanjatkan syukur.


Sementara di benak Liu Min sedang berkhayal yang indah-indah, ia membayangkan tubuh indah Dara dan dirinya bergelung di dalam selimut menghabiskan musim gugur terakhir di Shenzhen yang beberapa hari lagi akan usai.


Bayangan rintihan dan kepuasan juga keindahan Dara semakin membuatnya tidak sabar untuk segera tiba di Shenzhen. Liu Min sudah tidak sabar ingin melahap tubuh istrinya.


"Ayo, cepatlah tiba di Shenzhen, aku sudah tidak tahan lagi!" desak Liu Min.


"Memang … kita harus secepat itu menjadi pria itu, Laogong?" tanya Dara penasaran.


Ia merasa jika instruksi Liu Amei mengatakan agar mereka cek in di hotel dan mencari Wong Jin di diskotik A pada pukul 02.00 waktu malam di Shenzhen.


Sementara, Dara melirik jam di pergelangan tangannya jika waktu masih pukul 07.00 malam.


"Bukan, aku sudah tidak sabar ingin mencuci pedangku!" balas Liu Min santai.


Liu Min masih menatap lurus ke depan, ia berharap memiliki sayap agar secepatnya membawa kabur istrinya.


"Mencuci pedang?!" tanya Dara tak mengerti, "kita tidak membawa pedang?" lanjut Dara berusaha untuk mengingatkan Liu Min.


"Pedang milikku, lho." Liu Min menjawab dengan setulusnya, seakan ia telah mengatakan dengan jelas semua inginnya pada Dara.


"Pedangmu? Pedang yang mana?" Dara semakin tak mengerti.


"Pedang tumpul milikku ini!" teriak Liu Min menunjuk ke pangkuannya.


Ciitt!


Si supir langsung mengerem mobil, membuat mereka bertiga harus berpegangan pada dashboard, agar tak melompat ke luar dari mobil menerjang kaca.


"Mengapa berhenti?!" tanya Liu Min bingung.


"Katanya Anda ingin mencuci pedang? Bukankah itu sungai?" balas si supir truk, menunjuk sungai di sebelah kanan berkilau tertimpa cahaya rembulan.


"Hah! Apa hubungan sungai dengan pedangku ini? Woy! Apakah Anda tidak pernah menikah?" ketus Liu Min, penasaran.

__ADS_1


Ia tak mengerti jika sesama lelaki, mereka tidak bisa saling memahami kebutuhan yang mendesak yang hampir memecahkan isi otak.


Deg!


Jantung Dara dan si supir tersentak, "Ooo, itu! Baiklah kalau begitu!" balas si supir mulai memahaminya.


Si supir truk kembali menginjak gas mobil membelah malam yang mulai turun dengan kecepatan pembalap, yang mengalahkan Rossi Valentino.


"Aduh!" batin Dara menepuk jidatnya, "Kaisar Liu Min mengapa kau bereinkarnasi menjadi mesum begini sih?" batin Dara tak habis pikir.


Cittt! 


"Sudah sampai Tuan! Tapi, saya tidak bisa mengantar ke tengah kota, karena peraturan lalu lintas, Tuan dan Nyonya bisa naik taksi di simpang itu!" ucap supir truk.


"Baiklah, terima kasih tumpangannya! Berhati-hatilah, usahakan untuk beberapa hari ke depan. Anda jangan berkeliaran dulu. Carilah pekerjaan lain saja hingga masalah ini selesai," nasihat Liu Min.


"Ba-baik, Tuan!" balas si supir merasa takut dan lega.


Dara dan Liu Min turun dan menaiki taksi menuju hotel cinta kelas melati di depan Diskotik A.


Dara dan Liu Min cek in dengan cepat dengan menggunakan nama Yu Lan dan Li Min, menggunakan kartu identitas yang sudah dipersiapkan oleh Liu Amei kala di Jinjing.


Liu Min membuka perlahan jaket kulit yang membungkus tubuh istrinya yang padat berisi dan atletis, menggairahkan. 


Glek!


"Hah! Apakah sebaiknya kita tidak mandi dulu Laogong?" usul Dara bingung.


"Nanti saja dan ronde keduanya di kamar mandi, sudah nggak tahan nih," rengek Liu Min menarik telapak tangan Dara dan  menempelkannya di pedang tumpul miliknya yang sudah mencuat tak tentu arah 


"Aduh, mati aku!" batin Dara, kalang kabut.


Dara merasa sisa semalam masih berdenyut perih di pangkal pahanya, tetapi ia pun tak kuasa menolak hasrat suaminya yang menggebu. 


Glek! 


Berulang kali Dara menelan ludah hingga berakhir di dalam sebuah selimut dengan erangan dan ******* nikmat berlanjut ke kamar mandi hingga mereka sudah bersiap-siap untuk ke diskotik A.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak mau makan yang banyak Laopo?" tanya Liu Min.


Ia merasa kasihan melihat istrinya tidak begitu memperhatikan makan dan asupan gizi apalagi ia sudah dua malam ini terus menuntut haknya.


"Aku sudah kenyang!" balas Dara tersenyum berusaha untuk mengeringkan rambut yang masih tergulung handuk.


Dara memoles wajahnya secara natural, "Jangan terlalu cantik dong?" keluh Liu Min.


"Hah! Memang kenapa? Nanti kamu terpincut, jika melihat wanita lain lebih cantik dariku, kamu jadi berniat untuk selingkuh!" ketus Dara.


"Bukan! Jika kamu berdandan begitu aku jadi mau lagi … kapan kerjanya ini?" keluh Liu Min.


"Oo, aku kira kamu melarang aku berdandan ke luar!" balas Dara lega.


"Tidak itu hak kamu sebagai istri dan seorang wanita. Aku tidak terlalu ambil pusing, yang penting kamu berdandan untuk dirimu dan aku, bukan untuk menggoda pria lain.


"Hanya saja, jika kamu berdandan begitu aku malah jadi mau lagi, itu aja sih!" ucap Liu Min menggaruk dagunya.


"Hadeh, aku tidak tahu saat reinkarnasi dulu kamu konsletnya di mana sih?" ucap Dara pusing.


Dara merasa jika sebagian otak Liu Min 50% berisi hal mesum, sisanya kerja dan yang lainnya.


"Apakah benar penelitian itu, jika otak pria lebih memiliki hal mesum lebih banyak dari bekerja, makan, dan bersenang-senang," batin Dara.


"Laopo, ayo, kita pergi. Jika tidak jangan salahkan aku, jika kita tidak menemukan si Wong Jin itu!" ancam Liu Min.


Ancaman Liu Min membuat Dara segera beranjak dari depan meja rias dan mengambil tas selempangnya dan berjalan mengikuti suaminya ke luar hotel.


Dara berdandan modis dan elegan sederhana namun menawan, pakaian Jean dan jaket hitam kulit seadanya.


Semua tubuhnya tertutup tapi ia terlihat begitu menawan dan menggairahkan. Liu Min memonyongkan bibirnya, ia merasakan rasa cemburu dan tidak nyaman jika istrinya akan dilirik pria lain.


Namun, karena pekerjaan ia pun berusaha untuk memahami dan memakluminya. Diskotik A begitu ramai kala malam semakin larut, Dara dan Liu Min duduk di sebuah meja di sudut ruangan remang,  mencoba mencari dan menanti Wong Jin.


"Yu Lan dari gurun,  Li Min dari lautan,  Wong Jin dari gunung. Bertemu di keramaian," ujar seorang pelayan dengan dengan membawa nampan minuman.


Liu Min dan Dara menunjuk jus dan minuman beralkohol, Wong Jin meletakkan gelas minuman dengan secarik tisu bertuliskan dengan suatu benda tumpul hingga tak terlihat oleh mata.

__ADS_1


"Jangan membuang tisu dengan sembarangan, Tuan!" pesan Wong Jin berlalu memberikan minuman pada yang lain.


__ADS_2