Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Membawa pedang ke Kota Jinping


__ADS_3

Arwah Naga Hijau sedikit bergerak meluncur secepatnya mendekat ke arah Dara membelit tubuh Dara menyentuh puncak kepala Dara, seakan membauinya.


"Syukurlah, engkau selamat! Aku berharap kali ini kita berhasil untuk membunuh musuh kita!" ucap Arwah Naga Hijau tersenyum bangga.


Grrr! 


Mata kuning si naga membuat Dara sedikit bergidik ngeri tetapi ia masih berusaha menjangkau dan membiarkan hal itu. Ia merasa memiliki keterikatan dengan naga bersisik tebal tersebut dengan kaki dan kuku yang runcing.


"Ya, aku berharap semua ini usai Tuan Naga," balas Dara tersenyum.


"Ya, percayalah kepada Dewa dan Tuhan!" ucap sang Naga tersenyum dengan bahagia, ia sudah menantikan hal itu berabad lamanya.


Ia sendiri tidak tahu mengapa waktu begitu lambat berlalu hingga tanpa terasa telah mengurung arwah si naga di dalam sebuah pedang. Naga hijau harus menantikan kelahiran demi kelahiran untuk menantikan kembalinya reinkarnasi dari Dara Sasmita.


"Apa yang terjadi?" batin Quino bingung melihat fenomena di mana tubuh Dara berpendar menjadi warna hijau.


Quino dan semua kaki tangannya bersiap-siap dengan senjata di tangan, mereka saling pandang dan menganggukan kepala.


"Aku harus merebut Pedang Naga hijau, aku tidak ingin jika Guangzhou yang akan mendapatkan pedang ini," batin Quino, ia sudah lelah jika klan miliknya harus menjadi pembantu dari Guangzhou.


"Guangzhou sudah banyak mengorbankan ninja dan anggota milikku selain itu, keluargaku juga sudah banyak tewas akibat mendukung ambisinya," batin Quino.


"Dara, gunakanlah kesempatan ini untuk bersandiwara saja! Inilah kesempatan kita untuk menyusup kepada Lu Dang!" ujar Arwah Naga hijau yang bisa membaca semua pikiran manusia.


"Baiklah, aku akan melakukan usul itu!" jawab Dara.


"Hei, Dara! Cepat kamu ambil pedang itu? Jangan seenaknya saja kau berdiri di situ. Jika tidak aku akan meledakkan kepalamu," ancam Quino.


"Bajingan, kau! Mengganggu saja, hadeh!" ujar Dara, ia mengingat kembali tugas yang harus diselesaikannya.


"Tuan Naga, aku akan mengambilnya. Izinkan aku menggunakanmu lagi, aku harap ini adalah yang terakhir kalinya," ucap Dara.


"Hahaha, ya, aku rasa sudah 7 turunan aku membantu leluhurmu dan terakhir adalah dirimu Dara Sasmita!" balas Si naga tersenyum riang, ia begitu bahagia karena janji mereka harus selesai.


Arwah pedang naga hijau sudah menarikan kebebasannya, ia sudah lelah di dunia fana ini. 


"Kini sudah tiba waktuku," batinnya riang, ia kembali mengecup puncak kepada Dara dan tersenyum senang.

__ADS_1


"Dara ikuti saja apa yang diinginkan mereka, agar kita tahu di mana keberadaan Naga merah dan Lu Dang," ujar Arwah Naga Hijau tersenyum.


"Baiklah seperti yang Anda inginkan Tuan!" balas Dara bahagia, ia langsung berjalan ke arah pedang yang bertengger di tengah ruangan.


"Jangan panggil aku tuan, aku punya nama!" ujar si naga hijau mendengus.


"Masalahnya aku tidak tahu, lagian aku sangat yakin Anda terlalu tua dariku!" balas Dara tersenyum.


"Cih! Tentu saja! Namaku Qinglong!" ucapnya.


"Oh, Tuan Qinglong, hm, bukankah itu artinya naga hijau juga?" tanya Dara bingung.


"Jangan banyak protes?" umpat Qinglong.


"Hahaha, baiklah Qinglong! Mari, kita lakukan sesuai dengan usulmu!" balas Dara tersenyum.


Dara langsung mengambil pedang tersebut ingin menyilangkan ke balik punggungnya akan tetapi Quino langsung datang ingin merampas pedang.


"Berikan pedang itu!" perintah Quino, ia langsung mengacungkan senjata dan menekan remote kontrol untuk melumpuhkan Dara.


Dara langsung terjatuh ke lantai kembali, "Hahaha, kau tidak pantas untuk mendapatkan pedang legenda ini," ujar Quino angkuh, ia langsung mengambil pedang.


Quino sama sekali tidak menyangka jika pedang tersebut hanya mau kepada Dara Sasmita saja.


"Bajingan! Aku kira Guangzhou mengada-ngada ternyata benar adanya," batin Quino.


"Hei, Kau! Ambil pedang itu. Kita akan menyerahkan kepada Guangzhou!" ucap Quino.


Dara sedikit tertatih mengambil pedang naga hijau dan menyelipkan ke punggung. Ia langsung berjalan diapit oleh pengawal dan di belakangnya Quino.


Mereka memasuki mobil yang langsung menuju ke kota Jinping.


***


Sementara Liu Min masih bergerak menuju ke Museum Hunan, "Sial, aku tidak melihat adanya tanda-tanda pertempuran! Apa yang terjadi?" batin Liu Min, ia mulai cemas mengenai keselamatan istrinya.


"Laogong … kami menuju ke Kota Jinping, ini aku Sayang! Carilah Ko Ahim dan bawalah seruling pemberian Liu Bei, yang diwariskan oleh Liu Bei untuk Nona Mo Yu'er," suara Dara bertelepati di benak Liu Min.

__ADS_1


"Apa? Ko Ahim? Baiklah! Lalu apakah kami baik-baik saja?" tanya Liu Min khawatir.


"Aku baik-baik, saja! Ayo, cepatlah pedang naga hijau sudah bersama denganku! Hanya saja aku masih ditawan oleh mereka karena kode digital itu!" ujar Dara.


"Sayang, rusak saja satu angka yang pada kode digital itu, maka semua itu tak lagi berfungsi, setelah itu kami hapus dengan air seni, maka semuanya akan luntur! Maksudku itu tak lagi berfungsi dengan baik. Jika kamu tidak mendapatkan air raksa," balas  Liu Min.


"Baiklah," balas Dara di dalam telepatinya.


"Laopo, berhari-hatilah! Aku mencintaimu Sayang!" ucap Liu Min.


"Aku pun mencintaimu, Sayangku!" balas Dara.


Hubungan telepati pun terputus Liu Min bersyukur akan hal itu, Liu Min tak lagi peduli dengan museum Hunan langsung pergi ke Kota Jinping dan menelepon Ahim Yilmaz dan Liu Amei.


[Ce, apakah Ko Ahim bersama denganmu?]


[ Ya, ada apa?] 


[Aku ingin Ko Ahim membawa warisan ibunya yang dititipkan padanya apa pun itu, seperti seruling maupun senjata tajam lainnya,] ujar Liu Min.


[Baiklah kalau begitu!] balas Liu Amei.


Liu Min langsung mematikan sambungan telepon, ia langsung melesat menuju ke Kota Jinping.


Brak! Brak!


Beberapa mobil langsung menabrak mobil Liu Min hingga ringsek membuatnya harus merunduk dan berusaha untuk menyelamatkan diri, Liu Min tak menyangka jika pasukan Guangzhou tak menginginkan mereka bersatu di Kota Jinping.


"Bajingan, siapa lagi ini?" umpatnya kesal.


Ia berusaha untuk menembak melalui jendela mobil, namun berulang kali tabrakan yang sengaja dilakukan oleh musuh terus menghancurkan mobil hingga mobil sedikit oleng.


Dor! Dor! Dor!


Liu Min berusaha melindungi dirinya dari serangan peluru yang sudah menghujani mobil, kaca berserakan dari jendela. Liu Min sudah berada di lantai mobil dengan merunduk berusaha merayap ke luar dari dalam mobil, tetapi kaki kanannya tersangkut di antara jok penumpang membuatnya harus berusaha untuk keluar. 


Sementara minyak dari tangki mobil sudah mengalir dengan deras ke jalanan. Liu Min melihat aliran minyak sudah mau menyentuh kobaran api dari mobil musuh yang sudah meledak akibat tembakan Liu Min.

__ADS_1


"Aku harus mencoba untuk keluar jika ingin selamat!" batin Liu Min.


__ADS_2